Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Jadi Ini Istri Al


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Keluarga kecil itu melangkah bersama memasuki area mall. Banyak pasang mata yang memandang dan menatap kagum pada keluarga kecil itu.


Semua karyawan sudah mengenal siapa yang memasuki mall itu, ya siapa lagi jika bukan sang pemilik mall, tuan Alexander Gerald Georgino.


Al melangkah dengan merangkul bahu istrinya Adinda, sedangkan si kecil Aganta dan juga Damian sedang duduk tenang di stroller mereka dengan sang daddy lah yang membantu mendorongnya.


" Selamat datang tuan, nyonya ". Sapa beberapa karyawan mall yang ada di sana.


" Iya, terima kasih ". Sahut Al dan juga Adinda.


" Maacih, uti tantik ". Sahut si kecil Aganta dan juga Damian, namun si Damian menambahkan kata cantik untuk karyawan wanita itu.


Meski sudah beberapa kali Al membawa istrinya Adinda ke mall, namun masih ada para karyawannya yang masih belum mengetahui Adinda.


" Hey Fit? ". Panggil Susi salah satu karyawan mall yang sempat menyapa Al.


" Iya ada apa? ". Sahut Fitri dengan berbisik.


" Tuan Al kapan ya menikah, kok aku tidak pernah tahu acara pernikahannya? ". Tanya Susi.


" Aku juga tidak tahu Si, kapan tuan Al menikah, tau - taunya tuan Al datang ke mall dengan membawa dua anak kembar sama istri yang mendampinginya, tapi itu dulu beberapa bulan yang lalu sebelum istrinya hamil ". Sahut Fitri.


" Hey kalian sedang apa bisik - bisik? ". Sentak salah satu temannya.


" Aduh, kamu ni Rak, mengagetkan orang tahu ". Sahut Susi dengan raut kesalnya.


" Uuuh... habisnya kalian sedang apa sih, bukannya kerja malah berbisik - bisik, pasti sedang membicarakan orang ya? ". Tebak Raka, karena memang itulah kebiasaan temannya.


" Ih, kamu tuh ya Rak, kalau bicara suka benar ". Sahut Susi.


" Tuh kan, memang benar, memangnya kalian sedang membicarakan apa sih, kenapa sepertinya serius sekali? ". Tanya Raka yang nampaknya juga mulai penasaran.


" Ih kamu tuh, bicara kalau kita suka membicarakan urusan orang lain, tapi kamunya sendiri juga kepo? ". Kali ini Fitri yang menyahut dengan wajah sinisnya.


" Ya jelaslah aku kepo, habisnya kalian sampai meninggalkan pekerjaan seperti ini ". Sahut Raka.


" Iya, kamu memang benar Rak, kita itu sedang membicarakan tuan Al, kamu tahu kan istrinya tuan Al yang itu ". Seru Susi dengan menunjuk sosok wanita yang ikut berjalan dalam rangkulan Al.


" Kenapa, bukannya wanita itu istri tuan Al? ". Sahut Raka.


" Nah, justru itu yang membuat kita bingung ". Sahut Susi lagi.


" Bukan kita, tapi kamu sama Fitri yang bingung ". Sahut Raka yang tak ingin dianggap sama seperti dua temannya.


" Iya iya, pokonya aku dan Fitri yang bingung. Jadi begini, setahuku tuan Al itu kan belum menikah, tapi sekarang sudah punya dua orang anak dan istrinya juga hamil lagi ". Ujar Susi dengan ketidakpahamnnya.


Raka yang mendengarnya terdiam sejenak, sebenarnya ia tahu siapa wanita yang mendampingi tuan Al nya.


" Aku sih tidak tahu pasti ya, tapi yang jelas, wanita hamil yang bersama tuan Al itu bukanlah wanita yang ada di pelaminan waktu itu ".


" Tunggu - tunggu, maksud kamu apa Rak? ". Tanya Fitri.


" Iya, maksudnya bagaimana sih Rak? ". Timpal Susi juga yang semakin penasaran.


" Ya ampun, kalian ini, aku itu masih belum selesai bicara, malah langsung dipotong ". Kesal Raka.


" Hihihihi... iya maaf ". Sahut Susi dan Fitri.


" Jadi begini, beberapa tahun yang lalu, ya sekitar tiga tahunan sebelumnya lah, aku pernah bantu saudara sepupu ku yang kerja di rumah tuan Al sebagai bodyguard, waktu itu adalah hari resepsi pernikahan tuan Al, karena kekurangan tenaga pekerja yang mengantar makanan dan minuman di meja tamu, akhirnya aku di suruh bantu di sana sama saudara sepupuku, ya jadi ART seharian begitu ".


" Nah, di sanalah aku bertemu perempuan yang bersama tuan Al tadi, itu perempuan yang kita anggap sebagai istrinya, jujur, sebenarnya aku tidak tahu persoalan yang sebenarnya, tapi yang pasti, perempuan yang tuan Al bawa itu, bukanlah perempuan yang menjadi pasangan tuan Al di pelaminan ".


" Perempuan itu adalah ART di sana, dia itu pernah pingsan di acara resepsi pernikahan tuan Al, dan kalian tahu apa yang terjadi, tuan Al itu sampai tega meninggalkan pasangannya di pelaminan hanya demi perempuan tadi, bahkan yang aku dengar, tuan Al tidak kembali lagi ke pelaminan ". Jelas Raka pada kedua temannya.


Susi dan juga Fitri begitu sangat terkejut setelah mendengar cerita Raka, berbagai pikiran negatif pun telah muncul di otak mereka.


" Raka... jangan katakan... jangan katakan kalau tuan Al selingkuh dengan ART nya sendiri? ". Tebak Fitri dengan rasa tak percayanya.


" Waduh, iya betul, sepertinya tuan Al memang selingkuh ". Timpal Susi.


" Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu ". Sahut Raka dengan mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


" Tapi tunggu Raka, kenapa tuan Al tidak memberitahukan pernikahannya ke media? ". Tanya Fitri lagi.


" Kata saudara sepupuku yang kerja di sana, tuan Al memang sengaja tidak mempublikasikan pernikahannya, alasannya karena tidak ingin para rivalnya tahu ". Sahut Raka, karena memang itulah alasan yang sebenarnya.


" Kalau tuan Al memang benar selingkuh, kasihan sekali istrinya ya, apalagi tuan Al sampai punya anak dari selingkuhan nya ". Seru Susi yang merasa miris.


" Ya mau bagaimana lagi, anak sultan mah bebas ". Pungkas Raka.


Tanpa mengetahui ketiga karyawannya yang sedang membicarakan dirinya dan juga sang istri, kini Al dengan keluarga kecilnya baru sampai di meja dan kursi yang telah di pilih.


" Daddy, mommy, Mian mau tulun, Mian mau pindah ja ". Pinta Damian.


" Iya, Anta duda mau tulun, mau duduk di cini ja ". Timpal Aganta dengan menunjuk salah satu kursinya.


" Oh, oke lah my twins boy ". Sahut sang daddy Al, lalu memindahkan tubuh mungil mereka berdua ke kursinya masing - masing.


Baru saja sang daddy selesai mendudukkan kedua putra kecilnya, datanglah seorang pelayan wanita yang menghampiri keluarga kecil itu.


" Selamat datang tuan nyonya, dan kedua tuan muda kecil, ada yang bisa kami bantu ". Sapa pelayan itu dengan ramah.


" Seperti biasa, kamu tahu kan makanan kesukaan kedua putraku, kecuali istriku, menu makanannya di samakan dengan milikku ". Sahut Al tanpa basa basi.


" Baiklah tuan nyonya, kalau begitu akan segera kami siapkan ". Sahut pelayan wanita itu lagi sebelum akhirnya berlalu menuju dapur.


" Sayang, apa kamu ingin sesuatu, misalnya cemilan begitu? ". Tawar Al pada sang istri, pasalnya istrinya itu tak meminta apa - apa sedari tadi.


" Tidak mas, Adinda tidak ingin apa - apa saat ini, selain hanya makan saja ". Sahutnya lembut.


" Huum, baiklah sayang ". Sahut Al.


Tanpa Al sadari, dari posisinya duduk saat ini, sedang ada tuan David dan juga dua rekan kerjanya yang juga berkunjung sedang menikmati menu makan mereka.


Meja tuan David dengan meja Al hanya terhalang oleh dua meja saja, tentu jarak mereka saat ini tidaklah terlalu jauh.


" Ini tuan nyonya, menunya ". Seru pelayan tadi dengan meletakkan makanan yang di pesan oleh Al.


" Selamat menikmati tuan nyonya, tuan muda kecil ". Lanjut pelayan itu lagi dengan sikap ramahnya.


" Terima kasih mbak ". Sahut Adinda tersenyum.


Kini keluarga kecil Al, sudah mulai menikmati makanannya, tak terkecuali si kecil Aganta dan juga Damian, tak ada lagi kejadian daging steak milik Damian yang melayang, karena pelayan di restoran itu sudah memotong daging steaknya sesuai dengan yang diinginkan oleh sang tuan muda Damian.


" Makanan di restoran tuan Al ini rasanya benar - benar enak tuan, daging ayam yang saya makan tadi sangat empuk dan bumbunya juga meresap ke dalam ". Puji salah satu teman David.


" Iya, anda benar tuan, itulah sebabnya kenapa setiap seminggu sekali saya selalu menyempatkan diri untuk makan di restoran ini, ya kan tuan sendiri tahu, jika saya lebih suka makan di rumah daripada di luar ". Sahut David.


Dan seperti itulah, meski ketiga pria paru baya itu sudah selesai makan, namun sepertinya mereka masih menyempatkan diri untuk mengobrol.


Dan keluarga kecil Al pun sudah hampir selesai memakan menu makanannya, kecuali si kecil Aganta dan juga Damian yang masih harus menyelesaikan beberapa suapan lagi agar makanan mereka habis.


" Sudah anak - anak daddy? ". Tanya Al pada kedua putranya.


" Cudah daddy ". Sahut keduanya kompak.


" Aganta Damian, di habiskan dulu minumannya nak, nanggung tinggal sedikit sayang ". Seru Adinda.


Tanpa banyak bicara, kedua bocah kecil itupun meminum kembali minuman mereka, sedangkan di meja David, nampaknya ketiga pria paru baya itu sudah ingin meninggalkan meja mereka.


" Baiklah, tuan tuan, tunggu di luar saja dulu, saya mau bayar tagihannya dulu ke kasir ". Seru David pada kedua rekan kerjanya.


" Ya kami juga ingin bayar tuan ". Sahut mereka.


" Tidak perlu tuan, biar saya saja yang bayar, sekali - kali tidak apa - apakan mentraktir teman sendiri ". Sahut David lagi.


" Baiklah tuan David, kalau kita makan di sini lagi, biar saya yang traktir ". Sahut salah satunya.


" Hahahaha.... ". Mereka tertawa renyah rupanya.


David pun menuju kasir, sedangkan kedua temannya menuju keluar mall.


" Berapa tagihannya untuk di meja saya? ". Tanya David.


" Total semuanya dua ratus tiga puluh ribu tuan ". Sahut kasir wanita itu.


David pun menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak tiga lembar pada kasir itu, ya meski David seorang pengusaha kaya, yang sebenarnya sangat mampu membayar tagihan apapun dengan kartu debit nya, namun David memiliki kebiasaan untuk selalu menyediakan pecahan uang di sakunya.

__ADS_1


" Ini tuan, uang kembaliannya tujuh puluh ribu, terima kasih atas kunjungannya dan selamat datang kembali ". Seru kasir itu ramah dengan memberikan sisa uang milik David.


Merasa tak ada kepentingan lagi, David pun segera ingin keluar dari restoran itu, ia melangkah meninggalkan meja kasir.


Baru beberapa langkah pria paru baya itu berjalan, mendadak langkahnya terhenti, David tak sengaja melihat sosok yang sangat ia kenal.


" Hah... bukannya itu Al ". Gumamnya dengan tanpa melepas pandangannya.


" Siapa mereka? ". Gumam David lagi setelah melihat seorang wanita berhijab dan juga dua orang anak kecil yang sedang duduk bersama dengan Al.


Tak ingin berlama - lama dengan rasa penasarannya, David pun kembali melangkah menuju meja Al.


" Al, kamu di sini? ". Tanya David tiba - tiba.


Sontak saja Adinda dan juga Al pun langsung menoleh.


" Om David ". Sahut Al dengan sedikit tertegun.


Ya, Al dengan David, tidak akan saling memanggil tuan jika ada luar kantor ataupun bertemu dengan rekan kerja yang lain.


" Kamu makan di restoran mu? ". Tanya David.


" Iya om, kami makan di sini ". Sahut Al santai.


David nampak memperhatikan wanita berhijab dan juga dua bocah kecil yang duduk di antara Al dan juga wanita berhijab itu.


" Mereka siapa Al, kenapa om baru melihat mereka? ". Tanya David, sepertinya ia ingin memastikan sesuatu.


" Wanita berhijab yang duduk di sampingku ini adalah Adinda istriku om, dan kedua anak kembar ini adalah putraku ". Sahut Al.


David cukup tertegun dengan penuturan Al, jujur saja masih ada rasa tak terima di lubuk hati terdalamnya.


Sudah sejak lama David ingin agar Al bisa menjadi suami Diandra, namun sayang, akibat dari kecerobohannya sendiri, membuat Al tidak bisa menjadi menantunya, tidak, bukan tidak bisa, tapi karena keadaan lah yang tidak memihak.


" Jadi ini istri Al, wanita yang pernah putriku ceritakan ". Batin David.


Adinda yang di tatap oleh David merasa tak nyaman dibuatnya, Adinda sedikit merasa takut, karena tatapan pria yang suaminya panggil om David itu nampak tak biasa.


" Sebenarnya om ingin apa datang kemari?, jika om ingin membuat istriku merasa tak nyaman, lebih baik om pergi saja dari sini ". Sentak Al tiba - tiba, ia merasa tak suka dengan sikap David.


" Oh, maafkan om Al, om tidak bermaksud apa - apa, hanya saja om melihat istrimu ini, jadi teringat akan cerita dari Diandra ". Sahut David dengan suaranya yang terdengar getir.


" Jadi om sudah tahu, baguslah jika om David sudah mengetahuinya ". Sahut Al dengan suara datar namun terkesan menekan.


" Ya sudah kalau begitu, om permisi dulu ya Al ". Pamit David, namun Al tak menyahut.


David pun kembali melangkah meninggalkan area restoran itu, dan masih harus melangkah keluar dari mall.


" Sial, beraninya Al bersikap menantang seperti itu, dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, bahkan saat menjadi tunangan putriku, Al begitu sangat sopan, heh... rupanya perempuan itu sudah berhasil mengubahmu Al ". Gumam David dengan rasa kesal di hatinya.


Di mejanya, Al menatap wajah istrinya, sepertinya istrinya ini sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja.


" Sayang, kamu merasa tidak nyaman? ".Tanya Al.


Adinda pun mengangguk.


" Mas, bapak yang tadi itu, papanya kak Diandra? ". Tanya Adinda.


" Iya sayang, itu om David, papanya Diandra ". Sahut Al.


" Oh, papa na uti Dianda, uti yan bawa tue itu ya daddy? ( oh, papanya onti Diandra, onti yang bawa kue itu ya daddy?) ". Sahut si kecil Damian tiba - tiba, rupanya bocah kecil itu masih mengingat onti Diandra nya.


" Iya boy, orang yang tadi papanya onti Diandra, kamu masih ingat ya dengan onti yang namanya Diandra itu, padahal kamu baru sekali bertemu dengannya ". Sahut Al tersenyum.


" Iya daddy, Mian inat ". Sahutnya.


" Anta duda inat ". Sahut Aganta juga.


" Wah, kalian luar biasa boy, masih kecil tapi daya ingat kalian melebihi anak - anak yang seumuran kalian, daddy sangat bangga ". Puji Al.


Ya, memang Aganta dengan Damian tergolong anak yang cerdas, mereka tidak terlalu sulit untuk memahami bahasa orang dan juga tidak mudah lupa dengan seseorang, baik itu nama maupun wajahnya, dan mungkin itulah salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh dua bocah kembar itu.


Bersambung..........


Hai Hai kak, Author update lagi, semangat membaca ya.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2