
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kedua anak kembar itu begitu asyik memainkan mainan barunya dengan di dampingi oleh sang daddy dan juga opa mereka. Karena mainan barunya kini kedua bocah kembar itu seolah tak ingin berhenti bermain.
" Ayo tekan lagi tombol nya Damian ". Seru Enriko pada sang cucu.
Damian pun menekan salah satu tombol di remote control miliknya agar mobil mainannya berjalan sesuai dengan arahan sang opa.
" Yeay Mian dah pital ( yeay Damian sudah pintar) ". Ucap Damian merasa bangga karena dirinya sudah berhasil memainkan mobil sport mainannya dengan lebih baik dari sebelumnya.
Jika Damian dibantu oleh sang opa dalam bermain, sama halnya dengan Aganta, bocah kembar yang satu itu juga dibantu oleh sang daddy.
" Ayo boy tekan lagi tombolnya ". Bimbing Al pada Aganta.
Aganta pun melakukannya dengan benar, bahkan bocah menggemaskan yang satu itu sudah sangat mampu membuat mobil mainannya berbelok - belok, sungguh perkembangan kemampuan yang sangat baik untuk anak seusianya.
" Adinda ". Seru Devina pada sang menantu.
" Iya ma ". Sahut Adinda dengan menoleh pada sang mama mertua.
" Kamu lihat suamimu dan juga papa mertuamu?, mama sama sekali tidak melihat Aganta dan Damian yang bermain mainan itu, tapi yang mama lihat adalah suami mu dan suami mama lah yang bermain, seperti melihat anak kecil tapi berukuran dewasa saja ". Sahut Devina dengan senyuman jahilnya.
Adinda hanya bisa tersenyum kecut mendengar kalimat sang mama mertua.
*****
Rasa bahagia yang tiada terkira begitu menyelimuti hati seorang anak kecil bersama sang mama. Seolah tak ingin lepas dari perhatian mamanya, berbagai cara telah bocah kecil itu lakukan.
" Ama ama liat, minan na Ezie badut ceutalli ( mama mama lihat, mainan nya Kenzie bagus sekali) ". Seru Kenzie dengan memperlihatkan mainan robot - tobotan miliknya yang pernah dibelikan oleh papanya beberapa waktu yang lalu.
" Wah mainan robotnya bagus sekali sayang ". Sahut Sintia dengan memberikan pujian.
" Ezie juda pital minan nan na lobot na ( Kenzie juga pintar memainkan robotnya ) ". Ujar Kenzie yang ingin memberitahukan kemampuannya dalam memainkan robot dengan remote control yang dimilikinya.
" Ayo putar, mama ingin lihat bagaimana ya kalau robotnya bergerak - gerak ". Sahut Sintia dengan senyuman penasarannya.
Kenzie pun mulai memainkan mainan robot miliknya itu, bahkan kedua tangan mungilnya terlihat begitu fasih dalam menekan - nekan remote control miliknya.
Nampak robot mainannya itu berjalan, berbalik, mengangkat sepasang lengannya dan berbagai gerakan yang lain sesuai dengan bagaimana Kenzie ingin menggerakkan robot control miliknya itu.
" Wah sayang, Kenzie pintar sekali memainkannya nak ". Puji Sintia dengan rasa bangga pada putranya.
" Iya ama, Ezie dah pital minan nan na ( iya mama, Kenzie sudah pintar memainkannya) ". Sahut Kenzie yang membenarkan pujian sang mama.
Sepanjang waktu Sintia bermain dengan Kenzie , tidak banyak kalimat yang diucapkan oleh Kelvin dan juga bu Mariam. Mereka sangat tahu jika Kenzie saat ini sangat membutuhkan cukup banyak waktu dengan mama kandungnya, yang mungkin tidak akan bisa Kenzie lihat setiap hari.
Kelvin sangat memperhatikan kedekatan Kenzie dengan Sintia, dan Kelvin baru menyadarinya sekarang jika putranya Kenzie begitu sangat menginginkan mamanya, tapi sayangnya pertanyaan Kenzie yang hanya pernah dilontarkan satu kali itu, dirinya anggap hanya sebuah pertanyaan biasa yang hanya tersirat dalam benak Kenzie saja, namun nyatanya tidak seperti itu, ternyata Kenzie putranya benar - benar sangat ingin memiliki seorang mama dalam hidupnya dan itu sama sekali tidak Kelvin sadari selama ini.
Kenzie menghentikan memainkan robot control nya, dan ia pun mengalihkan pandangannya pada sang mama, entah apa yang diinginkan bocah kecil itu.
" Ada apa sayang? ". Tanya Sintia yang merasa heran karena tiba - tiba saja putranya menghentikan memainkan mainannya.
" Ama, ama tan dadi dotel, macih banak olan - olan na yan tatit? ( mama, mama kan jadi dokter, masih banyak orang - orang yang sakit?) ". Tanya Kenzie setelah dirinya ingat tentang pekerjaan mamanya yang pernah dikatakan oleh Kelvin sang papa.
__ADS_1
Sintia mengernyit bingung, apa maksud putranya yang bertanya jika dirinya menjadi dokter dan orang - orang yang sakit masih banyak, memangnya siapa yang menjadi dokter?.
" Kenzie, apa maksudmu, mama tidak mengerti maksudmu nak? ". Sintia balik bertanya pada putranya, karena ia benar - benar bingung.
" Iya, dotel ma, tata apa ama teulda dadi dotel lawat - lawat olan tatit bial cebuh ( iya, dokter ma, kata papa mama kerja jadi dokter rawat - rawat orang sakit biar sembuh) ". Ujar Kenzie menjelaskan.
Sintia pun langsung menoleh pada Kelvin. Ia paham sekarang jika Kelvin berbohong pasti untuk menutupi tentang dirinya, sedangkan Kelvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia merasa malu karena Kenzie telah memberitahukan kebohongannya.
" Ama, olan - olan tatit na macih banak? ( mama, orang - orang sakitnya masih banyak?) ". Tanya Kenzie lagi masih penasaran.
" Eh, i-iya sayang, orang yang sakit masih banyak ". Sahut Sintia berbohong.
" Maafkan mama nak, mama sebenarnya diasingkan sayang ". Batin Sintia sedih.
Setelah mendengar jawaban dari sang mama jika orang - orang yang sakit masih banyak, membuat Kenzie merasa sedih, ia langsung menunduk memikirkan nasibnya. Dalam benaknya Kenzie merasa pastilah mamanya itu akan kembali bekerja menjadi dokter dan meninggalkan nya lagi, sungguh Kenzie tidak ingin itu terjadi.
Grepp... Kenzie langsung beralih memeluk sang mama.
" Ada apa sayang? ". Tanya Sintia dengan membalas pelukan putra kecilnya itu.
" Ezie dak mau ama dadi dotel, Ezie dak mau ama peuldi ladi ( Kenzie tidak mau mama jadi dokter, Kenzie tidak mau mama pergi lagi) ". Ujar Kenzie sedih dengan tetap memeluk sang mama.
Hati Sintia terasa terenyuh saat mendengar ungkapan rasa sedih putranya. Jadi putranya begitu tidak ingin kehilangan dirinya, maka sama dengan yang dirinya rasakan saat ini, sebagai seorang ibu ia juga tidak ingin berpisah dari anaknya.
" Maafkan mama nak, sepertinya mama tidak bisa kalau harus terus bersamamu sayang ". Batin Sintia menangis.
*****
Niat hati ingin memberikan kebahagian pada kedua cucunya malah berakhir petaka pada dirinya sendiri.
Ya, Enriko yang membelikan kedua cucu kembarnya mainan mobil - mobil dengan dilengkapi remote control malah menyebabkan dirinya tidak bisa beristirahat, bagaimana tidak jika ternyata cucunya Damian masih terus ingin bermain mainan barunya itu yang pastinya tidak lepas dari bimbingannya.
" Berhenti dulu ya cucu opa, bermainnya dilanjutkan nanti ya sayang, itu coba lihat, Aganta dan daddy mu sudah berhenti bermain, jadi Damian berhenti main juga ya, kita lanjutkan nanti saja mainnya ". Seru Enriko yang mencoba memberikan tawaran pada cucunya.
" Dak mau, Mian mau main mubil mubil na ( tidak mau, Damian mau main mobil mobilnya) ". Tolak Damian keras pada sang opa.
" Opa sudah lelah nak, kalau Damian mau melanjutkan mainnya, minta bantuan pada daddy saja ya, opa mau duduk dulu sayang ". Seru Enriko lagi sebelum dirinya akan menuju sofa dimana semua orang sedang duduk.
" Dak mau dak mau, Mian mau main upa ( tidak mau tidak mau Damian mau main opa) ". Rengek Damian, bahkan bocah kecil itu sudah menahan langkah sang opa.
" Dilanjutkan nanti saja ya Damian, ayo kita duduk saja ya ". Ajak Enriko dengan mencoba menggendong tubuh mungil Damian.
" Dak mau dak mau ( tidak mau tidak mau) ". Tolak Damian dengan meronta - ronta.
" Ya Tuhan, bagaimana caraku menenangkan anak ini ". Batin Enriko bingung.
" Ha ha ha ha ha ha... rasakan itu pa, salah papa sendiri yang sok sokan ngajari Damian, begini kan jadinya papa sendiri yang kewalahan ha ha ha ha... ". Tawa Devina yang melihat suaminya harus menuai perbuatannya sendiri.
Al sedari tadi hanya diam menikmati drama antara sang opa dengan cucunya. Dari awal Al memang sudah tahu jika hal ini pasti akan terjadi mengingat putranya Damian adalah tipe anak yang keras kepala, tapi sayangnya sang papa tetap memilih untuk mengajari Damian.
" Ayo upa Mian mau main ladi upa ( ayo opa Damian mau main lagi opa) ". Rengek Damian semakin kencang pada opanya.
" Damian ". Panggil Adinda lembut.
Damian pun menoleh pada sang mommy.
__ADS_1
" Damian sayang kan sama opa? ". Tanya Adinda.
" Iya my, Mian cayan cama upa my ( iya my, Damian sayang sama opa my) ". Sahut Damian.
" Kalau Damian memang sama opa, apa Damian mau kalau opa sampai sakit karena ulah Damian? ". Pancing Adinda agar putranya bisa mencerna kalimatnya.
" Dak my, Mian dak mau upa tatit ( tidak my, Damian tidak mau opa sakit) ". Tolaknya dengan menggelengkan kepala.
" Tapi yang Damian lakukan sekarang bisa membuat opa sakit nak, karena apa?, karena opa sudah lelah ingin beristirahat tetapi Damian melarang dan tetap ingin agar opa bisa bermain sayang, kalau opa nya Damian sakit, nanti Damian tidak bisa bermain lagi dengan opa sayang, memangnya Damian tidak kasihan sama opa? ". Tutur Adinda menjelaskan agar putranya bisa merenungi perbuatannya.
Setelah mencerna kalimat dari sang mommy, membuat Damian menjadi terdiam. Nampaknya bocah kecil itu menyesali perbuatannya.
" Sini anak mommy, sini Damian, kemarilah nak ". Seru Adinda lembut, dan benar saja Damian pun langsung melangkah menuju sang mommy.
Enriko sudah bisa bernafas lega sekarang, akhirnya ia bisa terlepas dari cengkraman cucunya.
" Huft...untung aku punya menantu baik dan pengertian ". Batin Enriko lega.
Damian sudah berada di pangkuan sang mommy, sedangkan Aganta bocah kecil yang satu itu sedari tadi sudah duduk tenang di tengah sang daddy dan juga mommynya.
" Cup... dilanjutkan nanti sore ya nak mainnya ". Seru Adinda lagi dengan lembut, dan Damian pun mengangguk.
" Bagaimana pa, sudah bisa bernafas lega sekarang terlepas dari cucu mu ". Cibir Devina dengan senyuman jahilnya.
Enriko hanya memutar kedua bola matanya malas. Memang istrinya ini sangat suka sekali mengejeknya disaat - saat yang seperti ini.
*****
Tanpa terasa waktu kini sudak menunjukkan sore hari, namun waktu ini nampaknya akan menjadi hal yang paling memilukan antara seorang ibu dan juga putra kecilnya yang baru saja menikmati indahnya masa pertemuan.
Dengan tanpa izin, kini kedua bodyguard kepercayaan Al telah masuk ke rumah Kelvin dan menemui Sintia yang saat ini masih bermain bersama dengan putranya.
" Sintia, sekarang saatnya kamu kembali ke tempat pengasingan ". Perintah Ivan telak pada Sintia.
Sintia langsung tersentak setelah mendengar ajakan dari Ivan.
Kenzie yang menyaksikan ada seseorang yang mengajak mamanya untuk kembali merasa ketakutan, bocah kecil itu menatap bingung dengan rasa takut dihatinya.
" Ayo tunggu apalagi Sintia, sekarang saatnya kamu kembali ke tempat pengasingan, waktu mu sudah habis Sintia ". Ujar Kelvin lagi dengan tanpa memperdulikan adanya sosok Kenzie yang ada di sana.
" Hey kamu, kamu bisa bicara baik - baik, tidak perlu seperti itu, ada anakku di sini ". Sahut Kelvin tak terima.
" Ama ama, ama mau teumana, ama danan peuldi, Ezie mau ama, Ezie dak mau ama peuldi ( mama mama, mama mau kemana, mama jangan pergi, Kenzie mau mama, Kenzie tidak mau mama pergi) ". Seru Kenzie dengan langsung memeluk erat tubuh Sintia, bahkan bocah kecil itu sudah nampak berkaca - kaca, ia begitu takut, begitu sangat takut jika harus kehilangan mamanya.
" Cepat ambil anakmu, Sintia harus kembali ke tempat pengasingan sekarang ". Perintah Ivan pada Kelvin.
Sintia tak bisa berbuat apa - apa, bahkan buliran air mata itu sudah terjatuh melewati kedua pipinya.
" Ayo Kenzie, Kenzie sama papa ya nak, mamamu harus kembali bekerja sayang, masih banyak orang - orang sakit yang harus mamamu tolong ". Ajak Kelvin pada putranya.
" Dak mau, Ezie dak mau ama peuldi apa, dak mau hwaaa... danan peuldi ama hwaaa... ( tidak mau, Kenzie tidak mau mama pergi papa, tidak mau hwaaa...jangan pergi mama hwaaa...)". Kenzie menangis dengan begitu kencangnya, ia tak rela jika sang mama harus pergi meninggalkannya lagi.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, tetap semangat baca.
__ADS_1
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ