Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Ungkapan Perasaan Rendi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sang mentari telah berangsur meninggalkan setiap bagian celah bumi yang melewatinya dan tenggelam menuju menuju tempat peraduannya. Tanpa terasa sore pun berganti malam, setelah menunaikan kewajiban sholat isyak, kini seperti biasa keluarga kecil itu sedang menikmati waktu kebersamaannya.


Al dan juga sang istri Adinda sedang duduk bersandar dengan tubuh mereka yang setengah berbaring. Tak lupa Al selalu mengelus perut buncit istrinya, di mana darah dagingnya itu tumbuh dan berkembang.


Si kecil Aganta dan juga Damian duduk bersama di tengah - tengah mereka, dengan masih menatap layar televisi yang menayangkan film kartun kesukaan si baby twins itu.


" Daddy daddy, Mian mau te mall ladi, mau mandi bula cama mamam di cana ladi ". Pinta si kecil Damian tiba - tiba. Mungkin karena film kartun kesukaannya menunjukkan kegiatan makan bersama membuat si kecil Damian ingin pergi ke mall daddy nya lagi.


" Iya daddy, Anta duda mau te mall, mau mandi bula ". Imbuh Aganta.


" Baiklah anak - anak daddy, daddy besok tidak akan pergi ke kantor, kita pergi ke mall ". Sahut Al yang mengabulkan permintaan kedua putranya.


" Yeay, asyik asyik asyik... ". Damian begitu senang ketika sang daddy mengabulkan permintaannya.


" Maacih daddy ". Ucap keduanya berterima kasih.


" Iya boy, kenapa kalian rindu mall? ". Lanjut Al lagi.


" Iya daddy, Mian mau main di mall cama mamam cetik potato di cana ". Sahut Damian dengan menatap wajah daddy nya.


" Oke lah boy, kalau kamu bagaimana sayang, kamu mau ikut ke mall besok? ". Lanjut Al, dengan bertanya pada istrinya.


" Iya mas Adinda tetap ikut, Adinda kan tidak bisa jauh dari anak - anak ". Sahutnya lembut.


Jika Al dengan keluarga kecilnya sedang membicarakan ingin pergi ke mall, maka beda halnya dengan sosok wanita cantik yang saat ini tengah mempersiapkan dirinya.


Malam ini Diandra sudah siap, bahkan beberapa kali dirinya terlihat seperti ingin memastikan apakah dirinya sudah sempurna?.


" Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan sih Diandra, ingin pergi keluar dengan Rendi saja seperti ingin pergi berkencan saja ". Gumamnya yang merasa malu dengan tingkahnya yang bolak - balik melihat penampilannya di depan cermin.


Setelah sekitar hampir lima menit pasca dirinya sudah siap, terdengar adanya getaran handphone dari dalam tas nya.


Drtt... drtt... drtt...


" Pasti ini Rendi ". Gumamnya, lalu Diandra pun merogoh smartphone nya itu.


" Iya, halo Ren ". Sahut Diandra.


" Di, aku sudah ada di depan rumahmu ". Sahut Rendi.


" Oh ya, cepat sekali kamu sampai, ya sudah aku kesana sekarang ". Sahut Diandra, sebelum akhirnya ia pun mematikan panggilan itu.


Tak ingin berlama - lama berada di kamar, Diandra pun akhirnya keluar juga, dan ternyata saat keluar Diandra bertemu dengan mamanya.


" Sayang, mau berangkat sekarang sudah ". Tanya Kendi saat hendak melewati kamar putrinya.


" Iya ma, Diandra mau keluar sekarang, Rendi sudah menunggu di luar ma, mama tenang saja, Diandra pastikan pukul sepuluh malam nanti, Diandra sudah ada di rumah ". Sahut Diandra.


" Iya mama percaya, lagipula sepertinya temanmu si Rendi itu anak yang baik dan sopan ". Sahut Kendi.


" Huum, ya sudah, Diandra keluar dulu ya ma cup... cup... ". Pamitnya pada sang mama dengan mencium pipi kiri dan kanan mamanya.


Dengan langkah anggunnya Diandra keluar dari rumahnya, hingga di saat dirinya berada di luar pintu, Diandra melihat Rendi yang sedang berdiri namun menyandarkan punggungnya di mobil.


Rendi terlihat sangat tampan dengan pakaiannya, celana jeans warna hitam yang dipadukan dengan kaos polos putih dengan di balut jas berwarna Silver, benar - benar membuat Rendi terlihat semakin tampan dengan gaya cool nya.


Setelah sepersekian detik Diandra menatap Rendi, akhirnya ia pun tersadar dari ke terkagumannya.


" Rendi ". Panggil Diandra.

__ADS_1


Rendi pun langsung mendongakkan pandangannya lalu menatap ke arah di mana Diandra berdiri saat ini.


Rendi terdiam, ia benar-benar terpana dengan penampilan Diandra malam ini, Benar-benar cantik bahkan sangat cantik. Baju dress warna biru muda dengan panjang di bawah lutut dan panjang bagian lengannya hingga ke siku, benar-benar terlihat elegan, sangat pas di tubuh Diandra yang begitu langsing bak seorang model.


" Rendi, Ren ". Seru Diandra lagi, pasalnya temannya ini hanya diam menatap dirinya tanpa berkedip sedikitpun.


" Eh, i-iya ". Sahut Rendi gugup setelah tersadar dari keterpakuannya.


" Kamu kenapa Ren, jadi berangkat atau tidak? ". Tanya Diandra.


" Oh iya jadi, jadi berangkat Di, ayo masuk ". Ajak Rendi pada akhirnya.


Karena terpesona melihat kecantikan wanita dambaannya membuat Rendi kehilangan kesadarannya, beruntung wanitanya ini menyadarkannya, malu?, iya, Rendi memang sedikit malu.


Tak ingin waktu menjadi terbuang, Rendi pun mulai mengendarai mobil mewahnya, entah akan ia akan mengajak Diandra kemana malam ini.


" Ren, kita mau pergi kemana? ". Tanya Diandra dengan tatapannya yang masih tertuju ke arah jalanan.


" Adalah Di, nanti kamu akan tahu sendiri ". Sahut Rendi santai.


" Rendi sebenarnya ingin mengajakku kemana sih, dan kenapa sepertinya terlihat romantis? ". Batin Diandra.


Tidak ada kalimat lanjutan lagi dari kedua insan itu, dan Rendi pun masih terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga hampir dua puluh menit berkendara, barulah mobil mewah itu sampai di sebuah restoran mewah yang ada di ibu kota.


Diandra memandang Restoran mewah itu, namun dalam pandangannya seperti ada yang berbeda.


" Kenapa restorannya sepi? ". Batinnya bertanya.


" Ayo Di, kita turun sekarang, sudah sampai ". Seru Rendi yang mengajaknya.


" Oh iya ". Sahutnya dengan sedikit tersentak.


Dua insan anak manusia yang masih belum terikat akan suatu hubungan itu, mulai keluar dari dalam mobil dan menuju restoran.


" Kenapa jadi seperti ini, sebenarnya Rendi mau apa sih, kenapa kesannya restoran ini seperti di desain dengan romantis, dan... apa ini, kenapa hanya ada satu meja, sebenarnya Rendi... tidak, ini seperti makan malam romantis ". Batin Diandra, nampaknya ia masih berusaha memahami apa yang dilihatnya.


Rendi dengan Diandra pun duduk di meja dan kursi yang telah disediakan, oh tidak, lebih tepatnya yang telah di pesan khusus oleh Rendi.


Dan benar, tidak lama dari itupun datanglah dua orang pelayan wanita yang sedang membawakan minuman dan juga makanan untuknya dan juga Rendi.


" Selamat menikmati, tuan nona ". Seru dua orang pelayan itu.


" Terima kasih ". Sahut Rendi dan juga Diandra.


" Ayo Di, kita nikmati dulu makanan dan minumannya ". Seru Rendi, bahkan dengan senyumannya.


Diandra terkagum melihat senyuman Rendi malam ini, di atas pancaran cahaya lilin, membuat senyuman itu semakin memancarkan aura ketampanannya, namun sesaat kemudian Diandra tersadar dari hal itu, dan iapun memilih untuk fokus pada hidangan yang sudah di sediakan.


" Bagaimana Di, apa makanannya enak? ". Tanya Rendi di sela - sela kegiatan makan malamnya.


" Iya enak Ren ". Sahut Diandra.


Sebenarnya di dalam lubuk hatinya Diandra masih penuh tanda tanya pada Rendi malam ini, bagaimana tidak, Rendi mengajaknya keluar untuk menikmati makan malam, apalagi makan malam ini terkesan tak biasa, namun hal itu Diandra urungkan sejenak.


Di iringi dengan iringan musik yang terdengar begitu syahdu, apalagi dengan dekorasi restoran yang terlihat romantis, benar - benar membuat Diandra serasa seperti berkencan dengan pasangannya.


" Aku tahu Di, pasti kamu bertanya - tanya kenapa kamu di ajak ke tempat ini, apalagi dengan cara romantis seperti ini ". Batin Rendi.


Setelah sekian menit kedua insan itu menikmati makan malamnya, akhirnya selesai sudah, begitupun dengan pelayanan di sana yang sudah siap siaga merapikan meja mereka kembali.


" Ren, sebenarnya kamu ada kepentingan apa mengajakku kemari, apalagi sampai harus menyewa restoran yang mewah begini? ". Tanya Diandra pada akhirnya, dan inilah yang ingin ia tanyakan semenjak dirinya menginjakkan sepasang kakinya di restoran mewah ini.


Rendi menghela nafasnya cukup panjang, mungkin inilah saatnya bagi Rendi untuk menyatakan perasaan terpendam nya selama ini.

__ADS_1


" Di, aku tahu, sebenarnya sudah sejak lama kamu merasakan sesuatu yang tak biasa pada diriku, tapi kamu lebih memilih untuk tidak memikirkannya, dan malam ini, aku akan menyatakan semuanya, aku akan menyatakan semua isi perasaanku padamu Di ". Ujar Rendi.


Mendadak jantung Diandra terasa berdetak lebih cepat, entah mengapa ia menjadi begitu gugup seperti ini, seolah dirinya seperti akan mendapat kabar yang begitu mengejutkan.


Dengan segala keberaniannya, Rendi pun meraih jemari ketik Diandra, ia menggenggamnya dengan begitu lembut seolah Rendi ingin menunjukkan betapa berharganya Diandra bagi dirinya.


" Di, sebenarnya perasaan ini sudah sejak lama aku rasakan, tapi aku tidak bisa mengatakannya karena keadaan yang pada saat itu masih belum memihak ku... berkali - kali aku berusaha menekan perasaan ini, tapi nyatanya, hingga sekarang aku belum bisa melakukannya... ".


" Di, aku mencintaimu, aku mencintaimu Diandra ". Ungkap Rendi pada akhirnya.


Deg...


Seketika itu tubuh Diandra langsung membeku, tenggorokannya bahkan terasa tercekat, Diandra begitu sangat terkejut dengan apa yang baru saja Rendi ucapkan, bahkan deru nafasnya pun seolah terhenti.


" Di, aku tahu, pasti kamu tidak pernah menyangka jika aku akan mengatakan hal sebesar ini, tapi percayalah Di, aku benar - benar mencintaimu, bahkan perasaan ini ada sebelum kamu menjadi tunangan Al, aku mencintaimu Di, aku benar - benar mencintaimu ".


Diandra benar - benar semakin terkejut, jadi selama ini, Rendi sudah jatuh cinta padanya semenjak lama, jadi inikah mengapa setiap kali ia bertemu dengan Rendi selalu merasakan adanya hal yang tak biasa, jadi inikah maksudnya selama ini, Rendi mencintainya.


" Di, aku tidak berharap jika kamu akan membalas cintaku, karena perasaan, apalagi perasaan cinta, memang tidak bisa dipaksakan, tapi, jika kamu menerima cintaku, aku akan menjadikan mu satu - satunya wanita dalam hidupku Di, karena apa, karena aku ingin kamu menjadi istriku ". Ungkap Rendi lagi, dan inilah niat terbesarnya yang selama ini menginginkan Diandra.


Deg...


Diandra benar - benar seperti mendapat shock terapi, apa yang diungkapkan Rendi benar - benar telah memporak - porandakan jiwanya.


Baru beberapa menit yang lalu Rendi menyatakan perasaannya, namun sudah ditambah lagi jika Rendi ingin menikahinya.


" Bagaimana Di, apa kamu menerima lamaranku? ". Lanjut Rendi lagi.


Diandra merasa bingung harus menjawab apa, baginya ini semua masih terlalu cepat.


" R-Ren, aku... aku... ti-tidak tahu harus menjawab apa, bagiku ini semua terlalu cepat, aku masih butuh waktu untuk menjawab ini semua Ren ". Sahut Diandra pada akhirnya setelah sekian lama ia terdiam.


Rendi kemudian melepas genggaman tangannya dari Diandra, Rendi menyadari jika semua masih terlalu cepat, apalagi ini pertama kalinya ia menyatakan perasaannya, pastilah Diandra membutuhkan waktu untuk menerimanya.


Namun meski begitu, Rendi merasa cukup senang, karena jika di dengar dari jawaban Diandra, tidak ada tanda penolakan darinya, apalagi Diandra mengatakan masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya, dan itu artinya, Rendi masih memiliki kesempatan untuk menarik hati wanita pujaannya ini.


" Maafkan aku Ren, tapi ini semua masih terlalu cepat untukku, dan terima kasih karena kamu sudah mencintaiku selama ini, maafkan aku yang terlambat memahami itu ". Sahut Diandra lagi dengan segala perasaan tak enaknya.


Rendi tersenyum, memang tak salah jika ia mencintai wanita di depannya ini, meski tak salah karena menolak lamarannya, namun masih mau meminta maaf.


" Tidak apa - apa Di, aku tahu ini semua terlalu cepat, tapi, apakah boleh jika aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi? ". Sahut Rendi, rupanya ia tak ingin kehilangan kesempatannya.


" Iya, tentu boleh Ren, dan kita memang harus saling mengenal dulu agar kita bisa saling memahami ". Sahut Diandra yang juga mengembangkan senyumannya.


Alunan musik romantis pun masih terus berlanjut, dan pastinya Rendi tak ingin kehilangan kesempatan ini.


" Dia ". Panggil Rendi lagi.


" Iya, ada apa Ren? ". Sahutnya.


" Maukah kamu berdansa denganku? ". Pinta Rendi pada akhirnya.


Dengan tanpa merasa keberatan Diandra pun mengangguk, ia menerima ajakan Rendi yang ingin berdansa dengannya.


Dan akhirnya seperti inilah, dua insan yang masih belum memiliki ikatan spesial ini tengah asyik menikmati kebersamaannya dengan berdansa mengikuti alunan musik yang begitu indah.


Bersambung..........


Sampai di sini dulu ya, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2