Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Menambah Anak Lagi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Kebahagiaan yang begitu tiada terkira terus menyelimuti keluarga Georgino. Apalagi penyebab utamanya jika bukan karena kehadiran tiga malaikat kecil yang akan selalu menghadirkan senyuman kebahagiaan diantara mereka.


Dan pastinya hadirnya kebahagiaan karena ketiga malaikat kecil itu, tak lepas dari sosok utama yang telah menghadirkan tiga malaikat kecil itu, siapa lagi jika bukan Adinda, menantu kebanggaan dan kesayangan keluarga Georgino.


Dulu, keluarga Georgino adalah keluarga yang begitu jarang tersenyum. Apalagi putra tunggal dari sepasang Georgino adalah pria dingin, jarang tersenyum dan tak mudah didekati oleh sembarang wanita.


Siapa lagi sang putra tunggal yang dimaksud jika bukan Alexander. Memang tidak ada seorang wanita yang benar - benar sangat Al cintai dengan sepenuh jiwa dan raganya kecuali Devina sang mama. Al memang tak mudah dipengaruhi oleh banyak wanita, hanya Devina sang mama lah, yang mampu mengarahkan hatinya.


Namun, setelah kehadiran sosok Adinda dalam hidupnya, membuat semuanya menjadi berubah dan menghadirkan banyak kebahagiaan. Dan di hati Al, bukan hanya Devina sang mama lah sosok wanita yang sangat berharga, ada dua sosok wanita lagi yang juga sangat berharga dalam hati dan hidupnya, yaitu Adinda sang istri serta putri tercintanya Alexa. Ketiga wanita ini benar - benar seperti permata berharga yang tak bisa dinilai oleh apapun.


Hari - hari masih terus berlanjut hingga menjadi minggu. Dan minggu pun terus berlanjut menjadi bulan. Tanpa terasa tujuh bulan telah berlalu. Dan kebahagiaan keluarga Georgino seolah tak pernah luntur. Dan kebahagiaan yang selalu hadir dalam keluarga mereka, benar - benar suatu anugerah yang sangat luar biasa yang telah Tuhan berikan.


Pada pagi hari yang cerah ini, keluarga bahagia itu sedang menikmati waktu kebersamaan mereka di halaman belakang rumah sang putra Al, yang begitu indah bak taman kota.


Si kembar Aganta dengan Damian menaiki sepeda mereka masing - masing dan berkeliling mengitari halaman yang luas itu bersama sang opa yang juga menaiki sepedanya.


Sementara Al dan sang istri, serta Alexa putrinya dan juga sang mama, memilih untuk duduk lesehan saja dengan beralaskan karpet yang empuk di sana.


Al memangku tubuh mungil putrinya. Si mungil Alexa nampak begitu serius memperhatikan sang opa dan juga kedua kakak kembarnya yang asyik bersepeda.


" Hem mam mam mam mam pa pa pa ". Celoteh Alexa yang merasa senang karena memandang sang dan juga kedua kakaknya bermain sepeda.


" Wah putri daddy, kamu senang sekali ya melihat opa dan kakak - kakakmu bermain sepeda?, kenapa Alexa ingin main juga hem?, tunggu dulu, masih belum waktunya putri daddy, nanti kalau Alexa sudah besar seperti kakak Aganta dan Damian, baru Alexa bisa bermain sepeda seperti itu ". Seru Al dengan mengelus lembut pucuk kepala sang putri.


" Hem mam mam mam ". Sahut Alexa yang seolah mengerti akan kalimat dari daddy nya.


" Hihihihi... pintarnya cucu oma ini, kalau diajak bicara, pasti selalu merespon ". Puji Devina senang pada cucu perempuannya.


Keluarga itu masih setia berada di tempatnya, hingga tak lama dari itu, terdengar seperti adanya langkah seseorang yang mendekati mereka. Dan ternyata benar, bu Ima lah yang mendekati mereka.


Di kedua tangannya nampak sebuah nampan yang sudah tersedia mangkuk kecil di atasnya. Dan bisa Adinda pastikan jika mangkuk itu berisi menu sarapan untuk putri mungilnya.


" Permisi, nyonya tuan, ini, sarapannya nona muda kecil Alexa ". Seru bu Ima ramah pada majikannya.


" Terima kasih ya bi ". Sahut Adinda yang tak kalah ramahnya, lalu mommy muda itupun langsung meraih mangkuk dengan botol minuman itu.


Setelah mengantarkan sarapan untuk si nona muda Alexa. Bu Ima pun kembali undur diri menuju dapurnya.


" Ayo sayangnya mommy Alexa, waktunya Alexa sarapan ya nak ". Seru Adinda memperlihatkan mangkuk yang berisi makanan Alexa.


Alexa yang melihat itu menjadi sumringah bahagia. Bayi mungil yang sudah berusia tujuh bulan lebih itu, nampaknya terlihat tak sabar yang ingin segera memakan sarapannya, bahkan kedua tangan mungilnya sampai digerak - gerakkan karena begitu antusiasnya.


" Wah, cucu oma ini, sudah tidak sabar ingin sarapan ya sayang ". Seru Devina sang oma.


" Heem maaam ". Sahut Alexa seolah bayi mungil itu membenarkan kalimat sang oma.


" Baik putri mommy, saatnya Alexa sarapan ya sayang, mas, mas Al bisa sedikit menggeser tubuh mas ke sini, biar Adinda lebih mudah menyuapi Alexa mas ". Seru Adinda.


" Oke, baiklah sayang ". Sahutnya.


" Baiklah sayangnya mommy, sebelum makan makanan nya, Alexa minum sedikit air minum dulu ya sayang, biar lancar makannya ". Seru Adinda lagi, lalu ibu muda itupun mulai memberikan air minumnya secara perlahan pada putrinya Alexa.


" Saatnya makan sayang, Bismillahirrahmanirrahim, buka mulutnya nak, aaa... aem ". Satu suapan telah berhasil masuk dalam mulut mungil Alexa.


Pok... pok... pok... pok... Devina sang oma bertepuk tangan riang karena cucunya Alexa memakan dengan lahap di suapan pertamanya.

__ADS_1


" Pintarnya cucu oma ini, lahap sekali makannya... tidak merepotkan mommy, senangnya oma lihat Alexa lahap makannya sayang ". Puji Devina senang karena cucu mungilnya ini sama sekali hampir tak pernah merepotkan saat sedang makan.


" Iya lah oma, tentu Alexa lahap makannya, kan Alexa anak pintar ". Timpal sang daddy Al dengan menggerak - gerakkan tangan kanan mungil Alexa.


Si mungil Alexa hanya tersenyum lucu dengan masih memakan sarapan khusus itu. Alexa sangat senang karena perlakuan kedua orang tuanya dan juga omanya.


Sementara itu, si kecil Damian nampak menghentikan ayunan sepedanya. Kakak dari Alexa itu rupanya sudah melihat jika sang adik sedang di suapi oleh mommy nya. Melihat hal itu, tentu membuat Damian seolah tak ingin melewati momen itu, dan seharusnya ia juga ikut bergabung ke sana.


" Damian, ada apa, kok kamu belhenti? ". Seru Aganta setelah mendapati saudara kembarnya tak melanjutkan bersepedanya lagi.


" Coba lihat itu, mommy sedang menyuapi adik Alexa ". Sahut Damian dengan menunjuk ke arah mereka.


Aganta pun paham maksud dari Damian, pasti saudara kembarnya itu ingin juga bergabung menyuapi adiknya.


" Ya sudah, kalau begitu, kita pelgi ke sana, dilanjutkan nanti saja mainnya ". Sahut Aganta pada akhirnya, lalu sejurus dengan itu, Aganta pun melihat sang dari jarak yang tak terlalu jauh dari mereka.


" Opa, opa ". Panggil Aganta.


" Iya, ada apa cucu opa ". Sahut Enriko, lalu pria paru baya itu mengayunkan sepedanya untuk mendekati kedua cucunya.


" Ada apa? ". Tanya Enriko lagi.


" Kita mau belhenti dulu belsepeda nya opa, kita mau suapi adik Alexa ". Sahut Aganta yang memberi penjelasan.


" Loh, kenapa, kan adik Alexa nya sudah ada yang menyuapi nak ". Sahut Enriko.


" Ya tetap saja opa, kita tetapi mau suapi adik, kita senang kalau seling suapi adik Alexa ". Kali ini Damian lah yang menyahut.


" Emm... ya sudah kalau itu memang mau kalian, tapi setelah ini cuci tangan dulu ya, baru setelah itu suapi adik Alexa ". Sahut Enriko lagi.


" Baik opa, kalau itu sudah pasti ". Sahut Damian lagi.


" Halo adik Alexa, adik lagi salapan? ". Seru Damian, setelah bocah kecil itu sampai di tempat mereka duduk bersama.


" Sayang, tumben Damian sama Aganta sudah naik sepedanya nak? ". Sahut Adinda di sela - sela menyuapi putri mungilnya.


" Kita sengaja menyudahi naik sepedanya myh, kita mau ikut belgabung menyuapi adik Alexa ". Sahut Aganta, lalu duduk ikut bersama dengan mereka.


" Oh ternyata itu, sudah daddy duga, pasti kalian akan berhenti melakukan apapun kalau adik Alexa sedang asyik begini ". Tebak sang daddy Al, karena itulah kebiasaan yang tak bisa lepas dari kedua anak kembarnya.


" Hihihihi... kasihannya opa, naik sepeda seorang diri sekarang ". Timpal sang oma cekikikan.


Karena sudah tak sabar, kedua anak kembar itupun ingin segera menyuapi sang adik Alexa.


" Mommy, mommy belhenti dulu ya suapi adik, bial Damian yang suapi ". Serunya meminta pada sang mommy.


" Baiklah nak ". Sahut Adinda, lalu mommy muda itupun mengalihkan mangkuk yang berisi menu sarapan untuk putrinya pada kakaknya Damian.


" Ayo adik, sekalang kakak Damian yang mau suapi kamu, bismillahillohmanillohim, buka mulutnya aaaem ". Damian pun telah berhasil memasukkan satu suapan ke mulut mungil Alexa.


" Pintalnya adikku ini, kalau disuluh makan, pasti semangat ". Seru Damian senang.


Dan Alexa pun mengangguk, rupanya bayi mungil itu sangat senang dengan pujian sang kakak Damian.


Damian masih tetap berlanjut menyuapi sang adik, baru hingga setelah lima suapan yang Damian berikan, bocah kecil itu lalu memberikan mangkuk yang masih tinggal seperempat sisa sarapan Alexa, pada saudara kembarnya Aganta.


" Ini, sekalang gililan kamu yang suapi Aganta ". Seru Damian dengan menyodorkan mangkuk itu pada Aganta.


Ya, baik Damian maupun Aganta sudah terbiasa bergantian saat ingin menyuapi adik mereka. Kerukunan yang sudah melekat pada diri kedua bocah kembar itu pastinya tak lepas dari didikan dan bimbingan dari sang mommy Adinda.

__ADS_1


Kedua bocah kembar itu sudah terbiasa saling berbagi untuk membantu. Jika orang lain masih belum mengenal bagaimana Aganta dengan Damian, pasti mereka akan mengira jika kedua bocah kembar ini memiliki sifat yang sama. Padahal mereka memiliki sifat yang berbeda.


Aganta sang kakak masih melanjutkan menyuapi adiknya, dan tak lama lagi, makanan milik Alexa itu akan segera habis.


Devina sang oma, yang sedari tadi memperhatikan interaksi ketiga cucunya ini merasa sangat senang. Pikirannya teringat akan masa lalu di mana putranya Al dulu begitu sulit untuk menikah lantaran masih belum bisa melupakan mantan tunangannya.


Kala itu berbagai ketakutan bermunculan dalam benaknya. Devina merasa khawatir jika putranya Al tak mau menikah. Namun kini nyatanya telah berubah, kekhawatiran nya sama sekali tak terjadi. Putranya Al menikah dengan Adinda dan hidup bahagia, bahkan mereka dikaruniai tiga orang anak yang tak lain adalah cucu kandung Devina.


Devina begitu sangat senang dan bahagia setiap kali ia menatap cucu - cucunya.


" Adinda ". Seru Devina.


" Iya ma ". Sahut Adinda.


" Setelah di perhatikan, wajah Aganta dengan Damian memanglah tidak sama, memang kedua cucu ku ini kembar, tapi mereka tetap memiliki ciri khas wajah masing - masing, mama kira Aganta dengan Damian saudara kembar identik, ternyata tidak ". Sahut Devina yang menjelaskan karena itulah fakta dari kedua cucu kembarnya.


" Iya ma itu benar, meski Aganta dengan Damian kembar, tetap tidak akan sulit bagi orang lain untuk mengenali wajah mereka ". Sahut Adinda.


" Hihihihi... iya kamu benar nak, tapi anehnya, meski mereka kembar dengan wajah yang tak benar - benar mirip, tetap saja, wajah mereka mirip Al ". Sahut Devina lagi, karena memang itulah faktanya.


" Hahahaha... ups... ". Tawa Al sebelum menahannya. Ia merasa lucu dengan kalimat mamanya.


" Kenapa kamu tertawa Al?, memangnya ada yang lucu? ". Tanya Devina yang merasa heran dengan putranya yang tiba - tiba tertawa.


" Iya lucu dan aneh, mama mengatakan anakku kembar tapi beda wajahnya, meski beda tapi mirip Al, ya jelaslah mirip Al ma, kan Al membuat mereka ". Jelas Al dengan masih menahan tawanya.


" Aduuh anak ini, mama mengatakan mirip sama kamu, kamunya jawabnya terlalu jauh, huh dasar anak tak tahu malu, di otakmu isinya mesum Al ". Sahut Devina yang tak habis pikir dengan putranya.


" Lagi pula, selain karena mereka mirip sama kamu, mama itu masih mau lanjut bicara lagi, mama itu merasa senang, karena akhirnya keluarga Georginio jadi ramai karena kehadiran anak - anak mu, tapi kamu jawabnya malah yang aneh - aneh, tidak malu apa pada anakmu ". Lanjut Devina lagi.


" Apa?, mama mengatakan ini sudah ramai?, ini masih kurang ramai ma, Al itu masih akan menambah anak lagi ". Jelas Al.


Deg...


" Apa?... menambah anak lagi?, ya Tuhan bocah ini benar - benar ya, memangnya kamu tidak kasihan sama istri kamu yang harus hamil terus?, dasar bocah tengik tak tahu diri ". Kesal Devina.


" Kenapa jadi mama yang kesal, istriku saja tak mempermasalahkan kalau kami harus punya anak lagi, iya kan sayang? ". Sahut Al dengan merangkul bahu istrinya.


" Ya Tuhan, anak ini, benar - benar kamu ya plak... plak... ". Devina langsung mengamuk memukul putranya.


" Aw ma, sakit ma plak... plak... ". Sahut Al kesakitan karena lengan kiri kekarnya di tampar sangat kencang oleh mamanya.


" Bagus kalau sakit plak... biar tahu rasa kamu plak... plak... enak saja mau buat menantu mama hamil lagi plak...". Devina masih mengoceh dengan terus memukuli lengan kiri putranya.


Enriko yang mendengar adanya kegaduhan antara sang putra dengan istrinya, mendadak langsung menghentikan aktivitas mengayun sepedanya. Pria paru baya itu langsung ke tempat kejadian. Dan ternyata...


Deg... ada perang Dunia ketiga antara istri dan juga putranya.


" Ya Tuhan, ada apa lagi mereka, sepertinya tadi baik - baik saja, kenapa sekarang jadi ricuh seperti itu ".


" Ya Tuhan, apa ibu dan anak itu tak melihat, jika di dekat mereka sedang ada tiga anak kecil, heh... benar - benar sama - sama tak waras mereka ". Gumam Enriko menggeleng. Ia benar - benar tak habis pikir dengan ibu dan anak itu.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2