
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Suasana sebuah kafe yang terletak di lantai dasar perusahaan G. Group, nampak begitu ramai dengan datangnya para karyawan kantor yang sedang ingin meluangkan waktu istirahat makan siang mereka.
Mereka yang saat ini sedang berada di kafe itu nampak ada yang sudah makan, ada yang masih menunggu menu yang telah dipesan, dan juga masih banyak dari mereka yang masih memilah - milih menu makanan apa yang akan mereka makan.
Vita yang sudah hampir sepuluh menit lamanya menunggu menu makanan yang telah dipesan nya, akhirnya sudah tiba di meja makannya.
" Ini mbak, menu yang sudah mbak pesan tadi ". Seru salah seorang pelayan cafe wanita dengan sebuah nampan yang dibawanya, lalu pelayan itupun meletakkannya di meja makan Vita.
" Terima kasih mbak ". Sahut Vita dengan tersenyum.
" Iya mbak sama - sama, apakah masih ada yang ingin di pesan lagi mbak? ". Seru pelayan itu.
" Saya rasa ini sudah cukup mbak ". Sahut Vita.
" Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu mbak ". Sahut pelayan itu. Dan Vita pun mengangguk.
Vita mulai menikmati menu makan siangnya. Ia sama sekali tidak begitu memperhatikan keadaan sekitarnya yang cukup ramai dengan berbagai obrolan dari karyawan, yang Vita lakukan saat ini hanyalah fokus menikmati makan siangnya saja.
Dan benar saja suasana kafe yang awalnya sedang ramai itu kini mendadak menjadi agak sepi setelah datangnya kehadiran sesosok pria tampan dengan segala kewibawaannya yang sedang memasuki kafe itu.
Dengan suara sepelan mungkin beberapa karyawan yang ada di kafe itu menjadi mulai berbisik - bisik.
" Itu kan tuan Andrew, kenapa dia kemari? ". Tanya salah seorang karyawan pada sesama teman karyawannya.
" Iya itu tuan Andrew, ada apa ya tuan Andrew kemari, apa dia ingin mengecek karyawannya yang sedang makan siang? ". Sahut yang lainnya.
" Sudahlah, kita jangan terlalu mengurusi tuan Andrew, siapa tahu dia kemari ingin makan siang juga ". Sahut yang satunya.
" Apa makan siang?, tidak biasanya tuan Andrew makan siang di kafe yang menjadi favorit karyawan biasa, biasanya kan tuan Andrew makan di restoran mewah yang ada di lantai atas ". Sahut yang satunya lagi.
" Aduh, sudah aku katakan jangan mengurusi tuan Andrew lebih baik kita fokus pada makanan kita ". Peringat temannya lagi.
Semua karyawan yang ada di kafe itu kembali menikmati makanannya, termasuk Vita yang masih setia menyantap makanannya tanpa memperdulikan siapapun.
Vita masih tetap fokus pada makanannya, hingga sesaat setelahnya ia baru menyadari jika sudah ada sesosok tubuh yang berdiri di samping kiri meja makannya.
Vita langsung menghentikan aktivitas makan siangnya, ia begitu sangat terkejut karena tiba - tiba saja ada seseorang di sampingnya, dan Vita pun mencoba mendongakkan pandangannya pada sosok itu, dan betapa bertambah terkejutnya Vita saat melihat sosok tuan Andrew yang sudah berdiri menatapnya.
" Tuan, maafkan saya, saya tidak tahu jika tuan sudah berada disini ". Sahut Vita dengan berdiri dari posisinya.
" Oh, tidak apa - apa duduklah ". Sahut Andrew.
" Bolehkah aku duduk disini bersamamu Vita? ". Tanya Andrew.
" Oh tentu boleh tuan, silahkan ". Sahut Vita.
Dan Andrew pun duduk dengan berseberangan menghadap Vita. Jujur saja saat ini Vita merasa malu dan sedikit gugup. Ia yang awalnya bisa menikmati makanannya dengan santai kini malah harus mengunyah makanannya dengan malu - malu karena ada tuan Andrew di dekatnya.
" Sebenarnya tuan Andrew ingin apa datang kesini?, kalau tujuannya memang untuk makan siang lalu kenapa harus memilih meja yang sama denganku? ". Batin Vita yang merasa sangat tak nyaman.
Dan tak lama setelah Andrew duduk, datanglah seorang pelayan kafe wanita yang tadi.
" Permisi tuan, apakah tuan ingin memesan sesuatu? ". Tanya pelayan itu dengan ramah.
" Aku pesan secangkir kopi hitam saja ". Sahut Andrew.
__ADS_1
" Baik tuan ". Sahut pelayan itu.
Jujur saja Vita merasa heran dengan tuan Andrew nya, bagaimana tidak?, tuan Andrew nya datang jauh - jauh ke kafe di lantai dasar hanya untuk memesan kopi, bukankah di restoran atas juga menjual kopi?.
Dan tidak lama kemudian kopi yang dipesan Andrew pun telah tiba.
" Ini tuan kopinya ". Seru pelayan wanita itu ramah.
" Terima kasih ". Sahut Andrew.
Vita sudah mulai menghabiskan makanan di piringnya sedangkan Andrew baru selesai menyeruput kopinya.
Diam - diam Andrew memperhatikan Vita. Entah mengapa ia merasa senang jika berdekatan dengan asisten barunya ini, dan alasan memesan kopi dan duduk di meja yang sama menurutnya adalah alasan yang tepat.
" Vita boleh aku bertanya sesuatu? ". Tanya Andrew pada Vita setelah asistennya itu menyelesaikan makanannya.
" Tuan ingin menanyakan apa tuan? ". Sahut Vita.
Andrew terdiam, ia tidak tahu apakah pertanyaan nya ini akan menyinggung Vita?, entahlah tapi rasa penasarannya tidak bisa ia bendung lagi, dan bahkan mungkin inilah alasan yang sebenarnya yang membuat Andrew ingin menemui Vita hingga ke lantai dasar.
" Tuan, tuan ingin menanyakan apa pada saya? ". Tanya Vita lagi yang melihat tuan Andrew nya tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
" Tapi kamu jangan tersinggung dengan pertanyaan ku Vita ". Sahut Andrew.
Dan Vita pun mengangguk.
" Vita, apa kamu memiliki seorang kekasih? ". Tanya Andrew pada akhirnya.
Deg..... Vita sangat terkejut bukan main. Ia tak menyangka jika tuan Andrew nya akan menanyakan hal semacam ini, hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan.
" Em tidak perlu Vita, kamu tidak perlu menjawabnya, sudah lupakan saja, aku tadi hanya bercanda ". Seru Andrew pada akhirnya.
" Ya Tuhan, Andrew, apa yang kamu tanyakan pada Vita?, yang benar saja kamu menanyakan hal semacam itu ". Batin Andrew yang merutuki pertanyaannya sendiri.
Bukan tanpa sebab Vita menjawab pertanyaan dari tuan Andrew nya, setelah Vita memikirkannya sepertinya ia harus menjawab pertanyaan dari tuannya, karena Vita merasa takut jika ia tidak menjawabnya dengan jujur, hal itu akan berpengaruh pada reputasi pekerjaannya, dan akhirnya mau tidak mau Vita pun harus menjawab pertanyaan dari tuan Andrew nya.
*****
Sepasang pengantin baru nampaknya masih begitu betah menikmati kebersamaan mereka di Villa nya.
Al yang begitu mencintai istrinya itu seolah tak pernah henti ingin selalu bisa bermesraan dengan sang istri. Al benar - benar memanfaatkan bulan madunya ini hanya untuk memanjakan dirinya pada sang istri.
" Sayang ". Seru Al, dengan tetap merangkul tubuh istrinya.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Selama kita disini, kita tidak kemana - mana, apa kamu tidak ingin menikmati liburan di luar, misalnya berbelanja begitu? ". Seru Al yang menawarkan pada sang istri.
" Tidak mas, Adinda tidak ingin kemana - mana ". Sahut Adinda yang sedikit lesu.
" Sayang kamu kenapa hem? ". Tanya Al.
" Haahh..... ". Adinda menghela nafasnya cukup dalam.
" Adinda merindukan anak - anak mas ". Sahut Adinda lirih.
Mendengar jawaban dari sang istri, Al pun kemudian membalikkan tubuh mungil istrinya untuk menghadap nya.
" Sayang, kamu merindukan anak - anak kita?, sama aku juga merindukan mereka, tapi tenanglah untuk saat ini kamu jangan terlalu memikirkan Aganta dan juga Damian, mereka baik - baik saja bersama opa dan oma mereka, bahkan papa sudah membawa separuh dari jumlah bodyguard nya untuk berjaga di rumah, jadi kamu tenang saja sayang jangan terlalu memikirkan anak - anak dulu, kita nikmati saja dulu bulan madu kita ". Sahut Al lembut, dengan membelai pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
Bukan karena Al merasa tak perduli pada kedua putranya, hanya saja ia percaya jika kedua putranya sedang baik - baik saja dibawah penjagaan papanya.
Al hanya berusaha membimbing sang istri agar istrinya itu bisa dengan tenang menikmati bulan madu mereka, meski memang tidak dipungkiri istri nya Adinda dan juga dirinya sendiri begitu merindukan kedua putra mungilnya.
" Bagaimana?, apa kamu setuju? ". Tanya Al untuk meyakinkan istrinya.
Dan Adinda pun mengangguk. Kini sepasang pengantin baru itu kembali menikmati indahnya pantai dari balik jendela kamarnya.
" Sayang, apa kamu lapar?, maaf mas lupa tidak memesan makanan tadi ". Lirih Al yang merasa bersalah.
" Tidak mas, Adinda masih belum lapar, apa mas lapar ? ". Tanya Adinda kembali.
" Tidak sayang, mas belum lapar ". Sahut nya.
" Mas, apa di rumah ini ada persediaan bahan untuk memasak, kalau ada Adinda akan memasak mas ". Seru Adinda.
" Ya ada sayang, tapi ya sudahlah biar asisten yang memasak ". Sahut Al.
Dan kini mereka berdua pun kembali menatap pada keindahan pantai yang yang terlihat dari balik kaca bening itu.
Al masih setia memeluk sang istri yang duduk di sofa empuk yang sama dengannya. Hingga setelah beberapa menit dari itu.....
Cup...... Al mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut.
" Mas, ada apa? ". Seru Adinda lirih, yang merasa tak biasa dengan sikap suaminya.
" Emm, tidak ada sayang " Sahut Al dengan senyuman nakalnya.
Merasa ada yang tak biasa dari suaminya, membuat Adinda mencoba menguraikan pelukannya dari sang suami.
" Mas, mas kenapa? ". Tanya Adinda lagi.
" Benarkah kamu ingin tahu sayang? ". Tanya balik Al.
" Iya mas ". Sahutnya mantap.
Dan Al pun mendekatkan wajah nya pada pada wajah sang istri.
" Jawabannya akan kamu tahu setelah nanti malam sayang ". Sahut Al dengan senyuman nakalnya.
Namun sayang, Adinda masih tak paham maksud dari jawaban suaminya itu, mengapa jawabannya akan diketahui setelah malam nanti?.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ". Al tertawa dengan begitu riangnya kala ia melihat raut bingung dari wajah sang istri.
" Mas, kenapa mas tertawa ". Tanya Adinda yang semakin bertambah bingung dengan sikap suaminya.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. sayang, kamu ingin tahu jawaban tentang nanti malam yang akan mas berikan untukmu?, baiklah akan mas beri tahu ". Sahut Al, dan Al pun kembali mendekatkan wajahnya pada sang istri.
" Bersiap - siaplah nanti malam sayang, karena nanti malam kita akan melewati malam yang panjang, aku akan menggempurmu semalaman sayang ". Seru Al pada akhirnya dengan senyum kebanggaan nya.
Adinda membelalakkan kedua bola matanya tak percaya. Adinda begitu terkejut dengan jawaban dari suaminya, ternyata suaminya begitu berniat sekali ingin menggempur nya.
" Astagfirullah, mas Al akan melakukannya semalaman, Ya Allah bagaimana ini? ". Batin Adinda yang merasa sangat cemas.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ". Al tertawa terbahak - bahak melihat raut wajah cemas dari istrinya. Istrinya ini memanglah benar - benar sangat polos.
" Aduh sayang, kenapa wajahmu lucu sekali seperti itu ". Batin Al, masih dengan tawanya.
Bersambung..........
__ADS_1
Kakak - kakak yang cantik dan tampan, jangan lupa untuk dukung terus karya Author ya ππβ€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ