Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Keinginan Suami


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Dua sorotan tajam sepasang mata pria begitu terlihat mengintimidasi. Suasana dingin yang begitu mencekam nampaknya begitu memenuhi ruangan mewah nan elegan itu.


Semua kejadian yang begitu tak mengindahkan pandangan dan pendengaran telah terjadi begitu saja yang telah terekam dari balik cctv pengintai miliknya.


" Cepat kamu minta maaf pada Vita ". Perintah Andrew.


Mendengar perintah dari tuan Andrew, seketika itu Silvi mengangkat kepalanya yang tadi sempat menunduk. Silvi menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh tuan Andrew nya, yang menyuruhnya untuk meminta maaf pada Vita, dan itu artinya disini dirinyalah yang dianggap bersalah.


" Tuan menyuruh saya meminta maaf pada wanita ini? ". Tanya Silvi dengan mengarahkan pandangannya pada Vita.


" Jaga bicaramu Silvi, wanita yang ada di sampingmu ini memiliki nama ". Sahut Andrew yang merasa tak terima.


" Tapi tuan, kenapa saya harus meminta maaf?, seharusnya dia yang diusir dari kantor ini ". Sahut Silvi yang tak terima.


" Silvi kamu ini benar - benar tidak memiliki sopan santun, kamu tadi sudah bersikap tidak baik pada Vita, maka kamu harus meminta maaf padanya ". Ujar Andrew dan kali ini nadanya sudah mulai meninggi.


" Maaf tuan, tapi salah saya dimana, bukankah aturan perusahaan sudah jelas, orang yang hanya dengan tingkat pendidikan hingga lulus SMA sama sekali tidak bisa bekerja di bagian devisi apapun di perusahaan ini, kalaupun boleh bekerja di perusahaan ini, pasti itu hanya menjadi OG dan OB ". Sahut Silvi lagi.


Andrew yang mendengar kelancangan dari jawaban Silvi pun menjadi sangat geram padanya.


" Jaga bicara mu Silvi, cepat sekarang juga kamu harus meminta maaf pada Vita! ". Perintah Andrew lagi.


" Tuan Andrew, mohon maaf sebelumnya, bukannya saya lancang, tapi saya harus tetap mengatakan ini, bagaimana bisa saya di suruh meminta maaf padanya, sedangkan saya tidak melakukan kesalahan apapun, saya hanya mengikuti aturan perusahaan, dan dalam aturan perusahaan sudah jelas di terangkan bahwa orang yang akan bekerja di kantor ini, tidak bisa orang yang hanya lulusan SMA ". Seru Silvi menjelaskan dengan rasa tak terimanya.


Dua kali sudah Andrew mendengar maksud kalimat yang sama dari Silvi, tapi yang membuat Andrew heran adalah darimana Silvi tahu kalau Vita hanya mengenyam pendidikan hingga bangku SMA?.


" Mohon maafkan saya tuan Andrew, saya tidak bisa meminta maaf pada Vita, karena yang saya katakan berdasarkan aturan perusahaan ". Sahut Silvi tetap pada pengakuannya.


Jujur saja Vita yang mendengar setiap rangkaian kata yang telah keluar dari kedua belah bibir Silvi, merasa sangat sedih, apa yang di katakannya benar - benar telah menyayat hati dan menjatuhkan harga dirinya, namun harus bagaimana lagi, apa yang dikatakan oleh Silvi tidaklah salah.


Dan semenjak Vita berada di dalam ruangan tuan Andrewnya, ia hanya bisa menunduk, bahkan kini kedua manik matanya sudah mulai berembun.


" Baiklah, jadi kamu tetap tidak mau meminta maaf Silvi? ". Tanya Andrew lagi.


" Iya tuan, saya tidak bisa meminta maaf, karena saya tidak bersalah, saya mengatakan hal yang sesuai dengan aturan perusahaan ". Sahut Silvi tetap pada keputusannya.


" Apakah kamu tahu siapa itu Vita?, Vita itu adalah saudara dari istri tuan..... ". Belum sempat Andrew menyelesaikan kalimatnya, tiba - tiba saja...


" Tidak tuan, tuan Andrew tidak perlu membela saya lagi, terima kasih karena tuan sudah mau membela saya, tapi apa yang dikatakan oleh Silvi memanglah benar, seharusnya saya tidak bekerja di perusahaan ini ". Sahut Vita dan kini ia sudah menjatuhkan air matanya.


Andrew yang menyaksikan Vita menangis di depannya begitu sangat tersentak, ia tak menyangka akan ada masalah yang cukup menguras emosi di waktu menjelang siang ini.


" Maafkan saya tuan Andrew, untuk menghindari kesalah pahaman dan tetap terjaganya kedisiplinan aturan dalam bekerja, saya rasa lebih baik saya memang harus mengundurkan diri, permisi tuan saya pamit keluar ". Ucap Vita sedih, dan ia pun berlalu pergi dari ruangan itu.


" Vita, kamu mau kemana Vita, kamu tidak bisa keluar begitu saja Vita, tunggu Vita...! ". Panggil Andrew yang berusaha menahan agar Vita tak pergi.


Namun Vita sama sekali tak menghiraukan seruan Andrew, ia terus melangkahkan kakinya bahkan dengan sedikit berlari dari ruangan yang menurutnya sangat menjatuhkan harga dirinya itu.


Sedangkan Silvi jangan ditanya lagi, ia cukup senang karena Vita akan mengundurkan diri dari perusahaan ini, sebuah perusahaan berkelas tinggi yang menurutnya sangat tidak pantas untuk menampung pekerja seperti Vita.


" Silvi, kamu benar - benar kurang ajar Silvi, apakah kamu tahu siapa itu Vita?, Vita itu adalah saudara dari istri tuan Alexander, dia ada dan bekerja di kantor ini, adalah atas dasar permintaan tuan Alexander ". Sentak Andrew pada Silvi, dan setelah itu ia langsung berlalu pergi dari ruangannya.


Deg..... bak disambar petir di siang bolong, Silvi membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, ia sangat terkejut bukan main, apa yang baru saja terjadi akan bisa jadi bumerang bagi dirinya sendiri.


" Ya ampun bagaimana ini?, jadi Vita adalah saudara dari istri tuan Al, tapi bagaimana bisa?, kalau itu memang benar aduh gawat ini ". Gumam Silvi yang merasa takut.


Setelah mendapatkan perlakuan yang kurang begitu mengenakkan dari sesama karyawan, kini Vita terduduk di ruangannya.


Tak ingin berlama - lama berada di ruangan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan, kini Vita mulai menata berkas - berkas yang tidak lagi akan ia selesaikan.


Dengan perasaannya yang masih dibalut kesedihan, Vita pun mengambil tasnya dan akan keluar dari ruangannya itu.

__ADS_1


" Ya memang benar, tempat mewah ini memanglah tidak diperuntukkan bagi orang yang tidak berkelas sepertiku, aku harus pergi dari kantor ini, lebih cepat lebih baik ". Batin Vita sedih.


Namun, belum sempat Vita melangkahkan sepasang kaki jenjangnya, tiba - tiba saja terdengar seperti suara pintu yang dibuka.


Kriett..... nampak sosok tuan Andrew nya telah memasuki ruangannya.


" Mau kemana kamu Vita? ". Tanya Andrew tegas.


" Maafkan saya tuan, tapi saya rasa saya harus berhenti bekerja dari perusahaan ini, terima kasih atas kebaikan tuan Andrew pada saya selama saya bekerja di kantor ini, tapi saya rasa inilah yang terbaik tuan, saya akan berhenti bekerja dari perusahaan ini ". Sahut Vita dengan tatapan sendunya.


" Tidak bisa, kamu tidak bisa berhenti begitu saja dari perusahaan ini, kamu sudah tanda tangan kontrak Vita, jika kamu berhenti bekerja di perusahaan ini sebelum masa kerja tiga bulan, maka kamu wajib membayar denda sebesar 1 milyar ". Kilah Andrew yang sedang menakuti Vita.


" Apa? ". Pekik Vita, dengan rasa terkejutnya yang begitu luar biasa.


Vita tak percaya dengan apa yang didengarnya, bagaimana bisa dirinya harus membayar ganti rugi sebesar itu, padahal seingatnya ia hanya langsung masuk bekerja dan tidak melakukan kontrak apapun.


" Tapi tuan, bagaimana bisa saya harus membayar denda sebesar itu, seingat saya, saya tidak pernah menandatangani kontrak apapun ". Sahut Vita yang berusaha menjelaskan.


" Apa kamu kira perusahaan ini bodoh, perusahaan ini bukanlah perusahaan ayahmu, jadi kamu tidak bisa keluar masuk begitu saja dari perusahaan ini, jika kamu ingin berhenti dari perusahaan ini, maka kamu harus membayar denda itu ". Ancam Andrew.


Jujur saja, Andrew merasa sangat gemas dengan wajah terkejut Vita, menurutnya ekspresi wajahnya itu sangatlah lucu.


" Ternyata mengerjai mu, menyenangkan ya Vita ". Batin Andrew.


*****


Malam yang indah dengan banyaknya taburan bintang - bintang yang begitu bertebaran indah menghiasi indahnya langit malam, begitu memanjakan sepasang bola mata cantik sosok wanita yang kini telah memandang dengan penuh rasa kagum pada indahnya langit malam.


Disinilah kini dirinya berada, si sebuah villa mewah milik suaminya. Gadis yang selalu setia menggunakan hijab untuk menutupi rambut indahnya itu, seolah tak pernah henti menatap kagum kearah langit malam dengan banyak nya cahaya bintang yang menghiasi.


Desiran ombak yang saat ini saling berhadapan dengan langit malam, seolah mendatangkan adanya keromantisan akan sepasang suami istri itu yang saat ini sedang menikmati waktu spesialnya untuk melengkapi kebahagiaan yang selama ini telah tertunda.


Merasa telah cukup memandang indahnya langit, kini wanita berhijab itu mulai menutup kembali tirai indah yang menutupi benda padat nan bening itu.


Hingga sesaat setelah ia menutup jendelanya, ia merasa seperti ada sebuah lengan kekar yang dengan begitu lembutnya telah melingkar dan merengkuh bagian perutnya. Dan ia tahu siapa pemilik lengan kekar itu.


" Sayang, ini sudah malam, apa kamu tidak ingin tidur bersamaku? ". Tanya Al pada sang istri.


Adinda membalikkan tubuhnya untuk mengarah menghadap sang suami.


" Mas, mas Al sudah ingin tidur? ". Tanya Adinda lembut.


" Heem, aku ingin tidur, aku ingin tidur dengan ditemani istri ku ". Sahut Al, dengan menatap lekat wajah sang istri.


Tidak ada sahutan dari Adinda, ia hanya diam dengan menatap wajah suaminya.


Cup..... Al memberikan satu kecupan lembut di kening Adinda.


" Sayang, bolehkah aku menggendong mu? ". Tanya Al dengan tetap menatap istrinya.


Adinda masih diam. Jujur saja dalam benaknya saat ini, Adinda merasa ada sesuatu yang tak biasa dari suaminya.


Tatapan sendu dan penuh harap dari sosok yang masih merengkuh tubuh mungilnya itu, begitu terlihat nyata dalam pandangannya.


Tidak biasanya suaminya ini meminta izin agar bisa menggendong tubuhnya, bukankah biasanya suaminya akan langsung menggendong nya tanpa meminta persetujuan dulu darinya, lalu mengapa sekarang malah meminta izin?.


" Sayang, kamu tidak mau aku gendong? ". Tanya Al dengan tatapannya yang terlihat sedikit kecewa.


" Mas, kenapa mas meminta izin untuk menggendong Adinda, bukankah mas bisa melakukannya tanpa harus meminta izin? ". Sahut Adinda dengan nada lembutnya.


Ya, Al sepertinya saat ini sedikit bersikap tak biasa. Bukan tanpa sebab dirinya melakukan hal ini, Al tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu yang telah membuat istrinya mengalami trauma menjadi terulang kembali.


Sepertinya Al akan mengingkari janjinya sendiri. Janji yang pernah ia ucapkan untuk tidak meminta hak nya sebagai seorang suami sebelum istrinya Adinda bisa dengan ikhlas memberikannya. Salahkah jika dirinya saat ini harus sedikit egois?.


Sedangkan Adinda yang mendapati suaminya masih dalam keadaan diam merasa sedikit khawatir.

__ADS_1


" Mas, mas Al boleh kok menggendong Adinda ". Sahut Adinda dengan tersenyum.


Mendapat respon yang baik dari sang istri, membuat Al tak ingin melewatkan kesempatan yang baik ini.


Al langsung menggendong tubuh mungil istrinya itu menuju kasur empuknya.


Cup... cup... cup...


Kecupan demi kecupan dari Al telah bertubi - tubi mendarat di kening istrinya Adinda. Langkah demi langkah pun telah berhasil Al lalui, hingga kini dirinya berada di sisi ranjang dan meletakkan tubuh berharga istrinya itu dengan lembut, seolah Al tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada tubuh istrinya.


Al pun ikut menaiki kasur empuknya itu untuk menemani sang istri. Dan tak cukup sampai di sana, Al kini mulai melepas hijab istrinya.


Dan kini, tatapan Al terarah pada belahan bibir peach milik sang istri yang telah begitu menjadi candu baginya.


Al mencium bibir Adinda dengan begitu lembut dan mendamba. Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi menuntut.


Al masih terus melanjutkannya, hingga kini sepasang tangannya pun seolah tak tinggal diam menyentuh dan meraba dua gundukan empuk yang begitu memanjakan kedua tangannya.


Kedua belah bibir mereka masih tetap saling berpagutan, hingga dirasa sang istri mulai mencari - cari akan adanya pasokan oksigen, barulah Al melepas pagutan bibirnya.


Al memandang wajah manis istrinya itu, tatapan sendu sang istri, benar - benar telah membuatnya ingin segera memiliki istrinya itu dengan sepenuhnya.


Cup.... sebuah kecupan yang begitu dalam telah ia berikan pada kening istrinya.


" Sayang ". Seru Al dengan suaranya yang sudah terdengar serak.


" Iya mas ". Sahut Adinda lembut.


" Bolehkah aku meminta hak ku sebagai seorang suami? ". Seru Al pada akhirnya.


Deg..... Adinda benar - benar sangat tertegun dengan permintaan suaminya. Ini adalah suatu permintaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


Adinda kira suaminya hanya akan melakukan hal sampai batas ini saja, sama seperti yang biasanya suaminya lakukan di malam - malam sebelumnya, namun sepertinya malam ini akan lebih dari itu, suaminya benar - benar telah meminta hak nya sebagai seorang suami secara utuh.


Adinda masih menatap wajah suami dengan begitu dalam, sangat terlihat jelas dari sorot matanya jika suaminya itu begitu manahan kabut gair*h yang begitu ingin untuk segera disalurkan.


" Kamu belum siap ya sayang? ". Tanya Al lagi, dan kini tatapan matanya berubah menjadi sedikit kecewa.


" Ya sudah kalau kamu tidak siap, aku tidak akan memaksa ". Seru Al lirih, dan ia pun mulai akan beranjak dari atas tubuh istrinya.


Namun disaat Al mulai akan memindahkan tubuhnya, tiba - tiba saja sebuah tangan mungil milik sang istri berusaha menahan pundak kekar miliknya seolah tak ingin sang pemilik tubuh kekar itu berpindah dari posisi sebelumnya.


" Mas ". Seru suara lembut sang istri yang begitu terdengar mendayu - dayu di telinganya.


" Sayang ". Sahut Al dengan menatap wajah istrinya.


" Jika mas Al, menginginkan hak mas sebagai seorang suami, Adinda ikhlas akan memberikannya mas ". Seru Adinda pada akhirnya.


" Sayang ". Seru Al lirih yang masih tak percaya dengan pernyataan istrinya.


Adinda tersenyum pada sang suami.


" Mas, Adinda akan menunaikan kewajiban Adinda sebagai seorang istri pada suaminya, tapi Adinda mohon satu hal sama mas, tolong mas jangan bersikap brutal lagi ya, Adinda takut mas kalau mas seperti itu ". Ujar Adinda dengan segala perasaan nya.


Al tersadar, Al memahaminya sekarang, ternyata yang membuat istrinya trauma di malam itu adalah perbuatannya sendiri.


Cup..... satu kecupan kembali mendarat di kening istrinya.


" Aku janji sayang, aku akan melakukannya dengan lembut ". Sahut Al.


Dan Al pun kini mulai melanjutkan aksinya kembali. Al kembali mencium bibir peach milik istrinya......


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya πŸ™β€β€β€

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2