Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Pengakuan Adinda


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Tinggal di sebuah lingkungan yang baru bagi setiap orang, terutama bagi mereka yang sama sekali masih belum tahu menahu tentang kehidupan di tempat barunya pastilah akan membutuhkan waktu agar bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya.


Itulah yang dilakukan oleh pak Budi dan juga Vita. Tinggal di tanah Jakarta yang belum mereka pijakan sebelumnya membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru di Jakarta.


Terbiasa bekerja dan menjalani hidup secara mandiri membuat Vita merasa sangat tak nyaman dengan keseharian hidup barunya. Ya, semenjak dirinya pindah ke Jakarta, Vita tidak lagi bekerja dan semua kebutuhan hidupnya telah dipenuhi oleh suami dari sahabat terbaiknya.


Vita yang memang pada dasarnya adalah anak yang mandiri dan terbiasa bekerja untuk mendapatkan penghasilan tentu merasa sangat tak nyaman jika harus bergantung pada orang lain. Vita ingin bekerja dan ingin memiliki penghasilannya sendiri untuk kebutuhan ekonominya.


" Ini ayah Vita buatkan teh untuk ayah ". Seru Vita tiba - tiba dengan meletakkan secangkir teh untuk pak Budi yang ia letakkan di atas meja.


" Waduh, kenapa kamu repot - repot nak? ". Sahut pak Budi.


" Tidak kok ayah, ini tidak merepotkan ". Sahut Vita.


" Ya sudah, ayah minum dulu ya tehnya dulu mumpung masih panas ". Sahut pak Budi dengan memegang secangkir tehnya.


Pak Budi mulai menyeruput teh hangat yang dibuatkan oleh Vita tadi. Ya pak Budi memang sudah menganggap Vita seperti anak kandungnya sendiri sama seperti Adinda putri kandungnya.


" Ayah kira - kira di kota Jakarta ini adakah lapangan pekerjaan yang bisa menerima orang yang tamat sekolah sampai di SMA? ". Tanya Vita dengan wajah sedikit lesunya.


" Kenapa nak kamu bertanya seperti itu nak?, memangnya siapa yang ingin bekerja disini? " Sahut pak Budi.


" Vita yah, Vita yang ingin bekerja disini ". Sahut Vita.


Pak Budi nampak berpikir. Ia paham jika putrinya ini ingin memiliki pekerjaan pasti karena dirinya yang merasa tak nyaman harus menumpang hidup pada orang lain atau lebih tepatnya menumpang hidup pada menantunya sendiri Al.


" Untuk soal itu, ayah juga tidak tahu nak, tapi kalau kamu memang benar ingin bekerja kenapa kamu tidak menelfon saja Adinda? , mungkin saudarimu itu bisa membantu ". Sahut pak Budi.


" Awalnya Vita memang ingin menanyakan pada Adinda, tapi percuma ayah pasti Adinda akan melarang Vita untuk bekerja karena suaminya yang menyuruh ". Sahut Vita dengan nada lesunya.


Pak Budi membenarkan juga apa yang dikatakan oleh Vita.


" Iya nak memang benar pasti Adinda akan melarang mu untuk bekerja, tapi apapun itu cobalah dulu untuk menghubungi Adinda sekali lagi, barangkali Adinda akan meminta ijin pada suaminya dan memperbolehkan kamu untuk bekerja ". Sahut pak Budi dengan tetap memberi dukungannya pada sang putri.


" Baiklah ayah ". Sahut Vita dengan anggukan.


*****


Menjadi seorang ibu di usia muda pastilah tidak mudah untuk dilakukan, ketelatenan dan kesabaran adalah kunci utama dalam menjalaninya.


Di pagi hari menuju siang ini nampaknya Adinda yang sudah menjadi seorang ibu semenjak dua setengah bulan yang lalu itu baru selesai menyusui Aganta putranya yang kehausan setelah tadi bayi mungil itu sempat rewel.


" Tenang ya sayangnya mama, tup.. tup.. tup ". Seru Adinda pada Aganta dengan menepuk - nepuk pantat mungilnya.


Dan Aganta pun sudah mulai memejamkan kedua mata biru keabu - abuannya setelah tadi sempat menangis.


Sedangkan Damian, nampaknya masih terlihat tenang, bayi mungil itu nampak sibuk memperhatikan mainan lucu miliknya yang yang sedang di gantung di atas box bayi tempat tidurnya. Tidak seperti biasanya Damian tenang seperti ini, padahal biasanya yang paling sering menangis dan minta untuk di gendong adalah Damian.


" Aduh sayangnya mama, kamu tenang sekali hari ini nak, Damian tidak haus hem? ". Sapa Adinda dengan senyum manisnya.


" Hm, hm, orh nyam ". Gumam Damian seolah ingin menyahuti ucapan mamanya.


" Apa sayang?, Damian bisa menjawab mama nak, coba diulangi lagi sayang mama ingin dengar ". Seru Adinda bahagia seolah ia tak percaya jika putra mungilnya itu sudah mulai berbicara.


" Hm nyam, hm nyam ". Seru Damian lagi seolah ingin mengulang kalimatnya lagi pada sang mama.

__ADS_1


" Aduh Ya Allah, sayangnya mama, kamu sudah bisa mengoceh nak ". Seru Adinda dan meraih tubuh mungil Damian untuk ia gendong.


" Emmuah, emmuah, pintarnya anak mama ini ya emmuah ". Puji Adinda dengan menciumi pipi gembul putra mungilnya.


Sementara Damian yang mendapat perlakuan manis dari sang mama menjadi tersenyum.


Adinda yang sedang sibuk bercengkrama dengan sang putra Damian sampai tak menyadari akan kedatangan sang suami.


Al melangkah secara perlahan untuk mendekati sang istri yang sedang sibuk memanjakan putranya. Dan.....


Cup..... Al mengecup tengkuk sang istri.


" Astagfirullah hal adzim ". Pekik Adinda dan langsung menoleh ke arah belakang tubuhnya.


" Astagfirullah hal adzim mas, mas membuat Adinda kaget ". Seru Adinda dengan wajah tegangnya.


" Apa, kamu terkejut pada suamimu sendiri, kenapa bisa seperti itu, memangnya mas ini hantu? ". Tanya Al dengan mimik wajah yang sengaja dibuat kesal.


Jujur saja sebenarnya Al ingin membuat istrinya menjadi terkejut. Entah mengapa Al seperti sangat suka mengerjai istrinya, oh tidak lebih tepatnya menggoda sang istri.


" Bu, bukan seperti itu mas, mak, maksud Adinda, Adinda itu sangat terkejut karena tiba - tiba ada orang yang menci*um Adinda dari belakang ". Sahut Adinda menjelaskan agar suaminya tak salah paham.


" Tapi ya tetap saja sayang, dengan kamu terkejut seperti itu, artinya kamu tidak menyadari kalau suamimu ini datang, lagi pula kenapa kamu harus se terkejut itu kalaupun ada orang yang masuk dan mencium kamu, ya pasti akulah pelakunya sayang " Sahut Al dengan memalingkan wajahnya.


Deg..... jujur saja Adinda merasa tersentak hatinya. Ia sangat tidak menyangka jika suaminya akan merasa se kesal ini, padahal dirinya seperti ini karena terkejut.


Mengapa di usia pernikahannya yang masih baru berumur dua hari seperti ini sudah bermasalah karena hal yang sepele. Apakah ini yang dikatakan oleh orang - orang jika dalam pernikahan pasti akan ada yang namanya masalah.


Adinda menjadi sedih melihat sikap suaminya yang menurutnya ini sangatlah berlebihan. Hingga tanpa Adinda sadari kedua bola mata indahnya itu kini telah di penuhi dengan cairan bening yang akan siap tumpah hanya dengan satu kali kedipan saja.


" Ma, maafkan Adinda mas ". Seru Adinda lirih, dan kini cairan bening itu telah terjatuh membasahi pipi putihnya.


" Mas, ma, maafkan Adinda mas, Adinda, Adinda benar - benar tidak, tidak bermaksud seperti itu ". Seru Adinda lagi, dan kini sudah dengan suaranya yang bergetar karena berusaha menahan agar dirinya tak terisak.


Al yang merasa ada yang aneh dengan nada suara istrinya seketika itu dirinya langsung menoleh pada sang istri.


Deg..... dan betapa terkejutnya Al ketika melihat istrinya yang sudah menangis.


" Sayang, kamu kenapa menangis? ". Tanya Al lirih dan langsung memeluk tubuh istrinya dalam keadaan yang masih menggendong tubuh mungil Damian.


" Maafkan Adinda mas hiks... ". Seru Adinda dan kini sudah dengan isak tangisnya yang pecah.


Al mengeratkan pelukannya pada sang istri. Niat hati hanya ingin menggoda istrinya dengan berpura - pura kesal, tetapi kini malah membuat sang istri menjadi sedih dan menangis.


Al benar - benar merutuki dirinya, kalau saja tahu akan seperti ini jadinya tidak akan ia berpura - pura kesal tadi.


" Sayang, tolong maafkan aku ya, aku tadi hanya berpura - pura sayang, aku tadi hanya ingin menggoda mu saja, tolong jangan menangis sayang aku mohon ". Seru Al yang merasa bersalah dengan tetap memeluk istrinya.


Satu hal yang Al pahami dari istrinya sekarang, ternyata istrinya ini perasaannya sangatlah sensitif terutama untuk hal - hal yang membuatnya sedih.


" Maafkan aku ya ". Seru Al lagi.


Dan kini isak tangis yang sempat Adinda keluarkan tadi, kini sudah mulai mereda. Al mencoba sedikit mendongakkan wajah Adinda agar bisa menatap wajahnya.


" Maafkan aku ya, aku tadi hanya berpura - pura, bagaimana mungkin aku akan sampai kesal seperti itu pada istriku yang lembut ini, maafkan aku ya sayang ". Seru Al dengan mengusap lelehan air mata sang istri.


Dan Adinda pun mengangguk sebagai bentuk respon jika dirinya telah memaafkan sang suami.


Cup..... cup..... Al mencium kening dan juga bibir peach sang istri.

__ADS_1


Sebenarnya Adinda yang sudah beberapa kali ini sering mendapat ciuman dari sang suami jujur saja merasa malu, namun harus bagaimana lagi, bukankah tidak baik jika seorang istri menolaknya apalagi hal yang ditolak itu ada sesuatu yang dapat menyenangkan hati suami.


" Sekarang letakkanlah dulu Damian di kasurnya ". Perintah Al lembut. Dan Adinda pun langsung melakukannya.


" Kemarilah, duduk disini bersama ku ". Seru Al dengan menepuk - nepuk kasur empuknya. Dan Adinda pun melangkah mendekati sang suami dan duduk bersamanya.


" Sayang ". Panggil Al lembut.


" Iya mas ". Sahut Adinda dengan suara lembutnya.


" Sayang, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? ". Tanya Al.


Mendapati sikap suaminya yang dirasa Adinda seperti tak biasa, entah mengapa saat ini dirinya merasa menjadi gugup.


" Sayang, kamu tidak menjawab pertanyaan ku, apakah aku boleh menanyakan sesuatu hal padamu hem? ". Tanya Al untuk yang kedua kalinya.


" Eh, maaf mas, i, iya boleh ". Sahut Adinda dengan gugup.


" Sayang, kenapa setiap kali aku ingin menanyakan hal yang serius padamu, kamu selalu gugup dan terlihat ketakutan seperti ini, apakah aku terlihat menakutkan? ". Tanya Al yang merasa sedikit heran pada istrinya.


" Ti, tidak mas, mas sama sekali tidak menakutkan ". Sahut Adinda.


" Hem, ya sudah, jangan takut lagi sama aku ya ". Seru Al.


" Iya ". Sahut Adinda.


" Haahh ". Al menghela nafasnya cukup dalam.


" Sayang, aku ingin kamu menjawabnya dengan jujur, dan aku ingin jawaban ini bisa kamu jawab sekarang ". Seru Al lembut namun penuh penekanan.


Adinda pun menjawabnya dengan anggukan.


" Sayang, kenapa kamu tidak jujur padaku jika wanita yang sudah aku nodai malam itu adalah kamu, dan kenapa kamu tidak mengakui jika kalung yang sudah aku temukan itu adalah kalung mu, kenapa kamu menyembunyikannya dariku? ". Tanya Al pada Adinda, dan inilah pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan.


Deg..... Adinda begitu tertegun mendengar pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh suaminya. Pertanyaan ini muncul lagi sekarang. Tapi bagaimana cara Adinda untuk mengatakan pada suaminya jika selama ini dirinya telah diancam oleh Sintia untuk tidak mengatakan semuanya pada siapapun, pastilah suaminya akan marah, dan bukan tidak mungkin jika suaminya akan membalas Sintia karena sudah mengancamnya.


" Sayang, jawab pertanyaan ku, jangan kamu takut ". Peringat Al.


Mau tidak mau Adinda harus mengatakan kebenarannya pada suaminya, karena tidak mungkin bukan jika dirinya harus menutupinya terus - menerus dan hal ini sama sekali tidak baik untuk kelangsungan hubungannya dengan sang suami.


" Ma, mas, sebelum Adinda menjawab semuanya, Adinda minta sama mas untuk jangan marah ya setelah mas tau kenapa Adinda menyembunyikannya ". Sahut Adinda.


" Iya, aku janji sayang, aku tidak akan marah ". Sahut Al lembut.


" Haahh..... ". Adinda menghela nafasnya.


" Mas, kenapa A, Adinda tidak mengatakan ji, jika Adinda lah wanita yang, su, sudah mas nodai, ka, karena kak Sintia mengancam Adinda, ji, jika Adinda cerita semuanya, maka kak Sintia akan menghilangkan nyawa ayah ". Jawab Adinda pada akhirnya.


Deg..... Al sangat terkejut bukan main, jadi selama ini Sintia telah mengancam Adinda dengan ancaman yang begitu keji. Ternyata dugaannya benar Sintia lah dibalik semua ini, tapi yang membuat Al tidak habis pikir adalah Sintia begitu tega dan berani sampai melakukan hal yang rendah seperti itu.


" Jadi memang benar, Sintia lah dibalik semua ini, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku Adinda, apakah kamu tahu akibat dari ketidakjujuran mu ini, aku sudah seperti orang gila ". Sahut Al dan kali ini ia benar - benar marah.


Al sudah lupa akan janjinya jika ia tidak akan marah setelah istrinya Adinda mengatakan semuanya.


Bahkan kata sayang yang selalu ia sematkan pada sang istri pun, kini telah kembali seperti saat pertama kali Adinda masuk ke rumahnya.


Bersambung..........


Jangan lupa dukung terus karya Author ya πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2