
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Keluarga kecil Al dengan Diandra pun menuju ruang santai, sebuah ruangan yang memang hampir selalu menjadi tempat untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.
Mereka pun telah sampai di ruangan itu, Al dengan Adinda duduk saling berdampingan tak lupa putranya si kecil Aganta juga duduk di samping kiri sang mommy, sedangkan Damian jangan di tanya, bocah kecil yang satu itu sudah sangat lengket dengan Diandra, sehingga membuat Damian pun ingin duduk bersama di samping onti barunya itu.
" Sekarang kue nya sudah siap mau di potong, tapi tunggu dulu, sebelum onti memotong kue nya, onti mau kenalan lagi sama kalian twins, kalau nama Damian onti sudah tahu nama panggilannya, tapi tidak dengan nama lengkapnya, boleh ya onti kenalan sama kalian lagi? ". Seru Diandra setelah semua orang duduk tenang.
Si kecil Aganta dan juga Damian pun mengangguk, nampaknya kedua bocah kecil itu tak merasa keberatan dengan permintaan onti baru mereka.
" Kalau Damian namanya Damian siapa sayang? ". Tanya Diandra pada Damian terlebih dahulu, mungkin karena ia sudah merasa akrab dengan Damian.
" Talo nama pandan na Mian uti, nama na adalah Mian Delal Diodino ( kalau nama panjang nya Damian onti, namanya adalah Damian Gerald Georgino) ". Sahut Damian yang menurutnya sudah benar pengucapan nya.
Diandra mengernyit setelah mendengar jawaban dari mulut mungil Damian sendiri, Diandra merasa bingung dengan bahasa Damian, Diandra berusaha memahami bahasanya.
" Aduh, Damian bicara apa sih, dia menyebutkan nama atau apa? ". Batin Diandra bingung.
" Puftt... puftt... puftt... ". Al berusaha menahan tawanya, Al merasa sangat lucu dengan tingkah interaksi antara Damian dan juga Diandra.
Adinda pun juga tak kalah merasa lucunya, Adinda tersenyum melihat bagaimana usaha Diandra untuk memahami bahasa cadel putranya.
" Di, putraku mengatakan kalau namanya itu Damian Gerald Georgino ". Sahut Al pada akhirnya.
" Oh, Damian Gerald Georgino, maaf ya sayang, onti kurang paham dengan bahasa mu hihihihi... ". Sahut Diandra dengan senyuman tak enaknya.
" Hehehe... dak apa uti, Mian bica bicala cama uti cada Mian dah cenang ( hehehehe... tidak apa onti, Damian bisa bicara sama onti saja Damian sudah senang) ". Sahut bocah kecil itu dengan senyuman nya.
" Bagus itu, onti suka sikap Damian yang seperti ini, sepertinya onti memang harus lebih banyak mengobrol dengan kalian ya, agar onti bisa paham bahasa kalian ". Sahut Diandra.
" Kalau yang tampan yang satu ini namanya siapa?, sepertinya dari tadi kamu diam sayang? ". Lanjut Diandra lagi kali ini pada Aganta.
" Nama na atu Anta Delal Diodino ( namanya aku Aganta Gerald Georgino) ". Sahut Aganta dengan santainya.
" Oh, jadi namanya Aganta Gerald Georgino, benar atau salah yang onti ucap? ". Sahut Diandra yang menurutnya benar.
" Iya, benar ". Sahut semuanya yang ada di sana.
Mereka berlima nampak akrab, meski pertemuan mereka masih belum saja jam, namun kebersamaan mereka terasa begitu hangat.
Dan benar, setelah hampir sepuluh menit Diandra bertamu di ruangan itu, datanglah dua sosok wanita paru baya dengan membawa nampannya masing - masing, ya, wanita paru baya yang dimaksud adalah bu Ima dan juga bu Tarsih, asisten rumah tangga yang memang sudah lama menjadi bagian dari keluarga Georgino.
" Ini tuan, nyonya, minumannya ". Seru bu Ima dengan meletakkan beberapa minuman segar di meja sana.
Di dampingi dengan bu Ima yang juga meletakkan belasan piring khusus kue dan juga spatula sebagai pemotong kuenya.
Baik bu Ima maupun bu Tarsih, sama sekali masih belum melihat keberadaan Diandra, dua wanita paru baya itu masih begitu fokus pada pekerjaannya.
Setelah apa yang di bawa oleh bu Ima dan juga bu Tarsih telah selesai di tata dengan rapi, kini dua orang wanita paru baya itu pun siap ingin kembali lagi ke dapur, namun baru saja mereka hendak melangkah, tiba - tiba saja...
__ADS_1
" Bi Ima, bi Tarsih ". Panggil Diandra.
Sontak bu Ima dan juga bu Tarsih pun menoleh ke arah suara dan memanggilnya hingga...
Deg... dan betapa terkejutnya mereka, ya bu Ima dan juga bu Tarsih begitu sangat terkejut akan sosok wanita yang saat ini tengah menatap mereka, bagaimana tidak, setelah sekian lama tak melihatnya kini mereka berdua telah melihatnya kembali.
" No-nona Diandra? ". Seru bu Ima dan bu Tarsih dengan melongo.
" Iya, aku Diandra ". Sahut Diandra dengan tersenyum.
" Ya Allah non, ini benar nona Diandra? ". Seru bu Ima lagi yang masih tak percaya.
" Iya, ini benar non Diandra, ya Allah, kapan non Diandra datang non? ". Timpal bu Tarsih juga.
" Iya, ini benar Diandra bi, Diandra baru sampai dua hari yang lalu ". Sahut Diandra
" Ya sudah ayo, bi Ima sama bi Tarsih kok malah diam, ayo duduk di sini, kita makan kue bersama ". Lanjutnya lagi.
" Yeay asyik asyik asyik, tita mau matan tue ( yeay asik asik asik, kita mau makan kue) ". Seru si kecil Damian dengan antusias yang ternyata sudah terlihat tak sabar ingin memakan kue strawberry nya.
Tak ingin membuang waktu lama, akhirnya Diandra pun memotong kuenya menjadi beberapa bagian sesuai dengan banyaknya penghuni rumah Al, termasuk Ivan dan juga empat orang bodyguard yang lainnya.
" Ini, kuenya untuk Damian, dan yang ini untuk Aganta ". Seru Diandra dengan memberikan kue itu pada sepasang tangan mungil Aganta dan juga Damian.
" Maacih uti ( terima kasih onti) ". Sahut kedua bocah kembar itu.
" Iya ". Sahut Diandra.
" Pasti kalian menjadi anak - anak yang menggemaskan dan baik seperti ini karena kasih sayang dan didikan dari mommy kalian ". Batin Diandra.
Selepas dari itu, Diandra kembali mengambil dua potong kue lagi yaitu untuk Adinda dan juga Al.
" Ini, Adinda kue nya ". Seru Diandra dengan memberikan potongan kue itu.
" Terima kasih kak, eh Diandra maaf ". Seru Adinda dengan mengambil kue itu.
" Iya, tidak apa - apa, panggil saja aku kakak, sepertinya usia mu masih di bawah ku ". Sahut Diandra dengan tersenyum.
" Ini Al kue nya ". Lanjut Diandra lagi dengan memberikan potongan kue itu pada Al.
" Tidak usah Di, aku makan berdua saja dengan istriku, ini sudah cukup ". Tolak Al yang menurutnya sudah halus.
Deg... hati Diandra begitu terhenyak mendapati penolakan dari Al, bahkan untuk sepotong kue pun Al ingin makan bersama dengan istrinya.
Diandra hanya bisa tersenyum, meski sebenarnya, perasaannya begitu sangat miris mendapati sikap penolakan Al, seorang laki - laki yang dulunya begitu sangat mendambakan dirinya.
" Oh baiklah ". Sahut Diandra dengan tetap berusaha memancarkan senyumannya.
" Ternyata kamu sudah benar - benar berubah Al, hem, benar - benar sudah tidak ada bekas apapun di hatimu tentangku, semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecil kalian ". Batin Diandra.
Diandra kembali menata potongan - potongan kue yang tadi, ya, pada siapa lagi akan diberikan jika bukan pada para pekerja di rumah Al.
__ADS_1
" Ini bi Ima, bi Tarsih kue - kue nya, ini untuk bibi berdua dan juga yang lainnya yang bekerja di sini termasuk Ivan ya bi ". Seru Diandra lagi.
" Oh, tentu non, pasti kami akan membagikannya ". Sahut bu Ima.
" Ya sudah tuan, nyonya, nona Diandra, bi Ima sama bi Tarsih pamit dulu ya ". Seru bu Ima sebelum akhirnya iya dan juga bu Tarsih berlalu menuju dapur.
" Tue na enat ya Mian ( kue nya enak ya Damian) ". Seru Aganta tiba - tiba, nampaknya karena sepotong kue strawberry telah berhasil membuat bocah kecil yang jarang berbicara itu menjadi mau berbicara.
" Huum, enat cetali ( huum, enak sekali) ". Sahut Damian dengan mengangguk.
" Kue nya enak ya, baiklah, nanti kalau onti Diandra main ke sini lagi, akan onti bawakan lagi kue nya ". Sahut Diandra.
" Boleh - boleh uti, tita mau ". Sahut Damian dengan senyuman menggemaskan nya, nampaknya Damian tak ingin kehilangan kesempatan memakan kue strawberry lagi jika sang onti yang membawanya.
" Sayang, tidak kasihan pada onti kalian nak yang harus membawa kue ke sini? ". Ujar Adinda.
" Tidak apa - apa, lagi pula aku senang kok, bisa membawa kue untuk mereka, santai saja Adinda ". Sahut Diandra.
" Iya, benal mommy, cantai cada ( iya, benar mommy, santai saja) ". Sahut Damian, nampaknya bocah kecil itu merasa senang karena sang onti menuruti keinginannya.
Adinda hanya bisa pasrah dengan tingkah kedua putranya, meski yang berbicara adalah Damian tidak dengan Aganta, namun tetap saja jika Diamnya Aganta putranya juga sebagai bentuk jika Aganta juga setuju dengan keinginan Damian, tapi ya sudahlah.
" Ayo sayang, kamu tidak ingin memakan kue nya, anak - anak sudah memakannya loh ". Seru Al tiba - tiba karena sedari tadi istrinya masih mendiamkan kue nya.
" Eh, iya mas ". Sahut Adinda.
Diandra dan juga si kembar sudah menikmati kue nya, sedangkan Adinda dan juga Al, sepasang suami istri itu masih baru akan menikmati makan kue.
" Ini mas, mas dulu yang makan ". Seru Adinda dengan memberikan sendok kecil nya.
Al pun langsung menurut saja, dan Al langsung memakan kue nya. Setelah satu suapan telah berhasil, kini Al ingin menyuapi istrinya.
" Ayo sayang buka mulutmu ". Pinta Al.
" Tidak perlu mas, Adinda mau makan sendiri saja ". Tolaknya.
" Aduh sayang, apa susahnya sih membuka mulut, suamimu ini kan ingin menyuapi mu sayang, ayo buka mulutmu istriku ". Pinta Al lagi dengan menyodorkan potongan kue nya.
Dan benar, Adinda pun menerima suapan potongan kue itu.
Diandra menyaksikan keromantisan sepasang suami istri itu. Sepertinya hari ini adalah hari di mana hal - hal pahit yang menguji keikhlasan hatinya harus ia keluarkan seluruh nya tanpa ada yang tersisa sedikitpun, dan mungkin perlakuan manis Al pada istrinya Adinda adalah sebagai wujud jika semua kenangan indah yang sudah ia lalui bersama dengan Al memang harus sirna.
" Semoga Kebahagiaan selalu menyertai kalian ". Batin Diandra berdoa.
Bersambung..........
Sampai di sini dulu ya, tetap semangat dukung terus karya Author.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1