
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Sayang, aku menginginkannya sekarang, bolehkah aku meminta hak ku sebagai seorang suami sayang?, tenanglah aku akan melakukannya secara perlahan ". Seru Andrew dengan tatapannya yang sudah mulai sendu.
Deg.. deg..... deg.. deg..
Rasa gugup itu semakin tak terelakkan lagi. Vita terdiam, lidahnya terasa kelu, dan hanya menampilkan wajah datar nan tatapan sejurus dengan kedua manik mata sang suami.
" Kamu tidak menjawabnya sayang?, baiklah aku tidak akan memaksa ". Sahut Andrew dan ia pun memindahkan tubuh kekarnya di samping tubuh sang istri. Kecewa, itulah yang dirinya rasakan.
Dengan tanpa kata dan tanpa izin, pria yang belum genap satu hari menyandang status sebagai seorang suami itu mulai beranjak dari ranjangnya.
" Mas, mas mau kemana? ". Seru Vita pada sang suami.
" Mau ganti baju ". Sahut Andrew tanpa mengalihkan pandangannya pada sang istri.
Rasa bersalah dan rasa takut karena tak dapat menunaikan keinginan sang suami membuat Vita merasa berdosa sehingga ia pun turut beranjak dan berlalu dari posisinya menghampiri sang suami.
" Mas ". Serunya dengan menyentuh lengan kekar sang suami hingga membuatnya tertentu dari langkahnya, namun Andrew sama sekali tak menyahut seruan sang istri.
" Mas, mas Andrew marah sama Vita? ". Tanyanya.
" Tidak, aku tidak marah ". Sahut Andrew dengan masih tak melihat istrinya.
" Kalau mas tidak marah kenapa mas tidak melihatku saat berbicara denganku? ". Seru Vita lagi, bahkan kini kedua manik matanya sudah mulai berkaca - kaca.
Andrew pun berbalik menghadap istrinya, deg... dan betapa terkejutnya ia kalau melihat kedua manik mata indah sang istri yang terlihat berkaca - kaca.
" Sayang kamu kenapa? ". Seru Andrew yang merasa khawatir.
Dengan rasa bersalah yang begitu menggelantungi hatinya membuat Vita langsung memeluk tubuh kekar sangat suami.
" Mas, maafkan Vita ya ". Serunya lirih.
" Sayang, kamu kenapa seperti ini sayang?, maafkan mas ya ". Serunya dengan perasaan sesal yang mulai terasa, Andrew sadar sekarang istrinya bersikap seperti ini pasti karena rasa bersalahnya.
Pria bertubuh kekar itupun akhirnya mulai menguraikan rengkuhan istri mungilnya. Ditatap nya wajah istrinya itu lekat - lekat.
" Mas, maafkan Vita, bukan maksudku untuk menolak mas tadi ". Sahut Vita pada akhirnya.
Cup..... sebuah kecupan hangat telah Andrew berikan di kening Vita.
" Harusnya mas yang meminta maaf sayang karena terlalu memaksamu ". Seru Andrew.
Untuk sesaat Vita menggeleng. Entah keberanian darimana yang didapatkan oleh seorang Vita hingga ia mulai menjinjitkan kedua kaki mungilnya dan Cup... cup... ia mencium bibir suaminya.
Andrew cukup tersentak dengan perlakuan Vita yang menurutnya sangat tidak mungkin dilakukannya.
Cup... cup... cup... Vita mengulang ciumannya pada sang suami. Mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja membuat Andrew tak ingin melewatkan kesempatan ini.
Andrew menggendong tubuh mungil istrinya, ia meraup bibir kenyal itu dengan penuh gair*h. Dengan tanpa melepaskan pagutan bibirnya dari bibir sang istri, Andrew terus melangkah membawanya hingga sampailah ia di atas kasur dan merebahkan tubuh berharga istrinya dengan perlahan.
Pelan tapi pasti inilah yang terjadi. Kini tubuh merekah telah sama - sama polos tanpa adanya sehelai benang pun yang melekat.
Sekali lagi Andrew menatap wajah Vita istrinya dengan begitu lekat yang saat ini berada dalam kungkungannya.
__ADS_1
" Sayang, bolehkah aku melakukan nya sekarang? ". Serunya dengan suara serak dan tatapannya yang terlihat sendu akibat dari menahan hasrat yang begitu bergejolak.
Diraihnya rahang tegas sang suami.
" Lakukanlah mas ". Sahut Vita.
Cup... " Aku akan melakukannya secara perlahan sayang agar kamu tidak terlalu sakit ". Sahut nya dan Vita pun mengangguk.
Andrew pun kembali menyambar bibir kenyal istrinya itu, tidak lupa ia melakukan foreplay agar permainannya menjadi lebih mudah.
Dirasa sudah cukup melakukan pemanasan, kini Andrew mulai memasukkan senjata tumpul miliknya itu liang kepemilikan Vita.
Secara perlahan ia mulai memasukkan nya. Vita yang merasakan adanya benda tumpul yang begitu keras dan melebihi ukuran miliknya yang sedang berusaha menerobos miliknya hanya bisa merintih, hingga...
" Akh ". Pekik Vita kala dengan membelalakkan kedua bola matanya, kala milik suaminya Andrew telah berhasil masuk seutuhnya.
Andrew mulai memacu miliknya itu secara perlahan, sedangkan Vita, ia berusaha menahan, dengan meremas kedua pundak sang suami.
Sepanjang penyatuan kedua insan itu, hanya ada erangan dan seruan dari Vita untuk mengakhiri penyatuannya, namun nampaknya Andrew sang suami masih belum mencapai pada puncak pelepasannya.
Hingga setelah hampir satu jam lamanya barulah pria bertubuh kekar itu ambruk karena telah sampai pada titik pelepasannya.
Andrew mengangkat kepalanya, ditatapnya wajah sang istri dengan kedua bola mata yang sudah terpejam namun masih belum berada di alam mimpi, nampak di sana terdapat banyak titik - titik keringat yang mengembuni wajah cantiknya.
Disuap nya keringat itu secara perlahan. Rasa lelah begitu nampak di wajak cantik istrinya.
" Sayang ". Serunya.
Vita mulai membuka kelopak matanya.
" Lepas ". Sahutnya dengan nada yang hampir tak terdengar.
Cup... sebuah ciuman yang cukup lama dan mendalam kembali mendarat di kening istrinya.
" Sayang ". Serunya, namun tak ada sahutan.
" Sayang ". Serunya lagi.
Vita pun membuka kelopak matanya kembali.
" Iya mas ". Sahutnya lirih.
" Maafkan aku karena sudah membuat mu seperti ini, dan terima kasih karena kamu masih menjaganya untukku ". Ucap Andrew.
Vita tersenyum sebelum akhirnya ia mengangguk. Kini Andrew telah menutup bagian sprei yang terkena bercak darah tadi dengan selimut yang sebelum akhirnya ia meluruskan kedua kaki istrinya kembali.
Pria bertubuh kekar itu kembali memeluk tubuh mungil sang istri dan membawanya ke alam mimpi yang indah. Kini sepasang pengantin baru yang telah melewati malam yang begitu mengg*irahkan itu sudah terlelap bersama menikmati indahnya malam.
*****
Suasana hangat nan nyaman seolah tak pernah luntur menghiasi kebahagiaan keluarga Georgino. Apalagi dengan hadirnya kedua bayi gembul yang begitu menggemaskan telah menjadi penentu sumber kebahagiaan.
Namun kehadiran kedua bayi pemberi kebahagiaan itu memang tak dapat dipungkiri juga telah menimbulkan perasaan bersalah dan ingin melakukan penebusan akan hari - hari yang telah dilalui namun telah dilewatinya begitu saja karena sebuah hal yang tak lain dan tak bukan adalah kebodohan dan ketidakpekaan.
" Sayang menantu mama ". Panggil Devina.
" Iya ma ". Sahut nya lembut.
__ADS_1
" Tanpa terasa usia kedua cucu mama dua minggu lagi sudah memasuki usia sembilan bulan, mereka kan minum ASI mu nak, kapan rencana mu membuat mereka berhenti minum ASI? ". Ujar Devina bertanya.
" Kenapa mama bertanya seperti itu? ". Timpal Al sebelum istrinya menyahut.
" Mama bertanya pada istri mu Al bukan padamu, kan istrimu yang menyusui anakmu bukan kamu ". Sahut sang mama.
" Ya ampun ma, apa salahnya sih Al bertanya, ini kan menyangkut pemenuhan nutrisi kedua putraku, memangnya kenapa sih mama bertanya seperti itu, jangan katakan kalau mama ingin agar kedua putraku berhenti menyusu, tidak - tidak Al tidak izinkan, kedua putra ku masih bayi ma, mereka sangat membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembangnya ". Sahut Al dengan raut tak terimanya.
Devina menepuk jidatnya, ia benar - benar tak habis pikir dengan putra semata wayangnya itu.
" Al, putra kesayangan mama, dengarkan dulu kalau mama sedang berbicara, anak - anakmu itu adalah cucu - cucu kesayangan mama, kebutuhan nutrisi mereka sangat penting bagi mama, tanpa kamu mengatakan pun mama sudah tahu, memangnya siapa yang sudah membuatmu tumbuh besar dan menjadi pria hebat seperti ini kalau bukan mama ". Sahut Devina dengan wajah geramnya pada putranya.
Al yang awalnya memasang wajah garang mendadak kini menjadi menciut. Benar apa yang dikatakan oleh mamanya, karena kasih sayang, cinta, dan perawatan yang diberikan oleh sang mama lah yang telah membuatnya menjadi pria hebat seperti sekarang ini.
" Sayang sudah, jangan dengarkan ucapan suamimu, kamu dengarkan ucapan mama dulu saja nak ". Lanjut Devina lagi, dan Adinda pun hanya tersenyum kecut.
" Nak, kapan rencana kamu akan berhenti memberi ASI pada Aganta dan juga Damian ". Lanjut Devina lagi.
" Mungkin Adinda akan berhenti memberi ASI pada anak - anak kalau usia mereka sudah dua tahun ma ". Sahutnya.
" Bagus, tapi kalau kurang sedikit dari itu mama rasa juga tidak apa - apa nak ". Sahut sang mama.
" Memangnya ada apa ma ". Ujar Adinda, karena ia merasa sepertinya mama mertuanya ia seperti ada sesuatu yang tak ingin diungkapkan.
" Tidak apa - apa nak, hanya saja setiap kali mama melihat kedua cucu mama, mama merasa bersalah dan berdosa karena tidak sempat menjaga dan merawat mereka saat berada dalam kandungan mu ". Sahut Devina, bahkan tanpa terasa kedua manik matanya sudah mulai berembun.
Al yang mendengar penuturan sang mama pun kembali merasakan dadanya yang begitu sesak. Rasa bersalah itu kini kembali mencuat dan dengan tanpa ampun telah kembali mengoyak hatinya.
" Adinda bolehkah mama meminta satu hal padamu nak? ". Lanjut Devina.
" Katakanlah ma, mama ingin meminta apa?, selagi Adinda bisa, Adinda akan melakukannya ". Sahut Adinda dengan tersenyum.
" Nak, mama ingin disaat Aganta dan juga Damian telah berhenti menyusu kamu berhenti meminum obat penunda kehamilan, karena mama ingin memiliki cucu lagi ". Sahut Devina.
Adinda cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh mamanya, jadi mama mertuanya menanyakan kapan ia akan berhenti memberikan ASI untuk kedua putranya karena ingin memiliki cucu lagi?, benar - benar sulit dipercaya.
" Mama ingin punya cucu lagi ". Timpal Al, bahkan yang tadinya rautnya nampak begitu sedih kini mendadak menjadi sumringah.
" Iya, kenapa kamu terlihat senang begitu Al?, sangat mencurigakan ". Sahut sang mama menyelidik.
" Tentu Al senang ma, kan mama ingin punya cucu lagi, dengan senang hati Al akan membuatnya ". Sahut Al dengan senyuman yang begitu mengembang diwajahnya.
Plak... plak...
" Aw ma sakit ". Pekik Al kala mendapat pukulan di lengan kekarnya.
" Kamu ini Al giliran membuat anak saja sangat pintar dan semangat, tapi disuruh mencari keberadaan Adinda saja sangat lama, dasar payah ". Sahut sang mama kesal.
Tak ingin menggubris sang putra Devina kembali berpaling pada menantu kesayangannya.
" Adinda nak, kamu mau ya mengabulkan permintaan mama, mama ingin setelah kedua cucu mama berhenti menyusu, mama ingin kamu hamil lagi, kenapa mama menginginkan ini karena mama ingin mengganti semua yang berhak kamu dan cucu mama dapatkan semasa kamu hamil nak ". Seru Devina sendu, dan sebagai seorang oma, inilah keinginan yang bersemayam kuat di dalam lubuk hatinya.
Bersambung..........
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya, selamat membaca.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ