
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Al terus melajukan mobil asistennya itu dengan kecepatan tinggi bak seorang pembalap mobil, dari saking cepatnya dirinya mengendarai mobil itu, hanya membutuhkan waktu lima menit dari rumah sakitnya hingga sampai di gerbang pintu halaman rumah pribadinya.
Sinar cahaya dari lampu mobil itupun telah berhasil mengalihkan pandangan beberapa orang petugas serta para bodyguard nya.
Sepanjang Al memandang halaman luas rumahnya, semuanya sudah nampak terlihat sepi, para tamu undangannya pun sudah tak lagi ada, dan tenda - tenda penghias malam resepsinya, sudah banyak di lepas dari tempat pemasangannya.
Menyesal, sudah pasti menyesal, namun sayang semuanya sudah terlambat, bukan terlambat, namun dirinyalah yang terlalu bodoh.
" Di malam resepsi pernikahan kita, aku sudah melakukan kesalahan fatal sayang, mungkin malam ini bukanlah malam yang tepat untuk malam indah kita, dan aku memang harus mengulangnya kembali, bahkan setiap tahunnya memang harus dirayakan ". Gumam Al mantap, sebelum akhirnya pria bertubih tinggi itupun keluar dari mobil asistennya.
" Selamat datang tuan ". sapa beberapa bodyguard yang menyapanya.
Namun karena Al sedang dilanda oleh rasa panik dan bersalah, membuatnya tak menyahut sapaan itu. Al terus melangkah cepat memasuki rumahnya.
Dalam langkahnya Al sempat menatap jam tangannya, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul satu malam lewat, ini sudah benar - benar tengah malam. Wajar jika semua orang di rumahnya sudah terlelap dengan lampu ruangan yang sudah di matikan.
Dengan perlahan Al membuka handle pintu kamarnya. Ia tak ingin jika sang istri sampai merasa terganggu.
Ditutupnya pintu kamarnya itu secara perlahan. Al melangkah pelan mendekati istrinya yang ternyata sudah terlelap, bahkan gaun pengantinnya pun sudah istrinya tanggalkan.
Al duduk berjongkok di samping kasur istrinya itu. Ditatap nya wajah istrinya lekat - lekat. Sangat terlihat jelas dari kedua kelopak matanya yang terpejam sudah terlihat bengkak.
Al semakin merasa bersalah, bisa - bisanya dirinya meninggalkan istrinya di pelaminan seorang diri. Jahat memang, dirinya benar - benar sangat jahat.
Cup... sebuah kecupan lembut, Al lekatkan di kening istrinya. Ia menciumnya cukup lama sambil berkata...
" Maafkan aku sayang, yang sudah menyakitimu, aku pasti menebus semua kesalahan ini, dan akan aku jadikan setiap tahunnya ada bagian dari malam indah kita sebagai pengganti malam yang sudah aku sia - siakan ". Batinnya.
Setelah mengucap janji itu, barulah dirinya melepas kecupannya dari kening sang istri. Al mulai menaiki ranjang kasurnya itu secara perlahan agar istrinya tak terbangun.
Pria bertubuh kekar itupun memeluk dengan hangat tubuh istrinya itu yang masih dalam keadaan miring, namun sayang pergerakan tangannya yang sudah dirasa halus, ternyata masih membuat tidur lelap sang istri menjadi terusik.
Adinda membuka kedua kelopak matanya kala ia merasakan adanya sebuah rengkuhan hangat yang menyentuh lengan hingga perutnya. Lalu Adinda pun berusaha memindahkan lengannya sendiri agar pandangannya bisa menjangkau sesuatu yang mengenai tubuhnya itu.
" Sayang ". Seru Al.
Sontak Adinda pun langsung menoleh ke arah samping tubuhnya, dan ternyata suaminyalah yang sedang memeluknya.
" Sayang, kamu bangun, apa kamu perlu sesuatu? ". Seru Al lagi.
Adinda tak menyahut seruan suaminya, malah yang ada Adinda memunggungi tubuh suaminya, sepertinya Adinda merasa enggan jika harus menatap wajah suaminya.
" Sayang, maafkan aku, maafkan aku sayang, aku bisa menjelaskan semuanya ". Seru Al lagi, namun masih tak ada respon apapun dari istrinya itu.
Adinda masih memunggungi suaminya, dan kini, air mata itu kembali terjatuh. Adinda menangis lagi, bahkan tubuhnya pun terasa bergetar, yang mengungkapkan betapa terlukanya hatinya saat ini.
__ADS_1
" Sayang, maafkan aku, coba tatap aku sebentar, aku akan menjelaskan nya sayang ". Pintanya lembut.
" Sayang, aku tahu, aku salah karena sudah meninggalkanmu di pesta kita, tapi itu aku lakuka.... ".
" Jangan bicara lagi mas hiks... Adinda tak butuh penjelasan apapun hiks... kamu jahat mas hiks hiks... ". Potongnya dengan sesenggukan.
Deg...
" Maafkan aku sayang, maafkan aku... tapi kalau tidak aku jelaskan... ".
" Kalau mas bicara lagi, Adinda akan keluar dari kamar ini ". Tubuhnya pun sudah mulai beranjak.
" Baiklah sayang, baiklah... aku tidak akan menjelaskan apapun lagi sayang, tapi tolong jangan keluar dari kamar ya, aku mohon sayang ". Sahut Al memohon dengan berusaha menahan tubuh istrinya yang sudah bangkit.
Tak ada sahutan lagi dari Adinda. Wanita hamil itu kembali membaringkan tubuhnya. Dengan masih berusaha meredam kan isak tangisnya, Adinda masih memunggungi suaminya.
Hatinya begitu remuk, sangat sakit yang dirasakan nya, dirinya tak ingin mendengar kalimat apapun dari suaminya, karena semakin suaminya itu berbicara, semakin membuat luka hatinya menjadi lebih menganga.
" Maafkan aku sayang... Ya Allah, bagaimana caraku untuk menjelaskan nya?, tenanglah Al, kamu jangan terlalu memaksakan diri, biarkan istrimu tenang dulu ". Batinnya.
Dan Al pun kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri, yang ternyata masih sedikit bergetar karena berusaha menahan isak tangisnya.
*****
Pagi hari sekali...
Plakk... plakk...
" Beraninya kamu mempermalukan Adinda, dasar laki - laki tak tahu diri, kamu pergi tanpa izin dan meninggalkan Adinda sendirian di pelaminan tanpa kembali lagi, apa kamu pikir acara itu sebuah mainan, dasar laki - laki tak tahu diri, apa kamu tahu akibat dari perbuatan mu itu hah? ". Bentak Herdi dengan segala amarahnya pada Al.
" Pa, sudah pa, tolong kendalikan diri papa, biarkan nak Al menjelaskan nya dulu, jangan papa marah seperti ini pa ". Seru Indah yang berusaha menenangkan suaminya.
Al hanya diam, dirinya tak menyangkal jika paman Herdi nya akan semarah ini, karena apa yang dilakukannya benar - benar sudah pada batas toleransi. Baru tadi subuh mamanya menampar nya, sekarang paman Herdi nya lah yang menampar, bahkan lebih parah dari tamparan mamanya.
Adinda yang melihat suaminya di tampar oleh pamannya itu, sebenarnya merasa sangat kasihan dan juga sedih, apalagi di sudut kiri bibir suaminya terlihat mengeluarkan bercak darah. Adinda hanya bisa menangis dengan menahan isakannya.
" Kamu lupa atau pura - pura lupa, bukankah aku sudah pernah mengingatkan mu, jangan kamu menyakiti Adinda lagi, tapi apa ini?, kamu malah membuatnya menangis dan mempermalukan nya di depan banyak orang, kalau kamu memang tidak sanggup menjaga dan membahagiakan Adinda, lepaskan saja, kembalilikan Adinda pada keluarganya yang masih tulus bisa menyayangi dan membahagiakan nya ".
Deg...
Sontak saja semua orang yang ada di ruangan tertutup itupun langsung menoleh terkejut pada Herdi. Bisa - bisanya Herdi mengatakan hal yang menyiratkan sebuah perpisahan, tidak, itu bukanlah hal yang baik, bagaimana bisa Herdi mengucapkan kalimat itu.
" Paman, apa yang paman katakan, sampai kapanpun, Al tidak akan melepaskan Adinda, Al sangat mencintai Adinda paman ". Sahut Al dengan rautnya yang sudah terlihat panik.
" Tuan Herdi, apa yang anda bicarakan tuan?, jangan anda bicara seperti ini, saya tahu anda sangat marah dan kecewa pada putra saya Al, tapi saya mohon, janganlah tuan mengatakan sesuatu yang pada akhirnya bisa menyakiti anak - anak kita, Al dengan Adinda saling mencintai tuan ". Seru Enriko yang berusaha meredakan kekesalan besannya Herdi.
" Cinta?, putra anda Al mencintai keponakan saya, bagaimana mungkin orang yang mencintai seseorang bisa dengan tega meninggalkan bahkan mempermalukan orang yang dicintainya?, tidak ada cinta yang seperti itu tuan Enriko ". Sentak Herdi.
Entahlah apa yang terjadi pada paman Adinda. Herdi sang paman sudah benar - benar tak bisa menerima penjelasan maupun pengertian apapun. Baginya, siapapun orang yang sudah menyakiti keponakan tercintanya itu, tidak akan ia maafkan.
__ADS_1
" Adinda, kamu lihat kan para bodyguard yang sudah paman bawa?, iya benar, paman dan tante mu datang kemari untuk membawamu dan juga anak - anakmu, jadi bereskan semua barang - barang mu, kalian ikut paman pulang sekarang juga ".
Deg.... Sontak Al pun langsung berdiri dari posisinya.
" Paman, apa yang paman katakan, Adinda tidak akan pergi dari rumah ini, Adinda adalah istriku paman, jadi akulah yang lebih berhak atas dirinya, paman tidak bisa memaksa istriku untuk ikut paman, tidak bisa ". Sentak Al yang tak terima.
" Aku tak peduli lagi, dan kalimatmu itu tak ada gunanya, bukankah aku sudah mengingatkan, jangan pernah sakiti Adinda lagi, jika kamu mengulang lagi, dan tak peduli apapun alasannya, tidak akan aku maafkan, apa kamu itu ". Sahut Herdi dengan nadanya yang sudah terdengar menggelegar.
" Pa, sudah pa, apa yang papa katakan, jangan bertindak gegabah pa, apa yang papa lakukan ini hanya akan menimbulkan perpecahan keluarga, ingat sama cucu - cucu kita, bagaimana nasib Aganta dan Damian kalau sampai kedua orang tuanya berpisah? ". Seru Indah lagi dengan segala ketidaksanggupannya.
" Tuan Herdi, saya mohon dengan sangat pada anda, saya tahu, bahkan saya juga sangat marah dengan kesalahan fatal yang dilakukan oleh putra saya Al, tapi kita juga harus paham tuan, tidak ada sebuah hubungan rumah tangga yang tak punya masalah, setiap rumah tangga pasti ada konflik dan juga ujiannya, termasuk dengan apa yang terjadi pada kita semua, pada rumah tangga anak - anak kita, jadi saya mohon pada anda tuan, tenangkanlah diri anda, kita bisa membicarakan masalah ini dengan baik - baik, tuan, suatu keputusan yang diambil dalam keadaan marah, hanya akan berakhir pada sebuah penyesalan ". Seru Enriko lagi. Ia sudah tak tahu lagi, bagaimana cara memberikan pengertian pada besannya.
" Maaf tuan Herdi, untuk kali ini, apa yang diucapkan oleh suami saya adalah benar tuan, bukan hanya anda yang kesal, saya pun sebagai mama Al, sangat marah dan kecewa padanya ". Seru Devina juga pada akhirnya setelah cukup lama dirinya diam.
Adinda yang menyaksikan bagaimana keributan ini terjadi, benar - benar semakin membuat batinnya terluka. Air matanya mengalir semakin deras. Apakah dirinya terlalu egois karena tidak bisa mendengarkan penjelasan dari suaminya?, tapi hatinya saat ini masih begitu terluka. Bukan maksudnya ingin mengabaikan dan tak membela suaminya, namun dirinya butuh waktu untuk diam dan menyendiri agar segala rasa sakit di hatinya menjadi lebih reda.
Herdi yang mendengar penuturan dari sang besan Enriko dan Devina pun menjadi sedikit lebih bisa menurunkan emosinya, mungkin benar apa yang diucapkan oleh kedua besannya itu, namun, bukan berarti itu semua bisa memaafkan kesalahan Al.
" Paman Herdi, Al tahu, Al sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, dan mungkin Al akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan Al, tapi tidak dengan membiarkan istri dan juga anak - anak Al pergi dari rumah ini.
" Tapi sayangnya, hanya ada satu penebusan untuk kesalahan mu itu Al, mau tidak mau, suka tidak suka, untuk sementara waktu, Adinda dan juga anak - anaknya, harus ikut denganku, kamu tidak mengijinkan? biarlah penentu akhirnya ada pada para bodyguard di luar sana ". Putus Herdi.
Deg... apa yang terjadi pada pagi ini seperti sebuah bom waktu yang sudah meledak tepat pada waktunya. Sepertinya akan ada perang dingin diantara kedua keluarga besar itu. Dan Herdi, sudah tetap pada keputusannya.
Al sangat tak ingin jika harus kehilangan istri dan juga anak - anaknya meski itu hanya sementara, tidak, Al tetap tak ingin itu terjadi.
" Sayang, ayo kita ke kamar, kamu istirahat ya di sana ". Ajak Al pada istrinya yang masih menangis.
" Tidak bisa, apa - apaan ini, Adinda harus ikut denganku, Adinda panggil kedua anak kembar mu nak, kita pulang sekarang ". Tahan Herdi lalu ia bersaha menarik tangan keponakannya.
" Tidak bisa paman, paman tidak bisa seperti ini, Adinda adalah istriku, jadi yang paling berhak atas hidupnya adalah aku ". Sentak Al lagi dengan melepas genggaman tangan Herdi dari tangan istrinya.
" Kurang ajar kamu plakk... plakk... ". Herdi kembali menampar Al.
Al dan juga Herdi masih bersikukuh untuk mempertahankan Adinda. Bahkan yang terjadi kali ini sudah menjadi keributan besar. Herdi tak henti - hentinya memukul Al, sedangkan Al tak melawan, namun tubuhnya masih berdiri tegak ingin mempertahankan istrinya.
Adinda sang istri pun sudah menolak keputusan pamannya, karena biar bagaimana pun, Al tetaplah suaminya. Enriko terus berusaha melerai pertikaikan antara putranya dengan sang besan, namun tak kunjung berhasil, keduanya sama - sama keras kepala dan tak bisa diajak berdamai, hingga akibat dari keributan itu...
Brakk... Devina tersungkur tak sadarkan diri, dengan tergeletak tak berdaya.
" Mama ". Pekik Enriko.
Sontak semua orang pun sangat terkejut dengan pingsannya Devina. Tentu saja Devina pingsan, karena ia tak ingin kehilangan menantu dan juga cucu - cucunya.
" Ma, mama kenapa ma, Ya Allah, ma... ". Panik Al, lalu ia pun bergegas mendekati mamanya.
Bersambung...........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ