Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Andri Putra Choi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Ketakutan dan rasa khawatir itu pun terus mencuat dengan begitu hebatnya. Rasa tak kuasa mendengar rintihan sang istri benar - benar terasa menyayat hati.


Dengan rasa khawatirnya Andrew mendorong brankar itu dengan dibantu oleh beberapa suster yang ikut mendampingi menuju ruang persalinan.


" Sayang, bertahanlah sayang, kamu pasti bisa melewati semua ini ". Seru Andrew di sela - sela langkahnya menuju ruang persalinan.


Vita tak dapat menyahut ujaran sang suami. Vita hanya bisa meringis karena menahan sakit. Dan brankar yang membawa tubuh Vita itupun kini sudah masuk ke ruang persalinan.


Dokter Nita sang dokter spesialis kandungan akhirnya pun masuk ke ruangan persalinan itu.


" Dok, istriku ingin melahirkan ". Seru Andrew dengan rasa khawatirnya.


" Tenanglah tuan, saya akan memeriksa nona ". Sahut dokter Nita.


" Aduh sakit ". Rintih Vita yang merasa kesakitan.


" Sayang ". Seru Andrew dengan menggenggam erat tangan Vita.


Dokter Nita pun mulai melakukan tugasnya, tak lupa juga dua orang suster yang ada di ruang bersalin itupun sudah siap siaga untuk membantu sang dokter dalam menjalankan tugasnya.


" Setelah saya periksa, ternyata masih baru pembukaan lima tuan, jadi waktu untuk bayi akan keluar masih lama mungkin bisa sampai beberapa jam lagi ". Ujar dokter Nita menjelaskan.


Setelah mendengar penjelasan dari sang dokter membuat Andrew menjadi semakin sangat gusar, pasalnya ia sudah sangat tak tega melihat sang istri yang sedari tadi kesakitan namun sang bayi masih lama akan keluar.


" Aduuuuh..... ". Seru Vita kala kontraksi yang ia rasakan terasa semakin hebat.


" Sayang ". Seru Andrew dengan mengelus pucuk kepala sang istri.


" Sakit ". Seru Vita. Ia benar - benar tidak tahu bagaimana agar rasa sakitnya menjadi berkurang.


Andrew tak henti - hentinya memandang wajah istrinya. Bahkan sudah banyak keringat di wajah cantik istrinya. Andrew sungguh tak sanggup melihat kesakitan istrinya Vita.


" Tuan, kemungkinan bayi anda akan lahir dua atau tiga jam lagi, untuk mempercepat proses persalinan ada baiknya jika nona Vita melakukan jalan - jalan santai di ruangan ini untuk mempercepat proses pembukaan nya dan bayi siap untuk lahir ". Ujar sang dokter memberi saran.


Andrew langsung menatap tajam ke arah dokter Nita.


" Apa kamu gila?, istriku sedang kesakitan seperti ini dan kamu menyuruhnya untuk jalan - jalan, dimana otak mu dokter? ". Sentak Andrew marah pada dokter Nita.


Sontak saja dokter Nita dan dua orang suster yang ada di ruangan bersalin itu langsung bergidik melihat kemarahan Andrew.


" M-mas... ". Seru Vita


Andrew pun menoleh pada sang istri.


" Mas j-angan marah, yang di suruh dokter Nitah ituh baikh ". Ujar Vita dengan masih tersengal - sengal.


" Sayang, kamu sedang kesakitan bagaimana bisa kamu di suruh untuk jalan yang benar saja ". Sahut Andrew yang masih tak terima.


" M-mas bantuh akuh untuk berh jalanh ". Serunya dengan mencoba melepas rengkuhan tangan suaminya.


" Tapi sayang ". Seru Andrew lagi, namun nampaknya Vita tak menghiraukan lagi ujaran suaminya.

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau Andrew pun membantu istrinya untuk berjalan santai. Vita terus melangkah secara perlahan di ruangan persalinan itu dengan harapan agar kegiatan berjalannya bisa mempercepat proses persalinannya.


Vita terus melangkah dengan dibantu oleh sang suami Andrew, meski semakin lama dirinya berjalan dan itu menambah rasa sakitnya, tak membuat Vita menolak anjuran sang dokter, hingga sekitar dua jam lamanya dirinya berdiri dan berjalan tiba - tiba saja Vita merasakan seperti adanya cairan yang keluar dari selangkangannya.


" Ya Tuhan, nona, sepertinya air ketuban anda sudah pecah ". Ujar dokter Nita yang terlebih dahulu melihat itu.


" Sayang ". Seru Andrew yang sudah melihat adanya semacam cairan yang sudah bercucuran membasahi lantai itu.


" Maaf... ". Seru Vita.


Di tengah - tengah rasa sakitnya sebenarnya Vita merasa malu karena adanya suatu cairan yang tumpah yang terkesan seperti air kencing yang tidak bisa ia tahan.


Andrew langsung menggendong tubuh Vita dan membawanya kembali ke atas ranjang persalinan, Andrew sudah tahu jika tidak butuh waktu lama lagi bayinya akan keluar.


" Aduuuuh... sakiiit... ". Seru Vita kesakitan, entah ini sudah yang ke berapa kalinya ia berseru.


" Sebentar nona akan saya periksa ". Seru dokter Nita.


Dokter Nita pun mulai memeriksa kembali saluran yang menjadi tempat keluarnya bayi.


" Sudah pembukaan sembilan tuan, nona, mohon untuk ditunggu sebentar lagi, kalau pembukaan nya sudah sempurna baru nona bisa mengejan ". Tutur dokter Nita menjelaskan.


" Ya Tuhan, kenapa lama sekali pembukaannya dok, lihatlah istriku sudah terlalu lama menahan sakit dan ini masih harus menunggu lagi? ". Kesal Andrew dengan situasi ini.


" Harap bersabar tuan, semua yang kami lakukan di sini adalah untuk kebaikan nona Vita dan juga bayi nya tuan ". Sahut dokter Nita yang berusaha memberi pengertian.


Vita masih terus merintih menahan rasa sakitnya, sedangkan Andrew ia masih setia dengan menggenggam tangan istrinya dan sesekali ia juga memberikan ciuman di wajah istrinya itu.


Kini dokter Nita mulai memeriksa kembali apakah Vita sudah siap untuk melahirkan?...


" Bagus, pembukaan nya sudah sempurna, nona bersiap - siaplah nona, saatnya bayi anda harus dikeluarkan, ikuti aba - aba dari saya nona ". Seru dokter Nita, sedangkan kedua suster di ruangan itu sudah siap siaga membantu sang dokter.


" Eeergh... ". Vita berusaha mengejan.


" Lagi nona, tarik nafas, lalu keluarkan.


" Eeergh... eeergh... ". Vita terus berjuang.


" Ayo nona jangan menyerah, tarik nafas, lalu keluarkan ". Perintah dokter Nita lagi.


" Eeergh... eeergh... eeergh... ".Vita terus mengejan agar anaknya bisa keluar, namun sepertinya tubuh Vita sudah mulai kehabisan tenaganya, nafasnya pun bagai di tarik ulur.


" Nona, tinggal sedikit lagi nona jangan menyerah nona ". Seru dokter Nita.


Andrew semakin mengeratkan genggaman tangannya, hatinya menangis karena menyaksikan istrinya harus berjuang antara hidup dan mati.


" Sayang, Vita, aku yakin kamu bisa sayang, aku yakin kamu pasti bisa melahirkan anak kita, ayo tetaplah semangat sayang ". Andrew berusaha memberikan semangat untuk istrinya.


Jujur saja sebenarnya Andrew sendiri pun merasa tak sanggup ketika harus mengucapkan kalimat itu, karena disini yang merasakan penderitanya adalah Vita istrinya.


" Ayo nona Vita tetap semangat, saya lihat kepala bayinya sudah mulai terlihat, ayo nona jangan menyerah ".


" Ayo nona tarik nafas, lalu dorong ".


" Eeeeergh... ".

__ADS_1


" Terus nona ".


" Eeeergh... eeergh... ".


" Ayo nona, tinggal sedikit lagi ".


" Eeergh... eeergh... eeergh... ".


" Oekk... oekk... oekk... ".


Suara tangisan bayi itupun terdengar begitu menggema memenuhi ruang persalinan itu. Setelah bayi itu keluar, sang dokter pun meletakkan tubuh bayi mungil itu di dada Vita.


" Selamat tuan, nona, atas kelahiran putra anda ". Seru sang dokter Nita dengan tersenyum bahagia.


Hati Andrew terasa menghangat dengan rasa yang juga bercampur aduk. Perasaan terharu, bahagia, dan tak menyangka karena dirinya sudah menjadi seorang ayah telah menjadi satu.


Cup... cup... cup... Andrew menciumi setiap inci wajah Vita. Ia benar - benar sangat bahagia dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perjuangan yang begitu luar biasa yang dilakukan oleh istrinya Vita.


" Terima kasih sayang, karena kamu sudah berjuang demi melahirkan anakku, terima kasih atas kebahagiaan yang sudah kamu berikan untukku cup... ". Seru Andrew berterima kasih.


Tak ada sahutan dari Vita, tak ada rangkaian kata yang dapat terucap, hatinya terharu dan sangat bahagia karena kehadiran putra tercintanya, hingga tanpa terasa ia meneteskan air mata bahagianya.


" Oekk... oekk... oekk... ". Bayi mungil yang masih merah itu masih tetap menangis.


" Cukup dulu nyonya, tuan, suster masih harus membersihkan tubuh si kecil dulu ". Ujar dokter Nita, dan bayi mungil itupun langsung dialihkan ke dalam gendongan sang suster.


*****


Bayi pun sudah wangi dan bersih, tak lupa dengan lilitan bedong di tubuh mungilnya yang mampu memberikan kehangatan telah melekat rapi tubuh mungil sang bayi.


" Tuan Andrew, sebaiknya anda mengadzani putra anda dulu tuan ". Ujar sang dokter Nita.


" Oh iya, baiklah ". Sahut Andrew gelagapan.


Dengan bantuan dokter Nita, akhirnya Andrew menggendong putra mungilnya untuk pertama kalinya. Andrew mulai mengumandangkan adzan di telinga mungil putranya.


Sedangkan Vita ia masih merasa begitu lemas, namun kedua belah bibirnya tetap tersenyum menatap sang suami dengan bayi mungilnya yang berada dalam gendongannya.


Selesai mengadzani sang putra, Andrew pun melangkah mendekat ke arah Vita.


" Sayang, lihatlah putra kita ". Seru Andrew dengan senyuman bahagianya dan ia pun meletakkan tubuh putra mungilnya itu di samping sang istri.


Vita tersenyum melihat bayi mungilnya yang begitu nampak tenang itu.


" Mas, ternyata anak kita laki - laki, jadi nama itu yang akan kita berikan pada putra kita? ". Tanya Vita.


Ya, Andrew dan Vita memang sudah menyiapkan sepasang nama untuk anak mereka ketika sudah lahir, dan ternyata mereka di anugerahi seorang putra.


" Iya sayang ". Sahutnya.


" Andri Putra Choi, selamat datang ke dunia ini anak daddy dan mommy, selamat datang ke dunia ini nak, Andri Putra Choi ". Sambutan selamat seorang daddy.


Bersambung..........


Untuk bab ini sebenarnya Author masih bingung, harap beri masukannya ya, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2