
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah seharian menjalani aktivitas, kini saatnya lah keluarga kecil itu harus beristirahat malam menyambut mimpi indahnya.
Setelah meninabobokkan kedua buah hatinya, kini Adinda mulai merebahkan tubuhnya yang sedang mengandung itu di kasur empuknya.
" Alhamdulillah, akhirnya aku bisa rebahan juga ". Seru Adinda.
Setelah cukup lama dirinya berdiri untuk membuat kedua putranya tertidur, akhirnya dirinya bisa tiduran juga.
Ternyata di usia kehamilannya yang sudah enam bulan ini membuat Adinda tidak bisa terlalu banyak bergerak, entahlah, kehamilannya yang kedua ini begitu sangat berbeda dengan kehamilannya yang pertama yang memang cenderung membuat Adinda lebih banyak bergerak.
" Anaknya mommy yang di dalam perut, sehat selalu ya nak, mommy sudah tidak sabar ingin melihatmu lahir sayang ". Seru Adinda tersenyum dengan mengelus perut buncit nya.
Setelah hampir sepuluh menit lamanya dirinya berbaring, terdengarlah adanya ceklek... ya, benar, sang suami lah yang masuk.
" Sayang, sudah ingin tidur? ". Seru Al sebelum ia pun mendekati dua ranjang tidur kedua putranya.
" Mas sudah kerjanya? ". Ujar Adinda.
" Sudah sayang ". Sahut Al.
" Selamat tidur anak - anak daddy, mimpi yang indah ya nak cup... cup... ". Seru Al.
" Sayang, mas bantu pijat kaki mu ya ". Lanjut Al lagi sebelum akhirnya pria bertubuh kekar itu naik ke ranjang empuknya.
" Tidak perlu mas, mas istirahat saja, Adinda sudah lebih baik kok mas ". Sahut Adinda dengan tersenyum.
Ditatap nya wajah sang istri itu lekat - lekat, nampak raut lelah di wajah cantiknya.
" Sayang, apa sewaktu kamu mengandung Aganta dan Damian, keadaan mu juga seperti ini sayang? ". Tanya Al.
Adinda nampak terdiam sejenak.
" Emm agak berbeda sih mas, mungkin di bulan - bulan awal sewaktu Adinda hamil mereka Adinda lebih sering mual dan kurang suka dengan banyak aroma, seperti beberapa aroma masakan dan juga aroma parfume ".
" Adinda juga sering merasa pusing, dan mudah lelah, tapi itu hanya berlangsung di tri semester pertama saja, setelah memasuki bulan ke empat, Adinda sudah tidak lagi merasakan seperti itu mas, malah Adinda lebih semangat bekerja, sepertinya sewaktu si kembar ada di dalam perut, mereka selalu semangat mengajak mommy nya untuk bekerja ". Ujar Adinda yang diakhiri dengan senyuman.
Hati Al begitu terenyuh mendengarnya. Dan perasaan bersalah itupun telah muncul kembali dalam benaknya.
" Tapi kalau kehamilan yang kedua ini cukup berbanding terbalik sih mas, kehamilan yang kedua ini Adinda hampir jarang merasakan mual tapi sayangnya tubuh Adinda jadi kurang bersemangat, dan akhir - akhir ini mudah lelah begitu, entahlah, sepertinya dedek bayinya lebih manja hihihihi... ". Lanjut Adinda lagi bahkan dengan cekikikan halusnya.
Di rengkuhnya tubuh sang istri tercintanya, dan cup... sebuah ciuman hangat kembali mendarat di kening istrinya.
" Maafkan aku sayang ". Hanya tiga kata itu yang sanggup Al sahut kan.
Ya, entah mengapa ada sedikit rasa sesal dalam hatinya saat ini, seharusnya Al berkaca pada saat - saat di mana istrinya dulu sedang berjuang melahirkan kedua putranya, tetapi kini apa, tidak lama lagi istrinya akan melahirkan lagi karena dirinya ingin memiliki anak lagi, bukankah itu hal yang egois yang diinginkannya.
" Mas, mas kenapa? ". Tanya Adinda yang merasa aneh pada suaminya.
" Tidak ada sayang ". Sahutnya.
" Ayo, kita tidur saja ini sudah malam sayang ". Lanjut Al lagi.
Akhirnya sepasang suami istri itupun akan menggapai mimpi indahnya.
Hingga hampir lima belas menit telah berlalu, ternyata baik Al maupun Adinda tak kunjung dapat menutup matanya.
Sebuah gerakan dari dalam perut Adinda nampaknya sudah berhasil mengusik sang tangan kekar yang memeluk tubuhnya.
" Sayang, adik bayinya bergerak, dia menyenggol lenganku sayang ". Ujar Al, dan iapun langsung terjaga dari posisinya.
" Iya mas, sepertinya adik bayi nya ingin menemani daddy dan mommy nya yang belum tidur ". Sahutnya dengan tersenyum.
" Wah, ternyata anak daddy ingin di manja ya sama daddy ". Al pun mengelus perut buncit istrinya.
" Kalau sudah seperti ini, bagaimana aku bisa tidur sayang, si dedek bayinya saja melarangku untuk tidur ". Lanjut Al lagi dengan senyuman herannya.
__ADS_1
" Tidak apa - apa mas, sudah mas Al tidur lagi ya, biar tidak kesiangan sholat subuh nya nanti ". Sahut Adinda, dan ia pun menarik lembut lengan suaminya.
Akhirnya sepasang suami istri itupun kembali merebahkan kedua tubuhnya bersama. Dan ternyata masih sama, baik Adinda maupun Al masih tak dapat memejamkan kedua bola matanya.
" Sayang ". Iya mas.
" Kamu pernah tinggal satu desa dengan Silvi, apa wanita yang tidak tahu diri itu sering menghinamu sayang? ". Tanya Al tiba - tiba.
Adinda tak langsung menyahut, ia hanya sedikit tersenyum kecut mendengar pertanyaan suaminya.
" Oke aku paham, ya sudah kamu tidak perlu menjawabnya sayang ". Lanjut Al pada akhirnya.
Al mengusap perut istrinya lagi.
" Sayang, dua bulan lagi usia mu sudah genap dua puluh satu tahun ". Ujarnya.
" Iya mas, lalu ada apa? ". Nampaknya Adinda sedikit cemas.
" Aku ingin di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh satu ini, kita akan menggelar resepsi pernikahan kita sayang ". Ujar Al pada akhirnya, ya inilah salah satu momen yang paling dinanti oleh Al.
Adinda cukup tersentak mendengar ungkapan suaminya, pasalnya suaminya Al tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya.
" Dua bulan lagi mas, berarti kehamilan Adinda usia delapan bulan, kenapa resepsinya tidak kita lakukan setelah adik bayinya lahir saja mas? ". Sahut Adinda yang merasa bingung.
" Tidak ah sayang, itu terlalu lama ". Sahut Al.
" Kamu tenang saja sayang, di acara resepsi nanti kamu duduk saja sayang tidak usah berdiri ". Ujar Al.
" Ya sudah kalau itu memang mau mas, Adinda menurut saja ". Putus Adinda.
" Iya betul, kamu memang harus menurut istri ku cup..., ayo kita tidur, jangan lupa berdoa ". Sahutnya.
Dan sepasang suami istri itupun kembali melanjutkan meraih mimpi indahnya, setelah cukup lama berbincang akhirnya sepasang suami istri itu terlelap juga.
*****
Dan tentunya hal itupun juga tak luput dari sepasang orang tua muda yang begitu asyik dengan aktivitas mandinya yaitu memandikan putra mungil mereka.
Byurrr... byurrr... prattt... suara cipratan air mandi pun seolah tak henti di dengungkan oleh si bayi kecil Andri.
" Aduh, anak daddy ini kenapa senang sekali sih kalau di mandikan, senang main air ya boy? ". Seru Andrew pada putranya.
" Mam mam mam mam ". Sahut Andri seolah membenarkan kalimat sang daddy.
" Mas, mas pegang yang kuat ya Andri nya, vita mau menyiram kepala nya dulu, busa sampo nya sudah kemana - mana ini mas ". Pinta Vita.
Vita pun dengan telaten melelehkan air mandi itu di tubuh mungil Andri yang dipenuhi dengan busa sampo dan sabun.
" Hamm hamm mam mam mam ". Celoteh Adri dengan berusaha meraih canting mandi yang di pegang oleh sang mommy.
" Tenang boy, tenang, kalau mau main nanti saja dulu ya, kalau Andri nya sudah selesai mandi oke ". Ujar Andrew.
Akhirnya kegiatan mandi untuk si kecil Adri pun selesai sudah.
" Aduh anak daddy sudah wangi ya, emmuah emmuah ". Seru Andrew sebelum akhirnya ia meletakkan tubuh mungil Andri di atas kasur.
" Sayang, biar mas saja yang memakaikan baju ". Pintanya pada sang istri.
" Tidak ah mas, nanti yang ada mas tidak rapi memakaikan baju nya ". Tolak Vita.
" Tidak sayang, mas janji deh, kali ini mas akan memakaikan baju Andri dengan benar ". Sahut nya meyakinkan.
" Iya sudah, tapi sebentar biar Vita membedaki Andri dulu ". Lanjut Vita lagi.
Setelah tubuh mungil Andri telah di luluri dengan minyak dan juga bedak bayi oleh sang mommy, kini giliran sang daddy lah yang akan memakaikan baju nya.
" Aduh mas, biar Vita saja lah yang memakaikan baju Andri, ini saja mas lupa, harusnya kan popoknya dulu yang di pasang bukan celananya ". Protes Vita.
" Oh iya, aku lupa sayang, sebentar biar aku pasang popoknya sayang ". Sahut Andrew kemudian sebelum akhirnya mengambil popok Andri.
__ADS_1
" Mam mam mam ba ". Seru Andri tiba - tiba, entahlah seolah bayi laki - laki yang sudah berusia enam bulan itu seperti juga ingin ikut campur dengan obrolan sang daddy dan juga mommy nya.
" Iya iya anaknya daddy, sabar dulu boy ". Sahut Andrew.
Akhirnya setelah hampir sepuluh menit, selesai sudah tubuh mungil Andri di dandani dengan rapi.
" Aduh aduh, tampannya anak daddy ini cup... cup... ". Seru Andrew dengan membawa Andri dalam dekapan hangatnya.
" Alhamdulillah, semua sudah selesai ". Ujar Vita.
" Sayang, kita duduk di halaman belakang ya, biar Andri bisa lihat burung - burung peliharaan ku ". Ajak Andrew pada sang istri.
Vita pun menyanggupi keinginan suaminya. Akhirnya drama pagi hari tentang mengurus si kecil Andri selesai sudah.
*****
Hampir setiap hari libur kerja, Al selalu memanfaatkan waktunya untuk memberikan perhatian lebih pada keluarga kecilnya, apalagi pada sang istri tercinta yang saat ini tengah mengandung buah hatinya.
Di sebuah ruangan pemeriksaan yang mewah, kini Adinda sedang menjalani pemeriksaan.
" Kondisi janin berkembang sangat baik nyonya tuan, detak jantung nya pun normal, sama sekali tidak ada masalah dengan pertumbuhan dan juga perkembangan janinnya, semuanya berkembang dengan baik ". Ujar dokter Nita di sela - sela pemeriksaan nya.
" Alhamdulillah ". Puji syukur Al.
" Nyonya, apakah ada keluhan ataupun sesuatu yang membuat nyonya merasa tidak nyaman akhir - akhir ini? ". Tanya dokter Nita.
" Saya rasa tidak ada keluhan yang serius dok, hanya saja akhir - akhir ini saya merasa lebih nyaman jika rebahan tanpa aktivitas apapun ". Sahut Adinda menjelaskan.
" Kalau itu tidak apa - apa nyonya, keluhan semacam itu adalah hal yang normal dialami oleh wanita hamil, dan yang terpenting adalah usahakan nutrisi si kecil bisa terpenuhi dengan baik ". Ujar dokter Nita.
" Kalau soal itu kamu tidak perlu mengingatkan dok, tanpa kamu suruh pun aku bisa menjamin kebutuhan nutrisi anakku, dan itu pasti terpenuhi ". Sentak Al, entah mengapa ia begitu tersinggung dengan ucapan dokter Nita, seolah ia seperti seorang daddy yang tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya.
Dokter Nita hanya tersenyum miris mendengar sahutan spontan dari tuan nya.
" Baik nyonya, itulah hasil pemeriksaan yang bisa saya sampaikan saat ini, apakah ada hal lain lagi yang ingin tuan dan nyonya utarakan? ". Tanya dokter Nita lagi.
" Iya ada, aku ingin tahu jenis kelamin anakku, coba periksa aku ingin tahu apakah anakku yang akan lahir ini laki - laki atau perempuan? ". Suruh Al.
" Baiklah tuan... ".
" Mas, sebaiknya kita tidak mengetahui nya sekarang, biar menjadi kejutan begitu, jangan ya mas ". Mohon Adinda.
" Tapi sayang, aku ingin mengetahuinya sekarang, biar nanti kalau anak kita sudah lahir, semua keperluan nya sudah ada sayang ". Sahut Al tak ingin dibantah.
" Cepat periksa lagi, aku ingin tahu sekarang ". Perintah Al telak.
Dokter Nita pun kembali memeriksa perut Adinda, dokter muda itu memeriksanya dengan begitu teliti.
" Bagaimana, apa jenis kelamin anakku? ". Tanya Al.
" Mohon maaf tuan, sepertinya si kecil sedang malu - malu, dia menutupnya dengan kedua kakinya tuan ". Sahut dokter Nita jujur.
" Malu atau kamunya yang tidak becus bekerja, ya sudah tidak usah dilanjut ". Putus Al pada akhirnya.
" Mas, jangan seperti itulah pada dokter Nita mas ".
" Dok maafkan sikap suami saya ya dok ". Seru Adinda lembut.
" Tidak apa - apa nyonya, sudah biasa tuan Al seperti ini ". Sahut dokter Nita dengan senyuman yang dipaksakan.
Akhirnya kegiatan pemeriksaan pun telah selesai, meski tak dapat melihat jenis kelamin anak mereka, namun Adinda dan Al tetap bahagia karena buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan baik.
Bersambung..........
Selamat membaca, terima kasih π
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1