Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Bangun Mas Perutku Sakiiit


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Kebahagiaan di hari ini begitu menyelimuti dua keluarga besar yang tak lama lagi akan di satukan oleh putra dan juga putri kebanggaan mereka.


Di masjid ini, di sebuah masjid yang megah ini, sepasang insan anak manusia akan mengikrarkan janji suci mereka. Kedua keluarga besar itupun sama - sama mendampingi dengan penuh suka cita dalam pengucapan jajin suci anak - anaknya.


Dengan di saksikan oleh semua orang di tempat suci nan mulia ini, hingga tibalah saat sang mempelai pria dengan mulai mengikrarkan janji sucinya dalam satu tarikan nafas.


" Saya terima nikah dan kawinnya, Diandra Isabella Wijaya, binti David Ilyas Wijaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai ". Sahut Rendi lantang dalam satu tarikan nafas.


" Bagaimana para saksi sah? ".


" Sah... sah... sah... ". Seru semua saksi di masjid itu.


" Alhamdulillahirabbilalamin ". Para orang tuan dan semua saksi itu mengucap syukur atas pernikan Rendi dan juga Diandra.


Telah selesai ijab kabul, Rendi pun mulai memasangkan cincin pernikahannya di jari manis wanita yang telah menjadi istri sahnya.


Kini cincin pernikahan itu telah berhasil dirinya lingkarkan di jari manis istri sang istri Dianda. Senyum kebahagiaan dan rasa haru sangat tergambar jelas di wajah tampannya. Dan sepasang cincin itu telah berhasil melingkar indah di jari mereka.


" Akhirnya, akhirnya kamu menjadi milikku, aku mencintaimu Di cup... ". Seru Rendi tulus dengan mencium hangat kening sang istri.


Diandra hanya bisa tersenyum dengan rasa haru yang menyelimuti hatinya. Dirinya tak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk mengungkapkan bagaimana rasa kebahagiaannya saat ini.


Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia akan benar - benar membuka hatinya secara penuh untuk Rendi, laki - laki yang saat ini telah sah menjadi suaminya, dan juga dirinya telah siap jika harus menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Rendi suaminya.


Keluarga besar dari kedua mempelai itupun memeluk putra - putri mereka. Kebahagiaan yang tiada terkira benar - benar telah mengharu biru, akhirnya apa yang diimpikan akan datangnya kebahagiaan untuk anak - anak mereka tercapai sudah.


*****


Rasa tak nyaman nampaknya mulai mengusik sang mommy muda ini. Adinda mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya yang cukup lama terpejam. Entah mengapa ia merasakan tak nyaman pada perutnya, terasa mulas dan cukup sakit.


" Euumh.... ". Lenguhnya.


" Ya Allah, perutku kenapa sakit... seperti aku mau ke kamar kecil... ". Lirihnya.


Dengan perlahan Adinda mengulurkan sepasang kaki jenjangnya itu dari atas kasur. Ia tak ingin jika suami tercintanya sampai terbangun karena ulahnya.


Adinda melangkah dengan sedikit tertatih - tatih, kali ini perutnya terasa sakit, namun Adinda tak memiliki kecurigaan apapun, apalagi memiliki firasat jika akan melahirkan. Adinda tetap berusaha bersikap biasa saja, rasa sakit yang dirasakan nya seperti kebanyakan orang yang sakit perut dan ingin segera menuntaskan nya di kamar kecil namun memang terasa sedikit agak mencekam.


Adinda terus menuju kamar kecil, hingga saat langkahnya berada di dekat tiga box tempat tidur khusus anak kecil dengan warna yang berbeda, Adinda menghentikan langkahnya.


Mommy muda itu menatap kedua ranjang kasur milik kedua putra kembarnya. Ia teringat jika kedua putanya malam ini tidur di kamar opa dan oma mereka.


" Aku lupa kalau anak - anak tidur di kamar opa dan oma mereka ". Lirih nya dengan sedikit menahan sakit di perutnya.


Merasa waktu sekarang ini masih tengah malam, Adinda pun mengarahkan pandangannya pada sebuah penunjuk waktu yang terpatri di dinding kamarnya.


" Sssshhh... ternyata ini masih pukul dua belas malam lewat ". Gumamnya dengan sedikit merintih.


Adinda pun kembali menurunkan pandangannya dari jam dinding itu. Tanpa sengaja pandangannya malah mengarah pada sebuah box tidur bayi perempuan. Box bayi yang semenjak beberapa hari yang lalu telah suami dan kedua anak kembarnya pasang.


Secara naluri, kedua tangan mungilnya itu mengusap lembut perut buncit nya yang sudah terlihat menurun.


" Sayang, apa mungkin kamu mau lahir sekarang nak? ". Gumamnya pada sang baby yang masih di dalam perut.


" Tapi mana mungkin lahir sekarang, dulu saja si kembar lahir saat usia kehamilanku sepuluh bulan, bisa jadi kan kelahiran anakku yang sekarang ini juga lahir di usia kandungan sepuluh bulan... entahlah ". Batinnya dengan menggeleng bingung.


Adinda pun melanjutkan langkahnya menuju menuju kamar mandi dan melanjutkan nya lagi ke kamar kecil yang ada ruangan khusus ganti itu.


Setelah hampir sepuluh menit lamanya mommy muda itu di kamar kecilnya, akhirnya selesai juga. Tak ingin berlama - lama di ruangan itu, Adinda pun segera keluar dan menuju kembali ke ranjang tidurnya.

__ADS_1


Dengan menuntun tubuhnya yang sudah begitu sulit untuk banyak bergerak itu, sebisa mungkin Adinda berusaha untuk membuat tubuhnya merasa nyaman. Namun sepertinya tidak. Entah mengapa malam ini perutnya benar - benar terasa sakit. Semakin dirinya berusaha untuk tenang, semakin rasa sakit di perutnya itu kian terasa.


" Ya Allah... perutku... kenapa sakit? ". Serunya dengan meringis.


Al masih terlelap dalam tidurnya. Ia masih tak menyadari jika sang istri saat ini sudah dalam keadaan tak lagi sama seperti saat sebelum tidur tadi.


Sedangkan Adinda masih tetap pada kondisinya. Ia berusaha menahan sakitnya karena menurutnya siapa tahu sakitnya akan reda.


" Sssshh... Ya Allah, sakit ". Serunya lagi merintih dengan memegangi perutnya.


Semakin lama rasa sakitnya semakin tak biasa. Mungkinkah malam ini anak ketiganya akan lahir?.


" Mas... mas Al, bangun, Adinda sakit perut mas ". Serunya pada sang suami.


Adinda tak menggoyangkan tubuh suaminya karena posisinya saat ini yang berada di bibir ranjang.


" Mas, bangun mas, Adinda sakit perut ". Serunya lagi namun tak kunjung ada respon dari suaminya yang terlelap itu.


" Sssshh aduh sakit... mas, bangun mas, perutku sakiiit ". Serunya lagi.


Al yang mendengar adanya seruan yang begitu mengusik gendang telinga nya itupun akhirnya mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya, hingga akhirnya ia pun benar - benar tersadar.


" Aduh sakit ". Rintih Adinda.


Deg...


" Sayang ". Sentak Al. Pria itu benar - benar sangat terkejut setelah melihat istrinya yang merintih kesakitan dengan memegangi perutnya.


" Sayang ". Serunya khawatir.


Dengan sigap Al langsung mendekati istrinya yang sedang kesakitan itu. Al khawatir, benar - benar sangat khawatir.


" Sayang, perutmu sakit? ". Serunya dengan memegang tubuh istrinya.


" Mas, se-perti-nyah, adik mau lahir ". Sahutnya terengah - engah.


Dengan sangat sigapnya Al sudah membawa istrinya itu ke dalam mobil. Tak ada pemberitahuan apappun pada kedua orang tuanya. Al benar - benar sangat khawatir, sehingga yang ada di dalam pikirannya hanyalah bagaimana membawa istrinya itu segera sampai ke rumah sakitnya.


" Sssshhh... eumh... ". Lenguh Adinda yang berusaha menahan sakit di perutnya.


" Sayang, tahan dulu sayang, sebentar lagi pasti kita sampai di rumah sakit ". Seru Al khawatir di sela - sela menyetir nya.


Pria dengan bola mata biru keabu-abuan itu terus melajukan mobilnya dengan cepat. Rasa khawatir itu benar - benar telah mendera hebat jiwanya. Al tak ingin jika sesuatu yang buruk benar - benar terjadi pada istri dan juga anaknya.


Hingga setelah hampir tujuh menit lamanya Al melajukan mobil mewahnya, kini ia benar - benar telah sampai di halaman rumah sakitnya.


Tak ingin berlama-lama pria bertubuh kekar itupun langsung keluar dari dalam mobil dan mulai menggendong Adinda istrinya menuju ruangan rumah sakit.


" Tuan Al ada apa ini? ". Seru salah seorang suster yang melihat tuannya sedang tergopoh - gopoh dengan membawa istrinya.


" Apa kamu tak melihat istriku sedang kesakitan?, cepat siapkan kamar, istriku akan segera melahirkan ". Perintah Al telah.


Tak lama dari itupun Adinda segera di bawa ke ruangan persalinan khusus di sana. Nampak dokter Nita sang dokter kandungan telah memasuki ruangan persalinan itu, beruntungnya kali ini karena dokter yang memang biasa menangani Adinda dalam menjalani pemeriksaan sedang bertugas malam, sehingga baik Adinda maupun Al tak merasa begitu khawatir.


" Permisi nyonya, saya mau memeriksa kondisi nyonya dulu ya ". Seru sang dokter Nita pada nyonya besarnya.


Adinda hanya diam dan mengangguk saja. Dengan masih menahan rasa sakitnya, ia membiarkan saja sang dokter melakukan apapun pada dirinya.


" Bagaimana, kapan istriku akan melahirkan? ". Tanya Al saat dokter Nita sedang melakukan pemeriksaan.


" Setelah saya periksa, jalan lahirnya sudah pembukaan tujuh tuan, jadi masih harus menunggu tiga pembukaan lagi agar bayi siap dikeluarkan ". Sahut dokter Nita.


Mendengar jawaban dari dokter Nita membuat Al sangat gusar, rupanya masih butuh waktu cukup lama agar anaknya itu bisa dilahirkan. Al benar - benar tak tega dengan istrinya, namun harus bagaimana lagi, masih belum waktunya anaknya ini keluar.

__ADS_1


" Sayang, pasti sangat sakit, yang sabar ya cup... ". Serunya agar istrinya bis menjadi lebih tenang.


Menjelang proses persalinan kedua yang di alami oleh istrinya, rupanya membuat sang tuan besar itu tak seperti dulu lagi.


Jika dulu Al begitu sangat marah pada siapapun yang akan membantu istrinya untuk melahirkan, namun tidak untuk kali ini. Mungkin karena pengalamannya yang dulu serta pemahaman tentang hal - hal yang akan dialami oleh wanita saat menjelang melahirkan, membuat Al lebih bisa tenang pada siapapun dokter maupun suster yang akan membantu istrinya melahirkan.


Yang bisa Al lakukan saat ini adalah bagaimana cara menjadi suami yang siaga untuk istrinya. Ternyata menjelang hadirnya anak ketiganya ini, membuat si daddy Al menjadi lebih tahu diri dalam bersikap terutama pada para dokter dan susternya.


*****


Sedangkan di rumahnya, tepatnya di kamar Devina. Nampaknya Damian begitu tak tenang dalam tidurnya kali ini. Entah apa yang terjadi, sepertinya bocah kecil itu sedang merasakan sesuatu di alam bawah sadarnya.


" Mommy myh, mommy myh ". Serunya dengan kedua bola matanya yang masih terpejam.


Devina sang oma yang memang sedang tidur dengan memeluk tubuh Damian, sangat dengan jelas bisa mendengar seruan cucunya itu. Devina pun membuka kedua kelopak matanya. Ia menatap cucunya Damian. Sangat nampak jelas bahkan meski dalam keadaan tidur sekalipun wajah cucunya ini terlihat sangat sedih.


" Ya Allah, ada apa dengan cucuku, apa kamu mimpi buruk sayang? ". Gumam Devina khawatir.


Dan tak lama dari itupun Aganta nampak bergerak - gerak. Entah apa yang terjadi rupanya dalam kondisi terlelapnya pun bocah kecil itu nampak gusar. Bahkan dari keningnya tetlihat sedikit berkeringat.


" Ya Allah, ada apa dengan cucu - cucuku, apa mereka sedang mimpi buruk?, Ya Allah, kasihan sekali kalian sayang, saat bermimpi saja kalian sampai gelisah seperti ini ". Gumamnya, Devina benar - benar kasihan dengan kedua cucunya yang sepertinya sedang mimpi buruk.


" Mommy myh, mommy myh, mommy... ". Seru Damian, lalu bocah kecil itupun langsung terbangun dari tidurnya.


" Aduh sayangnya oma, kamu bangun nak ". Seru Devina lalu wanita paru baya itupun berusaha menepuk - nepuk punggung mungil Damian agar cucunya itu mau tidur kembali.


" Uma, Mian mau mommy uma, Mian mau mommy ". Rengek nya dengan langsung terjaga dari posisinya.


" Sayang, mommy nya Damian masih tidur sayang, besok pagi saja ya ke mommy, kasihan mommy kalau dibanginkan sayang, kan mommy nya Damian sedang istirahat ". Seru Devina yang berusaha memberikan pengertian pada cucunya.


" Dak mau uma, Mian mau mommy ". Rengeknya lagi, bahkan kedua bola matanya kali ini sudah mulai berembun.


" Baiklah - baiklah cucu oma jangan nangis ya, ayo kalau mau ke kamar mommy, oma antar sekarang ". Turut Devina pada akhirnya.


Devina pasrah dengan cucunya, karena kalau sudah seperti ini, cucunya ini cukup sulit diberi pengertian.


Dengan penuh kehati - hatian sang oma yang begitu menyayangi cucunya itu menggendongnya untuk ia bawa ke kamar anaknya, namun saat baru saja dirinya turun dari ranjang kasurnya ternyata suaminya Enriko malah terbangun.


" Ma, mama mau kemana ma? ". Tanyanya tiba - tiba.


" Ini pa, Damian mau tidur sama mommy nya, jadi mama mau Damian dulu ke kamar Al ". Sahut Devina, lalu ia pun melangkah keluar meninggalkan Enriko dan cucunya Aganta berdua di kamarnya.


" Tumben Damian ingin pindah kamar, bukannya cucuku yang satu itu paling senang jika diajak tidur di sini ". Gumam Enriko.


" Upa ". Seru Aganta tiba - tiba.


" Ya Allah ". Seru Enriko yang begitu sangat terkejut pasalnya cucunya ini masih dalam keadaan tidur dan sekarang sudah memanggilnya.


" Aganta, kapan kamu melek nak?, buat opa kaget saja kamu ". Sahut Enriko terkejut dengan mengelus dadanya.


" Anta mau mommy upa, cetalan, upa halush antal Anta te mommy ". Seru Damian tanpa bantahan.


Dengan tanpa menunggu jawaban dari opa nya, Damian pun langsung terjaga dari tidurnya, rupanya bocah kecil itu ingin segera menemui mommy nya.


" Loh loh loh... ada apa ini, baru saja Damian yang ingin pindah, sekarang kamu Aganta yang mau pindah ". Seru Enriko yang merasa heran dengan kedua cucunya.


" Ayo upa cepat Antal Anta te mommy, Anta mau mommy upa ". Sentaknya begitu tak sabar.


" Iya - iya cucu opa, opa antar kamu ". Sahutnya, lalu dengan terburu - buru pria paru baya itupun menggendong tubuh mungil cucunya untuk ia bawa ke kamar putranya Al.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2