Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Hanya Kamu Wanitaku


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Kegiatan sarapan pagi pun baru saja usai. Devina sang mama yang memang sudah tiba di waktu yang sangat pagi, nampaknya sudah tak sabar ingin bercanda ria dengan kedua cucu kembarnya.


" Ayo Aganta, Damian main sama oma nak, ayo mainannya sudah menunggu di sana ". Ajak Devina dengan berusaha menuntun kedua cucunya.


" Al, Adinda, mama main sama si kembar dulu ya nak ". Ujar sang mama.


" Iya ma ". Sahut Al dan Adinda bersamaan.


" Myh myh myh ta ta ta ( mommy mommy mommy dada) ". Seru Damian pada sang mommy dengan melambaikan tangan mungilnya sebagai tanda jika dirinya ingin bermain dengan sang oma.


" Iya anak - anak mommy, selamat bermain dengan oma ya nak ". Sahutnya dengan tersenyum.


Seusai menyahuti Damian, sudah tak ada lagi kalimat yang dilontarkan oleh Adinda, bahkan saat di kamarpun ia hanya memandikan anak - anak nya dan menyiapkan keperluan untuk suaminya bekerja tanpa ada keinginan untuk bertanya pada sang suami.


Jujur saja pada awalnya Al merasa bingung mengapa istrinya bersikap acuh padanya, namun setelah itu ia menyadari jika ada suatu masalah yang sedang dialami oleh istrinya namun tak ingin diungkapkan.


" Sayang, mas berangkat ke kantor dulu ya ". Seru Al dengan menahan pergelangan tangan istrinya yang sudah berdiri tegak.


" Iya, mas hati - hati ". Sahut Adinda dan ia pun mencium tangan sang suami sebelum akhirnya berlalu ke kamar meninggalkan suaminya.


" Sayang, kamu ada masalah apa sih?, selalu saja kalau ada masalah kamu menyimpannya sendiri tidak pernah mau cerita ". Batin Al resah.


*****


" Ya Allah nak, jadi benar dugaan mama, jika menantu mama yang cantik ini sedang hamil, alhamdulillah terima kasih anakku ". Seru Clara dengan memberikan pelukan hangat pada Vita sang menantu.


" Iya ma, sama - sama, Vita sangat bersyukur karena Tuhan mempercayai Vita dan mas Andrew untuk menjadi orang tua ". Sahut Vita bahagia sebelum akhirnya melepas rengkuhan sang mama mertua.


" Andrew ". Panggil papa Young.


" Iya pa ". Sahut Andrew.


" Tidak lama lagi kamu akan menjadi seorang ayah, papa ingin kamu harus lebih menjaga istri dan calon bayimu Andrew ". Seru Young.


" Iya pa, aku akan lebih memperhatikan Vita dan juga calon anakku ". Sahut Andrew.


" Dan ingat Andrew, jangan sampai menantu mama ini mengeluhkan sesuatu karena kamu tidak bisa menjadi suami siaga, awas saja kalau mama sampai mendengar itu ". Peringat Clara pada sang putra.


" Iya ma, mama tenang saja, pasti aku akan melakukan apapun untuk istri dan juga anakku ". Sahut Andrew dengan raut sedikit tak sukanya, seolah dirinya seperti orang yang tak mampu menjaga istrinya yang sedang mengandung.


" Vita, kalau sampai putra mama ini mengabaikanmu dan juga calon anaknya cepat lapor sama mama, biar mama hukum dia ". Ujar Clara telak.


" I-iya ma ". Sahut Vita dengan tersenyum kecut.


Sedangkan Yong hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah sang istri yang terkadang berlebihan.

__ADS_1


" Ya ampun ma sampai sebegitunya, seperti aku tidak tahu sama sekali cara menjaga wanita hamil ". Batin Andrew kesal.


*****


Pandangan kedua manik mata indahnya kini hanya tertuju pada sebuah jendela besar yang memaparkan keindahan halaman rumahnya.


Adinda diam menyendiri di ruang kamarnya. Pikirannya masih sibuk berkelana memikirkan sebuah mimpi yang begitu menyayat hatinya, seolah mimpi itu seperti nyata adanya.


Hatinya begitu sedih dan cemas dibuatnya. Bagaimana jika yang terjadi di dalam mimpi itu akan menjadi kenyataan?, meski di dalam hati kecilnya tetap berusaha untuk tidak mempercayainya, namun tetap saja rasa takut itu tetap ada. Ia tak bisa mengungkapkan perasaannya.


" Sebenarnya apa arti dari mimpi itu?, mas, apa kamu benar - benar akan meninggalkanku jika kekasihmu sudah kembali?, apa itu arti mimpiku?, Ya Allah, sebenarnya apa arti dari mimpi ini, kenapa aku bermimpi tentang mantan mas Al yang aku sendiri tidak tahu bagaimana orangnya? ". Batin Adinda resah dengan banyak pertanyaan.


" Sayang ". Seru Al pada Adinda, entah semenjak kapan pria berbola mata biru keabu - abuan itu sudah berdiri tegak di dekat Adinda.


Sontak membuat Adinda tersentak.


" Mas, mas Al disini? ". Adinda langsung berdiri dari duduknya.


Al tak menyahut, ia masih tetap pada posisinya, Al menatap wajah manis istrinya itu, dan sangat nampak dari sorot manik matanya jika sang istri saat ini sedang tidak baik - baik saja.


" Mas Al tidak jadi ke kantor ? ". Imbuhnya lagi.


Tanpa menyahut pertanyaan istrinya, Al langsung memeluk erat tubuh mungil itu. Seketika itu hati Adinda menjadi menghangat. Rasa sedih dan cemas yang sempat melanda hatinya kini berubah menjadi tenang.


" Sayang, kamu kenapa hem? ". Tanya Al lembut, namun Adinda masih diam.


Merasakan hal itu, membuat Adinda mulai menguraikan pelukannya dari sang suami. Kini pandangan mereka saling bertemu.


Al langsung mencium bibir peach sang istri. Ia menciumnya dengan lembut hingga membuat Adinda pun juga larut dalam buaiannya. Kedua insan itu tetap saling memagutkan bibirnya hingga membuat Adinda mulai kehabisan nafas dan Al pun mau tak mau harus melepas ciumannya itu agar sang istri bisa memiliki ruang untuk mendapat pasokan oksigen.


Dipandangnya wajah istrinya itu lekat - lekat.


" Kemarilah sayang ". Ajak Al dengan menuntun sang istri agar duduk bersama di kasur empuk mereka.


" Sayang, katakan padaku, sebenarnya suamimu ini melakukan kesalahan apa, sampai kamu mendiamkan mas seperti ini? ". Seru Al lembut dengan memebelai pipi putih istrinya.


Adinda menunduk, ia merasa malu dan bersalah karena hanya sebuah mimpi sikapnya sampai berubah dingin seperti ini, sungguh sikap semacam ini tak pantas dilakukan oleh seorang istri pada suaminya.


" Maafkan Adinda mas, Adinda sudah bersikap kekanak - kanakan ". Serunya dengan rasa bersalah.


" Tidak tidak, kamu tidak bersalah sayang, ayo katakan padaku apa aku ini melakukan kesalahan, jika memang mas ini melakukan kesalahan, cepat katakan kesalahan apa yang sudah mas perbuat sayang, aku ingin memperbaikinya istriku ". Sahut Al dengan menatap dalam wajah istrinya.


Grep..... Adinda langsung memeluk erat tubuh kekar sang suami, seolah ia tak ingin kehilangan suaminya yang sangat ia cintai. Bahkan kini tubuhnya sudah mulai bergetar karena terisak.


" Mas hiks... Adinda takut kehilanganmu mas hiks... tadi malam aku bermimpi lagi hiks... Adinda bermimpi mas Al meninggalkanku dan juga anak - anak karena mas sudah bertemu dengan kekasih mas Al yang dulu itu hiks hiks... aku takut mas hiks... aku takut jika suatu hari nanti mas Al benar - benar akan meninggalkanku dan juga anak - anak hiks hiks... ". Ungkap Adinda.


Deg... Al begitu tersentak mendengar aduan istrinya. Apa? istrinya bermimpi seperti itu lagi?, bahkan ini sudah yang kedua kalinya, apa mimpi yang sudah menghantui istrinya adalah karena diantara dirinya dan juga Diandra masih belum pernah ada kata putus?, tidak, ini tidak bisa dibiarkan.


Al menguraikan rengkuhan sang istri.

__ADS_1


" Hiks... hiks... hiks...". Isak tangis Adinda.


Diusapnya lelehan air mata yang membasahi pipi putih istrinya itu.


" Sayang, dengarkan mas mu ini, aku dulu memang memiliki seorang kekasih, bukankah mas mu ini sudah pernah mengatakan sebelumnya, memang benar diantara aku dan kekasihku dulu tidak pernah ada kata putus, tetapi itu dulu sayang, disaat dia sudah meninggalkanku begitu saja disaat itulah aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun. Dan kalaupun suatu saat ia datang kembali dan ingin bersamaku lagi, percayalah, aku tidak akan kembali lagi padanya, karena apa?, karena aku hanya mencintaimu sayang, hanya kamu, hanya kamulah wanitaku tidak ada yang lain lagi ". Sahut Al dengan tatapan dalamnya.


" Apakah hanya karena seseorang di masa lalu yang datang kembali membatku sampai begitu tega meninggalkan istri dan juga anak - anakku?, tidak sayang, itu tidak akan mungkin ". Imbuh Al lagi dengan meyakinkan.


Adinda diam membeku, air mata yang tadi sempat meluncur meski di usap oleh suaminya kini mendadak menyurut. Satu kesalahn telah ia lakukan, seharusnya dirinya lebih mempercayai suaminya daripada mimpi buruk yang dengan tanpa sebab dapat merusak hubungan rumah tangganya.


" Maafkan aku mas, maafkan istrimu yang naif ini, seharusnya Adinda lebih percaya pada mas daripada mimpi buruk itu ". Adinda kembali berhambur pada pelukan suaminya, bahkan kini air matanya kembali menetes.


Diusapnya pucuk kepala istrinya itu dengan lembut.


" Sayang, jika kamu bermimpi seperti itu lagi jangan pernah percaya karena itu adalah sebuah mimpi buruk yang sebenarnya ingin merusak hubungan kepercayaan kamu padaku sayang, oleh sebab itu, sebelum tidur, kamu jangan lupa berdoa agar tidak diganggu setan dan bermimpi buruk seperti itu lagi ". Lanjut Al lagi, namun entah mengapa pada kalimat terakhirnya nampaknya ia sengaja ingin membuat istrinya jengkel.


Dan benar saja, Adinda langsung melepas rengkuhan nya pada sang suami. Nampaknya ia sedikit tersinggung dengan kalimat terakhir yang disematkan oleh suaminya.


" Jadi maksud mas Adinda tidak pernah berdoa sebelum tidur?, mas Al kan tahu sendiri kalau Adinda selalu berdoa sebelum tidur, yang sering lupa membaca doa sebelum tidur itu mas, kalau Adinda sudah mengingatkan baru mas ingat untuk berdoa heh ". Sahut Adinda tak suka bahkan ia melengos.


" Ih sayang jangan marah seperti itu dong, kan mas hanya bercanda sayang ". Sahut Al dengan suara yang dibuat memelas.


" Jangan bercanda seperti itu mas Adinda tak suka ". Sahutnya.


" Tapi mas suka sayang, mas suka kalau bisa membuatmu kesal, terlihat lebih cantik hihihihi... ". Sahut Al dengan tawa jahilnya.


Adinda langsung menatap tajam pada sang suami. Nampaknya ia benar - benar semakin kesal.


" Apa?, jadi mas suka membuat ku kesal?, baiklah kalau begitu nanti malam aku dan anak - anak akan tidur di kamar sebelah biar mas tidur sendirian di sini ". Sahut Adinda dengan raut kesalnya namun sebenarnya di dalam hatinya tertawa terbahak - bahak.


Seketika itu senyuman jahil Al mendadak hilang. Ia benar - benar takut dengan kalimat yang disematkan yang baru saja di ucap oleh istrinya.


" Aduh sayang, jangan seperti itulah sayang, mana bisa mas tidur sendirian, tidak bisa sayang, mas tidak bisa kalau tidur tanpa kamu ". Rengek Al bak anak kecil yang ingin membeli permen namun tak dibolehkan oleh ibunya.


" Hihihihi... ". Adinda cekikikan.


Dan benar saja Al langsung terhenti dari rengekannya, dan malah kondisinya saat ini telah berbalik. Al menatap tajam pada Adinda sehingga membuat Adinda langsung terhenti dari cekikikan nya.


" Kamu menjahiliku sayang? ". Tatap Al tajam. Dan dengan tanpa aba - aba Al pun langsung meraup bibir peach istrinya itu dengan tanpa ampun, dan mengantarnya pada sebuah kenikmatan yang sangat menuntut.


Dan seperti inilah akhirnya, sepasang insan yang sempat terombang kesedihan dan kecemasan telah berubah menjadi pergumulan panas yang banyak mengeluarkan keringat disaat yang masih pagi cerah.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, terima kasih.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2