
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Diandra terus melangkahkan sepasang kaki jenjang miliknya untuk memasuki ruangan restoran dan memilih bersinggah di salah satu meja yang ada di sana.
Dan ternyata ia memilih meja nomer tiga belas. Diandra nampak melihat - lihat menu yang terdaftar di table menu. Entah suatu kebetulan atau memang Diandra lah yang tidak menyadarinya, ternyata meja yang ia pilih bersebelahan dengan meja Rendi dan kedua meja mereka pun hanya terhalang oleh satu meja saja.
Setelah sekitar hampir satu menit gadis berparas cantik itu memilih menu nya, datanglah seorang pelayan pria dan mendekati arah di mana ia duduk.
" Permisi nona, nona ingin memesan sesuatu? ". Tanya pelayan pria itu dengan ramah.
" Saya pesan menu yang ini tiga, tapi satu makan di sini, dan duanya lagi di bungkus ya mas, terus minumnya es lemon tea saja ya mas ". Sahutnya.
" Baik nona akan segera kami siapkan ". Sahut pelayan itu.
Dengan tanpa sengaja, Rendi yang mendengar obrolan seorang wanita dengan pelayan pria itu pun mendadak menghentikan kegiatan makannya.
" Suara itu, suara itu seperti tidak asing ". Batin Rendi.
Ingin menghilangkan rasa penasarannya, Rendi pun ingin memastikan, jika benarkah dia orangnya. Rendi menoleh ke meja nomer tiga belas itu, dan...
Deg... Rendi merasa tertegun setelah melihat bagian belakang tubuh wanita itu.
" Siapa wanita itu, kenapa dia mirip sekali dengan..., benarkah dia Diandra? ". Batin Rendi.
Tanpa banyak bicara, Rendi pun langsung beranjak dari posisinya, ia begitu penasaran dan ingin memastikan siapa wanita itu, dan Rendi sama sekali tak mempedulikan pandangan beberapa orang padanya.
" Permisi mbak ". Sapa Rendi setelah dirinya berdiri tepat di samping meja.
Wanita itupun menoleh dan menatap wajah Rendi.
Deg..... sepasang mata kedua insan itu pun tak dapat berpaling. Rendi begitu tertegun akan sosok wanita yang ada di depan nya saat ini.
" Rendi ". Sentak Diandra.
" Di-Diandra ". Sahut Rendi terbata.
" Ya Tuhan Rendi ". Pekiknya senang.
Dan.....Grepp.....Diandra pun langsung memeluk tubuh Rendi.
" Ya Tuhan, Ren, aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu ". Seru nya bahagia tanpa melepas pelukannya dari tubuh kekar Rendi.
Rendi terdiam, ia tak dapat berbuat apa - apa, tubuhnya seolah membeku saat mendapat perlakuan tak terduga dari Diandra.
Rendi merasakan adanya semacam desiran di hatinya yang ia sendiri tidak tahu apa, apakah ini adalah rasa bahagianya karena ini adalah pertama kalinya ia mendapat pelukan dari seorang wanita yang selama ini di cintainya dengan diam - diam.
Sedangkan semua orang yang ada di restoran itupun menatap pada Rendi dan juga Diandra. Rendi yang awalnya hanya diam mematung nampak mulai mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Diandra.
" Oh, maaf maaf Ren, aku terlalu lama ya memeluknya, maaf ya habisnya aku terlalu bahagia ". Seru Diandra sebelum akhirnya wanita berparas cantik itu melepas pelukannya dari tubuh kekar Rendi.
Sayang sekali, padahal baru saja Rendi ingin membalas pelukan Diandra, tapi sudah di lepasnya.
" Kamu makan di sini, mana makanan mu, bawa saja ke meja ku, kita makan bersama di sini ". Ajak nya dengan senyuman nya.
" Inilah alasan kenapa aku begitu jatuh hati padamu Diandra, sikap lemah lembut dan keramahan mu lah yang membuatku jatuh hati dan sulit untuk melupakanmu, bahkan hingga detik ini ". Batin Rendi.
" Halo Ren, kenapa kamu diam?, ayo bawa makanan mu ke sini ". Peringat Diandra lagi.
" Eh, i-iya ". Sahut Rendi sebelum ia pun bergegas untuk memindahkan makanan nya dan juga dua gelas minumannya tadi ke meja milik Diandra.
Dan setelah hampir tujuh menit Diandra dan juga Rendi duduk bersama, datanglah pelayan pria tadi dengan nampan yang sudah berisi makanan dan minuman milik Diandra.
Dan seperti inilah, Diandra dan juga Rendi menikmati makanan mereka dalam meja yang sama.
*****
Sang tuan besar pun telah menapakkan sepasang kaki jenjang nan kokohnya di kediaman rumah mewahnya.
__ADS_1
Dalam langkahnya samar - samar terdengar adanya suara celotehan dua bocah kecil yang begitu sangat ia rindukan.
Dengan tanpa mengganti pakaian nya, Al melangkah menuju ruang santai di mana suara kedua putra nya itu terdengar.
" Assalamualaikum ". Sapa salam Al.
" Waalaikumsalam ". Sahut semua orang yang ada di ruangan itu.
" Daddy, daddy dah pulan, yeay daddy dah pulan ( daddy, daddy sudah pulang, yeay daddy sudah pulang) ". Seru Damian gembira, bahkan bocah kecil itu langsung bangkit dari pangkuan sang mommy dan berlari ke arah daddy nya.
" Iya iya boy, daddy sudah pulang cup... ". Sahut Al dengan memberikan kecupan di kening Damian.
" Daddy ". Seru Aganta, dan ia pun juga mendekat ke arah daddy nya.
" Kemarilah boy ". Panggil Al.
" Kalian rindu daddy hem? cup... cup... ". Sahutnya.
" Iya daddy, tami lindu daddy ( iya daddy, kami rindu daddy) ". Sahut Damian.
Al pun menggendong kedua tubuh mungil putra nya itu sebelum akhirnya ia duduk bersama di samping istrinya.
" Mas ". Seru Adinda sebelum akhirnya ia mencium punggung tangan suaminya.
" Sayang cup... ". Sambut Al.
" Tumben kamu siang pulangnya Al, mama jadi curiga? ". Tanya Devina.
" Curiga apa sih ma, aku rindu istri dan juga anak - anakku, itulah sebabnya Al pulang lebih awal ". Sahut Al jujur.
" Vita, kamu di sini saja dulu sampai nanti sore, Andrew masih akan pulang nanti ". Lanjut Al pada Vita yang sedang memangku anaknya.
" Iya tuan, saya tahu ". Sahut Vita.
" Loh Vita, kenapa kamu masih memanggilku dengan sebutan tuan, jangan memanggilku dengan sebutan tuan lagi, aku tidak suka ". Bantah Al.
" Lalu saya harus memanggil apa tuan? ". Sahut Vita bingung.
" Baiklah tuan, eh kak ". Sahut Vita.
Al pun kembali fokus pada istrinya.
" Sayang, kamu dari tadi pagi duduk di sini, tidak istirahat? ". Tanya Al yang sedikit khawatir.
" Iya mas dari tadi pagi, tapi tidak apa - apa Adinda tidak merasa lelah mas, kalaupun lelah Adinda bisa tiduran di sana ". Sahut nya dengan menunjuk sebuah sofa besar nan empuk yang ada di ruangan itu.
" Daddy, daddy ". Panggil Damian di sela - sela obrolan sang daddy dan juga mommy nya.
" Hem, ada apa boy? ". Tanya Al.
" Tapan tita mau te lumah na Ezie, Mian mau main cama Ezie ( kapan kita mau ke rumahnya Kenzie, Damian mau main sama Kenzie) ". Pinta nya pada sang daddy.
" Tunggu dulu boy, kapan - kapan saja ya kalau daddy tidak terlalu sibuk ". Terang Al.
Damian nampak cemberut setelah mendengar jawaban dari daddy nya. Bocah kecil yang satu itu memang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan saudaranya di Malaysia.
" Tenanglah boy, kalau nanti daddy ada waktu luang pasti kita main ke rumah Kenzie lagi cup... ". Lanjut Al lagi.
*****
Masih di restoran seafood.
Akhirnya Diandra dan juga Rendi pun telah usai dengan aktivitas makannya. Dan nampaknya, Diandra pun sudah ingin bergegas dari tempat nya.
" Kamu sudah mau pulang Di? ". Tanya Rendi.
" Iya nih Ren, aku sudah mau pulang ". Sahut Diandra.
" Emm Di, semenjak kapan kamu pulang dari Canada? ". Tanya Rendi pada akhirnya.
__ADS_1
" Hehehehe, sebenarnya aku baru dari bandara ". Sahut Diandra cengengesan.
" Apa, jadi kamu baru pulang?, oh tidak tidak, jangan katakan setelah keluar dari bandara kamu langsung ke restoran ini dan masih belum sampai ke rumah ". Tebak Rendi.
" Hehehehe, sayang nya iya Ren, habisnya mau bagaimana lagi perutku sangat lapar, jadi aku mampir deh ke sini ". Sahut Diandra dengan sedikit malu.
" Terus siapa yang jemput kamu dari bandara, teman kamu? ". Tanya Rendi lagi yang masih penasaran.
" Aku pesan taksi online Ren ". Sahut Diandra.
" Aduh Di, aku semakin tidak mengerti sama kamu, ya sebenarnya tidak apa - apa sih kamu pesan taksi online, tapi ya aneh saja, kalau kamu memesan taksi karena ingin segera sampai pulang ke rumah tapi kenapa kamu malah mampir ke restoran, itu kan akan memakan waktu, kalau taksi yang kamu naiki cepat kan kamu bisa cepat sampai rumah dan makan di sana, itu pikir ku sih ". Terang Rendi.
Diandra menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sepertinya ia memang harus menceritakan nya pada Rendi.
" Sebenarnya aku pulang dari Canada tanpa sepengetahuan orang tua ku Ren, karena sebenarnya aku masih akan pulang dua bulan lagi, tapi itu terlalu lama, aku sudah tidak sabar ingin pulang ". Ucap Diandra pada akhirnya.
Rendi terdiam, entah mengapa dadanya terasa sesak setelah mendengar sahutannya, ingin segera pulang?.
" Kamu tidak sabar ingin pulang, atau tidak sabar ingin menemui Al Di? ". Batin Rendi sedih.
" Ya sudah Ren, kalau begitu aku harus segera pulang ". Putus Diandra.
Diandra pun bangkit dari posisinya, tak lupa dua makanan yang di bungkus tadi juga ia bawa.
Diandra mulai melangkah meninggalkan meja nya, namun baru empat langkah ia beranjak tiba - tiba saja tas slempang yang ia gunakan malah tersangkut di kursi milik Rendi sehingga menyebabkan tubuh Diandra pun menjadi tertarik dan kehilangan keseimbangannya.
" Ah ya Tuhan ". Pekik Diandra kala tubuhnya terasa tertarik ke belakang.
" Dia ". Sentak Rendi.
Entah kekuatan apa yang muncul sehingga dengan sigapnya Rendi pun berdiri dan menangkap tubuh Diandra yang siap akan terjatuh, hingga...
" Ya Tuhan ya Tuhan ". Seru Diandra dengan memejamkan kedua bola matanya.
Diandra merasa takut, ia mengira jika tubuhnya telah terkapar di lantai yang dingin itu, namun apa ini, kenapa tubuhnya tidak merasakan sakit?.
" Dia, kamu tidak apa - apa? ". Tanya Rendi khawatir tanpa melepas rengkuhannya.
Diandra pun membuka kedua kelopak matanya yang sempat terpejam dengan begitu eratnya tadi.
Deg..... Diandra dan Rendi pun saling menatap.
Deg deg.. deg deg.. deg deg.. itulah suara detak jantung yang dirasakan oleh keduanya.
" Cie.. cie.. cie..". Itulah sahutan para pengunjung yang ada di restoran itu.
Sontak saja Rendi dan Diandra pun tersadar. Dengan buru - buru Diandra berusaha lepas dari rengkuhan tubuh Rendi.
" Ma-maaf Di ". Sahut Rendi yang merasa tak enak hati.
" Tidak apa - apa Ren ". Sahut Diandra.
Jujur saja sebenarnya di dalam lubuk hatinya Diandra merasa malu, apalagi harus di saksikan oleh banyak orang.
" Mas mas, kalau sudah tidak sabar cepat di halalkan saja, tidak baik loh mas kalau pacaran lama - lama ". Seru salah seorang pria yang juga makan di restoran itu.
" Iya betul mas, kalau sudah menikah kan enak, bisa kapan saja mesraan nya, betul tidak? ".
" Betul ". Timpal pengunjung yang lainnya.
Sungguh Diandra benar - benar merasa malu dibuatnya, bahkan wajah cantiknya pun bak tomat merah yang sudah siap panen namun tak kunjung di panen.
Sedangkan Rendi yang berada di situasi seperti ini malah semakin tak enak hati dibuatnya, niat hati ingin menolong malah menjadi tontonan kisah percintaan.
Bersambung..........
Tetap semangat baca ya, maaf Author update nya malam.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ