Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Cerita Dari ART


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Semburat kemunculan sinar mentari terlihat menghiasi belahan bumi bagian timur. Sang mentari yang hendak menyapa alam pun, nampaknya masih terlihat malu - malu, sehingga semburat mentari itupun menghadirkan kemunculan cahaya indah yang begitu dinantikan oleh setiap insan yang begitu ingin menikmati indahnya mentari pagi.


Aroma berbagai masakan yang begitu menggugah selera pada pagi hari ini, nampaknya satu persatu telah siap untuk di hidangkan.


Terlihat bi Tarsih dan juga bi Ima, telah mulai mempersiapkan perihal makanan yang akan mereka sajikan untuk para majikannya di pagi yang begitu menyejukkan ini.


Bi Ima dan juga bi Tarsih, hanya memasak berdua, tidak ada lagi bi Nadia yang biasanya juga ikut membantu, sedangkan bi Ika dan juga bi Arti, mereka saat ini tengah membersihkan halaman belakang dengan di bantu para pekerja pria yang lain.


" Nah, semuanya sudah siap ". Seru bi Tarsih pada bi Ima, setelah dirasa semua menu sarapan yang akan dihidangkan sudah lengkap.


" Bu Tarsih, tuan muda Al masih belum pulang kan? ". Tanya bi Ima.


" Sepertinya belum bu ". Sahut bi Tarsih.


" Berarti memang benar, rumah ini ada hantunya bu ". Seru bi Ima dengan bergidik ngeri.


" Hah, hantu?, hantu bagaimana bu? ". Tanya bi Tarsih yang terkejut.


" Jadi seperti ini bu Tarsih, tadi malam sekitar hampir pukul sebelas malam, saya itu mendengar ada suara tangisan bayi di kamar pribadi tuan Al ". Sahut bi Ima dengan mimik yang terlihat serius.


" Hah, yang benar saja bu, mungkin ibu salah dengar, setahu saya kamar tuan Al itu kan ada pengendap suaranya, jadi bagaimana mungkin bu Ima mendengar ada suara apalagi suara tangis bayi ". Sahut bi Tarsih yang merasa tak percaya.


" Benar bu Tarsih, saya tidak salah dengar, kan tuan Al masih belum pulang bu, bisa jadi pengendap suaranya tidak di hidupkan dengan tuan Al, berarti kan saya memang tidak salah dengar bu ". Sahut bu Ima yang berusaha membenarkan ceritanya.


" Ya Allah, astagfirullah hal adzim, benar juga ya bu, kan tidak mungkin di kamar tuan Al ada bayinya, iihhh..... seram ah bu ". Sabut bi Tarsih yang merasa takut.


" Iya bu memang benar seram, untung saja kita tidak pernah di suruh masuk ke kamar tuan Al, bukan tidak mungkin kalau kita akan bertemu dengan hantunya ". Sahut bi Ima lagi.


" Sudah lah bu, jangan di bahas lagi, saya takut tidak bisa tidur nanti malam karena teringat terus ". Sahut bi Tarsih yang bergidik ngeri.


Dua wanita paru baya itupun akhirnya telah bersiap - siap untuk menghidangkan masakan mereka di meja makan besar majikannya.


Tepat pada pukul 05:45 pagi semua menu sarapan telah tersaji dengan rapi. Nampak tuan Enriko dan juga nyonya Devina, telah beriringan menuruni setiap anak tangga yang tersusun indah.


Namun tidak lama dari itu, Al juga ikut melangkah dengan membuntuti kedua orang tuanya.


Bi Ima dan bi Tarsih yang melihat kehadiran tuan Al nya, merasa sangat terkejut. Pasalnya mereka berdua sama sekali tidak tahu akan kedatangan tuan Al nya.


" Ada apa bi? ". Tanya Devina setelah dirinya sampai di meja makan.


" Eh, anu nyonya, kami hanya kaget saja melihat kedatangan tuan Al ". Sahut bi Ima.


" Iya nyonya, kami merasa terkejut saja tuan Al sudah pulang, soalnya kami tidak tahu kapan tuan Al datang ". Sahut bi Tarsih yang ikut menimpali.


" Ooh, jadi seperti itu ". Sahut Devina.


" Begini bi, Al itu sampai di rumah kemarin sore, sewaktu bibi semua membersihkan kolam renang di belakang rumah ". Imbuh Devina lagi yang berusaha menjelaskan.


" Tapi nyonya, kenapa malam harinya tuan dan nyonya tidak menyuruh kami untuk menyiapkan makan malam? ". Lanjut bi Tarsih.


" Oh itu, kalau makan malam memang sengaja kami tidak menyuruh bibi, karena saya ingin makan makanan yang dari luar saja, ya jadinya saya memesan nya ". Sahut Devina.


" Ooh, begitu ya nyonya ". Sahut bi Ima dan bi Tarsih bersamaan.


Namun meski sang nyonya majikannya menjelaskan, tetap saja hal itu membuat bi Ima masih penasaran. Suara tangisan bayi yang ia dengar semalam bukanlah suaran tangisan bayi kartun, tetapi benar - benar suara tangisan bayi anak manusia.


" Tuan Al ". Panggil bi Ima.

__ADS_1


Al yang baru selesai meletakkan nasi dan beberapa lauk di piringnya pun langsung menoleh pada bi Ima.


" Iya bi ". Sahut Al.


" Tapi sebelum saya mengatakannya, saya mohon tuan Al tenang ya ". Seru bi Ima menginterupsi.


Al mengernyit bingung, apa maksud bibi nya jika dirinya harus tenang, memang nya apa yang ingin dikatakan?.


" Tuan Al, apa tuan tidak pernah di ganggu hantu kalau malam hari di kamar sendirian? ". Tanya bi Ima dengan mimik seriusnya.


" Apa hantu? ". Bukan hanya Al yang menjawab tetap juga dengan Devina dan Enriko.


" Hantu apa bi? ". Tanya Devina yang sudah mulai menegang.


" Iya nyonya hantu, tadi malam sewaktu saya selesai dari dapur dan ingin kembali ke kamar, saya itu mendengar dengan sejelas - jelasnya kalau di kamar tuan Al ada suara tangisan bayi, dan saya yakin itu pasti hantu nyonya ". Sahut bi Ima dengan bergidik ngeri.


Al, Devina, dan Enriko yang mendengar cerita dari bi Ima pun, saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya mereka.....


" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha.. ".


Ketiga majikan itu tertawa dengan begitu kencangnya. Sedangkan bi Ima dan bi Tarsih yang melihat ketiga majikannya tertawa terbahak - bahak menjadi bingung sendiri.


" Aduh perutku ". Seru Devina yang masih terpingkal - pingkal dengan menahan perutnya.


" Aduh bi Ima, bi Ima, di rumah ini tidak ada hantu bi, yang tadi malam bibi dengar itu adalah suara tangisan dari cucu - cucu ku ". Sahut Devina pada akhirnya.


Bi Ima dan bi Tarsih yang sudah bingung dari tadi, menjadi bertambah bingung dengan jawaban dari nyonya nya.


Apa maksud nyonya nya dengan cucu, apa anak dari Sintia sudah di temukan?.


" Maaf nyonya maksud nyonya bagaimana, saya tidak mengerti ". Sahut bi Ima.


Namun kali ini Al yang menjawab.


" Apa? ". Shock bi Ima dan bi Tarsih.


*****


Pagi hari yang begitu menyejukkan, begitu menelusup ke setiap celah bangunan yang ada di wilayah ibu kota.


Semangat para pekerja begitu menggerakkan diri mereka untuk terus bekerja dan berkarya. Menjadi seseorang yang dipercaya dan bisa diandalkan pastilah tidak mudah untuk dilakukan.


Begitu pun dengan Andrew Choi. Pria blasteran Indonesia - Korea itu, telah memiliki tanggung jawab lebih yang harus selalu setia untuk di tunaikan.


Setelah dirinya terbukti dapat melacak keberadaan Adinda, membuat tuan Al nya telah menjadikan Andrew selain sebagai asisten CEO dari G. Group, tetapi juga menjadikan Andrew sebagai detektif pribadi dari tuan Al nya.


Mau tidak mau, suka tidak suka Andrew pun, harus tetap melaksanakannya. Contohnya saja seperti di pagi hari ini. Sudah semenjak dari tadi subuh dirinya telah mempersiapkan berbagai keperluan yang di butuhkan oleh pak Budi dan juga Vita.


Ya, pagi ini dengan mengendarai mobil mewahnya Andrew tengah membawa banyak pasang pakaian untuk pak Budi dan juga Vita.


Mobil mewah itu terus melaju hingga sampai ke tempat yang di tuju. Andrew menghentikan mobil mewahnya di pelataran depan rumah. Terlihat di sana ada Vita yang sedang menyapu lantai.


Breemm..... cekitt..... Mobil pun berhenti. Vita yang melihat adanya mobil mewah telah berhenti di halaman depan rumahnya membuatnya menghentikan kegiatannya.


" Itu kan mobil tuan Andrew, kenapa pagi - pagi sekali seperti ini manusia robot itu sudah datang ". Gumam Vita dengan tetap mengarahkan pandangannya.


Andrew pun keluar dari mobil mewah itu. Terlihat jelas tubuh tinggi nan atletis nya, belum lagi ketampanan wajahnya yang mirip seperti opa - opa Korea, benar - benar menambah tingkat ketampanan wajahnya.


" Tuan Andrew, makin hari makin bertambah tampan saja ". Batin Vita.


Andrew pun langsung menuju bagasi mobil dan membukanya untuk mengeluarkan baju - baju yang sudah berada di dalam box.

__ADS_1


Andrew pun mengangkat dua box baju dengan volume 50 cm Γ— 50 cm, sedangkan empat box lainnya masih berada di bagasi mobilnya.


" Permisi nona Vita, saya di suruh oleh tuan Al untuk mengantar baju - baju ini ke sini nona " Seru Andrew.


" Eh, i, iya letakkan saja di dalam tuan ". Sahut Vita yang tersadar dari pandangannya.


Andrew pun langsung melenggang masuk. Vita memperhatikan langkah Andrew.


" Kasihan sekali tuan Andrew, sepertinya barang - barangnya berat ". Gumam Vita.


Tanpa berpikir panjang Vita pun tergerak untuk membantu Andrew. Ia mencoba mengambil dua box baju itu dari bagasi mobil, sama seperti yang dilakukan oleh Andrew tadi.


" Ya Allah ini kenapa berat ya, padahal ini kan isinya hanya baju, kenapa aku seperti membawa beras lima kilo? ". Gumam Vita dengan sambil melangkah kan kakinya.


Andrew telah selesai meletakkan dua box baju, sekarang dirinya akan mengambil box yang lainnya lagi.


Namun ketika dirinya telah berada di luar, betapa terkejutnya Andrew. Ia melihat Vita dengan membawa dua box baju sama seperti yang dirinya lakukan tadi.


" Astaga, apa yang dilakukan oleh wanita itu ". Gumam Andrew dengan sedikit kesal.


Vita terus melangkah dengan membawa dua box nya itu. Ia ingin melewati dan melangkah ke teras rumahnya yang satu tingkat lebih tinggi.


Namun naas, karena pandangannya yang tertutup oleh dua box yang dibawanya, membuat Vita tidak bisa melihat dengan benar kemana kakinya berpijak.


Hingga akhirnya kaki Vita pun tertahan dan meleset ke bawah, akibatnya Vita tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan akan terjatuh.


" Akh... astagfirullah hal adzim ". Pekik Vita, dengan tubuhnya yang sudah limbung ke depan.


Geludug..... geludug..... geludug..... dua box baju itupun terjatuh dan menggelundung.


Sedangkan tubuh Vita yang sudah siap mendarat di atas teras yang keras itu, tiba - tiba saja di tarik dengan begitu kuatnya oleh Andrew.


Hingga tubuh mungil Vita berada dalam dekapannya. Namun sangat di sayangkan, karena Andrew yang pada saat itu juga tidak memiliki persiapan yang baik untuk menolong Vita, akhirnya dua tubuh yang masih saling merengkuh itu pun tidak bisa menjaga keseimbangan.


Andrew dan Vita sedikit berputar - putar hingga tubuh mereka akan terjatuh. Andrew yang saat itu tidak ingin tubuh mungil Vita terluka, membuat Andrew langsung membalikkan posisinya untuk menggantikan tubuh Vita, hingga akhirnya.....


Bugh..... Cup.....


Mereka berdua terjatuh dan terjadi lah sebuah cium*n yang tak disengaja itu.


Andrew bisa merasakan bibir kenyal dari gadis yang masih ada di rengkuhnya itu. Hingga setelah beberapa detik lamanya, Vita tersadar dengan apa yang sudah terjadi.


Tanpa berpikir panjang, Vita langsung mengangkat kepalanya dan berusaha bangkit dari tubuh kekar Andrew. Begitupun dengan Andrew, ia mulai tersadar dari kejadian yang baru saja dia alami.


" Ma, maafkan saya tuan ". Seru Vita yang merasa malu.


" Oh tidak, em anu, eh maksudku harus nya aku yang meminta maaf ". Sahut Andrew dengan menggaruk - garuk tengkuknya yang tak gatal.


" Maaf tuan, kalau begitu saya permisi mau ke dalam ". Sahut Vita.


Tanpa menunggu jawaban dari Andrew, Vita pun langsung berjalan dengan setengah berlari. Ia benar - benar sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi.


" Ya Allah Vita, seharusnya kamu memberikan bibir mu ini untuk suamimu, tapi ini apa tuan Andrew sudah lebih dulu mendapatkannya ". Gumam Vita yang merasa malu bercampur kesal. Dengan terus melangkah masuk.


Andrew yang melihat tingkah malu - malu dari Vita menjadi tersenyum.


" Ternyata dia gadis pemalu ". Batin Andrew tersenyum.


Bersambung.....


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan beri hadiah ya πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•.


__ADS_2