
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi. Merasa sudah cukup menikmati indahnya taman mini di kota membuat Al ingin mengajak istri dan juga kedua bayinya untuk pulang.
" Sayang ". Seru Al pada sang istri.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Kita kembali ke rumah, ini sudah hampir pukul delapan ". Sahut Al.
" Baiklah mas, kalau memang sudah ingin pulang ". Sahut Adinda.
Dan sepasang orang tua muda dengan bayi kembarnya itupun berlalu mulai meninggalkan area taman dan menuju mobil mewahnya.
Mobil mewah dengan warna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan sama sekali tidak ada celotehan dari kedua bayi yang sudah berumur dua setengah bulan itu.
Mereka berdua tampak tenang di atas kasur mini mereka, seolah tidak ingin mengganggu konsentrasi daddy mereka yang sedang fokus menyetir.
Tidak butuh waktu yang terlalu lama hanya dengan meluangkan waktu sepuluh menit saja, kini mobil mewah milik Al telah sampai di pelataran rumah mewahnya.
Nampak di garasi rumahnya sudah terlihat mobil mewah warna silver milik orang tuanya.
" Mas, sepertinya mama dan papa datang kemari ". Seru Adinda.
" Iya sayang, ini kan masih pagi kenapa mama dan papa sudah datang?, ya sudahlah ayo kita turun ". Sahut Al.
Al dan Adinda pun sudah turun dengan membawa Aganta dan Damian dalam kereta stroller nya.
Di dalam ruangan nampak Enriko dan juga Devina yang sudah duduk tenang. Kedua orang tua paru baya ini seolah seperti menunggu momen yang pas untuk mengutarakan keinginannya.
" Pagi ma, pa ". Sapa Al dengan mendorong stroller bayi.
Enriko dan Devina pun menoleh ke arah sumber suara, akhirnya anak dan juga menantunya telah tiba.
" Akhirnya kalian datang juga ". Seru Devina.
" Ada apa ma, pa? ". Tanya Al dan duduk di sofa empuknya bersama Adinda.
" Begini Al, ada yang ingin mama dan papa bicarakan pada kalian ". Ujar Devina.
" Papa dan mama ingin selama dua minggu ini biarkan Aganta dan juga Damian tinggal bersama mama dan juga papa ". Pintar Devina.
Deg..... Adinda dan Al begitu terkejut mendengar permintaan sang mama. Al merasa kurang bisa menerima jika Aganta dan juga Damian harus bersama opa dan omanya selama dua minggu, itu adalah waktu yang terlalu lama, apalagi kedua putranya saat ini masih bayi.
" Ma, kenapa anak - anak Al harus ikut mama dan papa selama dua minggu, itu terlalu lama ma, kalau mama dan papa ingin lebih banyak menghabiskan dengan mereka, ya mama dan papa bisa menginap disini, Aganta dan Damian tidak bisa jauh dari mommy dan daddy nya ma, karena mereka masih bayi ". Sahut Al yang tak ingin kedua bayinya di bawa pergi.
Devina tersenyum mendengar pertanyaan dari putranya.
" Al, mama dan papa melakukan hal ini demi kebaikan kalian nak ". Sahut Devina.
__ADS_1
" Demi kita, demi kita bagaimana ma, kalau mama dan papa membawa bayi - bayi Al pulang ke rumah utama apalagi sampai dua minggu, sama saja dengan mama dan papa menjauhkan mereka dari orang tuanya, Aganta dan Damian tidak bisa jauh dari orang tuanya ma ". Seru Al yang masih tak terima.
Enriko yang hanya diam saja sedari tadi menjadi tersenyum jahil melihat putranya, ternyata putranya ini kurang memiliki kepekaan.
" Mama dan papa, ingin kalian berdua bisa menghabiskan waktu berdua nak, kalian ini kan pengantin baru, jadi mama dan papa ingin kalian berbulan madu ". Ujar Devina pada akhirnya.
Al yang tadi sempat protes atas keinginan orang tuanya seketika itu menjadi terdiam. Ternyata ini alasan mama dan papanya ingin agar kedua anak nya bersama oma dan juga opanya.
Sedangkan Adinda jangan ditanya lagi, semenjak dari awal mama mertuanya mengutarakan keinginannya ia sudah merasakan keterkejutan yang bertubi - tubi.
" Kenapa kamu menjadi diam Al, pasti kamu senang kan bisa berbulan madu dengan istrimu ". Seru Enriko dengan senyum jahilnya.
" Ya pasti senang lah pa, namanya juga berbulan madu ". Ejek Devina yang ikut menimpali.
Al berdecak tak suka pada papa dan juga mamanya yang kesannya begitu mengejek dirinya, meski tidak dapat dipungkiri jika hatinya sangat senang bisa menghabiskan waktunya dengan Adinda.
" Jadi mulai besok pagi, kalian sudah harus mempersiapkan diri untuk berangkat, kalian tidak perlu khawatir dengan Aganta dan juga Damian, mereka akan aman dengan opa dan juga omanya ". Seru Devina mengingatkan.
" Baiklah ma, kalau begitu Al setuju, Al ingin melakukan rencana bulan madu ini ". Seru Al dengan senyum bahagianya.
" Dasar anak nakal, tadi protes dengan mama dan papa, sekarang malah sangat semangat ingin berbulan madu ". Cibir Devina pada putranya. Sedangkan Al hanya terkekeh malu.
" Ma ". Seru wanita berhijab dengan suara lembutnya yang sedari tadi hanya diam.
" Iya nak? ". Sahut Devina.
" Apakah waktu dua minggu itu untuk berbulan madu, apakah tidak terlalu lama ma? ". Tanya Adinda pada akhirnya.
" Ya, tidaklah nak, menurut mama waktu dua minggu itu adalah waktu yang cukup untuk kalian berbulan madu, tenanglah nak, kamu tidak perlu khawatir dengan baby Aganta dan juga baby Damian, mereka akan aman bersama mama ". Seru Devina yang berusaha memberi pengertian pada menantunya yang terlihat begitu khawatir.
" Dasar kamu ini Al, sekarang saja kamu mendukung mama ". Sahut Devina sinis pada sang putra.
" Hihihihi... ya jangan salahkan Al lah ma, Al kan tidak tahu jika mama dan papa ingin Al dan juga Adinda berbulan madu, kalau saja Al sudah tahu dari awal, Al tidak akan protes ma ". Sahut Al dengan senyumnya.
Saat ini Adinda sudah tidak bisa berbuat apa - apa lagi, mau menolak pun percuma. Ia sudah pasrah, mau tidak mau dirinya tetap harus berbulan madu.
" Adinda, kamu harus menyiapkan persediaan air susu yang banyak untuk si kembar nak, kalau perlu semua lemari pendingin bisa di penuhi dengan ASI mu, agar si kembar tidak kehausan ". Ujar Devina.
" Iya ma ". Sahut Adinda.
Adinda Zilvanya Kanzu
Alexander Gerald Georgino
*****
Sebuah mobil mewah milik Andrew, kini telah tiba di pelataran rumah mewah tuan Budi. Andrew yang akan menjadikan Vita sebagai asistennya itu kini tanpa sepengetahuan Vita telah datang untuk menjemputnya.
__ADS_1
Andrew keluar dari mobil mewahnya dan melangkahkan kakinya menuju ke rumah mewah itu.
Belum sempat Andrew masuk ke dalam rumah, nampak pak Budi yang sedang duduk di teras rumahnya.
" Selamat pagi tuan Budi ". Salam dari Andrew.
" Eh selamat pagi nak Andrew ". Sahut pak Budi.
" Nona Vita nya ada tuan? ". Tanya Andrew.
" Nak Vita ada nak Andrew, putriku sedang bersiap - siap akan memulai bekerja pada hari ini, memangnya ada apa nak? ". Ujar pak Budi.
" Saya datang kemari karena ingin mengajak Nona Vita untuk berangkat bekerja bersama dengan saya tuan ". Sahut Andrew.
" Nak Andrew, berapa kali sudah harus bapak katakan, jangan menyebut bapak dan juga Vita sebagai tuan dan nona nak, panggillah kami dengan sebutan yang sama seperti yang di ucapkan oleh nak Al nak " Pinta pak Budi.
Andrew tidak menyahut ucapakan pak Budi. Jujur saja sebenarnya dirinya ingin memanggil dengan sebutan seperti itu, namun harus bagaimana lagi mau tidak mau dirinya harus melakukan hal ini.
" Jika masalahnya karena kamu terikat pada perintah Al, maka tidak perlu khawatir, Al tidak akan keberatan jika bapak yang memintanya "
Seru pak Budi yang memberi pemahaman.
Andrew nampak berpikir. Benar juga yang dikatakan oleh pak Budi. Tuan Al nya itu tidak akan marah jika ayah mertuanya yang meminta.
" Baik Pak ". Sahut Andrew pada akhirnya.
" Alhamdulillah, ayo duduklah dulu sebentar lagi pasti Vita keluar ". Ajak pak Budi.
Kini kedua pria beda generasi itu telah duduk bersama menantikan Vita keluar. Entah mengapa hari ini Andrew tidak seperti biasanya. Jika biasanya ia langsung masuk ke dalam, kini malah dirinya dengan setianya menunggu.
Hingga sekitar hampir sepuluh menit lamanya sosok yang dinantikan pun telah keluar.
" Ayah, Vita sekarang berang... ". Seketika itu ucapan Vita menjadi terhenti kala ia melihat sosok yang sedang duduk bersebelahan dengan ayahnya.
" Tu, tuan Andrew ". Seru Vita.
" Pagi Vita, kamu sudah siap kan, ayo kita berangkat bersama ". Sahut Andrew.
" Berangkat bersama?, jadi tuan datang kemari hanya karena ingin berangkat bersama dengan Vita? ". Tanya Vita yang merasa tak percaya.
" Iya, aku memang sengaja datang kemari karena aku ingin kita berangkat ke kantornya bersama, jadi kamu tidak perlu bingung - bingung untuk datang ke resepsionis nanti ". Sahut Andrew.
" Tapi tetap saja tuan, ini akan merepotkan tuan ". Sahut Vita.
" Sudahlah ayo kita berangkat ini sudah siang Vita ". Sahut Andrew.
Deg.... Vita cukup tersentak dengan sahutan dari laki - laki yang ada di depannya ini.
" Dasar pria tak punya akhlak, aku bicara seperti ini kan karena aku tidak ingin merepotkan dia, eh dianya malah menyahut dengan ketus, dasar manusia sombong, kalau bukan karena kamu adalah asisten dari tuan Al, sudah pasti aku akan menjadikan kamu sama seperti ayam geprek ". Batin Vita kesal.
Bersambung..........
__ADS_1
Dukung terus karya Author ya πππβ€β€.
πΏπΏπΏπΏπΏ