
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Orang yang berada di balik telfon itupun menceritakan kejadiannya hingga...
Deg...
Bak mendapat sambaran petir yang begitu dahsyat. Tubuh Al langsung membeku, deru nafasnya pun seolah terhenti. Al begitu sangat terkejut. Sebuah kabar mengejutkan telah menghujam hatinya.
" Mas, ada apa?, kenapa mas Al jadi diam seperti ini? ". Seru Adinda yang melihat suaminya tak ada lagi respon setelah menjawab sambungan telfonnya.
" Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya sebentar, tiga puluh menit saja, aku ada keperluan sebentar sayang, hanya sebentar ". Sahutnya setelah mematikan telfonnya itu.
" Tapi mas mau kemana?, ada apa kok seperti buru - buru begini?, mas terlihat khawatir ". Sahut Adinda lagi, karena sang suami memang nampak terlihat tegang.
" Tenanglah sayang, aku hanya ada keperluan sebentar, setelah itu, aku kembali lagi ke sini, dan kalau kamu lelah, kamu boleh istirahat di dalam sayang ". Seru Al lagi agar istrinya tak merasa khawatir.
Cup.... " Aku akan temui Andrew dulu ". Seru Al, lalu ia pun beranjak meninggalkan istrinya di pelaminan itu seorang diri.
Al mendekati Andrew yang saat ini sedang berdiri tegak yang posisinya tak terlalu jauh dari tempat pelaminan itu.
" Andrew ". Seru Al.
" Iya tuan, ada apa? ". Sahutnya sigap.
" Aku pinjam mobilmu dulu Andrew ". Pintanya.
" Hah... tuan mau kemana tuan, kenapa tuan ingin membawa mobil saya, memangnya apa yang terjadi tuan? ". Tanya Andrew beruntun, Andrew begitu terkejut dengan permintaan tuannya, apalagi malam ini adalah malam resepsi pernikahannya.
" Sudahlah Andrew, jangan banyak bertanya, mobilmu tidak akan hilang, aku hanya meminjamnya sebentar, hanya tiga puluh menit ". Seru Al tanpa bantahan lagi.
Mau tak mau Andrew pun menuruti keinginan tuannya, dan ia pun memberikan kunci mobilnya itu.
" Tetaplah jaga keamanan di sini Andrew, pastikan istri dan juga keluargaku baik - baik saja ". Seru Al lagi, lalu ia pun segera pergi meninggalkan area pesta itu dengan melewati gerbang di halaman belakang rumahnya.
Adinda yang melihat suaminya pergi dengan menghindari pandangan para tamu merasa sedikit bingung, dan dirinya pun bertanya-tanya, mengapa suaminya berjalan memasuki rumahnya seperti menuju halaman belakang, bukankah jika masuk melewati pintu depan juga bisa?.
" Mas Al sebenarnya mau apa sih, memangnya ada apa di belakang rumah?, heh ya sudahlah terserah mas Al, hanya tiga puluh menit kan ". Gumamnya.
Di luar area malam resepsi pernikahan itu, sang mempelai pria yang telah berhasil keluar, telah melajukan mobil mewah asistennya dengan kecepatan cukup tinggi. Nampaknya ia begitu terburu-buru dan ingin segera sampai.
Al mengendarai mobil asistennya itu dengan cepat. Al tak ingin berlama - lama berada di luar, karena sang istri Adinda saat ini sedang duduk seorang diri tanpa adanya dirinya di sampingnya.
__ADS_1
Al terus melajukan mobil asistennya itu dengan cepat hingga, sudah hampir tujuh menit lamanya perjalana hingga...
Ckiitt...mobil yang dikendarai nya itu barulah sampai di tempat juannya, yaitu di sebuah rumah sakit mewah, rumah sakit miliknya sendir.
Al melangkah keluar dengan tergopoh - gopoh dari mobil itu, waktunya tidaklah lama. Al datang ke rumah sakit ini hanya untuk menolong seseorang yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya.
Keadaan ini begitulah sangat mendesak, hingga dirinya mau tak mau harus meninggalkan kursi pelaminan nya itu barang sejenak.
Al melangkah terburu - buru memasuki rumah sakitnya, bahkan tanpa mempedulikan sapaan para petugas rumah sakit yang ada di sana hingga...
Brakk..... tanpa sengaja dirinya telah menabrak salah seorang mantri di sana. Akibatnya, handphone yang ia letakkan dengan aman di saku jasnya, kini telah jatuh bersisian dengan tubuhnya yang sedikit terlentang di lantai rumah sakit itu.
" Maafkan saya tuan Al, saya tidak sengaja melakukannya ". Seru mantri itu meminta maaf dengan perasaannya yang sudah campur aduk.
" Tak apa kamu sama sekali tak bersalah, akulah yang salah karena sudah terburu - buru, aku minta maaf ". Sahut Al dengan tubuhnya yang berusaha bangkit.
" Sekali lagi tolong maafkan saya tuan ". Seru mantri itu lagi dengan segala rasa bersalahnya.
" Sudah - sudah, tidak perlu meminta maaf lagi, sekarang kamu kembalilah bertugas ". Sahutnya yang tak ingin menghambat waktu ini.
Al memperhatikan smartphone itu yang sudah tergeletak dengan layarnya yang sedikit retak. Al mencoba mengaktifkan benda pipih itu, namun nyatanya tak bisa menyala.
" Sudahlah, aku pinjam charger saja di sini ". Gumamnya.
Al pun kembali melangkah, bahkan berlari menuju ruangan pasien itu. Sudah sembilan menit lamanya waktu terbuang, dan Al tak ingin lebih banyak waktu lagi yang terbuang, hingga...
" Hah... Al, kenapa kamu di sini, bukannya malam ini adalah malam pernikahanmu? ". Sahut Rian yang begitu terkejut melihat kedatangan sahabatnya.
" Di mana Diandra, aku ingin menolongnya ". Seru Al, karena memang itulah tujuannya datang ke rumah sakit ini.
" Diandra ada di da... ". Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Al sudah ingin menerobos masuk ke ruangan tempat Rian keluar, dan...
Kriett... semua orang yang ada di ruangan itupun menoleh ke arah pintu. Sontak semua orang yang ada di ruangan itupun terkejut. Mereka tak percaya dengan kedatangan sang tuan Al, kecuali satu orang, yang sempat menelfon Al tadi, yaitu tuan David.
" Al ". Seru Rendi, dengan masih sikap terkejutnya.
Rendi, mama Diandra, termasuk pun adiknya, yaitu Dika, menatap tak percaya pada Al, bahkan sang tuan ini datang, dengan masih memakai jasnya, yang bisa dipastikan jika jasnya itu adalah pakaian dalam resepsi pernikahannya.
" Al, kamu datang kemari, kenapa kamu kemari, bukankah malam ini adalah malam resepsi pernikahanmu? ". Seru Rian lagi.
" Aku ingin menolong Diandra Ren, cepat lakukan sekarang, di mana dokter dan suster, aku tidak punya banyak waktu lagi, aku siap mendonorkan darahku ". Jelas Al, tanpa basa - basi lagi.
Sontak semua orang yang ada di ruangan rawat itupun mengernyit bingung, siapa yang meminta Al untuk mendonorkan darahnya, bukankah donor darah untuk Diandra sudah selesai, lalu mengapa Al ingin mendonorkan darahnya?.
__ADS_1
Al pun melihat kondisi Diandra, yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Sedih, itulah yang dirinya rasakan. Dan biar bagaimanapun Diandra adalah orang yang sangat berjasa karena sudah pernah menyelamatkan nyawanya.
" Om, tante, kita lakukan sekarang pendonoran darahnya, Al tidak punya banyak waktu, malam ini adalah malam yang sangat penting bagi Al. Rendi, jangan hanya diam, cepat panggil dokter sekarang, kita lakukan donor darahnya sekarang ". Jelas Al, dengan segala permintaannya.
" Nak Al, apa maksudmu, kami tidak pernah memintamu untuk mendonorkan darah untuk Diandra nak, Diandra sudah mendapat donor darah, dan sekarang, anak tante sedang dalam masa pemulihan ". Seru Kendi sang mama Diandra.
Al yang mendengar penuturan dari tante Kendi itupun, mengernyit bingung, apa maksudnya tidak pernah meminta dirinya untuk mendonorkan darah, bukankah jelas - jelas tadi om David menghubungi nya, agar dirinya bisa menolong Diandra.
Dan tak lama dari itupun, Al baru memahaminya, jika kabar tadi adalah kebongonan dari David. Sontak Al pun langsung mengarahkan tatapan tajamnya pada sang tersangka David.
" Jadi om berbohong padaku? ". Tanya Al dengan tatapan menghunus nya.
Sontak, Rendi, Kendi sang mama, dan juga Dika, merasa bingung dengan maksud kalimat Al.
" Jawab aku om, jadi om David yang mengatakan jika Diandra sangat membutuhkan donor darah dariku itu semua bohong, om David sengaja ya ingin merusak pesta pernikahanku? ". Cecarnya.
" Bukan seperti itu Al, om sama sekali tak ada niat untuk membohongimu, putriku memang butuh donor darah, dan Dia memang sudah mendapatkannya, tapi, om masih khawatir Al, karena putri om ini, masih tak kunjung turun dari kondisi lemahnya, om hanya ingin kondisi putri om ini menjadi membaik, dan mungkin dengan kehadiran mu di sini, bisa memulihkan keadaannya, om tahu om salah, karena sudah memanggilmu di waktu yang tidak tepat, tetapi paling tidak, lakukanlah ini demi rasa kemanusiaan, karena biar bagaimanapun, Diandra putriku, sudah pernah menyelamatkan nyawamu tanpa mempedulikan nyawanya sendiri Al ". Jelas David pada akhirnya.
Al terdiam, entah disengaja atau tidak, pernyataan David, telah berhasil menggores hatinya. Al tak bisa menyangkal jika berhubungan dengan jasa dan balas budi seperti ini, karena memang benar, jika Diandra memang sudah pernah menyelamatkan dirinya tanpa mempedulikan jika nyawanya sendirilah yang akan hilang.
" Jadi om mohon padamu Al, di sinilah dulu meski hanya sebentar, om janji, setelah ini, om tidak akan meminta bantuan apapun lagi padamu ".Pungkas David.
" Pa, papa yang benar saja pa, Al itu sedang menjalani malam resepsinya, bagaimana mungkin Al ada di sini? ". Timpal Kendi.
" Hanya sebentar ma, hanya malam ini saja, biarkan Al membalas semua jasa putri kita, apa susahnya hanya dengan menemani, putri kita dulu sampai hampir kehilangan nyawanya, hanya demi menyelamatkan nyawa Al, lalu apa susahnya jika Al mengorbankan sedikit waktunya, hanya sedikit saja untuk putri kita ma ". Jelas David, rupanya ia begitu sangat ingin jika Al membalas budi untuk putrinya.
Al benar - benar tak bisa berbuat apa - apa lagi. Dirinya sudah benar - benar terpojok kan, dirinya benar - benar seperti telah di kepung. Perkataan David benar - benar telah membuatnya tak bisa memutar arahnya kembali. Al benar - benar tak menyangka, jika di malam yang seharusnya menjadi malam yang begitu membahagiakan untuknya dan juga sang istri, harus mengalami kendala seperti ini.
Rendi, yang sedari tadi menjadi pendengar setia mereka, jujur sebenarnya merasa terluka hatinya. Ternyata keberadaannya di dekat Diandra tidaklah begitu berarti.
Tak ingin menyaksikan lebih lama lagi drama penting keluarga ini, Rendi pun akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari ruangan itu. Dirinya tak ingin, jika saat ini menjadi pengganggu antara Al dan juga Diandra.
" Baiklah om, jika om ingin aku menemani Diandra di sini, hanya lima belas menit, Al hanya menemani Diandra selama lima belas menit saja om, karena setelah itu, aku harus kembali ke acara ku ". Sahut Al dengan berat hati.
" Kenapa hanya lima belas menit Al, memangnya kamu hanya minum air ke sini, kamu aku suruh ke sini untuk menemani Diandra yang sedang sakit, dan apakah kamu tahu Al, mungkin kondisi putriku ini tidak selemah sekarang jika dulu Dia tidak pernah kecelakaan karena menolongmu ".
Deg...
Luruh sudah, semuanya benar - benar luruh. Perkataan David benar - benar telah menghujam dirinya. Al benar - benar tak bisa melakukan pengelakan lagi agar bisa keluar dari kepungan yang tak terlihat ini.
Bersambung...........
Maaf ya kakak - kakak, kalau di bagian resepsi ini ceritanya lebih dari satu episode, karena alur cerita yang Author buat memang seperti ini, semangat membaca ya.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ