
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Ya Allah, ada apa ini nak? ". Tanya bu Nadia setelah dirinya dan juga Adinda sampai di tepi kebun.
" Mam, mam, mam, mam ". Seru Damian pada sang mommy seolah bayi gembul itu tak ingin berlama - lama duduk di bawah yang mana juga ada Sintia yang masih ada di bawah.
Adinda pun meraih tubuh Damian untuk ia bawa dalam gendongannya begitupun dengan Al, ia juga meraih tubuh gembul Aganta untuk ia rangkul dalam gendongannya.
Setelah mendengar celotehan dari sang putra yang seolah ingin mengadu jika ia dan juga kembarannya sedang tidak baik - baik saja membuat Adinda menjadi merasa sangat khawatir.
Cup... cup... Adinda mencium kening Damian dan juga Aganta secara bergantian.
" Mas ". Seru Adinda pada sang suami seolah dari seruannya itu mengisyaratkan jika dirinya dan juga kedua anaknya sedang membutuhkan perlindungan.
" Tenang sayang, semuanya baik - baik saja ada aku disini ". Sahut Al.
" Aduh bu sakit, kaki ku sakit, pinggang ku juga sakit bu hu hu ". Seru Sintia dengan wajah memelasnya.
Al begitu sangat senang melihat Sintia meringis kesakitan seperti ini, nasib buruk yang menimpa Sintia seperti sebuah hiburan untuknya.
" Sebenarnya apa yang terjadi?, kenapa kamu sampai seperti ini? ". Tanya bu Nadia lagi.
" Aduh ibu, anak jatuh seperti ini bukannya ditolong malah ditanya - tanya Sintia sakit sekarang bu ". Seru Sintia dengan rasa sakit yang sudah tak tertahankan.
Mendengar keluhan dari sang putri akhirnya bu Nadia pun mencoba menolong putrinya, namun nampaknya bu Nadia kesulitan untuk membuat tubuh Sintia menjadi tegak lebih tepatnya Sintia tidak bisa berdiri.
Adinda yang melihat bibinya kesulitan membantu kakak sepupunya itu membuat Adinda menoleh pada sang suami, dan Al pun mengerti maksud dari istrinya itu, Adinda ingin agar suaminya lah yang menggantikan bibinya untuk membantu Sintia.
" Bi, biar mas Al saja yang membantu kak Sintia, bibi menggantikan mas Al menggendong Aganta ya ". Seru Adinda pada sang bibi.
" Terima kasih nak ". Sahut bu Nadia.
Al pun memindahkan tubuh gembul Aganta pada bibi mertuanya. Jujur saja sebenarnya Al sangat tak sudi jika harus menolong Sintia, namun harus bagaimana lagi demi sang istri ia akan melakukan apapun.
" Kamu berpegangan pada ku ". Seru Al pada Sintia.
Sintia pun mencoba berdiri setelah dirinya berpegangan pada Al, namun sepertinya sia - sia saja tubuhnya tak mampu untuk berdiri.
" Aku tidak bisa berdiri ". Seru Sintia.
" Tidak bisa berdiri atau kamu hanya berpura - pura ". Sahut Al dengan nada ketusnya.
" Heh, ya sudahlah kalau kamu memang tidak mau membantu ya sudah tidak usah membantu ". Sahut Sintia yang tak kalah ketusnya.
" Mas, sepertinya kak Sintia memang benar - benar tidak bisa berdiri, lebih baik mas gendong saja dia ". Seru Adinda pada akhirnya.
Mau tidak mau Al pun harus menggendong tubuh Sintia untuk ia bawa masuk ke dalam rumah, Al menggendong tubuh Sintia, dengan Adinda dan juga bu Nadia yang sedang menggendong Aganta dan juga Damian yang mengikutinya dari belakang.
Dalam perjalanan menuju ke dalam rumah, Sintia nampaknya begitu sengaja ingin mencuri - curi kesempatan agar dirinya bisa bermesraan dengan Al, dan benar saja dengan tanpa ada rasa malu sama sekali Sintia mengalungkan kedua lengannya di leher Al bahkan ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Al.
" Sial, wanita ular ini mengambil kesempatan dalam kesempitan ternyata, awas saja setelah ini kamu ya ". Batin Al kesal.
Adinda melihat apa yang terjadi di depannya sebenarnya hatinya merasa sedikit sakit disaat suaminya menjadi tempat sandaran bagi wanita lain, namun harus bagaimana lagi tidak mungkin kan dirinya mengedepankan ego dan tidak membantu sang bibi.
Kini mereka berenam pun telah masuk ke dalam rumah, dan Al ingin meletakkan tubuh Sintia agar bisa duduk di sofa, namun sepertinya Al sudah sangat berniat membalas Sintia karena sudah berani memanfaatkan situasi ini.
Pada saat Al sudah akan mendudukkan tubuh Sintia, ia malah melepaskan gendongannya dari tubuh Sintia dan akibatnya bukannya tubuh Sintia jatuh di atas sofa malah jatuh terperosok ke lantai, dan.....
" Aduuuuuuuuuuh........ ".
__ADS_1
" Sakiiiiit..... ". Teriak Sintia.
" Astagfirullah ". Pekik Adinda dan bu Nadia.
" Ya Allah nak ". Seru bu Nadia dan iapun langsung bergegas mendekati sang putri yang sudah terjatuh itu.
" Ya Allah mas, kenapa sampai jatuh? ". Seru Adinda yang merasa khawatir.
" Maaf sayang dia terlalu berat, jadinya pegangan tangan mas terlepas, dan mas tidak tahu kalau dia akan jatuh ke lantai " . Sahut Al menjelaskan padahal di dalam hatinya ia merasa senang karena sudah berhasil mengerjai Sintia.
" Aduh sakiiiiit..... ". Seru Sintia lagi.
Sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana rasa sakitnya saat ini. Sudah jatuh mengenaskan karena ulah dari si kembar kini malah di tambah dengan ulah dari ayah si kembar, benar - benar sangat memprihatinkan kondisi Sintia saat ini.
" Nak Al, kamu gendong dulu ya Aganta, bibi mau membantu Sintia dulu ". Seru bu Nadia pada Al.
Dan Al pun meraih tubuh gembul putranya itu.
" Aduh bu sakiiit... ". Seru Sintia lagi.
" Ayo nak pegangan sama ibu, dan geser tubuh mu ke sofa ". Perintah bu Nadia.
" Heh, rasakan itu wanita ular, kamu memang pantas *me*ndapatkannya ". Batin Al.
Sintia pun berhasil beringsut dari lantai dengan di bantu ibunya, dan ia pun sudah berhasil duduk dengan benar di sofa meski tetap masih meringis.
Namun setelahnya ada hal yang terlihat begitu janggal. Al melihat seperti ada sebuah botol kecil bening yang tergeletak tidak jauh dari kaki Sintia, dan bisa Al pastikan jika benda kecil itu adalah milik Sintia yang terjatuh.
Al langsung meraih botol itu, dan membaca stiker yang tertera di sana.
" Ada apa mas? ". Tanya Adinda yang merasa heran dengan suaminya.
Namun Al tak menyahut ia begitu sangat fokus melihat setiap susunan kalimat yang tertulis di stiker botol itu.
Begitupun dengan Al, Al begitu sangat terkejut ketika dirinya selesai membaca kegunaan dari obat bubuk yang ada pada botol kecil yang ia pegang.
Dalam sekejap Al langsung mengarahkan pandangannya pada Sintia. Ia menatap tajam ke arahnya dengan sorot mata yang ingin membunuh.
Sedangkan Sintia jangan ditanya lagi, ia kini sudah mulai menegang, deru nafasnya pun seolah terhenti karena melihat tatapan Al yang begitu menyeramkan, bahkan tubuhnya kini menjadi gemetar.
" Mas Ada apa? ". Seru Adinda lagi, namun Al masih tak menyahut seruan istrinya itu.
Dan benar saja dalam keadaan tubuh kekarnya yang masih menggendong Aganta, Al langsung menyerang Sintia, dan.....
" Dasar kamu wanita ular ". Teriak Al.
" Astagfirullah mas ". Pekik Adinda.
" Ya Allah nak ". Teriak bu Nadia yang melihat putrinya tiba - tiba saja di cek*k oleh Al.
Al mencengkram kuat leher Sintia dengan jemari tangannya yang juga begitu kuat. Tak perduli meski orang yang di cek*knya adalah seorang perempuan sekalipun karena ini adalah menyangkut keselamatan kedua putranya.
" Uhuk... uhuk... ". Sintia terbatuk kala Al menyerangnya secara membabi buta.
" Ya Allah mas, apa yang mas Al lakukan, lepaskan mas ". Seru Adinda pada sang suami.
" Nak Al apa yang kamu lakukan, lepaskan putriku nak, kenapa kamu seperti ini lagi Al? ". Seru bu Nadia dengan berusaha menarik tangan Al dari leher putrinya.
" Seharusnya aku tidak membiarkan mu bebas, wanita ular sepertimu lebih pantas mati ". Marah Al dengan tetap mencek*k Sintia.
" Uhuk... uhuk... uhuk... ". Sintia terbatuk - batuk, bahkan kini dadanya sudah mulai kembang kempis akibat dari mulai berkurangnya pasokan oksigen yang bisa ia hirup.
__ADS_1
" Mas lepaskan kak Sintia mas, jangan mas lakukan perbuatan keji ini, kak Sintia bisa kehilangan nyawanya mas, mas lepas mas, mas Al kenapa? ". Bahkan Adinda pun sudah berteriak.
Keadaan di rumah minimalis itu begitu sangat mencekam. Al benar - benar sudah gelap mata, ia sudah benar - benar tidak perduli jika Sintia memang benar - benar Sintia akan kehilangan nyawanya jika ia tetap melakukan ini. Al begitu sangat menyayangi dan mencintai kedua putranya sehingga siapapun orang - orang berniat mecelakai kedua putranya tidak akan ia ampuni.
Botol obat yang sempat dipegang oleh Al pun sudah jatuh menggelinding. Al benar - benar sudah sangat marah, teriakan dan seruan bu Nadia dan juga sang istri pun sudah tak ia hiraukan lagi.
" Nak Al bibi mohon nak lepaskan Sintia, jangan kamu melakukan ini lagi Al, dia putriku satu - satunya nak hiks... kesalahan apa lagi yang sudah Sintia lakukan sampai kamu menyerang Sintia lagi nak hiks... ". Seru bu Nadia bahkan sudah dengan tangisan pilunya.
" Dia sudah berani ingin mencelakai anakku, tidak akan aku biarkan wanita ular ini hidup ". Marah Al.
Adinda begitu merasa sangat hancur, ia tak menyangka jika suaminya Al yang merupakan sosok yang tidak pernah menyakiti seorang wanita kini dengan begitu teganya dengan tanpa rasa kasihan sedikitpun telah menyerang seorang wanita hingga seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya Al, memangnya saudara sepupunya ini ingin mencelakai apa pada kedua putranya.
" Mas Al tolong hentikan hiks... ". Adinda menangis.
" Mas tolong hentikan mas hiks... ". Adinda berusaha menarik lengan kanan suaminya.
" Mas tolong hentikan hiks... jangan mas lakukan ini hiks... jika mas memang menyayangiku dan juga anak - anak tolong jangan lakukan ini mas, apakah mas tahu jika sampai kak Sintia kehilangan nyawanya maka mas Al akan di penjara, aku dan anak - anak akan sangat sedih mas, lalu bagaimana dengan nasibku dan juga anak - anak jika mas ada di penjara, siapa yang akan menjagaku dan juga anak - anak kita mas kalau mas tidak berada di dekat ku dan juga anak - anak hiks hiks... ". Seru Adinda lagi dengan seruan yang begitu menyayat hati.
Deg... Al merasa begitu terhantam di dadanya, seruan memilukan sang istri seolah menggaung di dalam indra pendengarannya. Tanpa terasa Al melepas begitu saja cengkraman tangannya dari leher Sintia. Al sadar jika dirinya telah melakukan kesalahan dengan tidak menghiraukan seruan istrinya yang sudah sedari tadi.
" Uhuk... uhuk... uhuk... ". Sintia terbatuk - batuk dengan dadanya yang sudah kembang kempis, bahkan kedua bola matanya pun sudah setengah terpejam akibat dari tidak adanya pasokan oksigen yang bisa ia hirup.
Bu Nadia langsung memeluk tubuh putrinya yang sudah tak berdaya itu. Wanita paru baya itu benar - benar tidak ingin dan tidak bisa membayangkan jika ia harus kehilangan putri semata wayangnya.
Al menoleh pada istrinya.
" Hiks... hiks... hiks... ". Isak tangis Adinda yang begitu memilukan.
" Sayang ". Seru Al lirih.
Al memeluk istrinya dengan erat.
" Maafkan aku, maafkan aku sayang ". Seru Al dengan memejamkan matanya.
" Sintia nak apa kamu baik - baik saja hiks...? ". Seru bu Nadia yang merasa tak tega melihat kondisi putrinya.
Namun tidak ada sahutan dari Sintia. Ia hanya bisa terbaring dengan kedua kelopak matanya yang sudah terpejam, Sintia tak mampu lagi untuk merespon, yang bisa dirinya lakukan saat ini hanyalah berusaha agar ada pasokan oksigen yang bisa masuk ke rongga dadanya.
" Sebenarnya kesalahan apa lagi yang kamu lakukan nak sampai Al berbuat nekat seperti ini lagi hiks... ?". Seru bu Nadia lagi.
" Sayang tolong maafkan mas, mas melakukan hal tadi karena dia memang pantas untuk mendapatkan nya ". Serunya dengan tetap memeluk tubuh sang istri.
" Hiks... hiks... hiks... mas, sebenarnya kesalahan apa yang dilakukan oleh kaka Sintia hiks... kenapa mas begitu tega menyakitinya sampai seperti itu mas hiks hiks... ". Seru Adinda masih dengan tangisan pilunya.
" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Aganta dengan menggerakkan tangan mungilnya untuk meraih wajah sang mama seolah bayi gembul itu ingin menenangkan sang mommy ".
Adinda pun kemudian mengusap air matanya, ia tahu jika sang putra tak ingin dirinya bersedih, sedangkan Damian sedari tadi hanya diam, entah apa yang terjadi pada bayi gembul itu padahal biasanya Damian lah yang paling sering berceloteh.
" Al jawab pertanyaan bibi nak, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu melakukan hal ini lagi pada Sintia? ". Tanya bu Nadia setelah dirinya merasa lebih tenang.
Adinda memperhatikan sang suami, Adinda ingin mendengar apa yang menjadi alasan suaminya sampai - sampai menyerang seperti tadi pada Sintia.
" Sebelumnya maafkan Al bi, tapi Al harus mengatakan ini, coba bibi lihat ke botol kecil itu ". Seru Al dengan menunjuk botol kecil yang sudah tergeletak di lantai.
" Itu adalah botol yang berisi bubuk racun, bubuk yang bisa merusak bahkan memberikan kerusakan yang sangat parah apabila bubuk obat itu terkena ke kulit, dan itulah yang ingin dilakukan oleh Sintia, dia ingin mencelakai kedua putraku dengan memberikan obat bubuk itu, dan satu hal yang Al ingin dengan tanpa pengecualian apapun Sintia anak bibi harus Al penjarakan ". Pungkas Al pada akhirnya.
Bersambung..........
Tetap dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah motivasi bagi Author melanjutkan karya ini hingga selesai.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ