
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sepasang suami istri itu merasakan hal yang begitu memanjakan indera penglihatan mereka kala mereka telah berada di mall milik mereka yang begitu besar itu.
Sepanjang mereka memamdang banyaknya model pakaian untuk sepasang bayi kembar, membuat pasangan suami dan istri itu seolah tak henti - hentinya menatap lucu pada pakaian - pakaian mungil untuk dua malaikat mereka yang akan segera lahir.
" Tuan, nyonya, di sini juga ada model pakaian bayi yang baru ". Seru karyawan wanita itu masih dengan sikap ramahnya.
" Iya, terima kasih mbak, tapi sebentar dulu, saya masih ingin melihat - lihat yang ada dulu ". Sahut Adinda.
" Sayang, pakaian untuk si baby twins sangat bagus - bagus dan lucu. Bagaimana, aku borong semua saja ya ". Seru Al, di saat sang istri masih sibuk dengan beberapa pilihannya.
" Ya Allah, mas, terlalu banyak kalau dibeli semua, kita beli secukupnya saja untuk si kembar mas ". Sahut Adinda yang menolak secara lembut keinginan sang suami.
" Kalau bisa di beli semua, kenapa harus secukupnya sih sayang, kan bagus, nanti si baby twins bisa memakai baju yang mereka mau ". Sahut Al lagi.
Setelah mendengar kalimat lanjutan dari suaminya ini, entah mengapa membuat Adinda menjadi teringat akan sesuatu. Adinda menjadi teringat akan anak - anak yatim dan piatu di luar sana yang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan dari banyak orang.
Dan dari kalimat suaminya itulah membuat Adinda memiliki ide jika, bagaimana jika semua pakaian bayi - bayi ini serta pakaian anak - anak yang lainnya diberikan pada anak - anak yatim dan piatu saja?. Pasti mereka semua akan merasa sangat senang jika memiliki pakaian baru.
" Mas ". Seru Adinda.
" Iya sayang ". Sahut Al.
" Adinda akan membeli pakaian untuk anak - anak kita secukupnya saja mas, tapi Adinda juga ingin membeli semua pakaian anak - anak ini dengan semua ukuran, kita borong saja semua pakaian anak - anak ini mas ". Sahut Adinda dengan panjang lebar.
" Loh sayang, kok semua ukuran pakaian anak - anak?, kan yang mau pakai si baby twins, ya kalau Alexa, Aganta sama Damian, mau kita belikan juga, ya tidak perlu semua ukuran lah sayang, anak - anak kita kan masih kecil ". Sahut Al, ia merasa bingung dengan keinginan istrinya.
" Mas, mas Al kan setiap bulan selalu mengirimkan donasi untuk anak - anak yatim piatu di panti asuhan, Adinda ingin kita juga membelikan pakaian ini untuk mereka juga mas ". Sahut Adinda pada akhirnya.
Dan akhirnya, Al pun sudah memahami, apa yang menjadi keinginan istrinya ini. Rupanya istrinya ingin berbagai pada anak - anak yatim yang ada di panti asuhan.
__ADS_1
" Baiklah istriku, jika ini memang keinginanmu, kita beli semua pakaian - pakaian ini untuk mereka ". Putus Al pada akhirnya.
" Terima kasih mas ". Sahut Adinda dengan senyuman kebahagiaannya.
Setelah mengikuti keinginan sang istri, akhirnya semua pakaian anak - anak itu pun telah Al beli. Termasuk pakaian baru untuk ketiga buah hati mereka yang sedang ada di rumah.
*****
Mobil mewah milik sang tuan Al, telah melaju dengan kecepatan sedang. Setelah hampir dua jam lamanya berada di dalam mall mewah miliknya. Akhirnya Al dengan sang istri pun memutuskan untuk langsung kembali ke kediaman mereka, mengingat jika waktu sudah hampir menunjukkan siang hari.
Sepanjang mobil sang suami melaju, membuat sepasang bola mata indah milik Adinda itu tak jarang memandang ke tepian jalan. Hingga pada saat mereka melewati suatu tempat yang banyak terdapat berbagai macam makanan yang dijual, membuat Adinda menjadi tergoda dan ingin menikmati beberapa kuliner yang ada di sana.
" Mas, berhenti dulu ya ". Seru Adinda tiba - tiba.
" Ada apa sayang? ". Sahut Al, lalu pria berusia matang itupun mulai menepikan mobilnya.
" Mas lihat jajanan yang di jual di sana? ". Tunjuk Adinda pada sekumpulan gerobak abang - abang yang berada di seberang jalan.
" Adinda ingin makan bakso mas, kita mampir dulu ya ke sana, Adinda ingin makan bakso di sana mas ". Sahut Adinda yang mengutarakan keinginannya.
" Apa?, ingin makan di sana?, tidak - tidak, jangan makan di sana sayang, coba kamu lihat, dagangan mereka itu ada di pinggir jalan, banyak polusi kendaraan yang sudah menyebar ke mana - mana, makanan mereka sudah tidak bersih sayang, makanan mereka sudah terkontaminasi dengan polusi udara, kalau kamu ingin makan bakso, ya sudah, kita makan bakso di restoran saja ". Sahut Al dengan cukup menyentak, ia melarang jika istrinya makan di tempat seperti itu.
Mendengar penolakan yang secara spontan dari suaminya yang melarang keinginannya, membuat Adinda seketika itu menjadi murung. Adinda terdiam, ia menunduk dengan raut yang nampak sedih karena sang suami tak mau menuruti keinginannya. Apa salahnya jika makan di tempat seperti itu. Tempat itu kan tidaklah terlalu buruk. Sesekali makan di sana tidak apa - apa kan?. Itulah keluhan batin Adinda.
Sementara Al yang melihat perubahan raut istrinya yang menjadi murung dan sedih itupun menjadi merasa bersalah. Al baru menyadarinya sekarang, jika sikap yang baru saja dirinya lakukan, tanpa sengaja, telah melukai hati istrinya. Dan hal itupun tentu membuat Al merasa sangat bersalah dan menyesali perbuatannya.
" Sayang ". Lirih Al, namun yang diserukan masih menunduk.
" Sayang ". Seru Al lagi dengan lembut, lalu pria itupun mulai meraih wajah istrinya yang menunduk itu, dan...
Deg....
Betapa terkejutnya Al, kala ia telah mendapati wajah cantik istrinya itu dengan kedua bola mata indahnya yang telah dipenuhi dengan genangan air mata. Hati Al begitu terhenyak dibuatnya kala sang istri yang sudah siap meluncurkan air matanya. Sesedih inikah istrinya karena dirinya melarangnya yang ingin memakan bakso.
__ADS_1
" Sayang ". Seru Al yang sangat merasa bersalah, lalu ia pun membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
" Sayang, maafkan aku ya, baiklah, jika kamu ingin memakan bakso di sana, ya sudah ayo, kita makan di sana ". Seru Al lembut agar istrinya tak merasa sedih lagi.
Dan tanpa Adinda bisa tahan lagi, kini air matanya pun benar - benar terjatuh. Adinda merasa terluka hatinya. Mengapa suaminya baru menuruti keinginannya ketika dirinya akan menangis seperti ini. Dirinya tidak meminta lebih sering untuk bisa makan kuliner yang ada di pinggir jalan, hanya sesekali saja dirinya menginginkan nya.
" Sayang, tolong maafkan mas ya, ayo, kalau kamu ingin makan bakso di sana, kita turun sekarang yuk sayang, aku mau makan bakso di sana juga sayang ". Seru Al lagi.
Lalu Adinda pun mulai menegakkan tubuhnya itu dari pelukan sang suami. Dan dengan perlahan ia mulai mengusap lelehan air matanya yang sempat terjatuh tadi.
" Sayang, kamu sungguh menangis?, Ya Allah, sayang tolong maafkan aku ya, aku tidak bermaksud seperti itu sayang ". Seru Al yang benar - benar merasa sangat bersalah. Al benar - benar tak menyangka jika istrinya sampai menangis seperti ini.
" Emm... tak apa mas, lebih baik kita pulang saja ". Lirih Adinda pada akhirnya.
" Loh sayang, kok malah mau pulang?, kamu marah sama aku sayang?, sayang maafkan aku ya, tolong jangan marah lagi ya sayang, ayo, kita makan bakso itu sekarang ". Seru Al lagi, yang ternyata masih keukeuh pada keinginannya.
Namun Adinda menggeleng. Adinda sudah tak berselera lagi. Keinginannya yang ingin memakan kuliner di pinggir jalan, seketika menjadi hilang kala tadi suaminya sempat melarangnya.
" Sayang, tolong jangan dimasukkan ke hati perkataan ku yang tadi sayang, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya khawatir saja jika kamu dan juga kedua anak kita sampai memakan makanan yang tidak sehat ". Seru Al, karena itulah yang menjadi alasan mengapa dirinya sempat melarang tadi.
Adinda pun tersenyum pada suaminya.
" Iya mas, Adinda paham, tapi sekarang, Adinda sudah tidak berselera lagi, Adinda ingin pulang mas, Adinda ingin istirahat, jangan mengajak Adinda makan di sana lagi, karena Adinda saat ini hanya ingin pulang ". Putus Adinda pada akhirnya. Adinda tak ingin jika suaminya membujuknya lagi untuk makan, karena suasana hatinya pun sudah tak mood. Kekecewaan karena penolakan suaminya tadi membuat Adinda telah tak berselera lagi.
Al, yang mendapati sikap penolakan dari istrinya ini, benar - benar telah merutuki sikapnya. Seharusnya dirinya paham jika istrinya saat ini sedang mengidam. Ditambah lagi karena kehamilannya, sudah pasti membuat perasaan istrinya ini menjadi lebih sensitif.
" Maafkan aku sayang ". Batin Al.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1