
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi hari yang begitu cerah ini seolah memberi semangat pada sepasang orang tua muda yang begitu ingin menikmati waktu kebersamaan mereka bersama kedua buah hatinya.
Pasangan pengantin baru yang telah mengikrarkan janji suci semenjak tiga hari silam itu begitu nampak bahagia yang saat ini sedang menghabiskan waktu untuk berlibur bersama di sebuah taman mini yang indah yang terletak tidak terlalu jauh dari kediaman mewahnya.
Adinda dan sang suami Alexander, begitu menikmati waktunya saat ini. Orang tua muda itu nampak mengajak kedua putra mungilnya untuk bercengkrama dalam dalam menceritakan hal - hal indah yang ada di taman itu.
" Pam, nyam, pam, pam, hium ". Celoteh Aganta dan Damian.
" Aduh, sayangnya mama kenapa hem, ingin di gendong nak? ".Sahut Adinda setelah mendengar celotehan kedua bayinya yang sedang duduk bersandar di kereta strollernya.
" Sayang, kamu kenapa masih mengajak mereka untuk memanggilmu mama sih, kan seharusnya anak - anak diajari untuk memanggilmu mommy ". Ujar Al.
" Memangnya ada apa mas, apakah kalau anak - anak memanggil mama sama itu salah? ". Tanya Adinda yang tak paham maksud suaminya.
" Bukan salah sayang, tapi ya terdengar tidak begitu, kan aneh sayang si kembar memanggilku dengan sebutan daddy tapi mereka harus memanggilmu dengan sebutan mama kan tidak cocok sayang ". Sahut Al menjelaskan.
Adinda baru memahami mengapa suaminya melarang anak - anaknya dengan panggilan mama, namun meski begitu tetap saja mengajari anak untuk memanggil ibunya dengan sebutan mama tidak salah bukan, lalu mengapa harus di permasalahan?.
" Tapi kan memanggil seorang ibu dengan sebutan mama tidak buruk kan mas, jadi kalau begitu anak - anak bisa memanggil mas dengan sebutan papa bukan? ". Sahut Adinda.
" Tidak ah sayang, aku tidak suka dipanggil papa dan kamu dipanggil mama sama si kembar, soalnya kan kita sendiri sudah memanggil orang tua kita dengan panggilan mama dan papa, jadi aku tidak mau disamakan dengan panggilan itu, aku maunya anak kita memanggil daddy dan mommy ". Sahut Al menjelaskan dengan wajah tak sukanya.
Adinda tidak ingin memperpanjang lagi obrolan ini, bisa - bisa tidak akan ada habisnya. Satu hal yang membuat Adinda tidak mengerti akan suaminya Al saat ini. Al yang sekarang sungguh sangat berbeda dengan Al yang dulu pernah ia kenal sebagai majikannya.
Kini Adinda kembali fokus pada kedua putra mungilnya yang tampak tenang seolah tak memperdulikan obrolan kedua orang tuanya.
" Sayang, kamu kenapa diam hem, kamu marah padaku? ". Tanya Al yang merasa khawatir karena istrinya tak lagi menyahut ucapannya.
Adinda hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
" Lalu kenapa kamu tidak menyahut penjelasanku tadi sayang? ". Tanya Al lagi.
" Adinda rasa tidak perlu menjawabnya mas, lagi pula kalaupun anak - anak memanggil ibunya dengan sebutan mama ataupun mommy ya artinya akan tetap sama mas ". Sahut Adinda dengan tersenyum.
Kini sepasang orang tua muda itu telah kembali memfokuskan diri untuk kedua bayi mungilnya yang nampaknya begitu asik sedang memperhatikan mainan yang bergelantungan di kereta strollernya.
Riuhnya suara anak - anak di taman mini itu begitu terdengar ceria menghiasi indahnya taman.
Sepertinya hari libur di minggu ini telah menjadi tujuan bagi para orang tua dan juga anak - anak untuk memanjakan diri agar bisa bersenang - senang.
" Ayo cepat, bolanya tendang kesini ". Seru bocah laki laki yang berusia sekitar lima tahun itu pada temannya.
" Iya ayo cepat, jangan tendang kesana bolanya tendang kesini saja ". Sahut bocah laki - laki yang lainnya.
Dan anak - anak yang berada di taman itupun begitu sangat bersemangat dalam mengikuti permainannya.
Al yang tak sengaja sedang memperhatikan bocah - bocah yang sedang bermain sepak bola itu membuat hatinya menjadi menghangat. Keinginan agar kedua putranya bisa cepat tumbuh besar sama seperti mereka sepertinya sudah begitu tak sabar untuk Al nantikan.
" Sayang, lihatlah ke arah sana sayang ". Seru Al pada sang istri dengan tangannya yang menunjuk ke arah anak - anak yang sedang bermain bola.
Adinda pun menoleh dan mengikuti kemana arah tangan suaminya menunjuk.
" Aku sangat tidak sabar sayang melihat Aganta dan Damian bisa cepat besar dan bisa bermain sama seperti mereka ". Seru Al dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
Adinda tersenyum melihat anak - anak laki - laki yang sedang sibuk bermain bola itu.
" Iya mas, pasti anak - anak kita akan sangat senang kalau bisa bermain bola seperti mereka ". Sahut Adinda dengan senyum bahagianya.
Dan tidak lama dari itu, Al menoleh pada kedua putranya. Menyadari sang daddy sedang memperhatikan mereka, Aganta dan Damian pun menjadi tersenyum, seolah mereka mengerti akan kebahagiaan yang dirasakan oleh sang daddy.
" Sayangnya daddy, kalian cepat besar ya sayang, daddy sudah tidak sabar melihat kalian cepat tumbuh besar, kan enak kalau kalian sudah besar mereka daddy bisa membuat adik untuk kalian ". Seloroh Al tanpa ada rasa malu.
Adinda yang tadi sempat tersenyum karena bahagia, seketika itu senyumnya menjadi memudar. Adinda membelalakkan kedua matanya tak percaya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.
Suaminya ingin membuat adik untuk kedua putranya, yang benar saja, bagaimana bisa suaminya itu membicarakan hal seperti itu pada kedua putranya yang masih bayi?, benar - benar tidak patut di ucap.
" Hm hm pam pam ". Celoteh Aganta dan Damian, seolah kedua bayi mungil itu seperti mendukung keinginan sang daddy.
" Wah, kalian mendukung daddy boys, ulangi sekali lagi jadi kalian setuju kalau daddy membuat adik untuk kalian? ". Tanya Al lagi dengan wajah bahagianya.
" Hm pam pam ". Celoteh Aganta dan Damian yang saling bersahutan.
" Wah anak pintar, senangnya daddy karena kalian sudah mendukung boys ". Sahut Al lagi dengan senyum kemenangannya.
Sedangkan Adinda jangan ditanya lagi, ia benar - benar tidak menyangka jika suaminya dan kedua anaknya ini yang begitu ingin memiliki adik.
" Astagfirullah hal adzim mas, mas ini bicara apa sih mas? ". Tanya Adinda yang merasa tak suka dengan tingkah suaminya.
" Bicara apa, ya bicara tentang adik bayi lah sayang, lihatlah mereka, mereka begitu tidak sabar ingin memiliki adik ". Sahut Al dengan senyum bangganya.
Kalau sudah seperti ini, Adinda sudah sangat malas untuk mendengar nya, lebih baik dirinya tidak menyahuti ucapan suaminya daripada akhirnya nanti mengarah pada hal yang tak senonoh.
" Aku tidak mengerti padamu mas, kenapa kamu menjadi agak mesum seperti ini, padahal dulu kamu tidak seperti ini ". Batin Adinda.
" Aku tahu kamu tak suka melihatku bicara seperti ini sayang, tapi apapun itu, aku akan berusaha lebih sabar untuk mendapatkan hakku sebagai sebagai seorang suami ". Batin Al.
*****
Suara langkah drap kaki seorang pria blasteran asal Indonesia - Korea ini, kini nampak mulai memasuki teras rumah mewah yang menjadi tempat tujuannya.
Ia melangkah dengan kewibawaan nya yang begitu terlihat. Ya, dialah Andrew, sang asisten pribadi dari tuan Alexander. Demi menjalankan amanah dari sang tuan, Andrew harus mengutamakan maksudnya untuk menemui Vita, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat baik dari nyonya nya.
" Selamat pagi tuan ". Seru dua orang pelayan pria untuk memberi hormat.
" Selamat pagi ". Sahut Andrew.
" Apakah nona Vita ada? ". Tanya Andrew pada kedua pelayan itu.
" Ada tuan, nona Vita sedang ada di dalam ". Sahut salah satu dari mereka.
" Kalau seperti itu, saya akan memanggil non Vita tuan ". Sahut pelayan yang satunya.
" Tidak perlu, aku yang akan menemuinya sendiri ". Sahut Andrew, dan ia pun berlalu memasuki rumah.
Sedangkan di dalam rumah, tepatnya di sebuah dapur, sosok Vita yang tengah dicari oleh Andrew sedang sibuk untuk menyiapkan sarapan paginya dengan dibantu dua orang asisten rumah tangga yang selalu setia membantunya.
" Alhamdulillah, sudah selesai ". Seru Vita.
" Ayo bi, kita bawa semua menu makanan ini ke atas meja makan ". Seru Vita lagi.
" Baik non ". Sahut bi Yuli dan bi Lina.
__ADS_1
Kini ketiga wanita itupun mulai melangkahkan kakinya dengan membawa hasil masakan mereka.
Namun di tengah - tengah langkahnya di saat Vita akan sampai di pintu dapur, ia begitu dikejutkan dengan sesosok pria yang pernah datang lebih dari dua bulan yang lalu itu.
" Tuan Andrew ". Seru Vita yang terkejut.
" Selamat pagi nona ". Seru Andrew.
" Pa, pagi ". Sahut Vita gugup.
" Tuan Andrew, kenapa pagi - pagi sekali anda sudah ada disini? ". Tanya Vita.
" Nanti akan saya jelaskan nona, lebih baik nona letakkan dulu makanannya ". Peringat Andrew.
" Oh iya, aku sampai lupa, sebentar ya tuan, kami letakkan dulu makanannya ". Seru Vita.
Vita dan kedua ART nya pun kembali melangkah dengan diikuti Andrew dari belakang mereka.
Semua menu makanan untuk sarapan pagi ini telah siap, dan tuan rumah pun akan memulai sarapan pagi mereka.
" Tuan Andrew, mari duduk dulu, kita sarapan bersama ". Seru Vita.
" Terima kasih nona, tapi saya datang kemari bukan untuk sarapan, tetapi untuk menjalankan tugas dari tuan Al ". Tolak Andrew secara telak.
Deg.....
Vita begitu tertohok mendengar respon dari pria di hadapannya ini. Vita sangat tersinggung melihat sikap Andrew yang menurutnya terlihat angkuh.
" Astagfirullah, pria ini, dasar manusia robot, sangal mengesalkan, kalau bukan karena kamu adalah asisten tuan Al, sudah aku usir kamu dari tempat ini, dasar manusia robot ". Batin Vita kesal.
" Nona saya diperintahkan oleh tuan Al untuk memasukkan anda untuk bekerja di perusahaan, anda akan bekerja sebagai asisten saya nona ". Seru Andrew pada akhirnya.
" Apa?, bekerja di perusahaan? ". Sentak Vita yang begitu sangat terkejut dengan kabar yang mendadak ini.
" Benar nona, hari ini adalah hari libur, jadi mulai besok anda sudah mulai bisa bekerja untuk membantu saya di perusahaan ". Ujar Andrew.
" Apa, kenapa secepat ini? ". Tanya Vita lagi yang masih sangat begitu shock.
Vita benar - benar tidak menyangka akan kabar yang harus ia dapat di pagi hari ini, memang benar dirinya ingin bekerja, tetapi bukan berarti ia harus bekerja di perusahaan suami sahabatnya, apalagi harus bekerja sama dengan sosok pria yang seperti manusia robot.
Bagi Vita, kabar yang ia dapatkan di pagi hari yang cerah ini bagaikan sebuah mimpi buruk yang ingin segera ia akhiri.
*****
Sedangkan di lain tempat dengan masih di waktu yang sama, nampaknya pria berusia matang yang memang menjadi rival dari seorang Alexander, begitu tidak ingin melewatkan satu informasi apapun dari rival terberatnya.
Ya, siapa lagi sosok yang dimaksud jika bukan Viko. Sebuah dendam yang begitu membara itulah yang membuatnya tak ingin melepas seorang Al begitu saja, sampai sosok yang menjadi musuhnya itu bisa merasakan kehancuran yang sama seperti yang dirinya alami.
" Apa informasi yang sudah kamu dapat selama tiga hari ini? ". Tanya Viko dengan tatapan dinginnya.
" Tuan, tiga hari yang lalu Alexander telah melangsungkan pernikahannya dengan wanita berhijab itu tuan, dan mereka masih belum melakukan resepsi pernikahannya, Alexander menceraikan istrinya pertamanya Sintia karena terbukti telah membohongi keluarganya ". Sahut bodyguard itu.
Mendengar jawaban dari orang kepercayaan nya, terbesit sebuah senyuman jahat di sudut bibirnya.
" Tapi masih ada informasi yang lebih penting lagi tuan, ternyata Alexander itu dulunya pernah menjalin kasih dengan seorang wanita cantik yang bernama Diandra ". Jelas bodyguard itu.
Bersambung..........
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author ππππ
β€β€β€β€β€