
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Tuan Andrew?..... ada apa malam - malam datang kesini? ". Batin Vita.
" Ayo nak duduk dulu ". Seru pak Budi.
" Eh, iya yah ". Sahut Vita dengan tersenyum kecut.
Kini mereka semua sudah duduk tenang di ruang tamu yang cukup besar itu. Jujur saja saat ini Vita merasa lebih tidak nyaman, bahkan degup jantungnya pun menjadi lebih meningkat seolah ingin lompat dari tempatnya.
Vita masih sangat terkejut dengan apa yang ada di depannya, hadirnya tuan Andrew dan juga sepasang orang tua yang bisa dipastikan jika mereka adalah orang tua tuannya benar - benar membuatnya salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana.
" Vita, orang tua yang ada di depanmu ini adalah papa dan mama nak Andrew, mereka datang kesini karena memiliki niatan baik padamu nak ". Seru pak Budi menjelaskan.
Deg..... Vita semakin terkejut dengan apa yang di dengarnya, apa maksudnya jika orang tua tuan Andrew nya memiliki niatan baik datang kemari?. Sungguh tubuh Vita terasa lebih membeku karena adanya hal ini.
Sedangkan Andrew, dia masih pada sikap diamnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari belah bibirnya setelah datangnya Vita.
" Nak Vita perkenalkan saya mamanya Andrew, mama Clara Marissa, dan dia suami saya papanya Andrew, papa Young Min Choi ". Sapa mama Clara.
" Senang bisa bertemu denganmu nak ". Sapa papa Young.
" Terima kasih, om, tante, saya juga senang bisa bertemu dengan om dan tante ". Sahut Vita dengan kikkuk.
" Nak, kami sudah banyak mendengar tentangmu dari putra Kami Andrew, jadi kami datang kesini memiliki niatan baik nak, dan kami sangat berharap jika kamu mau menerima niatan baik dari kami ini ". Sahut mama Clara dengan wajah yang terlihat penuh harap.
Deg.. deg.. deg.. deg.. deg.. deg.. itulah suara degup jantung Vita akibat dari mendengar kalimat dari mama tuannya.
" Bagaimana pak Budi, apakah kami boleh melakukannya sekarang? ". Tanya papa Young yang meminta izin.
" Silahkan pak, saya rasa putri saya Vita tidak akan keberatan mendengarnya ". Sahut pak Budi.
" Nak Vita, kami selaku orang tua Andrew, atas keinginan putra kami yaitu Andrew Choi, kami datang kemari karena kami ingin melamar mu untuk menjadi istri dari putra kami, yaitu menjadi istri dari Andrew Choi ". Seru papa Young pada akhirnya.
Bagai terkena terpaan angin kencang yang tak mampu untuk dihalau. Vita sangat terkejut bukan main. Ia membelalakkan kedua bola matanya tak percaya atas apa yang di dengarnya. Apa?, tuan Andrew nya melamarnya untuk menjadikannya seorang istri?.
Vita menatap pada tuannya, seolah ia ingin mencari tahu tentang kebenaran yang ia ingin, dan benar saja tatapan dari tuan nya Andrew tidak lah biasa, sangat terlihat jelas dari sorot matanya jika ada ketulusan yang terpancar di sana.
Vita masih terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa, jika boleh jujur sebenarnya Vita juga mengagumi sosok tuan Andrew yang selama ini menjadi atasannya, hingga suatu perasaan yang tak pernah ia duga kehadiran mulai hadir dalam hatinya, namun dengan sesegera mungkin ia menepis perasaan itu karena Vita merasa dirinya sangatlah tidak pantas untuk tuan Andrew nya.
Namun hal tak terduga pada hari ini telah terjadi, jawaban dari perasaan yang ia tepis selama ini ternyata hadir seolah menarik kembali perasaan yang selama ini ia buang.
" Nak Vita bagaimana nak?, apakah kamu menerima niatan baik kami ini nak? ". Seru papa Young lagi.
Namun Vita tak kunjung menjawab. Dan hal tak terduga pun telah terjadi di sana. Tiba - tiba saja Andrew mendekat ke arah Vita dan berlutut di hadapannya.
" Tuan, apa yang anda lakukan tuan? ". Seru Vita yang terkejut.
" Vita, aku tahu pasti ini memang terdengar mustahil, tapi inilah faktanya ". Seru Andrew.
" Ya Allah tuan, apa yang anda lakukan tuan, saya mohon berdirilah, berdirilah tuan ". Seru Vita dengan mencoba mengajak Andrew untuk berdiri dari posisinya.
__ADS_1
Dan Andrew pun berdiri dari posisinya, kini Vita dan Andrew sama - sama dalam posisi berdiri. Andrew menatap wajah Vita begitu lekat.
" Vita, percaya atau tidak inilah yang terjadi, aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini ada, sejak kejadian dimana kamu terjatuh dan berada dalam pelukanku semenjak itulah aku mulai merasakan perasaan yang tak biasa, dan seiring berjalannya waktu dimana disaat kita bekerja di tempat yang sama dari situlah aku melihat dan merasakan jika kamu adalah wanita yang begitu polos dan tulus, aku tidak tahu kapan perasaan tak biasa dari seorang pria pada wanita ini hadir dalam hatiku, dan aku tak peduli dengan itu, yang ingin akau katakan adalah aku jatuh cinta padamu Vita, aku ingin kamu menjadi wanitaku, aku ingin kamu menjadi istriku, aku ingin kamu menjadi ibu dari anak - anakku, aku mencintaimu Vita, maukah kamu menikah dengan ku? ". Ungkap Andrew dengan segala ketulusan hatinya.
Vita tak mampu mengeluarkan sepatah katapun setelah mendengar ungkapan perasaan tuannya, apa yang diucapkan oleh tuannya bagaikan sebuah mimpi, namun Vita juga merasa tersentuh dan terharu akan ketulusan tuannya.
" Vita, kenapa kamu diam? ". Tanya Andrew.
Vita pun menoleh pada sang ayah seolah ingin meminta kepastian, dan pak Budi pun merespon sang putri dengan anggukan sebagai tanda persetujuannya.
" Tuan, terima kasih atas ketulusan hati, cinta, dan juga niat baik tuan, tapi tuan, saya ini hanya gadis kampung dan sudah tidak punya orang tua, dan saya juga tidak pintar, saya hanyalah gadis yang memiliki kehidupan yang layak karena di tolong oleh sahabat saya dan juga suaminya, jadi tuan saya rasa saya tidak pantas menjadi istri tuan, dan di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dan lebih pantas untuk menjadi pendamping hidup tuan ". Sahut Vita pada akhirnya.
Andrew menghela nafasnya cukup berat. Dalam benaknya ingin sekali rasanya ia menggenggam tangan Vita, tapi tak mungkin jika ia lakukan.
" Vita dengarkan aku, aku sama sekali tak perduli dengan latar belakangmu, aku tidak perduli kamu berasal dari keluarga yang bagaimana, tetapi yang pasti aku mencintaimu dan aku ingin kamu menjadi istriku ". Sahut Andrew dengan segala kesungguhannya.
Mama Clara pun mendekat dan ia merangkul bahu Vita.
" Vita nak, om dan tante sudah terlanjur menyukaimu, meski ini baru pertama kalinya kita bertemu, tetapi tante sangat yakin dengan pilihan putra kami, tante akan sangat sedih jika kamu menolak lamaran anak tante ini nak " Sahut mama Clara memberi pengertian.
" Tuan Andrew mencintaiku, om dan tante juga menginginkanku, dan aku pun sebenarnya juga memiliki memiliki perasaan pada tuan Andrew ". Batin Vita.
" Baiklah Vita, jika kamu tidak bisa menjawabnya sekarang tidak apa - apa aku akan menunggumu sampai kamu mau menerima ku ". Putus Andrew pada akhirnya.
" Tu, tuan, saya, emm saya, saya menerimanya tuan ". Sahut Vita pada akhirnya.
Semua orang di ruangan itu terdiam pada awalnya hingga akhirnya.....
" Ya Allah, terima kasih nak ". Seru mam Clara dengan memeluk tubuh Vita.
Sedangkan Andrew jangan ditanya lagi, hatinya saat ini sangat berbunga-bunga karena wanita yang menjadi harapannya untuk ia jadikan istri akhirnya mau menerimanya.
" Terima kasih Vita, terima kasih karena kamu sudah mau menerima ku ". Sahut Andrew dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
" Aku berjanji Vita, aku akan terus membahagiakan mu ". Batin Andrew.
*****
Pagi pun tanpa terasa sudah mulai terlewati, akibat dari pergemulan semalam membuat ibu dari sepasang anak kembar itu harus tidur lagi setelah menunaikan sholat subuh nya. Dan alhasil beginilah jadinya Adinda menjadi sibuk sendiri untuk mempersiapkan keperluan kepergian nya bersama sang suami.
" Mas, ayo bangun, ini sudah pukul sembilan pagi loh, bisa - bisa nanti kita sampai di rumah bibi tengah malam mas ". Seru Adinda yang mencoba membangunkan suaminya.
Namun sayang, Al nampaknya masih betah berada berada di dalam selimut nya.
" Mas, ayo mas bangun nanti malah semakin siang ". Seru Adinda lagi dan kali ini ia sudah mulai menggoyang - goyangkan lengan kekar suaminya.
" Euuhh ". Hanya sebuah lenguhan yang Al keluarkan.
Adinda sudah merasa kesal dengan suaminya, sudah semenjak dari tadi ia membangun kan sang suami namun nyatanya suaminya sulit untuk dibangunkan.
Dan tanpa terasa ada tetesan air mata yang keluar dari pelupuk matanya, Adinda merasa sedih karena ia menurutnya suaminya tidak menepati janjinya.
Segala keperluan yang sudah ia siapkan menjadi terhenti karena suasana hatinya sudah lagi tak membaik.
__ADS_1
Dengan perasaannya yang masih sedih, Adinda membawa kedua putra kembarnya untuk ia duduk kan di stroller nya dan mengajak mereka bermain di ruang santai.
" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian yang sudah tak sabar ingin dipindahkan ke stroller nya.
" Iya, iya sayang ayo kita main ". Sahut Adinda dengan memindahkan kedua putranya.
Adinda dan kedua anak kembarnya itu melangkah menuju ruangan santainya, tak lupa beberapa mainan milik Aganta dan juga Damian juga ia bawa.
" Nah sudah sampai, ayo nak kita main disini ". Serunya dengan memindahkan kedua putranya untuk duduk di sebuah karpet lebar dan lembut yang memang biasa dijadikan tempat untuk Aganta dan juga Damian bermain.
" Ayo, coba lihat siapa yang bisa mengikuti mommy bermain seperti ini ". Seru Adinda yang mencoba memperlihatkan sebuah rakitan bola krincingan.
Nampak Adinda sedang memainkan mainan putranya, dan ternyata benar kedua putranya itu begitu antusias dan bersemangat dalam memperhatikan.
" Ya, ya, yam, pam, pam, pam ". Celoteh Damian yang begitu kegirangan melihat mainan di depannya.
" Mam, mam, mam, mam, mam ". Celoteh Aganta yang juga tak kalah bersemangat dari kembarannya, bahkan bayi gembul itu sampai menggerak - gerakkan tangannya karena begitu bersemangat.
Dan begitu lah mereka, seorang ibu muda dengan sepasang anak kembarnya begitu sangat asyik dalam menikmati waktu kebersamaannya.
Untuk sesaat Adinda mulai melupakan kesedihannya karena tidak jadi pergi ke rumah sang bibi. Cukup lama Adinda dan kedua putranya itu bermain tanpa mengingat seseorang yang masih tidur terlelap di kamar.
Di dalam kamar, sepertinya Al sudah mulai membuka matanya. Pria dengan bola mata biru keabu - abuan itu nampak melihat adanya sinar yang sudah memenuhi ruangan kamar.
" Ya Tuhan, ini sudah siang? ". Ujar Al yang sudah terperanjat dari tidurnya.
" Ya Allah, hari ini aku kan akan mengantarkan istriku, akh... sial, kenapa aku bisa kesiangan seperti ini ". Kesal Al.
" Adinda, dimana dia, apa jangan - jangan, tidak, tidak mungkin ". Dan Al pun langsung turun dari tempat tidurnya.
Dengan langkah cepat, Al keluar dari kamarnya dan mencoba mencari keberadaan sang istri dan juga kedua putranya.
Dengan masih menggunakan piama tidur dan juga kondisi rambut yang masih berantakan namun masih memancarkan aura ketampanannya Al terus melangkah, dan...
" Bi Ika, apa bibi melihat istri dan anak - ankku? ". Tanya Al pada bi Ika yang sedang menyapu di ruang tamu.
" Anu tuan, itu nyonya sedang bermain bersama anak - anak di ruang tamu " . Sahut bi Ika.
Dan Al pun kembali mempercepat langkahnya dan sampai lah ia di ruangan itu.
" Pam, pam, pam, mam, mam, mam ". Celoteh Aganta yang mencoba menyahuti sang mommy.
Al langsung mendekati sang istri dan ia pun langsung memeluknya dari belakang.
" Sayang maafkan mas ". Seru Al dengan memeluk erat tubuh sang istri.
Namun Adinda hanya diam.
" Sayang, kamu marah sama mas, maafkan mas ya, ya sudah kalau begitu kita siap - siap untuk berangkat sekarang ". Serunya lagi yang berusaha membujuk istrinya.
" Tidak perlu mas, Adinda sudah tidak mood, lebih baik berangkat saja ". Putus Adinda.
Bersambung.........
__ADS_1
Dukung terus karya Author yaππβ€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ