Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Tak Menyukai Sintia


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sang mentari mulai menyingsing menyinari setiap celah bumi. Suhu hangatnya menghantarkan energi positif pada setiap makhluk di bumi. Tak terkecuali pada sang daddy dengan tiga malaikat kecil yang sedang bersamanya menikmati hangatnya sinar mentari pagi.


Pagi yang hangat ini, Al bersama ketiga anaknya di halaman belakang rumahnya yang begitu luas, untuk menikmati kehangatan mentari pagi.


Al mencoba menghangatkan tubuh mungil putrinya yang terlelap itu di bawah hangatnya mentari pagi. Daddy dengan tiga orang anak itu nampak begitu sudah terlatih menggendong tubuh mungil putrinya.


Bukan hal yang baru memang jika Al bisa menggendong bayinya, karena pria bertubuh kekar itu memang sudah sangat pintar dalam hal menggendong anak mungkin berkat hadirnya kedua putra kembarnya, membuat Al telah terbiasa menggendong anak - anak maupun yang masih bayi.


Al begitu semangat menjemur tubuh mungil putrinya di bawah teriknya mentari pagi yang begitu hangat ini, ia berharap dengan rutin menjemur tubuh mungil putrinya seperti ini dapat membantu mendapatkan vitamin D alami, yang pastinya sangat baik untuk pertumbuhannya.


" Neeennn...neeennn... neeennn... ". Si kecil Damian menirukan suara sepeda motor saat berputar - putar dengan sepeda ayunnya.


" Ayo Anta, tedal ( kejar) atu ". Seru Damian di saat bocah kecil itu menyalip Aganta.


" Ote, capa tatut ". Sahut Aganta yang menerima tantangan dari sang kembaran.


Dan benar saja, kedua bocah kembar itu pun sama - sama semakin bersemangat mengayunkan sepedanya. Halaman yang begitu luas dengan dipenuhi rerumputan hijau yang begitu rapi dan terawat, membuat si kembar sangat diuntungkan dalam bermain sepeda.


Al sang daddy yang melihat kedua putranya saling berbalapan mengayun sepeda, merasa sedikit khawatir. Bagaimana jika kedua putranya itu sampai terjatuh?, meski tak akan cidera saat terjatuh, namun tetap saja apa yang dilakukan mereka sangat berbahaya untuk mereka.


" Aganta, Damian, hati - hati boy, biasa saja mengayun sepedanya, itu berbahaya ". Seru Al dengan suara yang tak terlalu kencang karena tak ingin baby Alexa menjadi terganggu.


Namun kedua bocah kembar itu malah tak menghiraukan kalimat sang daddy, mereka tetap asyik saling berbalapan.


" Aganta, Damian, kalian mendengar daddy tidak?, pelan - pelan saja naik sepedanya, itu berbahaya kalau terus dilanjutkan, ayo kalian menurut sama daddy boy kalau kalian masih ingin naik sepeda ". Seru Al pada akhirnya.


Dan ternyata benar, setelah mendapat peringatan dari sang daddy, akhirnya kedua bocah kembar itupun mulai kembali mengayunkan sepeda mereka seperti di awal.


" Tamu cih minta balap - balap, dadi na, dak boleh tan cama daddy ". Ucap Aganta yang sedikit merasa kesal dengan Damian.


Damian tak menyahuti ocehan saudaranya, ia paham jika dirinya melakukan kesalahan, jadi Damian pun tak menyahut. Lalu dengan beriringan kedua bocah itupun mengayunkan sepedanya masing - masing mendekati sang daddy yang sedang menggendong adik Alexa nya.


" Akhirnya kalian kesini juga ". Seru sang daddy Al yang merasa sedikit tenang.


" Kalian tadi balapan, kenapa balapannya sampai sekencang itu, itu berbahaya nak, daddy tidak melarang kalian untuk balapan, tapi balapannya harus biasa - biasa saja ya, yang kalian lakukan sangat berbahaya nak, bisa menyebabkan kalian terjatuh, jadi kalau mau balapan yang biasa - biasa saja ". Jelas Al yang menasihati kedua anak kembarnya.


Aganta dengan Damian pun mengangguk saja. Mereka tak ingin membela diri, karena mereka sadar, apa yang dilakukan tadi bisa menuai hal buruk yang tak diinginkan.


" Daddy tita mau tium adik Eca daddy ". Seru Damian.


" Baiklah, ayo ini ". Sahut Al dengan membungkukkan tubuhnya agar putranya Damian bisa mencium adiknya.


" Aganta mau cium juga? ". Tawar Al.


" Iya daddy, Anta mau tium duda ". Sahutnya.


" Emmm... adik Eca wani cetali ". Seru Aganta setelah berhasil mencium adik bayinya.


" Wangi ya boy?, padahal adiknya masih belum mandi loh hihihihi... ". Ucapnya cekikikan.


" Dak apa daddy talo adik Eca na dak mandi, adik Eca na macih wani tok ". Sahutnya lagi, karena itulah yang Aganta rasakan.

__ADS_1


" Hahahaha... iya benar sekali kamu boy, adik Alexa kalian tetap selalu wangi ". Sahut Al tertawa. Memang kedua anaknya ini memang lah sangat menyayangi Alexa.


" Ayo Anta, tita main peda ladi ". Ajak Damian.


" Ayo ". Sahut Aganta.


Merasa telah puas mencium sang adik, kedua bocah kembar itupun kembali bermain sepeda. Mereka bermain dengan gembira ria, namun sesekali mereka juga datang menghampiri sang daddy untuk mencium adik Alexa lagi.


Jika sang daddy dengan ketiga anaknya sedang menikmati hangatnya pagi hari di halaman belakang rumahnya, maka beda halnya dengan Adinda yang saat ini masih membaringkan tubuhnya di kasur empuknya.


Meski sekarang sudah memasuki hari ke sepuluh pasca melahirkan dan tenaga Adinda pun sudah pulih kembali, namun tak membuat luka pasca melahirkannya sembuh. Adinda masih membutuhkan cukup banyak waktu untuk beristirahat sehingga tubuhnya benar - benar Vit secara utuh.


Tok... tok... tok... ceklek... pintu kamarnya pun ada yang membukanya.


" Sayang, ayo sarapan dulu nak, ini mama sudah siapkan sarapan khusus untukmu ". Seru Devina mendekat dengan sebuah nampan yang sudah berisi menu sarapan untuk menantunya.


" Terima kasih ma... tapi... mama jangan seperti ini lagi ya, Adinda bisa kok ma kalau ambil sarapan sendiri, jangan mama terus yang menyiapkan ". Sahut Adinda, ia merasa tak enak hati karena mama memperlakukannya bak seorang putri.


Devina tersenyum getir setelah mendengar sahutan dari menantunya. Memorinya teringat akan di mana dulu dirinya memperhatikan menantu yang salah, yang seharusnya sama sekali tak pantas untuk mendapat perhatiannya.


Devina lalu meletakkan hidangan yang dibawanya itu di meja yang ada di sana, lalu wanita paru baya itupun mendekati menantunya. Devina memeluk Adinda dengan erat. Ia memeluk menantu kesayangannya. Seorang menantu yang berhati sangat baik.


" Ada apa ma, apa terjadi sesuatu? ". Seru Adinda, ia merasa bingung karena tiba - tiba mama mertuanya memeluk.


" Mama sangat bersyukur sayang, karena kamulah satu - satunya menantu mama, mama tidak tahu lagi apa jadinya jika Al beristrikan wanita lain, apalagi sama si mantan istrinya yang dulu itu, mama benar - benar tidak bisa membayangkan itu, pasti keluarga ini akan terus dimanfaatkan oleh perempuan seperti itu ". Seru Devina dengan rasa kengerian nya.


Adinda mulai memegang lengan mamanya. Ia paham jika masih sulit bagi mama mertuanya itu bisa melupakan hal tak baik yang terjadi beberapa tahun yang silam, dan itu pastilah masih sangat membekas.


" Ya Allah, mama sampai lupa nak, sekarang kan waktunya kamu sarapan ". Sentaknya sendiri.


" Ayo sayang, kamu sarapan dulu ". Serunya.


" Biar Adinda sendiri yang makan ma, mama temani Adinda saja di sini ". Pinta Adinda pada mama mertuanya lalu iapun meraih sarapannya itu dari tangan sang mama.


" Di habiskan sarapannya nak, jangan seperti kemarin masih ada sisa ". Peringat Devina dan hanya direspon senyuman oleh Adinda.


Adinda memakan sarapannya itu dengan begitu lahap, tak seperti kemarin, rupanya pagi ini moodnya sedang baik. Mommy muda dengan tiga orang anak itu terus makan hingga makanan di piringnya tandas tak tersisa.


" Ini minumannya ". Devina pun memberikan segelas air putih yang tadi.


Ingin segera menetralkan tenggorokannya, Adinda pun meminum segelas air putih itu hingga hampir habis dan hanya menyisakan sedikit saja.


" Emm... alhamdulillah, terima kasih ma ". Seru Adinda setelah mengusap bibirnya.


" Sekarang kamu makan buah - buah yang sudah mama potong ini, cepat ambillah sayang ". Suruh Devina lagi.


Adinda pun menurut saja, karena memang itulah yang biasa mama mertuanya berikan. Adinda ingin memakan potongan buah - buahan itu dengan garpu yang sudah tersedia di piringnya, hingga...


Drtt... drtt... drtt...


Suara getaran handphone miliknya pun telah berhasil mengalihkan perhatian sepasang mertua dengan menantunya.


" Adinda, angkat dulu itu handphone mu nak, siapa tahu penting ".


" Iya ma ".

__ADS_1


Adinda melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya, dan ternyata kakak Sintia nya lah yang melakukan panggilan video padanya.


" Siapa nak? ". Tanya Devina yang penasaran.


" Emm... kak Sintia ma ". Sahutnya kikkuk.


Devina yang mendengar nama yang sudah lama tak pernah ia dengar mendadak langsung berubah rautnya. Masih sama seperti dulu, Devina masih tak menyukai Sintia. Setiap kali mendengar namanya, pastilah yang dirinya ingat adalah kelicikan dan kebohongannya. Benar - benar memuakkan.


" Ya sudah, kamu angkat saja telfon dari wanita yang tak tahu diri itu, siapa tahu penting, atau dianya yang merasa sok - sokan ingat sama kamu ". Cebik Devina.


Meski mama mertuanya tak suka pada kak Sintia nya, tak ada alasan bagi Adinda untuk menolak panggilan video itu.


" Halo kak, assalamualaikum ". Sapa Adinda senang, akhirnya kakak sepupunya itu menghubunginya juga.


" Waalaikumsalam Adinda, bagaimana kabarmu? ". Sahut Sintia dari balik layar ponselnya.


" Alhamdulillah baik kak, Adinda baik, dan semua keluarga juga baik ". Sahutnya.


" Adinda aku dengar kamu sudah melahirkan, anak ketiga mu perempuan, ibu yang bilang sama aku, selamat ya atas kelahiran putrimu ".


" Iya kak terima kasih ". Sahut Adinda senang.


Devina yang mendengar bagaimana Sintia merasa peduli dengan kondisi Adinda benar - benar merasa muak dibuatnya.


" Sok - sokan menanyakan kabar dan mengucap selamat, memangnya benar itu dari hati paling dalam ". Batin Devina.


Rupanya Devina masih tak menyukai Sintia, perbuatan licik yang pernah dilakukan oleh mantan menantunya itu sangat sulit untuk ia lupakan.


Meski menurut pengakuan putranya Sintia sudah benar - benar berubah, nyatanya masih membuat Devina tak percaya.


" Kak, kakak usia kehamilannya sudah berusia berapa bulan? ". Lanjut Adinda.


" Alhamdulillah sudah masuk tujuh bulan ". Sahut Sintia.


" Alhamdulillah, akhirnya Kenzie mau punya adik juga ". Sahut Adinda senang.


" Iya, kamu benar sekali, bahkan semenjak perutku mulai membesar, Kenzie itu tak henti - hentinya memeluk Adinda, bahkan kemana - mana selalu ingin pegang perutku, bagaimana aku tidak pusing? ". Bingung Sintia.


" Hihihihi... ternyata Kenzie tidak beda jauh sama Aganta dan Damian kak, mereka dulu juga tak henti - hentinya pegang perut Adinda saat tahu mommy mereka hamil ".


" Iya kamu benar Adinda, tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga anak - anak ". Sahutnya pasrah.


Devina yang merasa bosan dengan kalimat Sintia, akhirnya pun mencoba menyibukkan diri dengan mengalihkan perhatiannya membaca majalah, sepertinya seru juga jika membaca majalah.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.


* Duda Kaya Itu Suamiku *


* Duda Kaya Itu Suamiku *


Jangan lupa di baca juga ya hehehe...


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2