
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Suasana ceria nampak menghiasi rumah pak Budi, apalagi penyebabnya jika bukan karena kehadiran sepasang cucu kembarnya Aganta dan juga Damian.
Di teras halaman belakang rumah, semua orang begitu senangnya mengajak Aganta dan juga Damian mengobrol, dan benar saja berbagai celotehan - celotehan yang tak bisa dipahami oleh orang dewasa banyak meluncur dari mulut mungil Aganta dan juga Damian.
" Damian mau mainan yang mana nak, yang ini mobil - mobilan? ". Tanya pak Budi pada sang cucu.
" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian dengan mengangguk, sedangkan Aganta ia sibuk dengan bola kecil yang dipegangnya.
" Anak - anak daddy yang pintar ini, coba kalian sebut kakek, ayo nak coba sebut kaakeek ". Perintah Al dengan memberi contoh pada kedua anaknya.
" Tek.. tek... ". Sahut Aganta dengan celotehan cadelnya.
Semua orang yang ada di sana tertawa bahagia mendengar sahutan dari Aganta.
" Alhamdulillah, anak mommy bisa menyebut kata kakek sayang, aduh senangnya mommy nak ". Seru Adinda dengan menjembel pipi gembul putranya Aganta.
" Senangnya kakek nak, cucu kakek sudah mulai bisa bicara ternyata ya, horeeee ". Puji pak Budi dengan memberikan tepuk tangannya.
" Ayo suaranya Damian mana, mommy ingin dengar sayang, ayo sekarang sebut kata kaakeek ". Kini giliran Adinda lah yang membimbing.
" Tek... tek... ". Sahut Damian yang tak kalah dari sang kembaran.
Pok... pok... pok... semua orang bertepuk tangan ria melihat kemampuan si kembar, hati mereka begitu menghangat karena kehadiran dua sosok mungil itu, semua beban pikiran seolah hilang entah kemana.
" Adinda nak, kalau bibi perhatikan, sifat Aganta lebih mirip kamu ". Seru bu Nadia.
" Iya nak, setelah ayah perhatikan juga sifat Aganta terlihat sebelas dua belas mirip kamu sewaktu kamu masih bayi dulu, tidak terlalu banyak berceloteh dan lebih banyak tersenyum ". Imbuh pak Budi yang membenarkan.
" Entahlah ayah, bi, ya mungkin saja kalau sifat Aganta lebih mirip dengan Adinda ". Sahut nya.
Al hanya menyimak obrolan sang istri dengan ayah dan juga bibinya. Al tidak tahu bagaimana sifat istrinya Adinda semasa kecil, namun jika dilihat - lihat memang benar jika sifat istrinya Adinda lebih menurun pada Aganta yang cenderung lebih tenang.
*****
Di lain tempat di negara yang berbeda dimana sang mentari telah terbenam dan menyebabkan langit menjadi malam, nampak seorang gadis masih tetap setia menatap benda pipih yang hanya berukuran beberapa inci itu.
Diandra memperhatikan kartu telepon miliknya yang sudah lama tidak ia gunakan hingga terbesit dalam otak kecilnya untuk memasang kembali kartu jadulnya itu.
Dan benar saja, banyak sekali panggilan telepon yang masuk, bahkan yang membuat Diandra tak percaya adalah lebih dari seribu panggilan via telepon dari Al yang yang telah masuk namun tak pernah ia balas.
" Ya Tuhan Al, kamu menelpon ku hingga sebanyak ini?, maafkan aku Al ". Gumam Diandra penuh rasa bersalah.
" Apa aku hubungi Al saja ya?, tapi tidak, aku tidak ingin menggunakan kartu ini, lebih baik aku menggunakan nomer yang baru saja ". Imbuh Diandra.
*****
Kini Al dan juga Adinda, tak lupa dengan kedua bayi gembulnya telah kembali ke rumahnya. Aganta dan Damian sedang lelap dalam tidur siangnya.
" Sayang, mas mau mandi dulu ya, rasanya badan mas sudah terasa lengket sayang ". Seru Al dengan mengelus - ngelus lehernya.
" Iya sana mas mandi, biar Adinda siapkan baju gantinya ". Sahut nya.
__ADS_1
Al pun masuk ke kamar mandi, begitupun dengan Adinda, ia menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
" Mas Al menggunakan baju yang ini sajalah, ini terlihat lebih santai ". Gumamnya.
Setelah menyiapkan baju untuk sang suami, kini Adinda beralih menatap pada kedua putra kembarnya yang sedang tidur terlelap.
" Anak - anak mommy, kalian tidurnya nyenyak sekali nak, pasti kalian lelah karena bermain cukup lama dengan kakek ya?, ya sudah tidur yang cukup ya nak ". Gumam Adinda, lalu ia mengecup kening kedua putranya secara bergantian.
" Ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan yang telah Engkau berikan pada keluarga kami, janganlah Engkau biarkan kebahagiaan ini menghilang, amin ". Batin Adinda berdoa.
Masih dalam keadaan memandang wajah kedua putranya, namun tiba - tiba saja terdengar.....
Drtt... drtt... drtt... adanya getaran handphone, dan ternyata handphone milik sang suami lah yang bergetar yang menandakan jika sedang ada seseorang yang melakukan panggilan.
Adinda mendekat dan meraih handphone itu yang terletak di atas nakas.
" Kenapa tidak ada namanya?, apa aku biarkan saja dulu ya, tapi sepertinya penting ". Gumamnya.
Adinda ingin menekan tombol hijau pada layar ponsel suaminya, namun sayang, belum sempat dirinya melakukannya, tiba - tiba saja panggilan handphone itu telah berakhir.
" Sudah mati?, ya sudahlah biarkan mas Al saja nanti yang menghubunginya ". Gumam Adinda dan ia pun meletakkan kembali handphone milik suaminya itu di atas nakas.
Ibu dari dua orang anak itu mulai mengistirahatkan tubuhnya di sandaran kasur, namun baru beberapa saat dirinya bersandar tiba - tiba.....
Drtt... drtt... drtt...
Handphone suaminya kembali bergetar. Adinda pun kembali mendekat dan meraih handphone itu kembali, dan ternyata yang menelfon adalah nomer yang sama.
" Pasti ini sangat penting ". Gumamnya, lalu Adinda pun menerima panggilan itu.
Namun tak ada sahutan dari orang di balik handphone itu.
" Halo, assalamu'alaikum, ini dengan siapa? ". Sahut nya lagi, namun tetap tak ada sahutan.
" Halo ini dengan siapa?, saya is... ".
Tuut... tuut... tuut......
Kalimat Adinda menjadi terhenti kala orang yang melakukan panggilan suara itu mematikan handphone nya. Adinda mengernyit bingung.
" Apa?, apa yang terjadi?, kenapa dimatikan? ". Gumamnya heran.
β
Sedangkan di tempat dimana Diandra menelfon, ia menjadi terdiam. Entah mengapa saat ini di lubuk hatinya seperti ada sebuah desiran yang begitu tak mengenakkan.
" Kenapa yang menjawabnya seorang wanita?, suara itu bukan suara tante Devina ".
" Sebenarnya siapa wanita itu? ". Gumam nya lirih.
*****
Setelah hampir tiga puluh menit lamanya dirinya mandi, barulah Al selesai dengan aktivitasnya.
Dengan hanya menggunakan kimono putihnya, Al mendekati sang istri.
__ADS_1
" Sayang ada apa? ". Serunya.
Adinda langsung tersentak, kala mendengar suara bariton itu, ia tak sadar jika sang suami telah selesai dari aktivitas mandinya.
" Eh mas, mas sudah selesai mandi?, tidak, tidak apa - apa, hanya saja tadi ada seseorang yang menelfon mas, tapi setelah Adinda menjawabnya malah tidak ada sahutan ". Tutur sang istri menjelaskan.
Al sedikit mengernyit.
" Memangnya siapa namanya sayang? ". Sahut Al dan ia pun meraih benda pipih itu.
" Entahlah mas, Adinda juga tidak tahu, tidak ada nama yang tertera di sana ". Sahut nya.
Al mengotak - atik handphone pintar miliknya itu.
" Sayang, kalau ada orang yang menelfon mas tapi tidak ada namanya jangan diangkat sayang, itu hanya orang iseng saja yang mencoba mengerjai mas ". Peringat Al.
" Mas Al sering mendapatkan panggilan seperti ini? ". Sahut Adinda yang penasaran.
" Iya sayang, dan itu sangat banyak, ya maklum saja di luaran sana banyak orang - orang yang tidak suka dan ingin menghancurkan perusahaan yang selama ini keluarga Georgino rintis, tapi sangat disayangkan usaha mereka selalu gagal, jadi mas ingatkan sama kamu, untuk jangan pernah mengangkat nomer yang tak dikenal meski itu dari handphone mu sendiri ". Ujar Al menasehati.
Mendengar penuturan dari sang suami membuat Adinda menjadi sangat gelisah dan takut. Penjelasan sang suaminya Al telah berhasil membuat hatinya merasa tak tenang.
" Sayang, tenanglah kamu takut? ". Serunya, Al paham jika istrinya sudah nampak begitu khawatir.
" Adinda takut mas, bagaimana kalau orang - orang itu berbuat jahat pada kita, apalagi pada anak - anak? " . Serunya.
Al memeluk tubuh mungil sang istri. Untuk sesaat ia merasa menyesal karena telah memberi tahu istrinya.
" Sayang, tenanglah, mereka tidak akan bisa mengganggu kita, dan inilah sebabnya setiap kamu ingin keluar harus dengan mas, ataupun dengan bodyguard kepercayaan papa, supaya tidak ada orang yang bisa menjahatimu dan juga anak kita, tenanglah sayang, semuanya akan baik - baik saja ". Seru Al dengan mengelus pucuk kepala istrinya.
" Jadi itulah sebabnya mengapa mas Al tidak pernah mengundang media massa saat ada acara penting, karena dia begitu sangat ingin melindungi keluarganya ". Batin Adinda.
*****
Sang mentari sudah mulai condong ke ufuk barat, yang menandakan telah masuknya waktu sore.
Terdapat tiga orang wanita paru baya dengan tiga orang bodyguard yang saat ini tengah duduk tenang menghadap Andrew.
" Jadi kalian, orang yang dikirim mama untuk bekerja di rumahku? ". Tanya Andrew.
" Benar tuan, kami sudah dipilih dan dipercaya oleh nyonya untuk bekerja membantu tuan Andrew dan juga nona Vita disini ". Sahut salah seorang wanita paru baya itu.
" Ya sudah, mulai hari ini kalian sudah bisa bekerja di rumah ku sesuai dengan tugas kalian masing - masing ". Seru Andrew.
" Di belakang sana ada tujuh kamar kosong khusus untuk orang yang bekerja padaku, kalian boleh memilih kamar itu sesuai keinginan kalian, dan ingat satu hal, aku tidak suka dengan orang yang malas dan suka menunda - nunda pekerjaan, apa kalian paham? ". Peringat Andrew.
" Paham tuan ". Sahut mereka serempak.
Dan para pekerja baru itupun akhirnya menuju ke kamarnya masing - masing.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk menyelesaikan karya ini.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ