
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Rasa gugup dan takut bagaikan alunan musik yang begitu mendayu - dayu dalam dada seorang wanita cantik yang selalu setia dengan hijab indah yang selalu bertengger menghiasi kepalanya.
Berada di sebuah tempat yang membuatnya melayang - layang di udara yang seolah tak ada tempat untuk bersinggah telah berhasil membuat dada seorang ibu muda ini menjadi berdebar takut.
Hingga ia meremas baju bermerk nya itu untuk menyalurkan semua rasa ketakutannya.
" Sayang ". Seru Al lembut dengan merengkuh pundak sang istri.
" Iya mas ". Sahut Adinda lembut.
" Kamu merasa takut? ". Tanya Al melihat sang istri seperti menahan rasa gugup.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Tenanglah jangan takut, ada aku di sini, bukankah kamu sudah pernah naik pesawat ini dengan ku, jadi jangan takut lagi ya, ada aku disini ". Sahut Al lembut agar istrinya tak lagi merasa takut.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
Ya, Adinda saat ini sedang merasa takut karena berada di sebuah pesawat terbang milik suaminya yang telah melambung tinggi di udara, meski sebelumnya ia sudah pernah menaiki jet pribadi suaminya ini, namun tetap saja dirinya tetap merasa takut, mungkin karena hal ini masih belum terbiasa bagi Adinda, sehingga dirinya masih merasa takut.
Al masih tetap setia dengan lengang kekarnya yang merengkuh tubuh sang istri. Elusan - demi elusan pada pundak sang istri pun hampir selalu ia berikan. Mungkin karena pria blasteran ini berusaha untuk membuat istrinya itu merasa tetap nyaman dalam proses perjalanannya.
" Mas ". Seru Adinda dengan khas suara lembutnya.
" Hem ". Sahut Al dengan tetap mengelus pundak sang istri.
Adinda mendongakkan pandangannya pada sang suami.
" Sebenarnya kita akan berbulan madu kemana mas, dari semenjak kemarin mas masih belum memberitahukannya pada Adinda? ". Seru Adinda yang masih penasaran kemana mereka akan berbulan madu.
Al tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya.
" Benar kamu ingin tahu?, jika sayangnya mas ini ingin tahu kemana kita akan pergi berbulan madu, maka ada sarat nya ". Sahut Al dengan senyum nakalnya.
" Sarat?, hanya ingin mengetahui suatu jawaban saja harus ada syaratnya? ". Tanya Adinda yang merasa heran dengan suaminya.
" Iya sayang harus ada syarat nya, jika kamu tidak mau melakukan syarat nya, maka mas tidak akan memberitahukan kemana kita akan pergi berbulan madu ". Sahut Al dengan begitu santainya.
Adinda merasa tak habis pikir dengan suaminya, hanya untuk agar dirinya mendapat jawaban dari sang suami harus ada syarat yang ia lakukan, padahal ini kan pertanyaan yang mudah untuk dijawab tapi mengapa harus ada syarat? .
Mau tidak mau Adinda harus mau melakukan syarat yang diberikan oleh suaminya, meski ia sendiri tidak tahu apa itu syarat nya, tak apalah daripada dirinya penasaran.
" Baiklah mas, Adinda mau melakukan syaratnya, tapi mas janji setelah ini mas harus menjawab kemana kita akan pergi ". Punya Adinda.
" Iya sayangku, memangnya kapan mas pernah ingkar janji padamu ". Sahut Al.
" Baiklah, kalau begitu apa syaratnya mas? ". Tanya Adinda.
" Syaratnya adalah ini ". Tunjuk Al pada belahan bibir peach milik istrinya.
Adinda membeliakkan kedua bola mata nya tak percaya, dalam keadaan mereka masih berada di dalam pesawat pun suaminya ingin berciuman. Adinda benar - benar tidak percaya ini, apakah berciuman di rumahnya tidak cukup?.
__ADS_1
" Kamu diam sayang?, ya sudah, itu artinya aku tidak perlu memberi tahu mu kemana kita akan pergi ". Sahut Al tanpa rasa bersalahnya.
" Eh, iya mas Adinda mau melakukannya ". Sahut Adinda pada akhirnya.
" Ya sudah, ayo cepat lakukan ". Desak Al.
Cup..... satu kecupan dari Adinda telah mendarat di belahan bibir sang suami.
" Hanya segitu? ". Tanya Al merasa masih sangat kurang.
" Iya, lalu harus bagaimana mas?, kan yang penting Adinda sudah melakukan syarat dari mas, jadi mas harus menjawab kemana kita akan pergi berbulan madu ". Sahut Adinda telak.
" Ya tidak bisa seperti itulah sayang, yang kamu lakukan itu tadi bukanlah mencium, tapi hanya menempel bibir saja " Kilah Al.
"Haahh..... ". Adinda menghela nafasnya cukup panjang, memang susah kalau harus berurusan dengan suaminya ini, kalau melakukan hal tidak sesuai dengan keinginannya pasti akan berbuntut panjang, namun harus bagaimana lagi demi untuk menjawab rasa penasarannya, Adinda harus melakukannya lagi agar suaminya ini mau memberitahukan jawabannya.
" Baiklah mas, Adinda akan melakukannya lagi ". Sahut Adinda pasrah.
" Tunggu apa lagi, ayo cepat lakukan ". Desak Al.
Adinda pun kini mengulang kembali hal yang dilakukannya tadi. Namun seperti yang sudah diperkirakan dirinya yang memang kurang berpengalaman dalam hal semacam ini membuat Al merasa gemas dengannya, sehingga suaminya itu kembali mengambil alih.
Dan benar saja suaminya Al benar - benar begitu bersemangat melakukannya, hingga Adinda mulai kehabisan nafasnya.
Al melepaskan pagutan bibirnya pada bibir sang istri. Entah mengapa bibir peach milik istrinya ini benar - benar telah menjadi candu baginya.
Adinda mulai mengatur deru nafasnya seolah ingin memberi ruang agar ada pasokan oksigen yang bisa bisa masuk hingga ke rongga dadanya.
Al memegang dengan lembut sisi kanan dan kiri wajah istrinya, dan...
Cup..... satu kecupan kembali mendarat di pucuk kepala sang istri.
" Sayang, kita akan berbulan madu ke Inggris, tempat kelahiran kakekku ". Seru Al.
" Jadi kita sekarang menuju ke Inggris mas? ". Sahut Adinda.
" Iya, kita akan menuju Inggris ". Sahut Al dengan tetap memeluk tubuh istrinya.
Akhirnya terjawab sudah jawaban yang menjadi tanda tanya dalam benak Adinda.
*****
Berbagai kesibukan akan demi terselesaikannya suatu pekerjaan dengan kinerja terbaik yang dilakukan oleh para karyawan yang bertugas, begitu merajalela dalam sebuah perusahaan besar milik keluarga Georgino yaitu perusahaan besar G. Group.
Semangat dan kedisiplinan para karyawan dalam bekerja di perusahaan besar itu, telah menjadi bukti akan betapa bagusnya kinerja dan prinsip pimpinan mereka sehingga mampu mencetak kinerja tenaga karyawan yang berkualitas tinggi.
Bagi mereka yang memiliki kesempatan untuk bekerja di perusahaan G. Group, pastilah mereka adalah orang - orang terpilih dengan potensi terbaiknya.
Namun hal ini nampaknya tak berlaku bagi Vita. Ia yang hanya sebagai karyawan baru dengan lulusan Ijazah SMA dengan kemampuan otaknya yang sedang namun bisa bekerja di perusahan yang sangat besar ini bahkan menjadi asisten dari orang kepercayaan dari pemilik perusahaan adalah hal yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Ya, bisa dikatakan dirinya bisa bekerja di perusahaan besar seperti ini hanya karena suatu keberuntungan.
" Aku harus membawa berkas - berkas ini ke tuan Andrew, semoga saja tidak ada yang salah dengan kinerjaku ". Gumam Vita.
" Ini sudah hampir pukul sepuluh, masih kurang dua jam lagi waktu istirahat ". Gumam Vita lagi dengan memperhatikan jarum jam di lengan kiri tangannya.
__ADS_1
Dan gadis dengan rambut di ikat kuncir kuda itupun keluar dari ruangan dan menuju ke ruangan Andrew.
Vita melangkahkan sepasang kaki jenjangnya yang tertutup rok span panjang hitam itu. Hingga kini dirinya telah sampai dan berada tepat di depan pintu ruangan dari tuan Andrew nya.
Namun tidak jauh dari tempat dimana dirinya saat ini bekerja, tiba - tiba saja ada seorang wanita yang juga hendak akan masuk ke ruangan tuan Andrew.
Vita dan wanita itu saling menoleh sehingga pandangan mereka pun saling menjurus. Dan...
Deg.....
" Kamu ". Seru Vita dan wanita itu secara bersamaan.
Vita membelalakkan kedua bola matanya tak percaya dengan sosok wanita yang saat ini tengah berdiri di depannya. Sosok wanita yang berasal dari desa yang sama dengannya, namun sangat Vita tidak sukai.
Ya, dialah Silvi, seorang wanita yang sangat tidak disukai oleh Vita karena selalu menghina sahabat terbaiknya Adinda.
" Heh, gadis kampung, kenapa kamu ada disini, tidak mungkinkan kamu bekerja di perusahaan besar yang berkelas ini ". Ucap Silvi dengan nada ketus dan sindiran nya.
Vita berusaha untuk tetap bersikap tenang, ia tidak ingin adanya keributan di kantor tuan Al nya.
" Heh, aku bertanya padamu, kamu kenapa ada disini?, oh sekarang aku paham, pasti kamu datang kesini karena ingin melamar pekerjaan kan, hah sayang sekali orang sepertimu itu tidak mungkin bisa diterima di kantor berkelas seperti ini, kalaupun diterima pasti hanya jadi office girl ha, ha, ha ". Ujar Silvi lagi dengan nada hinaannya.
" Aku ada di kantor ini, karena aku sedang bekerja, dan sekarang aku ingin menemui tuan Andrew, permisi ". Sahut Vita.
Vita pun kembali melangkah dan mencoba mengetuk pintu pada ruangan tuan Andrew nya. Namun belum sempat dirinya melakukan nya tiba - tiba saja tangannya di cekal oleh Silvi.
" Heh, mau kemana kamu, enak saja langsung ingin masuk, memangnya kamu siapa yang langsung ingin masuk ke ruangan tuan Andrew?, sudahlah lebih baik kamu pergi dari tempat ini, kamu sama sekali tidak pantas ada di kantor ini ". Ucap Silvi lagi namun kali ini dengan mengusir Vita.
" Maaf ya, nona Silvi yang terhormat, kamu tidak bisa mengusir aku dari kantor ini, karena aku berada di kantor ini untuk bekerja pada tuan Al dan juga tuan Andrew ". Sahut Vita dengan berusaha menahan kekesalannya.
" Ha, ha, ha, ha, aduh yang benar saja kamu bekerja di kantor ini, tidak mungkin kamu bekerja di kantor mewah seperti ini, karena apa, karena kamu sama sekali tidak memiliki potensi dan kualitas yang harus dimiliki oleh orang - orang yang bekerja di kantor ini, pasti kamu hanya mengada - ngada saja yang mengatakan bekerja pada tuan Al dan tuan Andrew, dasar tidak tahu malu ". Ucap Silvi lagi.
Vita menjadi terdiam setelah mendengar ucapan dari Silvi. Apa yang dikatakan oleh Silvi memanglah benar, dirinya bisa bekerja di sebuah perusahaan yang populer ini bukanlah karena potensi dan kualitas kinerjanya, melainkan karena ia adalah sahabat dari istri pimpinannya.
" Ha, ha, ha, kenapa kamu diam, jadi memang benar kan kalau kamu hanya mengaku - ngaku bekerja di tempat ini, dasar perempuan tidak tahu malu, sudah tidak memiliki tempat di kantor ini tapi mengatakan bekerja pada tuan Al, cepat kamu pergi dari tempat ini ". Ujar Silvi lagi dengan sombongnya, entah sudah berapa hinaan yang sudah ia lontarkan pada Vita.
" Kamu tidak bisa mengusir ku, karena yang berhak mengusirku dari tempat ini hanya tuan Al, minggir lah, aku ingin masuk ". Sahut Vita dan ia pun berusaha masuk keruangan Andrew.
" Heh, dasar perempuan tidak tahu malu, sudah di usir dari kantor ini, tapi masih ngotot ingin masuk ". Ucap Silvi lagi dan kali ini dengan berusaha menarik lengan Vita.
" Lepas Silvi, apa yang kamu lakukan, kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini ". Sahut Vita dengan berusaha melepas tangan Silvi dari lengannya.
" Dasar kamu memang perempuan tidak tahu malu ya, perempuan dengan lulusan SMA seperti kamu tidak mungkin bisa di terima bekerja di tempat seperti ini, ayo keluar kamu ". Seru Silvi dengan tetap menarik lengan Vita, agar mau keluar.
" Lepaskan Silvi, lepasss... ". Seru Vita dengan tetap berusaha melepas cekalan Silvi.
" Lepaskan Silvi, apa yang kamu lakukan ". Teriak seorang pria dari balik pintu ruangannya.
Deg.....
Seketika itu, Silvi langsung melepas cekalan tangannya pada lengan Vita, ia sangat tahu siapa pemilik suara itu.
Bersambung........
Jangan lupa untuk terus mendukung karya Author, terima kasih ya ππππππ
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉ