
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sore hari yang menyejukkan telah membawa sebuah keluarga kecil menikmati keindahan taman mini di ibu kota. Riuhan keceriaan anak kembar membuat kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi taman tersenyum bahagia.
" Mas, lihatlah Aganta dan Damian, tidak terasa ya mereka sudah hampir berusia tiga tahun sekarang, dan wajah mereka semakin mirip dengan mas ". Seru Adinda pada sang suami dengan tetap tersenyum melihat kedua putranya yang sedang asyik bermain bola.
" Iya tentu mereka mirip dengan ku, kan aku daddy mereka sayang ". Sahut Al.
" Iya benar, mereka sangat mirip dengan mas, dari saking miripnya, sedikitpun tidak ada dari bagian wajah mereka yang mirip dengan ku meski itu hanya sepuluh persen saja ". Sahut Adinda lirih.
" Puft... puft... puft... ". Al tersenyum dengan menahan tawanya.
" Iya memang benar, wajah mereka memang sangat mirip dengan ku sayang, tetapi sifat dan perilaku mereka lebih mirip dengan mu, dan mas sangat bersyukur akan hal itu, kamu tidak usah sedih sayang, siapa tahu anak kita yang berikut nya ini mirip dengan mu, iya kan baby? ". Ujar Al memberi pengertian dengan mengelus perut buncit istrinya.
" Ayo Damian, teundang bola na keu alah ku ". Perintah Aganta, karena ternyata bola yang ia tendang tadi melambung cukup tinggi hingga melebihi batas kepala saudara kembarnya.
" Iya ceubental, kamuna cih bola di teundang sampai jauh ceukali ". Sahut Damian dengan sambil berlari mengejar bolanya.
Dan kedua anak kembar itupun terus bermain bola dengan gembira ria. Adinda sang mommy tetap memperhatikan kedua anak kembarnya yang sedang asyik bermain, sedangkan sang daddy dari si kembar masih tetap mengelus perut buncit istrinya.
" Ayo anak daddy yang sedang di perut mommy kapan kamu akan lahir nak, memangnya kamu tidak ingin ikut bermain bola dengan kakak - kakakmu itu? ". Ujar Al yang mencoba mengajak berbincang dengan sang baby yang masih bersemayam di perut sang istri.
" Memangnya mas tahu darimana kalau anak kita yang di dalam perutku ini laki - laki, bagaimana kalau anak kita yang masih belum lahir ini ternyata perempuan? ". Sahutnya.
" Sayang, memangnya hanya anak laki - laki yang boleh bermain bola, anak perempuan juga bisa sayang bermain bola, buktinya diluar sana banyak olahragawan maupun seorang atlet yang seorang perempuan ". Sanggah Al.
" Benarkan baby nya daddy? ". Imbuhnya lagi, dan ternyata benar sang baby yang berada di dalam perut mommy nya bergerak - gerak seolah membenarkan perkataan daddy nya.
" Lihatlah sayang, kamu bisa merasakannya kan dia bergerak sayang, wah anak daddy ini pintar sekali ya cup... ".
" Huum, iya mas benar juga ". Sahutnya lirih.
" Aduh Adanta, atu haus ini, atu mau keu mommy dulu, ceubental saja ya? ". Seru Damian pada Aganta.
" Iya cudah kita keu mommy, aku juda haus ". Sahut Aganta. Dan kedua bocah berusia hampir tiga tahun itupun berhambur mendekati mommy nya.
" Mommyh myh, atu haus myh ". Seru Damian setelah dirinya sampai di dekat sang mommy dan juga daddynya.
" Aku juda haus myh, Adanta mau minum ail saja ". Seru Aganta juga.
" Ayo anak - anak mommy kalau mau minum duduk dulu nak, mas Al geser dulu ya anak - anak mau duduk ". Seru Adinda.
Aganta dan Damian pun meminum air mineralnya masing - masih yang memang sudah disiapkan oleh sang mommy.
" Anak - anak daddy ini sudah berkeringat banyak, memangnya tidak lelah nak?, berhenti dulu ya mainnya, kapan - kapan lagi mainnya disini ". Seru Al.
" No daddyh, tita tetap mau beulmain dishini ". Sanggah Damian setelah bocah kecil itu hampir menghabiskan separuh botol air minumnya.
" Ayo Adanta tita main ladi ". Ajaknya, dan kedua bocah kembar itupun berlari dan kembali bermain seolah mereka tak pernah merasa lelah untuk bermain.
" Heh, Damian memang keras kepala sama sepertiku ". Gumam Al dengan memperhatikan kedua putranya.
" Mas baru sadar kalau mas keras kepala? ". Timpal Adinda dengan senyuman jahilnya.
" Heh sudahlah sayang, tidak perlu mengejekku seperti itu ". Lirih Al dengan lesu.
__ADS_1
" Hihihihihi ". Adinda cekikikan.
Al meraih tubuh istri mungil nya itu untuk ia peluk dalam rengkuhan hangatnya. Masih dengan tatapan yang sama sepasang suami istri itu memperhatikan kedua putranya, hingga tak lama dari itu...
Brakkk.....
" Aw, aduuuh sakit ". Seru seorang wanita.
Sontak saja suara itu membuat Al dan Adinda sangat terkejut hingga mereka pun menoleh ke arah belakang dimana mereka duduk. Dan ternyata benar, ada seorang wanita yang tengah terjatuh dari sepeda ayun nya.
" Aduh sakiiit ". Seru wanita itu kesakitan.
" Mas sepertinya ada yang jatuh, coba mas lihat dulu ". Seru Adinda yang merasa khawatir.
Al pun langsung beranjak dari posisinya dan berlari dengan tergesa-gesa ingin segera menolong wanita yang jatuh itu. Begitupun dengan Adinda, dengan perutnya yang buncit ia ikut melangkah dan mengekori sang suami yang sudah berjarak cukup jauh dengan nya.
" Nona apa yang terjadi denganmu? ". Tanya Al setelah dirinya berada di dekat wanita itu.
Wanita itupun menoleh pada Al, dan kini tatapan mereka saling bertemu.
Deg.....
Adinda telah sampai di dekat suaminya. Ia memperhatikan wanita yang terjatuh itu, dan ternyata wanita itu mengalami luka cukup lebar di bagian kakinya.
" Al, ini kamu Al? ". Seru wanita itu dengan tatapan tak percayanya.
Al membeku, ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun sebagai sahutan, Al begitu terkejut dengan sesosok wanita yang ada di depannya saat ini.
" Al, ini benar dirimu Al?, Al aku merindukanmu Al ". Seru wanita itu, dan iapun langsung berhambur memeluk tubuh Al.
" Al aku merindukanmu Al ". Seru wanita itu lagi.
" Al kamu kemana saja Al, selama ini aku menunggumu aw..... ". Seru wanita itu kesakitan.
" Dia kamu sakit, tenanglah aku akan menyelematkan mu ". Sahut Al.
" Aq kakiku sakit Al, sakit sekali ". Serunya kesakitan.
" Tenanglah Dia aku akan membawamu untuk berobat ". Sahut Al lagi.
" Mas, mas Al siapa wanita ini? ". Seru Adinda bertanya, namun tak ada sahutan dari Al.
" Aw sakit Al, tolong aku ". Seru wanita itu lagi.
" Tenanglah Dia, aku akan segera membawamu ke rumah sakit ". Seru Al, dan ia pun menggendong tubuh Diandra. Ya, wanita itu adalah Diandra.
" Mas, mas Al mau kemana? ". Tanya Adinda, namun sikap Al masih sama tetap tak menyahut pertanyaannya.
" Mas, mas Al mau kemana mas?, jangan tinggalkan aku dan anak - anak disini mas ". Seru Adinda pilu, bahkan kini kedua manik matanya sudah mulai berembun.
Namun Al terus berlalu pergi dengan membawa tubuh Diandra dalam gendongannya. Ia meninggalkan istrinya yang sedang mengandung itu dalam keadaan mematung.
" Mas, kenapa mas meninggalkanku? ". Lirih nya, bahkan kini tetesan air mata pun telah mengalir dari kedua manik mata indahnya.
Adinda sangat sedih, apa yang terjadi di depan matanya, benar - benar telah meremukkan hatinya. Mengapa suaminya itu sampai tega meninggalkan dirinya dan juga anak - anaknya?. Dia?, siapa Dia?.
*****
__ADS_1
Sepasang suami istri yang sedang dilanda berharap itu sudah mulai memasuki sebuah rumah sakit mewah milik Geirgino.
Ya, siapa lagi sepasang suami istri itu jika bukan Andrew dan juga Vita.
" Mas, mas mengantar ku pagi - pagi seperti ini ke rumah sakit, memangnya tuan Al tidak marah? ". Tanya Vita yang merasa cemas.
" Tidak sayang, aku sudah mendapat ijin dari tuan Al jika aku akan sampai di kantor agak siang nanti ". Sahut Andrew disela - sela langkahnya.
Vita merasa cukup lega setelah mendengar kalimat dari suaminya. Sepasang suami istri itupun terus melangkah hingga sampailah mereka di ruangan khusus pemeriksaan kehamilan.
" Pagi dokter Nita ". Sapa Andrew setelah ia membuka pintu ruangan itu.
" Oh tuan Andrew nona, mari silahkan duduk dulu, ada apa tuan nona?, ada yang bisa saya bantu? ". Sambut Dokter Nita dengan ramah.
" Aku ingin memeriksakan kandungan istriku ". Sahut Andrew langsung pada intinya.
" Tidak dok bukan seperti itu maksudnya, kami datang kemari karena kami ingin tahu apakah saat ini saya sedang mengandung ". Sanggah Vita langsung.
" Sayang, kenapa masih harus dipastikan, kamu itu saat ini sedang hamil sayang ". Bantah Andrew.
" Tapi mas itukan hanya perkiraan, kita kan tidak tahu pasti apakah Vita ini benar hamil atau tidak ". Sahut Vita.
" Aduh kamu ini terlalu lama sayang, dok aku yakin istriku ini sedang hamil, buktinya istriku sering meminta banyak makanan dan keinginannya itu harus dituruti, ditambah lagi selama dua bulan ini istriku tidak mengalami datang bulan, itu kan ciri - ciri orang orang hamil dok, itu artinya istriku sedang hamil sekarang, ayo sayang kamu segera berbaring biar dokter memeriksa baby kita ". Ujar Andrew panjang lebar.
Dokter Nita hanya tersenyum mendengar penjelasan dari orang kepercayaan tuan Al nya ini.
" Ya sudah nona, kalau begitu nona berbaring dulu ya di ranjang pemeriksaan ". Seru dokter Nita ramah.
Vita pun menuruti perintah dokter, dan iapun sudah berbaring sesuai interupsi nya.
" Mas, mas Andrew duduk saja biar tidak capek ". Seru Vita mengingatkan.
" Tidak, aku ingin menemanimu sayang, sudahlah kamu diam saja ". Bantah Andrew.
Dokter Nita pun mulai melakukan tugasnya. Dokter muda itu melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti, hingga...
" Nona, saya akan memeriksa perut nona, silahkan baju nona disingkap dulu ". Perintah dokter Nita.
Vita pun langsung menurut apa yang disuruh oleh sang dokter. Sedangkan dokter Nita, ia sudah mulai mengolesi gel di perut Vita dan melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Dokter Nita tersenyum setelah melihat tampilan yang muncul dari hasil usg nya.
" Selamat, tuan nona, tidak lama lagi tuan dan nona akan menjadi orang tua, istri anda memang benar hamil tuan " . Ujar dokter Nita menjelaskan.
" Tuh kan sayang, kamu memang benar hamil ". Seru Andrew dengan senyuman bahagianya.
" Usia janin sudah sekitar tuju minggu, lihatlah di layar monitor ini tuan nona, titik hitam yang saya tunjuk ini adalah janinnya ". Imbuh dokter Nita lagi.
Tanpa terasa, Vita menitikkan air matanya. Ia tak mampu mengeluarkan kata - kata. Ia merasa sangat bahagia sekaligus tak menyangka, jika ternyata di dalam rahimnya kini telah ada sebuah kehidupan dari hasil buah cintanya dengan sang suami.
" Sayang, kita akan menjadi orang tua, terima kasih sayang, terima kasih karena kamu sudah memberikan hadiah yang sangat indah untukku cup... cup... cup... ". Ucap terima kasih Andrew dengan menciumi semua bagian wajah Vita hingga tak ada sebagian pun yang terlewat.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, jangan lupa like dan beri komentarnya.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ