
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Di dalam kamar mandi, sang oma yang begitu menyayangi cucunya sudah memulai memandikan cucu mungilnya itu. Dengan perlahan dan ketelatenan nya ia memberikan sapuan - sapuan halus kedua tangannya untuk menyabuni tubuh mungil cucunya itu.
Alexa si bayi mungil yang sudah di letakkan di karpet khusus pemandian itu, nampak begitu tenang. Bayi mungil itu tak menangis dengan perlakuan oma nya, bahkan bisa dikatakan Alexa sangat jarang menangis pada saat tubuh mungilnya di mandikan. Mungkin baik sang oma maupun daddy nya sangat tahu bagaimana cara memandikan nya dengan baik sehingga ia tak menangis.
Si kembar Damian dengan Aganta begitu senang memperhatikan sang adik yang sedang di mandikan. Kedua tangan mungil mereka sama - sama terulur untuk mengusap bisa shampo di kepala sang adik, bahkan tak jarang tangan mungil mereka juga memegangi tangan mungil adik Alexa. Kedua anak kembar itu sangat menyukai momen - momen seperti ini.
" Aduh, senangnya ya sayang Alexa di mandikan lagi, pintarnya cucu oma tidak menangis ". Seru Devina di sela - sela menyabuni tubuh kecil Alexa.
" Tan adik Eca dalan ( jarang ) nanit uma talo di manditan ". Sahut Damian, karena itulah yang sering bocah kecil itu lihat saat sang adik sedang di mandikan, jarang menangis.
" Iya, kamu benar sayang, adik Alexa nya memang jarang menangis kalau di mandikan, sama seperti Aganta dengan Damian dulu yang tidak menangis saat di mandikan, bahkan kalian senang kalau lama - lama berada dalam bak mandi ". Sahut Devina dengan tersenyum saat wanita paru baya itu mengingat masa - masa di mana cucu kembar nya masih belum bisa mandi sendiri dulu.
" Oh, dadi dulu tita peulti adik Eca ya uma? ". Sahut Damian lagi.
" Iya betul sayang, kalian sama seperti adik Alexa, oh, lebih tepatnya si adik Alexa yang mirip kalian hihihihi... ". Sahut Devina lagi.
Devina melanjutkan memandikan cucu mungilnya, hingga setelah semuanya selesai, cucunya Aganta mulai mengambilkan handuk kecil sang adik dan memberikannya pada sang oma.
" Ayo cucu oma, mandinya sudah selesai, sudah waktunya Alexa pakai bedak wangi dan baju yang dibelikan daddy mu nak, sudah dulu ya ". Seru Devina dengan membalut kan handuk kecil itu di tubuh mungil Alexa.
" Ahilna mandina adik dah celecai ". Sahut Damian senang.
" Ayo cucu - cucu oma kita keluar sekarang pasti mommy dan daddy kalian menunggu ". Ajak Devina lagi.
Devina dengan ketiga cucunya pun keluar dari kamar mandi itu menuju kamar putranya. Dengan perasaan senang sang oma dengan kedua cucu kembarnya itu melangkah beriringan karena ingin segera mendandani Alexa.
" Wah... putri daddy sudah selesai mandi rupanya ". Seru sang daddy Al.
Devina lalu mengedarkan pandangannya pada kasur putranya itu. Nampak di sana sudah ada perlengkapan untuk pakaian Alexa termasuk bedak dan popoknya. Siapa lagi yang menyiapkan jika bukan putranya Al daddy dari Alexa.
" Ayo - ayo, saat Alexa pakai popok, baju, sama bedak wanginya sayang ". Seru Devina lalu ia meletakkan tubuh nungil cucunya itu di atas kasur sang putra yang memang telah di alasi dengan alas khusus untuk pembaringan bayi.
" Uma, Anta cama Mian, mau tasih bedak na ya uma, tita mau bantu ladi ". Seru sang kakak Aganta, karena itulah yang biasa kedua bocah kembar itu lakukan di saat sang adik selesai mandi.
" Oh tentu cucu - cucu oma, ayo sini naik, bantu oma mendandani adik kalian ". Sahut sang oma Devina.
Dengan begitu semangatnya Aganta dengan Damian pun segera naik ke kasur itu dan membantu sang oma untuk memakaikan pakaian lengkap pada sang adik. Lagi - lagi kedua kakak kembar yang semakin besar memiliki wajah khas masing - masing itu seolah tak ingin melewati saat - saat untuk memanjakan sang adik Alexa.
" Terus daddy harus bantu apa ini my twins boy, kalau kalian yang sudah membantu oma? ". Seru sang daddy Al, karena ia ingin juga memakaikan baju untuk putrinya.
" Cudah, daddy duduk ja cama mommy, bial tita yan bantu uma dandan adik Eca ". Sahut sang Damian yang melarang daddy nya.
__ADS_1
" Huum, baiklah boy, terserah kalian ". Pasrah Al.
" Sudah lah Al, kamu duduk saja temani istrimu, biarkan mama sama kedua anakmu ini yang mengurus Alexa ". Pungkas Devina agar putranya tak ikut campur.
Dengan penuh ketelatenan Devina pun mulai memakaikan popok untuk Alexa, lalu setelah itu dilanjut dengan sang kakak Aganta yang mengusapkan minyak kayu putih khusus bayi di perut sang adik, rupanya kakaknya itu sudah lihai melakukannya.
" Ini badu na uma ". Seru Damian dengan memberikan baju adiknya itu.
" Terima kasih cucu oma ". Sahutnya dengan menyambut nya baik.
Al memperhatikan mama dan juga kedua anak kembarnya yang sudah hampir selesai memakaikan pakaian Alexa. Terakhir kali yang dilakukan kedua putranya adalah memasangkan sarung tangannya untuk sang adik.
" Sayang ". Bisik Al.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Lihatlah, Aganta dengan Damian begitu perhatiannya dengan Alexa sampai sebegitunya, cenderung posesif, dan mereka berdua masih kecil, aku tidak tahu kalau mereka sudah besar, bukan tidak mungkin jika mereka sangat protect dengan Alexa ". Ungkap Al. Al merasa senang jika kedua putranya begitu sangat menjaga adiknya, namun Al juga merasa sedikit khawatir, bagaimana jika kedua anaknya terlalu mengekang sang adik, bisa - bisa Alexa menjadi tak bebas karena ulah kedua kakaknya.
Adinda menatap sang suami. Sangat nampak jelas ada rasa khawatir dalam rautnya.
" Mas, mas jangan khawatir, memang Aganta dengan Damian itu adalah kakak yang sangat menjaga Alexa, tapi mas Al juga jangan lupa, jika Aganta dengan Damian adalah anak yang bisa diberi pengertian, kalaupun mereka nanti terlalu berlebihan menjaga Alexa, kita sebagai orang tua kan bisa mengingatkan kedua putra kita untuk jangan terlalu mengekang Alexa, Adinda yakin kok mas, ketiga anak kita akan tumbuh bersama dengan rukun ". Sahut Adinda yang berusaha memberikan pengertian agar suaminya tak terlalu khawatir.
Lalu Al menghela nafasnya. Benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya. Mengapa dirinya merasa kebingungan tak jelas seperti ini?, kedua putranya kan anak - anak yang tak terlalu sulit untuk diberikan pengertian, lagipula jika kedua putranya begitu menjaga adiknya bukankah itu sangat bagus, karena itu artinya akan ada dua sosok seperti dirinya yang akan berusaha untuk melindungi keluarganya.
" Ayo, Aganta sama Damian cium juga adiknya sayang, kan adiknya sudah wangi ". Suruh Devina lagi.
" Iya uma, pati tita tium ". Sahut Damian, lalu ia pun segera mencium adiknya yang sudah di balut dengan bedong itu.
" Emm... wani na adik na Mian ini ya ". Serunya setelah mencium sang adik.
" Anta duda mau tium uma ". Pinta Aganta juga.
" Oh tentu sayang, ayo cium adiknya ". Sahut Devina lagi.
Cup... cup... cup... Aganta pun mencium wajah mungil adiknya itu cukup banyak sehingga membuat si mungil Alexa reflek cukup terusik dengan ciuman kakaknya.
" Kan adik Alexa nya sudah kalian cium, sekarang gantian oma yang harus kalian cium dong, oma jadi agak heran sama kalian, semenjak ada adik Alexa lahir kalian jadi jarang cium oma, kalian malah lebih sering cium adik Alexa ". Seru Devina, wanita paru baya itu sedikit berpura - pura sedih.
Dan benar, baik Damian maupun Aganta langsung terdiam. Setelah diingat benar juga apa yang dikatakan oleh oma mereka, semenjak sang adik Alexa lahir, sang oma menjadi sedikit terabaikan.
" Emm... baiklah uma, talo beditu Anta tium ya ". Sahut Aganta, lalu bocah kecil itupun langsung berdiri mendekati omanya.
Cup... cup... cup... Aganta menciumi hampir seluruh bagian wajah oma nya.
" Dah uma, tan cudah Anta tium ". Sahutnya dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
" Terus, Damian kenapa diam?, Damian tidak mau cium oma? ". Pancingnya, tumben Damian cucunya diam, biasanya jika dipancing seperti ini, Damian lah yang mudah reflek terlebih dahulu.
" Jadi Damian benar tak ingin mencium oma?, besok oma mau buat puding susu pandan loh sayang ". Pancing Devina agar cucunya mau menciumnya.
" Aduh uma, uma dak pelu lah mau buat pudin - pudin pada, Damian tetap tium uma tok meshti uma dak buat pudin padan ". Sahut Damian.
Ternyata Damian paham jika omanya sedang berpura - pura untuk mendapat perhatian nya.
" Cini ya, Mian tium uma cup... cup... ". Akhirnya Damian mencium omanya juga.
Al yang melihat tingkah konyol dari sang mama hanya bisa menggeleng. Ada - ada saja mamanya ini, hanya untuk mendapatkan perhatian dari kedua putranya mamanya sampai ingin membuat puding segala, ada ada saja memang mamanya.
Setelah kegiatan mencium dan dicium pun, entah mengapa nampaknya baby Alexa mulai terusik. Nampaknya bayi mungil itu seperti menginginkan sesuatu hingga...
" Oekk... oekk... oekk... ". Alexa menangis, bahkan bayi mungil itu wajahnya sampai memerah.
" Aduh - aduh cucu oma, kamu nangis sayang ". Seru Devina lalu ia pun berusaha mendiamkan cycunya.
" Ma, sepertinya Alexa haus ma, biar Adinda susui dulu Alexa, ini memang waktu Alexa minum ASI soalnya sebelum di jemur tadi, Alexa belum Adinda beri ASI ma ". Serunya pada sang mama.
Devina pun memindahkan tubuh mungil cucunya itu pada menantunya. Dan Adinda pun mulai membuka kancing baju bagian atasnya sehingga lebih mudah untuk menyusui Alexa.
Dengan seketika bayi mungil itupun menjadi terdiam dari tangisannya setelah meminum ASI dari mommy nya.
" Rupanya anak daddy haus sekali, kasihan ". Seru Al dengan mengelus pipi mungil putrinya.
Damian memperhatikan adiknya yang sedang menyusu itu. Apa yang dilihatnya telah berhasil membuatnya bertanya, apakah dulu sewaktu dirinya masih kecil seperti adik Alexa, dirinya juga meminum ASI?.
" Uma ". Seru Damian.
" Iya sayang ". Sahut sang oma Devina.
" Apa dulu watu Mian tecil peulti adik Eca, Mian duda minum ACI? ". Tanya Damian yang penasaran.
" Iya, tentu sayang, dulu sewaktu kamu masih bayi merah seperti adik Alexa, kamu minum ASI nya mommy, Aganta juga seperti itu, minum ASI juga ". Jelas Devina.
Oh, jadi seperti itu, Aganta dengan Damian pun lalu mengangguk paham. Ternyata mereka minum ASI juga sama seperti sang adik, entahlah, sebenarnya kedua bocah itu ingat jika mereka juga minum ASI pada mommy, namun mereka tak ingat jika mereka pernah minum ASI sewaktu mereka masih menjadi bayi merah seperti sang adik Alexa.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1