Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Mian Inin Adik Bayi Myh


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sepasang langkah kaki wanita paru baya yang masih cantik diusianya, nampak begitu terburu - buru seolah tak ingin dilalui oleh siapapun.


Ia melangkah dengan begitu tergesa-gesa nya sampai tak menyadari jika dirinya sudah berjarak cukup jauh dari sang suami.


" Ma, tidak usah terburu - buru ma, pelan - pelan saja jalannya ". Ujar Young dengan nada sedikit meninggi karena sang istri sudah berjarak cukup jauh berlalu di depannya.


" Aduh pa, mama sudah tidak sabar ingin melihat cucu mama pa ". Sahut Clara dengan langkah nya yang masih terburu - buru.


Sedangkan di ruang perawatan khusus VVIP, ya di ruang dimana Vita dan bayinya sudah di pindahkan nampak ia dan juga sang suami begitu sangat bahagia dan tak henti - henti menatap anak pertama mereka.


" Sayang coba perhatikan wajah anak kita, menurutmu wajahnya lebih mirip siapa?, mirip aku atau mirip kamu? ". Ujar Andrew yang berusaha memancing sang istri.


Vita mulai memperhatikan wajah putranya lekat - lekat agar bisa tahu sebenarnya putranya yang sudah lahir itu lebih mirip siapa.


" Emmm sepertinya wajah Andri mirip kita berdua deh mas, eh tapi sepertinya lebih mirip mas, oh Vita sudah tahu, wajah putra kita memang lebih mirip mas tapi matanya mirip denganku ". Ujar Vita pada akhirnya.


Andrew tersenyum. " Iya sayang, wajah Andri kita memang mirip dengan ku tapi bentuk matanya lebih mirip dengan mu sayang ". Sahut Andrew yang membenarkan penilaian istrinya.


" Bagaimana anak mommy, setuju?, Andri setuju kan? ". Tanya Vita pada bayi mungilnya yang masih terpejam itu.


" Iya mommy, Andli cetuju ". Sahut Andrew dengan menirukan suara anak kecil.


" Hihihihi ". Vita cekikikan.


Ceklak..... pintu kamar pun dibuka, sontak saja adanya suara pintu yang dibuka itu membuat Andrew dan juga Vita langsung menoleh. Dan ternyata sosok yang datang itu adalah Clara sang mama.


" Andrew, Vita ". Seru sang mama dan wanita paru baya itupun melangkah ngin melihat cucu nya.


" Mama ". Sahut Andrew.


Clara menatap cucu pertamanya itu, hatinya begitu menghangat dibuatnya. Ia tak menyangka jika dirinya telah menjadi seorang oma.


" Cucu oma ". Seru Clara yang sudah mulai berkaca - kaca, dan wanita paru baya itu pun mencoba menggendong cucunya dari pangkuan sang menantu.


Cup... cup... cup... Clara menciumi hampir setiap inci wajah Andri sang cucu.


Dan tak lama dari itupun papa Young datang.


" Andrew ". Panggilnya.


" Pa ". Sahut Andrew.


" Pa, lihatlah cucu kita pa ". Ajak Clara pada sang suami yang baru saja masuk itu.


Youn melihat cucu pertamanya, sebuah senyuman merekah kini telah mengembang di sudut bibir pria paru baya itu.


" Cucu opa ". Ucapnya terharu.


Cup... opa Young mencium cucu pertamanya itu.


" Ma, kita sudah punya cucu, kita sudah menjadi opa dan oma ma ". Serunya bahagia.


" Iya pa, kita sudah menjadi opa dan oma, mama benar - benar tidak menyangka ternyata putra kita yang sudah berumah tangga ini sudah menjadi daddy sekarang, padahal sewaktu dulu ditanya kapan ingin menikah jawabannya malah tidak ingin menikah ". Ucapnya.

__ADS_1


Andrew yang mendengar kalimat sang mama hanya bisa tersenyum kecut dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa malu pada semua orang yang ada di sana, terutama pada istrinya Vita. Sedangkan Vita, ia hanya bisa menatap tak percaya pada suaminya, benarkah jika suaminya itu pernah punya keinginan untuk tidak menikah?, lalu mengapa suaminya malah menikahi dirinya sekarang?.


" Mas dulu tidak ingin menikah, tetapi malah menikah dengan ku, bahkan sekarang sudah punya anak,tapi kenapa?, heeeh dasar pria plin plan ". Batin Vita.


" Vita nak ". Seru Clara pada sang menantu.


" Iya ma ". Sahutnya.


" Terima kasih karena kamu sudah hadir dalam hidup putraku nak, karena kamu Andrew menjadi sangat berubah dan menjadi seperti sekarang ini, jujur saja dulu sewaktu Andrew memutuskan untuk tidak beristri sebenarnya mama merasa sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi, mama dan papa sebagai orang tua tidak bisa memaksakan nya untuk beristri bukan, dan entah bagaimana caranya akhirnya Andrew bisa jatuh hati padamu nak dan dia langsung mengambil tindakan serius untuk mengajak mama dan juga papa untuk melamar mu, terima kasih nak, karena kamu keluarga kami merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini, mama sangat bahagia karena akhirnya mama bisa menimang cucu ". Tuturnya yang sudah berkaca - kaca.


Vita pun tersenyum penuh haru.


" Iya ma, Vita pun juga begitu, Vita juga sangat berterima kasih dan bersyukur karena mendapatkan suami yang baik dan bertanggung jawab seperti mas Andrew dan juga orang tua mertua seperti papa dan juga mama ". Sahutnya tersenyum.


" Andrew, kamu sudah lihat kan, kamu sangat beruntung nak bisa memiliki istri seperti Vita, jika kamu menikah dengan perempuan lain atau dengan perempuan yang sudah menjadi mantan mu itu, heh papa tidak tahu lagi apakah hidup mu akan seberuntung seperti sekarang ini ". Sindir Young.


Sedangkan Andrew, ia hanya bisa tersenyum kecut mendengar sindiran sang papa.


" Ma, ayo ma kita duduk saja dulu di sofa itu, jangan berdiri terus papa ingin lebih lama menatap cucu kita ma ". Ajak Young pada sang istri yang masih setia menggendong cucunya itu.


Sepasang opa dan oma itu begitu nampak asyik memandang dan mengajak cucunya bercanda ria meski sebenarnya sang cucu itu masih terpejam, mungkin karena rasa kebahagiaan yang tak terhingga membuat sepasang paru baya itu tak ingin melewatkan pertemuan pertamanya dengan sang cucu, sehingga meski cucunya masih setia dengan tidurnya pun tetap saja diajak bercanda.


Setelah hampir satu jam di ruangan rawat khusus VVIP itu yang berjumlahkan lima orang dengan si kecil Andri, kini malah terdengar suara ketukan pintu yang menandakan akan hadirnya seseorang atau mungkin lebih yang akan menambah jumlah orang di ruangan khusus itu.


Tok... tok... tok... ceklek.... pintu rawat pun dibuka. Dan ternyata yang datang adalah sepasang suami istri dengan kedua anak kembar yang berada dalam gendongannya.


" Cammicum uti ( asalamualaikum onti) ". Salam sapa dari Damian pada sang onti.


" Waalaikum salam ". Sahut semua orang yang ada di ruangan itu.


" Selamat datang tuan ". Sapa Andrew ramah pada sang tuan Al.


Al pun meletakkan bingkisan buah - buahan yang dibawanya.


" Selamat Andrew atas kelahiran putramu, sekarang kamu telah menjadi seorang daddy ". Ucap selamat Al dengan menepuk bahu sebelah kiri Andrew.


" Terima kasih tuan ". Sahutnya.


" Vita, selamat ya, aku sangat bahagia sekali akhirnya keponakan ku sudah lahir ". Seru Adinda terharu dengan masih memeluk tubuh Vita.


" Myh mommyh canah dulu myh, Mian mau peyyuk onti ( my mommy ke sana dulu my, Damian mau peluk onti) ". Seru bocah kecil itu yang duduk di ranjang pembaringan milik Vita, ya nampaknya Damian tak terima jika hanya sang mommy lah yang bisa memeluk onti nya itu.


" Iya iya, sini sayangnya onti peluk onti juga sayang ". Seru Vita dan ia pun merentangkan tangan sebelah kirinya agar sang keponakan kecilnya itu bisa memiliki ruang untuk bisa memeluknya.


Cup... Damian mencium pipi kiri Vita.


" Mian caayang uti ( Damian sayang onti ) ". Serunya pada saat memeluk.


" Onti juga sayang dengan Damian sayang ". Sahutnya, sebelum akhirnya ia melepas rengkuhan tubuh mungil Damian.


" Aganta, Aganta tidak ingin memeluk onti sayang? ". Tanya Vita yang merasa sedikit heran, karena tidak biasanya Aganta itu tidak memeluknya disaat bertemu dengannya.


" No ". Aganta menggeleng sebelum akhirnya ia menyandarkan kepala mungilnya di dada bidang sang daddy.


" Kenapa nak? ". Kali ini Adinda yang bersuara karena tidak biasanya putranya itu bersikap seperti ini.


" Kalna tuda adah Mian myh, dadi Anta dak mahu ( karena sudah ada Damian mommy, jadi Aganta tidak mau) ". Sahut Aganta dengan wajah datarnya.

__ADS_1


" Kenapa sayang, memangnya ada apa dengan Damian? ". Tanya Adinda lagi.


" Heh, Mian cuta ceullewet talo ada uti ( heh, Damian suka cerewet kalau ada onti ), cuta calli peulhatian ( suka cari perhatian) ". Ujar Aganta tentang sang kembaran, bahkan hingga dua kalimat ia menyindir nya.


" Ha ha ha ha ". Sontak saja semua orang tertawa di ruangan itu kecuali sepasang orang tua dari si kembar dan juga si kembar itu sendiri.


Mendengar penuturan dari sang putra Aganta, Adinda hanya bisa menggelengkan kepalanya, terkadang kedua putranya itu bisa bersikap sangat kompak dan terkadang juga bisa bersikap layaknya dua arus air laut yang saling berlawanan.


Sedangkan Damian jangan ditanya lagi, bocah gembul yang satu itu sudah mengerucutkan bibir mungilnya karena merasa kesal pada sang kembaran.


" Aku ingin melihat keponakanku dulu Vita ". Seru Adinda setelah tawa di ruangan itu telah reda.


" Itu ada di pangkuan mama ". Sahut Vita.


Adinda pun mencoba melangkah mendekati mama Clara yang saat ini tengah menggendong keponakannya, namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara menggemaskan dari putranya Damian telah menghentikan langkahnya.


" Mommyh mommyh Mian itut ( mommy mommy Damian ikut) ". Serunya pada sang mommy.


" Ayo sini nak kalau mau ikut, Damian ingin lihat adik bayinya? ". Sahutnya pada sang putra, lalu Adinda menggendong tubuh mungil Damian.


Jika Damian sedang begitu tak sabar ingin melihat sang adik bayi bersama mommy nya, namun beda halnya dengan Aganta, bocah gembul yang satu itu nampak nya tetap tenang di sofa bersama sang daddy.


" Mommyh adik bayi na lutu myh ( mommy adik bayi nya lucu my) ". Seru Damian setelah melihat wajah menggemaskan Andri.


" Iya lucu sayang, sama seperti Damian dan juga Aganta ". Sahutnya.


" Damian ingin mencium adik bayi nak? ". Tawar Clara pada Damian.


" Iya uma, Mian mau tium adik bayi na ( iya oma Damian mau cium adik bayi nya) ". Sahut Damian mengangguk.


" Ya sudah ini adik bayi nya, ayo cium nak ". Seru Clara dengan mendekatkan tubuh mungil Andri di dekat Damian.


Cup... satu ciuman dari Damian telah mendarat di kening Andri.


" Aganta, Aganta ingin mencium adik bayi juga nak? ". Seru Adinda pada putra nya Aganta yang sedari tadi hanya diam.


" Iya myh ". Sahutnya.


" Kamu mau mencium adik bayi juga boy, ya sudah ayo ". Timpal Al lalu ia menggeser tubuh kekarnya untuk membawa sang putra agar lebih dekat dengan Andri.


Aganta turun dari pangkuan sang daddy sebelum akhirnya ia mencium pipi cabi adik bayi nya itu.


Cup... satu ciuman dari Aganta telah mendarat di pipi kiri Andri.


" Mommyh myh, Mian inin adik bayi myh ( mommy my, Damian ingin adik bayi my) ". Seru Damian tiba - tiba dengan menatap sang mommy.


" Tenang boy, tahun depan kamu sudah memiliki adik bayi boy ". Seloroh Al tanpa ada rasa malu dengan semua orang yang ada di ruangan itu.


Deg..... Adinda langsung membelalakkan kedua bola matanya.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, tetap semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2