Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Pelan - pelan Ya Mas


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Hamparan kehangatan sang mentari sore telah memberikan sapuannya pada setiap celah di setiap sudut kota. Riuhan suara mesin dari berbagai macam kendaraan nampak berlomba - lomba menghiasi jalanan ibu kota.


Tanpa terasa waktu kini sudah menunjukkan sore hari, yang menandakan jika sebagian besar orang akan berbondong - bondong dalam menuju tempat istirahatnya setelah cukup lama menggunakan waktu pikiran dan juga tenaganya dalam menggapai serta mempertahankan setiap kesuksesan yang telah diraihnya.


Rasa bahagia bagai mendapat banyak taburan bunga, nampaknya begitu menyelimuti hati seorang Andrew, entahlah tak seperti biasanya, setelah hampir seharian penuh ia bekerja, setelah tiba saatnya untuk pulang, Andrew pun sudah begitu tak sabar ingin menjemput istri dan juga putra mungilnya yang saat ini sudah begitu sering berceloteh.


Ia terus mengendarai mobil mewahnya itu menuju kediaman tuan nya Al. Dan sekitar hampir dua puluh lima menit lama Andrew berkendara, kini ia telah sampai di pelataran rumah mewah tuan nya itu.


" Sore tuan Andrew ". Sapa salah satu bodyguard tuan Al nya.


" Sore ". Sahut Andrew.


Dan sejurus di mana Andrew telah tiba dengan posisi yang tidak terlalu jauh, nampak istrinya Vita dan juga sang putra telah menanti nya.


" Pam pam pam mam mam mam ". Celoteh si kecil Andri, bahkan bayi gembul itu sampai bertepuk - tepuk tangan dengan gembira riangnya, mungkin karena bayi gembul itu sangat senang melihat kedatangan daddy nya.


Sedangkan Vita sang istri, saat ini tengah memancarkan senyuman bahagianya, ya bagaimana tidak akhirnya suaminya datang juga.


" Sayang cup... cup... ". Seru Andrew dengan ciuman hangatnya.


" Ih mas, kenapa mencium Vita di sini sih, kan di sini ada orang, malu mas ". Sahut Vita, ia benar - benar merasa sangat malu jika di saksikan banyak orang saat suaminya menciumnya.


" Biarkan sajalah sayang, kan kita sudah halal, untuk apa juga malu ". Sahutnya santai.


Vita hanya bisa merengut kesal dengan sikap suaminya, ingin marah pun tak mungkin karena di sini ada para bodyguard itu.


" Mam mam mam mam ". Celoteh Andri pada sang daddy, bayi mungil itu nampaknya ingin di perhatikan oleh daddy nya.


" Aduh anak daddy yang tampan, rindu daddy ya nak cup... cup... ". Sahut Andrew yang seolah memahami keinginan putra mungilnya.


" Mas ayo, kita pulang saja, Vita sudah tidak sabar ingin pulang mas, ingin cepat sampai rumah ayo ". Ajaknya.


" Iya iya istriku ayo kita pulang ". Sahut Andrew.


Dan akhirnya sepasang suami istri itupun melangkah dan menuju mobil mereka, sebelum akhirnya mereka berlalu meninggalkan area rumah mewah Al.


*****


Malaysia.


Rasa tak sabar untuk mendapatkan apa yang diinginkannya begitu melanda hati seorang ibu muda yang saat ini tengah duduk di sandaran sofa nya, apalagi penyebabnya jika bukan menanti kehadiran sang suami, oh tidak lebih tepatnya menantikan makanan yang akan di bawa oleh suaminya.


" Aduh Kelvin, kamu lama sekali sih sampainya di rumah, aku sudah tidak sabar mau makan sate nya ". Keluh Sintia yang sudah tidak sabar lagi untuk memakan sate yang memang sudah di buat langsung oleh sang suami.


Rasa tak sabar itupun masih terus melanda, entahlah sesungguhnya apa yang terjadi pada Sintia, ia sendiri juga tak paham apalagi setelah dua bulan terakhir ini ibu muda itu sering menginginkan banyak makanan dan keinginannya itupun harus dipenuhi.


" Ma, mama ladi nundu papa? ". Tanya seorang bocah kecil yang tak lain adalah Kenzie putranya.


" Eh sayang, kamu kok tiba - tiba muncul sih nak, mama hampir kaget ". Sahut Sintia dengan tersenyum.


" Ezie cudah tadi di shini ma, tapi mama yan dak liat Ezie ( Kenzie sudah tadi di sini ma, tapi mama yang tidak melihat Kenzie) ". Sahut Kenzie dengan begitu polosnya.


" Aduh, maafkan mama ya nak, mama tidak lihat tadi ". Sahut Sintia dengan tak enak hati pada putranya.


" Huum ". Sahut Kenzie, lalu bocah kecil itupun naik ke sofa yang sama untuk menemani sang mama.


" Ma ". Seru Kenzie lagi.

__ADS_1


" Iya nak ada apa? ". Sahut Sintia dengan mengelus kepala Kenzie.


Kenzie pun langsung memeluk mamanya, entah apa yang terjadi pada bocah kecil yang satu itu. Sintia sang mama yang merasakan adanya semacam kekhawatiran pada putra nya itupun langsung meraih tubuh mungil putranya dan membawanya dalam dekapan nya.


" Kenzie anak mama, ada apa sayang, Kenzie mengkhawatirkan sesuatu? ". Tanya Sintia.


" Iya ma, ma, mama janan peuldi ladi ya, Ezie dak mau mama peuldi ladi ( iya ma, ma, mama jangan pergi lagi ya, Kenzie tidak mau mama pergi lagi) ". Sahutnya dengan tanpa melepas pelukannya pada sang mama.


Dalam seketika hati Sintia merasa tertegun dan juga terenyuh dalam waktu bersamaan. Sebegini takutkah putranya akan kehilangan dirinya?, sungguh Sintia tak pernah menyangka jika putranya Kenzie begitu sangat takut kehilangan akan dirinya, padahal sewaktu dulu Kenzie hilang dari dekapannya, tak pernah sekalipun ia mengkhawatirkan nya, dan kini nyatanya apa, putranya begitu sangat takut jika harus kehilangan dirinya lagi.


Tanpa terasa tetesan cairan bening itu telah membasahi kedua pipinya. Sintia meneteskan air matanya kala ia teringat akan kesalahannya dulu. Jika sang waktu bisa diulang kembali, rasanya tidak ingin ia sia - siakan putranya yang memiliki hati bagai malaikat itu.


Sintia memeluk putranya dengan begitu erat.


" Sayang, maafkan mama ya nak, mama janji, mama tidak akan meninggalkan Kenzie lagi, mama janji sayang cup... ". Sahutnya lirih dengan mengecup kepala mungil putranya.


Sepasang mama dan anak itu ternyata saat ini sedang di landa dengan rasa kekhawatiran nya yang masih merasa takut jika harus meninggalkan satu sama lain, hingga tanpa mereka sadari, seorang pria dengan senyuman nya tengah menatap bahagia pada mereka.


" Sayang ". Panggil Kelvin, dan pria itupun langsung memeluk istrinya dan juga putranya.


" Sayang, ada apa?, kamu sudah bawa satenya? ". Tanya Sintia langsung pada permintaannya.


Kelvin pun mulai menguraikan pelukannya dari sang istri dan juga putranya. Nampak senyuman bahagia itu begitu sangat terpancar dari wajah tampannya.


" Sayang, kamu kenapa sih, aneh deh, tidak ada angin tidak ada hujan malah senyum - senyum seperti itu, memangnya ada yang lucu dari aku? ". Sahut Sintia bertanya-tanya dengan segala kebingungannya.


" Sayang, aku tahu sekarang kenapa kamu selalu ingin makan sesuatu, dan maunya selalu ingin di turuti ". Lanjut Kelvin lagi dengan tetap tersenyum.


" Aduh Kelvin, kamu itu kalau bicara jangan setengah - setengah deh, memangnya kenapa ada yang aneh, aneh ya kalau aku selalu ingin makan sesuatu? ". Sahutnya yang masih tak habis pikir dengan suaminya.


" Mana sate nya, aku mau makan sate nya ". Lanjut Sintia lagi dengan meraih tiga bungkus sate yang di bawa oleh suaminya.


" Sayang, kamu hamil sayang ". Ujar Kelvin pada akhirnya.


" Iya sayang kamu hamil, kamu hamil Sintia ". Seru Kelvin lagi dengan tetap tersenyum, Kelvin paham jika istrinya masih tak percaya jika saat ini ia memang benar - benar tengah mengandung.


Sintia masih tak menyahuti perkataan suaminya, pikirannya masih berusaha menalar untuk menyelami benarkah jika dirinya saat ini tengah mengandung?, dan tunggu dulu, bukankah dirinya sudah hampir dua bulan ini tidak kedatangan tamu bulanannya, jadi apakah itu artinya?...


Sintia menatap pada suaminya.


" Kelvin, apa aku memang benar hamil? ". Sahut Sintia pada akhirnya.


" Iya sayang, aku yakin seratus persen kalau sekarang ini kamu memang benar - benar hamil sayang ".


" Terima kasih istriku cup... ".


" Kenzie, sebentar lagi kamu akan punya adik ". Ujar Kelvin bertubi - tubi, rasa bahagia benar - benar menyelimuti hati pria yang sudah berusia dua puluh sembilan itu.


" Adik?, Ezie mau puna adik, mana adik na pa? ( adik?, Kenzie mau punya adik, mana adiknya pa?) ". Tanya Kenzie yang masih tak mengerti jika adik yang di maksud masih lah belum lahir.


" Adiknya ada di perut mama sayang, iya ada di perut mama ". Sahut Kelvin yang berusaha meyakinkan putranya.


" Wah, adik na Ezie ada di pelut na mama, yeay Ezie mau puna adik ( wah, adikya Kenzie ada di perut mama, yeay Kenzie mau punya adik) ". Seru Kenzie dengan begitu bahagianya, dan ia pun kembali memeluk erat tubuh mamanya.


Jujur saja di dalam benaknya Sintia masih di landa keraguan, namun fakta adanya kemungkinan jika dirinya saat ini tengah mengandung juga tidak dapat di pungkiri.


" Tenanglah sayang, kamu tidak usah ragu, besok pagi kita periksakan ke dokter, pasti hasilnya positif ". Sahut Kelvin lalu ia pun memeluk istri dan juga anaknya.


*****


Langit malam yang indah dengan taburan bintang - bintang di langit terlihat nampak mengagumkan. Keindahan malam yang begitu memancar telah membuat pandangan seorang wanita tak dapat berpaling darinya.

__ADS_1


Dari balik jendela kamar mewahnya, Adinda menatap keindahan langit malam. Wanita yang tengah mengandung itu begitu sangat asyiknya menatap sinar bintang - bintang, hingga ia tak menyadari jika sang suami tercintanya tengah menatapnya saat ini.


Dengan penuh kelembutan, Al melingkarkan tangannya itu di perut Adinda.


" Mas ". Seru Adinda lirih.


" Sayang ". Sahutnya lirih, namun terdengar agak serak.


Adinda merasa ada yang berbeda pada suaminya kali ini, tidak, lebih tepatnya sepertinya suaminya seperti sedang menahan hasrat yang sedang bergejolak.


Al pun mulai mendusel - duselkan kepala nya di ceruk leher sang istri, dan ya kalau sudah seperti ini, Adinda sudah paham apa yang menjadi keinginan suaminya.


" Mas ". Seru Adinda, lalu wanita dengan perut buncit nya itu berbalik menghadap suaminya.


" Sayang, apa kamu masih lelah?, aku menginginkan nya sayang, sudah satu minggu aku tidak dapat jatah sayang ". Sahut Al dengan wajah memelasnya di depan sang istri.


Adinda merasa kasihan dengan suaminya, karena kehamilan nya ini, membuatnya menjadi terbatas dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


" Baiklah kalau tidak bisa ". Sahut Al lagi dengan lesu.


" Ayo, kita tidur lagi sayang ". Ajaknya pada sang istri.


Al pun menuntun istrinya itu menuju ranjang tidur mereka, dengan penuh kasih sayang, Al menyelimuti tubuh istrinya itu sebelum akhirnya ia juga ikut berbaring di samping istrinya.


" Mas ". Seru Adinda tiba - tiba.


" Hem ". Sahut Al hanya dengan deheman saja.


" Jika mas ingin, mas boleh melakukan nya ". Ujar Adinda pada akhirnya.


Sontak Al langsung bangkit dari posisi tidurannya.


" Benarkah sayang? ". Sahutnya dengan berbinar.


" Iya, tapi pelan - pelan ya mas ". Pintanya pada sang suami.


Cup... cup... cup... cup... ciuman bertubi - tubi telah mendarat di setiap inci wajah Adinda.


" Terima kasih sayang, aku janji, aku akan melakukannya dengan lembut sayangku ". Sahut Al dengan begitu bahagianya.


Tak ingin melewatkan kesempatan ini apalagi sampai membuang - buang waktu nya, Al pun memulai aksinya.


Al meraup bibir peach istrinya itu. Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi semakin menuntut. Dengan tanpa melepas pagutan bibirnya, dengan lihai mulai melepas satu persatu kancing baju milik istrinya Adinda.


Al terus melakukan apapun pada tubuh istrinya itu yang saat ini tengah berada dalam kungkungannya, hingga kini tubuh mereka berdua telah sama - sama polos tanpa sehelai benang pun yang melekat.


Cup... Al mencium perut buncit istrinya.


" Sayang, aku akan melakukannya ". Ucapnya lagi untuk meminta izin.


" Lakukanlah mas ". Sahut Adinda.


Dan benar saja, Al kembali melanjutkan aksinya, hingga kini mereka telah melakukan penyatuannya kembali setelah satu minggu cuti.


Al melakukannya dengan penuh gai*rah. Satu minggu tak mendapatkan sumber vitamin dari sang istri, membuat Al benar - benar tak ingin melewatkan setitik kenikmatan apapun yang tengah dirasakan nya saat ini.


Kini sepasang insan yang sedang memadu kasih itu, telah menghabiskan malamnya dengan saling bertukar peluh dalam meraih kenikmatan surgawi.


Bersambung..........


Terima kasih kakak - kakak atas dukungannya, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2