
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang waktu masih terus berjalan, dan akan tetap berjalan membuat hari - hari menjadi terus berganti.
Kehidupan Al bersama sang istri Adinda, terasa semakin berwarna karena kehadiran anak - anak mereka yang begitu menggemaskan dan begitu pandai membuat kehidupan keluarganya menjadi semakin ceria.
Tanpa terasa, kini usia kehamilan Adinda telah memasuki usia sembilan bulan lebih. Yang menandakan jika tak lama lagi, penerus dari keluarga Georgino yang berikutnya akan segera lahir.
Karena kehamilannya, membuat sebagian dari tubuh Adinda menjadi sedikit bengkak, terutama di bagian kaki hingga betisnya.
Melihat adanya perubahan pada tubuh sang istri, seringkali membuat Al merasa tak tega pada nya. Meski sebenarnya menurut Adinda apa yang terjadi pada dirinya adalah hal yang wajar yang dialami oleh wanita hamil. Namun tetap saja, sebagai seorang suami, Al tetap tak tega akan kondisi istrinya.
Dan seperti pada malam ini, daddy Al dengan penuh perhatian sedang memijiti kaki sang istri hingga betisnya itu dengan begitu lembut. Al sangat berharap jika perlakuannya akan dapat membantu rasa tak nyaman pada tubuh istrinya akibat dari kehamilannya.
" Mas, mas Al tidak lelah yang dari tadi terus memijat kaki Adinda ". Seru Adinda lembut.
" Tidak sayang, kenapa harus lelah?, kan aku memijat nya pelan - pelan, jadi tidak banyak tenaga yang aku keluarkan ". Sahut Al dengan tersenyum pada istrinya.
" Tapi sepertinya Adinda sudah lelah karena mas Al pijit terus ". Sahut Adinda lagi.
" Benarkah sayang, kamu lelah? ". Sahut Al, lalu dengan reflek nya pria berusia matang itupun melepas pijatan nya dari kaki sang istri.
" Pfft... hihihihi... ". Adinda pun berusaha menahan tawanya.
" Loh sayang, kok kamu malah tertawa sih?, kamu mengerjai mas ya? ". Sahut Al.
" Habisnya mas Al lucu ". Sahut Adinda lagi dengan masih menahan tawanya.
" Lucu?, lucu apanya sayang? ". Sahut Al lagi.
" Sudahlah mas, jangan dibahas lagi, Adinda sudah mulai ngantuk ini ". Sahut Adinda tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.
" Sayang, kamu masih belum menjawab pertanyaan ku, aku lucu?, aku lucu kenapa sayang? ". Sahut Al lagi yang ternyata masih begitu penasaran.
Dan Al pun ikut membaringkan tubuhnya itu di samping sang istri. Al memeluk tubuh istrinya itu.
" Sayang ". Seru Al.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Besok pagi kita akan pergi ke rumah sakit, apa kamu sudah benar - benar siap sayang? ". Seru Al.
Adinda lalu menatap wajah suaminya.
" InsyaAllah, mas ". Sahut Adinda dengan tersenyum.
Ya, pada persiapan untuk proses melahirkan saat ini, Al sudah memutuskan untuk membawa istrinya lebih awal ke rumah sakit. Bukan tanpa alasan Al melakukannya. Al hanya tak ingin jika kejadian saat proses melahirkan yang dialami oleh istrinya menjadi terburu - buru untuk dilarikan ke rumah sakit seperti sebelum - sebelumnya.
Sehingga dari hal itu, Al pun berinisiatif akan membawa sang istri lebih awal menuju rumah sakit, agar sang istri Adinda tak perlu lagi menaiki kendaraan lketika sudah tiba waktunya untuk melahirkan.
" Ya sudah kita tidur, besok kita bersiap - siap untuk pergi ". Seru Al pada akhirnya.
" Tapi mas, mas Al masih belum melihat anak - anak di kamar mama dan papa ". Sahut Adinda, karena jika ketiga anaknya sudah ingin tidur di kamar opa dan oma mereka, biasanya suaminya memastikan terlebih dahulu jika anak - anak sudah tidur.
" Sudah sayang, jangan khawatir, pasti anak - anak sedang tidur ". Sahut Al santai.
Mendapat sahutan yang seperti itu dari suaminya, Adinda pun akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan lagi. Lebih baik dirinya tidur untuk persiapan esok pagi, toh ketiga anaknya pasti sudah tidur sekarang.
__ADS_1
*****
Pagi yang indah nan cerah telah datang menyapa. Keceriaan di pagi ini begitu dirasakan oleh keluarga Georgino. Lebih tepatnya, si kecil Alexa serta si kakak Damian lah yang paling begitu merasakan senang. Mungkin karena pagi ini mereka akan segera pergi ke rumah sakit. Mungkin karena kedua anak itu sudah begitu tak sabar ingin segera melihat adik mereka lahir, sehingga menurut mereka bisa pergi ke rumah sakit adalah hal yang sangat menyenangkan. Maklum, namanya juga anak - anak, rumah sakit malah menjadi tempat menyenangkan.
" Alexa cucu opa, kamu cantik sekali sayang ". Puji Enriko pada cucu perempuannya yang sudah mandi dan menggunakan bajunya dengan rapi.
" Iya dung upa, Eca meman tantik, kan Eca cudah mandi, mandi na patai cabun wani ". Sahut si kecil Alexa dengan gaya bahasanya yang belepotan.
" Iya wangi dan sudah cantik, tapi sayang, bedaknya seperti hantu ". Timpal Damian yang menggoda sang adik.
" Ih, tatak dak celu, Eca itu tantik, dak peulti hantu ". Protes Alexa dengan mengerucutkan bibir mungilnya.
" Ih, diberi tahu tidak percaya ". Goda Damian lagi.
" Dak, potokna Eca tantik, dak peulti tatak Mian ". Sahut Alexa lagi yang ternyata masih tak terima.
" Sudah - sudah, cucu opa cantik kok, sini, kemarilah cucu opa ". Sahut Enriko pada akhirnya agar kedua cucunya itu tak saling berselisih.
Setelah itu, Damian hanya tersenyum geli melihat raut merengut adiknya. Damian memang sangat menyayangi adiknya Alexa, namun ia juga tak jarang suka menjahili sang adik karena bentuk keingindekatannya.
" Ayo semuanya, kita keluar ". Seru Devina pada akhirnya setelah segala sesuatunya telah siap.
" Ayo ". Sahut mereka semua kompak.
Dan akhirnya, sepasang opa dan oma, serta ketiga cucunya itu keluar bersama sebelum akhirnya menemui kamar Al dan juga Adinda.
Dan disaat mereka telah keluar dari dalam kamar, disaat itu pula Al dan juga sang istri Adinda telah keluar juga dari kamar mereka.
" Daddy, mommy ". Seru ketiga anaknya.
" Sayang ". Sahut Adinda.
" Mommy daddy endong ". Pinta Alexa dengan mengangkat kedua tangan mungilnya.
" Putri daddy ingin di gendong hem? ". Sahut Al, lalu pria bertubuh tinggi itupun membawa tubuh mungil putrinya ke dalam gendongannya.
" Bagaimana, kalian sudah siap? ". Seru Devina.
" Sudah ma ". Sahut Al.
" Ya sudah kalau semuanya sudah siap, kita berangkat sekarang ". Timpal Enriko dan diangguki oleh semuanya.
Dan akhirnya, keluarga Georgino itupun kompak keluar bersama menuju rumah sakit. Dan kini, di kediaman besar Alexander itu, hanya menyisakan para asisten rumah tangga serta para bodyguard saja.
*****
Rumah sakit keluarga Georgino
Di sebuah ruangan perawatan khusus kini keluarga Georgino itu berada. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya keluarga itupun bisa beristirahat.
" Adinda, bagaimana nak, apa yang kamu rasakan dalam beberapa waktu dekat ini? ". Seru Devina setelah menantunya itu berbaring di kasurnya.
" Tidak jauh berbeda seperti kehamilan sebelum - sebelumnya ma. Untuk saat ini yang Adinda rasakan adalah sudah cukup sering merasakan sakit di bagian pinggang ma ". Sahut Adinda, karena memang itulah yang akhir - akhir ini dirinya rasakan.
" Dokter Nita ". Panggil Devina pada dokter kepercayaannya.
" Iya nyonya ". Sahut sang dokter.
" Menurutmu bagaimana?, kira - kira kapan kedua cucuku ini akan segera lahir? ". Tanya Devina.
__ADS_1
" Setelah saya periksa, dapat saya prediksi jika nyonya Adinda akan melahirkan sekitar tiga atau empat hari lagi nyonya, tapi juga tidak menutup kemungkinan jika nyonya Adinda akan melahirkan lebih awal dari waktu yang sudah saya prediksikan ". Sahut dokter Nita dengan segala pengetahuannya.
" Huum, baguslah, itu artinya, keputusan untuk membawa Adinda ke rumah sakit lebih awal adalah keputusan yang tepat ". Sahut Devina.
" Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu tuan nyonya ". Pamit dokter Nita pada akhirnya.
Dan kini, di ruangan VVIP itupun hanya ada keluarga Georgino saja.
" Anak - anak daddy ". Panggil Al.
" Iya daddy ". Sahut ketiganya kompak.
" Kenapa semenjak ada dokter masuk ke ruangan ini kalian menjadi diam, ada apa, apa yang terjadi pada kalian? ". Tanya Al.
" Ya tidak apa - apa daddy, kita hanya mau mendengarkan penjelasan dokter saja, itulah kenapa kita diam ". Sahut si kecil Aganta yang terkenal sangat irit bicara itu.
" Benarkah Alexa, Damian?, kalian juga merasakan seperti itu? ". Lanjut Al lagi.
" Kalau Damian sih kurang lebih sama seperti Aganta daddy, tapi kalau adik Alexa, Damian tidak tahu ya ". Sahut Damian.
" Kalau Alexa kenapa sayang, kenapa dari tadi tidak ada suara sama sekali, biasanya yang paling banyak berceloteh kan Alexa? ". Lanjut Al lagi.
" Emm... emm... ". Hanya suara itulah yang bisa di dengar oleh semua orang di ruangan itu.
" Emm?, emm kenapa sayang? ". Tanya Al.
" Talna Eca tatut daddy, Eca tatut di tuntik ". Jujur Alexa pada akhirnya.
" Hahahaha... ". Semua orang di ruangan itupun menjadi tergelak setelah mendengar jawaban dari Alexa.
Jadi itulah sebabnya Alexa sedari tadi hanya diam saja, jadi karena takut di suntik.
" Hahahaha... aduh, cucuku - cucuku, pantas saja kenapa sedari tadi kamu diam saja, ternyata karena takut di suntik, ternyata hanya dokter yang paling bisa membuatmu diam hihihihi... ". Seru Devina yang masi dia h dengan gelak tawanya.
Semua orang di ruangan itu benar - benar merasa sangat gemas dengan tingkah polos Alexa. Ada - ada saja tingkah Alexa.
" Lihat Al, anak - anakmu ini, paling bisa membuat suasana menjadi ramai, untung saat ini hal lucu yang membuat ramai, bagaimana kalau yang membuat ramai adalah hal yang memusingkan, bisa kewalahan mama dan papa ". Seru Enriko dengan tawanya yang sudah reda.
" Iya pa, papa benar sekali, mereka bertiga selalu bisa membuat suasana menjadi ramai. aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kalau sepasang anak kembarku sudah lahir, pasti akan semakin ramai dan suasa rumah menjadi tak pernah sepi ". Sahut Al.
" Itu gara - gara kamu sendiri Al ". Timpal Devina.
" Gara - gara Al, kok gara - gara aku sih ma? ". Tanya Al yang tak terima.
" Ya memang gara - gara kamu, kamu sih terlalu doyan buat anak, jadinya ramai seperti ini kan ". Sahut Devina pada akhirnya.
" Pfftt... pfftt... ". Enriko pun berusaha menahan tawanya.
Mendengar sahutan yang begitu menohok dari mama nya, sontak membuat Al pun menjadi merasa tersindir. Namun tak lama dari itu, Al pun mencebikkan bibirnya.
" Mama menyindirku karena aku doyan, tapi mama sendiri senang kan karena punya banyak cucu, dan perlu mama ingat, jika bukan karena doyan, mama dan papa tak mungkin memiliki cucu sebanyak ini ". Sahut Al pada akhirnya yang tak kalah menyindir.
Adinda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, sontak merasa sangat malu. Adinda menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya itu. Adinda merasa malu pada semua orang yang ada di ruangan itu karena ucapan suaminya yang begitu intim. Ada - ada saja suaminya ini.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1