Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Niat Jahat?


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sore hari yang begitu cerah seolah memberi semangat lebih dalam menuju kebahagiaan yang diimpikan. Begitu pun yang dilakukan oleh seorang pria berusia matang blasteran Indonesia - Korea ini begitu bersemangat dalam melakukan tujuan di sore hari ini.


Dengan mengendarai mobil mewah miliknya Andrew berkendara menuju rumah calon istrinya, siap lagi jika bukan Vita Ramadani.


Tidak butuh waktu lama mobil mewah itu berkendara di jalan ibu kota kini sudah mulai memasuki halaman rumah yang begitu indah milik calon istrinya. Meski Andrew hanya menggunakan kaos oblong dan celana jeans, aura kewibawaannya tetap terpancar.


" Selamat sore tuan ". Sapa salah seorang bodyguard yang berjaga di depan teras.


" Sore, apa Vita ada? ". Tanya Andrew.


" Ada tuan, sebentar saya akan menyuruh ART untuk mengatakan pada nona Vita jika tuan ada disini ". Sahut bodyguard itu.


" Tidak perlu biar aku yang masuk ". Sahutnya. Dengan tanpa menunggu jawaban dari bodyguard itu, Andrew langsung melenggang masuk.


Dalam langkahnya memasuki rumah calon istrinya Andrew mengirim pesan jika dirinya telah sampai dan sudah berada di dalam rumahnya. Andrew duduk di ruang tamu yang cukup besar itu, dan setelah hampir tujuh menit lamanya nampak Vita mulai menuruni anak tangga dan menemui calon suaminya.


" Selamat sore Vita ". Sapa Andrew.


" Selamat sore tuan ". Sahut Vita yang sedikit masih merasa canggung.


Sebenarnya Vita merasa canggung ketika bertemu secara langsung dengan tuannya bahkan kecanggungan nya lebih dari pada saat dirinya belum dilamar oleh tuannya, entahlah Vita sendiri juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada perasaannya.


" Tuan, sebenarnya apa yang ingin tuan bicarakan dengan saya ". Seru Vita pada akhirnya setelah ia mendaratkan tubuhnya di sofa yang empuk itu.


Sebenarnya Andrew menahan diri agar tak tertawa di depan calon istrinya, pasalnya istrinya itu masih begitu terlihat kaku di depannya dan hal itu sangat bertolak belakang dengan Vita yang menjadi sedikit bar - bar ketika saling berkirim pesan dengannya, sungguh Andrew merasa gemas dengan tingkah malu - malu calon istrinya ini.


" Aku ingin membicarakan tentang pernikahan kita ". Jawab Andrew langsung pada intinya.


Deg..... jujur saja ketika mendengar kata pernikahan membuat Vita masih merasa terkejut, bukan tanpa alasan dirinya seperti ini, dilamar dan akan menikah di usia muda benar - benar hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun ia sudah menerimanya yang menandakan jika dirinya sudah bersedia dilamar maka dirinya bersedia menikah, dan bukankah tuannya Andrew melamar dirinya memang untuk dijadikan istri.


" Ada apa Vita?, apa kamu merasa keberatan? ". Tanya Andrew.


" Ti, tidak tuan, hanya saja saya merasa sedikit gugup ". Sahut Vita.

__ADS_1


" Tenanglah, kamu tidak perlu gugup, aku melakukan ini untuk kebaikan kita, lebih cepat kita menentukan tanggal pernikahan itu akan menjadi lebih baik, karena dengan begitu orang di luar sana tidak akan berpikiran yang aneh - aneh dengan kita, dan aku pun bisa menjaga dan melindungi kamu nantinya ". Sahut Andrew yang berusaha memberi penjelasan.


Untuk sesaat Vita terdiam. Ia sangat kagum dengan calon suaminya ini, bukan hanya bertanggung jawab dalam urusan pekerjaan tetapi calon suaminya ini ternyata begitu sangat menghargai dan menjaga dirinya.


" Lalu bagaimana rencana tuan tentang pernikahan kita? ". Tanya Vita yang ingin memastikan.


" Vita, aku sudah memikirkan ini jauh sebelum aku melamar mu, dan jika kamu menerima lamaran ku maka aku ingin satu minggu setelah lamaran itu diterima aku akan melangsungkan hari pernikahannya ". Sahut Andrew.


Vita semakin terkejut dengan pernyataan tuannya, ternyata tuannya ini sudah mempersiapkannya semenjak jauh hari. Dan satu hal yang Vita pahami dari ini, ternyata tuan Andrew nya memang sudah lama ingin menjalin hubungan serius dengannya.


" Tuan, apa tuan sudah benar - benar yakin dengan keputusan ini? ". Tanya Vita yang ingin memastikan.


" Tentu aku yakin, kenapa aku harus merasa ragu, lebih cepat lebih baik ". Sahut Andrew mantap.


" Baiklah tuan, Insya Allah saya bisa menerima keputusan taun ini ". Sahut Vita pada akhirnya.


" Terima kasih Vita ". Sahut Andrew, dan Vita pun memberi anggukan.


*****


Sore hari yang sudah begitu terasa sejuk yang menandakan tidak begitu lama lagi akan menjelang waktu maghrib begitu dinikmati oleh anggota keluarga yang sudah cukup lama terpisah itu.


" Mam, mam, mam, ba, ba, ba ". Begitulah kurang lebih celotehan antara Aganta dan juga Damian yang ikut menyahuti obrolan tiga orang dewasa di dekatnya.


" Aduh cucu nenek ini pintar sekali ya berceloteh nya ". Seru bi Nadia yang begitu gemas dengan kedua cucunya.


" Iya nenek tentu kami bersemangat berceloteh nya karena kami bisa bertemu dengan nenek ". Namun sang mommy dari kedua bayi kembar itulah yang menyahut.


Al sedari semenjak duduk bertiga di bawah bersama bibi istrinya tidak begitu banyak suara yang ia keluarkan, kali ini Al lebih banyak menyimak dan mendengarkan saja karena ia ingin memberi ruang pada istri dan juga kedua anaknya agar bisa bercanda ria dengan bi Nadia.


" Nak, kamu masih belum menjawab pertanyaan bibi yang tadi, selama kamu pergi kamu dan ayah mu ada dimana, kenapa kamu bisa dihubungi? ". Tanya bi Nadia yang memang sudah dari tadi menanyakan hal itu.


Untuk sejenak Adinda menunduk, ia merasa bersalah pada bibinya karena tak pernah memberinya kabar.


" Maafkan Adinda bi, karena sudah membuat bibi kebingungan selama ini, setelah Adinda dinyatakan hamil, Adinda sudah memiliki niatan untuk pulang kesini, namun setelah sampai disini Adinda masih merasa tidak tenang, Adinda takut mendapatkan ancaman dan juga teror disini, hingga Adinda memutuskan untuk pergi dengan membawa ayah ke tempat yang jauh dimana orang - orang dimasa lalu Adinda tidak dapat menemukan Adinda. Adinda tinggal di Kalimantan bersama ayah, kami tinggal di sebuah perkampungan yang hanya terdiri dari sepuluh kepala keluarga, hingga suatu pertemuan tak terduga mempertemukan Adinda dengan tuan Andrew di sebuah pasar tradisional tempat dimana biasanya Adinda menjual kue, merasa takut jika tuan Andrew mengatakan tentang keberadaan Adinda, akhirnya Adinda pun memutuskan untuk pergi ke Wilayah lain, Adinda dan ayah tinggal di Bandung tapi masih di wilayah desa yang cukup jauh dari keramaian penduduk kota, namun nyatanya tetap saja, tuan Al tetap menemukan keberadaan Adinda ". Sahut Adinda dengan menceritakan secara panjang lebar.


Tanpa terasa tiba - tiba saja bi Nadia menjatuhkan air matanya, wanita paru baya itupun memeluk keponakannya.

__ADS_1


" maafkan anak bibi ya nak, karena perbuatan nya kamu harus tertekan dan berada di masa yang sulit ". Sahut bi Nadia.


" Sudah bi, iya Adinda sudah memaafkan kok ". Sahut Adinda.


Mendengar cerita dari sang istri benar-benar membuat hati Al menjadi tersayat dan sangat marah. Ia marah pada dirinya sendiri karena sudah membiarkan kebohongan dan juga kebodohan terjadi, andai jika waktu bisa diulang ingin sekali rasanya ia mencegah agar hal itu tak terjadi.


" Kamu memang benar - benar bodoh, kamu bodoh Al ". Batin Al marah.


" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian.


Damian mengangkat kedua tangan mungilnya seolah bayi gembul itu mengisyaratkan jika ia ingin di gendong.


" Aduh, cucu nenek ingin digendong?, hem baiklah ayo sini sama nenek ". Sahut bi Nadia dan ia pun segera meraih tubuh Damian untuk ia rangkul dalam gendongan nya.


Sedangkan Aganta ia tetap duduk tenang di depan sang daddy dengan tetap memainkan mainannya.


Cukup lama mereka berbincang - bincang hingga waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih.


" Nak ini sudah lewat waktu sore, Aganta dan Damian masih belum ganti, ayo dimandikan dulu mereka nak ". Seru bi Nadia.


" Iya bi, ini Adinda juga sudah mau memandikan mereka ". Sahutnya.


" Ayo sayang sama aku ". Pinta Al.


" Iya mas ". Sahut Adinda.


Al dengan Adinda pun beranjak dari posisi duduk lesehan nya dan menuju kamar mandi belakang untuk memandikan Aganta dan juga di sana.


Saat dimandikan, Aganta dan juga Damian begitu sangat senang memainkan air nya. Sedangkan di sisi tempat bagian lain Sintia sedang mengintip kedua orang tua yang begitu senang karena memandikan anaknya.


" Mereka bahagia sekali, aku harus melakukan sesuatu ". Gumam Vita.


" Heemm aku tahu, mumpung mereka akan menginap disini kenapa aku tidak siksa saja kedua bayi itu tanpa sepengetahuan Al dan Adinda, hemm itu ide yang bagus ". Imbuhnya lagi dengan tersenyum jahat.


Bersambung..........


Maaf, Author hanya update sedikit πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2