Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Kenyataannya


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Sayang, yang kamu lihat tadi, aku bisa menjelaskan semuanya cup... ". Serunya lagi dengan mencium pucuk kepala sang istri.


Al memeluk tubuh istrinya itu dengan begitu erat, sungguh tak pernah terpikirkan oleh Al, jika istrinya Adinda akan mengetahui siapa Diandra dalam keadaan seperti ini, sungguh Al sangat mengkhawatirkan nya.


Diandra yang menyaksikan bagaimana Al mendekati dan memperlakukan wanita itu begitu sangat terkejut. Bagaimana tidak, baru saja dirinya bisa memeluk, tapi malah ditinggalkan. Benarkah jika laki - laki yang baru saja dirinya peluk memang benar Al, lalu mengapa Al malah meninggalkannya, dan apa tadi maksudnya, sayang?, apa maksud Al memanggil wanita itu dengan sebutan sayang?.


Al mulai menguraikan pelukannya dari sang istri. Terlihat jelas, banyak linangan air mata dari kedua bola mata indahnya.


Cup... Al mencium kening istrinya lagi dengan begitu lembut. Meski tanpa sengaja melakukannya, namun tetap saja Al sudah menyakiti hati istrinya.


" Sayang, jangan menangis lagi ya, apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan, mas akan menjelaskan semuanya ". Sahut Al, kemudian ia pun mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata istri tercintanya itu.


" Al, siapa wanita itu? ". Tanya Diandra tiba - tiba.


Sontak Al pun tersadar, iya, Al baru mengingatnya jika ada Diandra yang saat ini sedang menunggunya.


Al pun berbalik melihat Diandra, dan Al juga memperlihatkan istri dan juga kedua anak kembarnya pada Diandra.


Diandra yang melihat sosok wanita dalam keadaan perutnya yang buncit itupun cukup tersentak. Siapakah wanita yang berada di dekat Al ini, mengapa perutnya terlihat buncit?, itulah pertanyaan yang saat ini ada di dalam benak Diandra.


Al pun menggenggam tangan istrinya, entah apa yang diinginkannya. Dan benar, tak lama dari itu, Al pun menggiring istri dan juga kedua anaknya untuk ia bawa ke dekat Diandra.


Keluarga kecil itu melangkah dengan perlahan hingga akhirnya mereka berdiri dengan jarak yang cukup dekat tepat di hadapan Diandra.


" Di, kamu tadi bertanya siapa wanita di sampingku ini?, sebelum aku menjawabnya, coba kamu perhatikan wanita dan juga kedua anak kembar yang saat ini sedang berdiri di samping kiri dan kanan ku ". Suruh Al, karena inilah cara Al memberikan jawabannya pada Diandra.


Diandra pun memperhatikan sosok wanita cantik dengan hijab sederhana yang terlihat kurang begitu rapi itu, mungkin pada saat menggunakan hijabnya wanita ini terburu - buru memakainya.


" Tunggu dulu, kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah perempuan ini, dan... dan kenapa dia perutnya buncit?, jangan katakan kalau dia?... ". Batin Diandra.


Dan sepersekian detik dari itu Diandra pun mengalihkan pandangannya pada kedua bocah kecil yang ada di samping Al.


Dada Diandra terasa begitu bergemuruh setelah melihat wajah kedua bocah kembar itu, tubuhnya pun terasa lebih membeku daripada di awal saat ia melihat Al tadi.


" Mengapa kedua anak kecil ini begitu sangat mirip dengan Al?...tidak...jangan - jangan mereka ". Batin Diandra khawatir.

__ADS_1


Diandra pun mengalihkan pandangannya pada Al. Merasa sudah menemukan jawaban namun masih tak mampu mengatakannya, itulah arti dari tatapan Diandra.


" Iya, kamu benar Di, wanita dan kedua anak kembar yang ada di sampingku ini adalah istri dan juga anak - anakku ". Ungkap Al pada akhirnya.


Deg...


Bak terkena hantaman besar di dadanya. Diandra begitu sangat terkejut, bahkan deru nafasnya pun kini seolah terhenti, Diandra benar - benar membeku dibuatnya.


Apa istri, anak?. Jadi benar, ketakutan yang dirasakannya tadi, tapi kenapa, dan bagaimana bisa, bagaimana bisa Al melakukanya?, bukankah Al sendiri yang pernah berpesan jika ia akan setia menunggunya?, tetapi kini malah apa yang terjadi, kenyataannya tidak seperti yang pernah Al janjikan.


Diandra benar - benar tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, apalagi sampai mengeluarkan rangkaian kalimat untuk mengungkapkan perasaannya, lidahnya terasa begitu kelu. Merasakan hancur sehancur - hancurnya, itulah yang hati Diandra rasakan.


" Maafkan aku Di, tapi kamu tahu kan, bahkan banyak orang percaya, jika tidak ada seorang pun yang benar - benar tahu dengan pasti, dengan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, begitupun yang juga terjadi pada hubungan kita. Lima tahun yang lalu kamu pergi meninggalkan ku tanpa adanya suatu pesan apapun, dan sekarang, kamu tiba - tiba datang kembali dan meminta maaf untuk semua yang sudah terjadi ".


" Aku tahu, kepergian mu ke Canada sama sekali bukan keinginan mu. Ratusan kali aku sudah menghubungi mu Di, dengan harapan agar kamu tetap mau melanjutkan hubungan kita, bahkan aku juga menulis banyak pesan jika aku akan menunggumu hingga kamu kembali, tapi sayang, itu hanyalah sebuah usaha belaka yang aku perjuangkan untuk hubungan kita, karena apa?, karena ternyata Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan setiap insan dengan jodohnya ".


" Aku dan kamu tidak berjodoh Di, dan aku harap, kamu bisa menerima kenyataan ini. Aku sudah memiliki seorang istri dan juga dua orang anak, bahkan istriku saat ini tengah mengandung anak ketiga ku ". Ucap Al dengan segala kenyataannya.


Diandra benar - benar semakin hancur, hatinya benar - benar remuk, teramat sakit, itulah yang Diandra rasakan saat ini. Apa yang terjadi pada hari ini bagaikan sebuah mimpi buruk yang ingin segera ia sudahi, dan dengan tanpa permisi, kini air mata itu telah mengalir, sudah sedari tadi Diandra berusaha menahan agar air matanya tak jatuh, namun sepertinya tak bisa, air mata itu tetap mengalir seiring dengan bagaimana terlukanya hatinya saat ini.


Al yang melihat bagaimana Diandra menjatuhkan air matanya sebenarnya merasa tak tega, namun harus bagaimana lagi, Diandra memang harus mengetahui kebenarannya.


Begitu juga dengan Adinda, di dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat kasihan dan tidak tega karena harus melihat seorang wanita menangis, apalagi yang menjadi penyebabnya menangis adalah dirinya, sungguh tak ada niatan sedikitpun dalam hati Adinda untuk menyakiti perasaan orang lain apalagi yang disakiti nya itu adalah sesama wanita.


Diandra pun mengangguk, dengan cepat wanita berparas cantik itu berusaha mengusap air matanya yang tadi sempat mengalir deras. Iya, memang benar apa yang dikatakan oleh Al tadi, tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi di mas yang akan datang, termasuk kejelasan hubungannya dengan Al, dan apa yang terjadi saat ini sama sekali sepenuhnya bukanlah salah Al, tetapi juga salah dirinya, andai saja jika pada waktu itu dirinya masih menerima dengan baik hubungannya dengan Al meski berjauhan, pastilah tidak akan seperti ini jadinya.


" Baiklah Al, semoga kamu dengan istri dan juga anak - anakmu bisa hidup bahagia, terima kasih untuk semua kenangan indah yang pernah kamu berikan dulu, seperti katamu tadi, Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan seseorang dengan jodohnya, dan ternyata jodohmu bukanlah aku ". Sahut Diandra pada akhirnya setelah cukup lama terdiam.


Meski hatinya masih terasa sakit, namun setegar mungkin Diandra berusaha untuk tetap tersenyum, mungkin memang seperti inilah akhir hubungannya dengan Al.


" Uti uti, boleh Mian tenal? ( onti onti, boleh Damian kenal?) ". Tanya si kecil Damian tiba - taba.


Sontak saja Diandra pun menoleh ke arah si kecil Damian, namun sayang, Diandra tak paham dengan bahasa cadel yang dikatakan nya.


" Hehehe... kamu bicara apa sayang, tante tidak paham ". Seru Diandra dengan senyuman anehnya.


" Dia putraku namanya Damian, dia ingin mengenalmu Di ". Sahut Al yang ikut menimpali agar Diandra bisa memahami maksud dari putranya.


" Oooh... jadi namanya Damian, boleh, Damian boleh mengenal tante ". Sahut Diandra dengan tersenyum.

__ADS_1


Karena sang tuan muda Damian, mendadak suasana di tempat itu berubah seolah tak pernah terjadi hal menegangkan apapun.


Merasa mendapatkan lampu hijau, si kecil Damian pun mendekati Diandra, begitupun dengan Diandra, wanita berparas cantik itu berusaha mensejajarkan tubuh tingginya dengan tubuh mungil Damian.


" Nama atu Mian uti ( nama aku Damian onti) ". Seru Damian, dan bocah kecil itupun dengan sigap berusaha meraih tangan Diandra untuk ia cium.


" Nama tante Diandra, senang bisa mengenal Damian ". Sahut Diandra dan ia pun menerima uluran tangan mungil Damian.


Pada saat Damian mencium punggung tangannya, entah mengapa Diandra merasa seperti pernah melihat wajah Damian, tapi dimana?, itulah yang ada di dalam benaknya saat ini.


Dan setelah bersalaman dengan onti cantik Diandra, Damian pun kembali berdiri sejajar dengan saudara kembarnya Aganta.


Diandra masih terus memperhatikan kedua bocah kembar itu, ia benar - benar sangat penasaran, di mana Diandra pernah melihatnya.


" Wajah kalian begitu tidak asing, di mana aku pernah melihat? ". Batin Diandra, hingga...


Deg...deg... deg... jantung Diandra begitu berdetak hebat, Diandra begitu sangat terkejut...jadi?...akhirnya terjawab sudah, setelah cukup lama ia berusaha mengingat wajah kedua anak kembar ini, akhirnya Diandra telah menemukan jawabannya.


Dadanya kini kembali bergemuruh, Diandra pun langsung menatap Adinda, dan...


Deg....


Tubuh Diandra terasa kembali membeku, bahkan deru nafasnya pun seolah terhenti kembali. Diandra membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, jadi... memang benar dia orangnya.


" Benar... perempuan ini adalah Adinda... orang yang sudah Al nodai hingga hamil ". Batin Diandra.


Diandra masih tak berkedip, ia masih terus menatap Adinda, sedangkan Adinda yang di tatap seperti itu oleh Diandra merasa tak nyaman dan takut.


" Ada apa Di, kenapa kamu menatap istriku seperti itu? ". Sahut Al tiba - tiba.


Diandra pun langsung mengalihkan tatapannya pada Al. Al yang memang sudah sangat mengenal Diandra bisa mengenali maksud dari tatapannya.


" Kenapa kamu menatapku seperti itu, memangnya kebohongan apa yang sudah aku sembunyikan tapi kamu mengetahuinya? ". Batin Al.


" Al, kamu menikahi Adinda karena rasa bersalah kan, iya, kamu menikahi Adinda karena kamu sudah menodainya hingga hamil ". Ucap Diandra pada akhirnya.


Deg...


Sampai di sini dulu ya kakak - kakak, tetap semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2