
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Diandra pun ikut tersenyum mendengarkan kisahnya, ternyata kisah percintaan kedua orang tua Adinda ini begitu sangat butuh perjuangan, tapi tunggu dulu, Diandra masih begitu penasaran dengan kata almarhumah ibu, apakah tante Anggi itu meninggal?, sungguh Diandra benar - benar penasaran dibuatnya.
" Kata papaku, demi agar hidup tante Anggi bahagia, akhirnya kakek dan nenek tidak lagi mengungkit - ngungkit tentang kegagalan om Budi ataupun keinginan mereka agar anaknya bercerai, tapi itu tidak berlangsung lama Di, om Budi yang pada waktu itu masih tinggal di rumah keluarga Kanzu masih terus di hina dan di rendahkan, sampai akhirnya tanteku merasa tidak kuat karena suaminya terus - terusan di hina oleh orang tuanya sendiri, hingga dari itulah om Budi dan juga tante Anggi ku memutuskan untuk pergi ".
" Kakek dan nenek sangat menentang keputusan mereka yang ingin pergi dari rumah, apalagi tante Anggi dalam keadaan hamil, tapi tante Anggi sudah bersikukuh untuk keluar dari rumah dan hidup bersama dengan suaminya, hingga nenek dan kakek pun akhirnya membiarkan mereka pergi, tapi ternyata, dibalik itu semua kakek dan nenek masih memiliki rencana tidak baik, mereka masih terus berusaha untuk menghancurkan setiap usaha yang om Budi rintis, hingga pada akhirnya om Budi dan tante Anggi pun pergi jauh tanpa seorang pun yang tahu ".
Mendengar kisah pada bagian ini, Diandra merasa jika orang tua tante Anggi ini begitu jahat, hanya karena om Budi berasal dari keluarga yang tidak sepadan dengan keluarganya, mereka sampai menghalalkan segala cara untuk memisahkan anaknya dan juga suaminya, apa mereka tidak berpikir jika yang mereka lakukan sudah merusak kebahagiaan putrinya sendiri?.
" Mereka benar - benar menghilang bak ditelan bumi, hingga papaku mencari mereka ke mana - mana tapi papaku tetap tidak menemukan mereka, hingga setelah sembilan tahun berlalu, akhirnya papaku baru menemukan keberadaan mereka Di, dan ternyata om Budi dan tante Anggi ada di rumah om Budi yang dulu, mereka kembali lagi ke rumah lamanya, tapi itu sudah dalam keadaan yang berbeda, setelah sembilan tahun lebih tidak bertemu ternyata om Budi dan tante Anggi sudah memiliki dua orang anak ".
" Anak pertama mereka namanya Haikal, dia seumuran denganku dan anak yang kedua ini namanya Adinda, si gadis kecil yang begitu menggemaskan, saat itu usia Adinda sudah empat tahun, dia anak yang penurut dan murah senyum, tapi sayang, dia anaknya sangat pemalu, saat aku ingin berkenalan dengannya saja Adinda sampai sembunyi - sembunyi karena rasa malunya, hihihi...lucu sekali dia ".
Diandra yang mendengarnya pun sampai ikut tersenyum, rupanya si Adinda ini bukan hanya wajahnya saja yang terlihat cantik dan juga menggemaskan, sifatnya pun sama cantiknya dan juga menggemaskan.
" Adinda sangat dekat dengan papa mamaku dan juga aku, bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama, dan juga berfoto bersama, adapun foto Adinda dari semenjak bayi yang ada di album foto ini, karena papaku lah yang memintanya pada tante, setiap hari libur, aku, papa, dan juga mama, selalu main ke sana, itupun tanpa sepengetahuan kakek dan nenek ".
Diandra masih begitu menyimak kisah tentang Adinda ini, entah mengapa Diandra begitu senang mendengarnya, Diandra seperti ingin tahu lagi dan lagi.
" Jadi, om Herdi, juga tidak tahu sewaktu Adinda masih bayi, tahunya sewaktu Adinda berusia empat tahun begitu ". Tanya Diandra pada akhirnya setelah cukup lama ia diam mendengarkan.
" Iya, betul ". Sahut Rania.
Diandra mengangguk - ngangguk paham, karena melihat sang saudara sepupu sudah memberi isyarat jika dirinya sudah paham, Rania pun memilih untuk tidak melanjutkan sepenggal kisah tentang kehidupan Adinda, lagi pula yang membuat Diandra penasaran kan kehidupan masa kecil Adinda bukan kehidupan dewasanya, pikir Rania.
Dan Diandra sendiri pun ternyata sudah lupa dengan hal yang membuatnya sempat penasaran, bukankah tadi hatinya ingin tahu tentang ibu Adinda yang meninggal, entahlah, mungkin karena ia merasa senang dengan sifat menggemaskan Adinda, sehingga Diandra pun kembali fokus untuk melihat foto - foto yang lainnya.
Diandra terus memperhatikan foto - foto itu, hingga kini pandangannya tertuju pada foto Adinda bersama dua orang anak kecil yang duduk di samping kanan dan kiri tubuhnya.
" Dua anak balita ini siapa, mereka kembar, dan...sepertinya wajah mereka blasteran, lucu sekali mereka...tapi tunggu dulu...wajah dua anak kecil ini kenapa seperti nya tidak asing ". Batin Diandra.
" Ran ". Panggil Diandra tiba - tiba.
" Iya ada apa Di?, heh kamu ini buat aku kaget saja ". Sahut Rania.
" Ini, dua anak balita yang kembar ini adiknya Adinda, tapi kenapa tidak mirip ya, malah wajah mereka lebih mirip bule? ". Tanya Diandra pada akhirnya, ia merasa heran dengan dua bocah kecil yang menurutnya mereka adalah adik - adiknya Adinda.
" Mereka bukan adiknya Di, tapi anak - anaknya ". Sahut Rania santai.
__ADS_1
" Apa? ". Pekik Diandra.
" Mereka anaknya, Adinda punya anak? ". Lanjutnya lagi dengan kedua bola matanya yang sudah melotot.
Diandra sangat terkejut bukan main, bagaimana tidak, gadis muda yang wajahnya bak anak remaja yang terlihat begitu imut itu ternyata memiliki anak, bahkan dua orang anak.
Diandra masih melongo, ia masih benar - benar tak habis pikir dengan fakta jika Adinda sudah memiliki dua orang anak.
" Ya Tuhan Di, ya tidak perlu melotot seperti itulah, seperti orang kesurupan saja kamu? ". Sahut Rania dengan raut keheranan nya.
" Ya, bagaimana aku tidak kaget Ran, coba kamu lihat, Adinda di fotonya masih seperti anak remaja, di wajahnya sama sekali tidak nampak kalau dia itu sudah punya anak ". Sahut Diandra yang berusaha membenarkan.
Mendengar sahutan dari sang saudara pun, membuat Rania hanya bisa menghela nafasnya. Sangat wajar memang jika Diandra mengira jika anak - anak Adinda adalah adik - adiknya, pasalnya Adinda sudah memiliki anak di usianya yang masih sangat muda, dan hal itupun terjadi karena suatu kesalahan.
" Jujur saja aku tidak bisa menceritakan semuanya padamu Di, yang jelas, dua bocah laki - laki ini adalah anak - anaknya ". Sahut Rania, ia sudah merasa cukup untuk menceritakan kehidupan Adinda, dan Rania sudah malas untuk menceritakan kisah kehidupan Adinda yang lain, lagipula tidak semua orang harus tahu kan?.
" Ran, coba kamu cerita padaku, aku itu sangat penasaran dengan kisah Adinda ini Ran, ya bukan apa - apa sih, aku hanya ingin tahu saja tidak lebih dari itu, dan menurutku sepertinya Adinda ini wanita baik - baik ". Jelas Diandra yang ternyata masih ingin tahu tentang kisah Adinda.
Melihat sang saudara sepupu yang ternyata masih ingin tahu tentang kisah Adinda, Rania pun merasa sepertinya ia juga harus menceritakan hidup kelam yang pernah dialami oleh Adinda, agar sang saudara sepupunya ini tak lagi menjadi penasaran.
" Adinda bisa memiliki dua orang anak di usianya yang masih sangat muda karena dia diperk*osa Di ". Sahut Rania pada akhirnya.
Deg... " Apa, diperko*sa? ". Pekik Diandra.
Diandra membelalakkan kedua bola matanya, bahkan ia sampai tak mampu menggerakkan kedua belah bibirnya lagi, hingga sesaat setelah beberapa detik kemudian, barulah Diandra bisa menetralkan rasa keterkejutan itu dan menjadi lebih tenang.
" Aku akan persingkat ceritanya Di, jadi begini terakhir kali aku, mama dan juga papa bisa bersama dengan Adinda saat satu minggu setelah ulang tahun Adinda, setelah itu kami semua tidak tahu kemana keluarga om Budi itu pindah, tapi setelah tujuh tahun kemudian, papa kembali menemukan om Budi, tapi sayangnya sudah dalam keadaan yang berbeda ".
Dan benar, kali ini Rania sudah menampakkan wajah sedihnya, Rania begitu tak sanggup untuk menceritakan nya namun sesuai janji, Rania akan tetap menceritakan nya.
" Di saat papaku sudah berhasil menemukan om Budi lagi, ternyata tante Anggi sudah meninggal, tante Anggi dan Haikal putranya meninggal karena kecelakaan Di ". Sahut Rania pada akhirnya.
Akhirnya rasa penasaran di awal yang Diandra ingin tahu terjawab sudah, jadi tante Anggi meninggal karena kecelakaan?, hati Diandra begitu sedih setelah mendengarnya, sungguh malang sekali nasib Adinda, sudah kehilangan ibu dan kakak kandungnya, harus kehilangan kesuciannya pula, sebagai seorang wanita, hati Diandra merasa miris mendengar kisah Adinda yang begitu memilukan ini.
" Lalu bagaimana Ran, apa om Herdi waktu itu membawa Adinda?, terus bagaimana bisa Adinda sampai diperkirako*sa, apa dia tidak dijaga dengan baik, sampai - sampai dia mengalami nasib yang buruk seperti itu? ". Kali ini Diandra bertanya lagi.
" Bukan tidak dijaga dengan baik Di, hanya saja setelah papaku tahu semuanya, om Budi malah nekat kabur lagi dengan membawa Adinda, bahkan saudara om Budi pun juga ikut - ikutan pergi ".
" Entahlah Di, setelah itu, aku tidak tahu lagi bagaimana nasib Adinda, tapi dari cerita yang aku dengar dari papa, setelah Adinda lulus dari sekolah menengah atas, Adinda pergi ke ibu kota untuk mengadu nasib, tapi sungguh sayang, kejadian malang itu menimpanya, Adinda diperko*sa oleh majikannya sendiri hingga dirinya hamil ". Jelas Rania.
Diandra langsung menutup mulutnya, Diandra begitu sangat terkejut, bagaimana bisa seorang majikan begitu tega menodai pembantunya sendiri, benar - benar sangat biadab majikan itu.
__ADS_1
" Terus bagaimana Ran, apa majikan Adinda itu sudah di penjarakan, aku berharapnya dia di penjarakan ". Sahut Diandra tiba - tiba, ia begitu sangat kesal pada majikan yang sudah berbuat bejat itu.
" Tidak Di, tidak di penjarakan, karena....".
" Apa?, bagaimana bisa orang yang sudah melakukan kejahatan se keji itu tidak di penjarakan ". Sentak Diandra hingga membuat kalimat Rania yang belum selesai itu menjadi terpotong.
" Aduh Di, kamu ini, dengarkan dulu, aku kan belum selesai bicara, coba dengarkan dulu baik - baik agar tidak gagal paham huuuh... ". Kesal Rania.
" Hehehe... iya maaf, habisnya aku terlalu kesal Ran ". Sahutnya cengengesan.
" Jadi begini, Adinda itu diperko*sa sama majikannya sendiri karena suatu ketidaksengajaan, ada orang jahat yang sengaja memasukkan obat perang*sang di minumannya majikan Adinda, dan itupun dosisnya sangat tinggi, Adinda yang pada waktu itu sama sekali tidak tahu jika majikannya sedang di jebak, malah berusaha ingin menolong majikannya, dan akibatnya ya seperti itulah, Adinda malah di nodai oleh majikannya sendiri, hingga menyebabkan Adinda hamil anak majikannya ". Pungkas Rania.
Diandra yang mendengarnya pun baru menjadi paham, jadi kejadian memilukan yang dialami oleh Adinda itu bukanlah sepenuhnya salah majikannya, tapi bagaimana dengan nasib Adinda dan juga anak - anaknya, apakah majikannya itu mau bertanggung jawab?, nampaknya Diandra masih dilanda oleh rasa penasaran.
" Tapi tetap saja Ran, apa yang dilakukan oleh majikannya itu tetaplah salah, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, apalagi karena perbuatannya itu Adinda sampai hamil dan punya anak dua ". Sahut Diandra yang ternyata masih terima.
" Kalau soal itu kamu jangan khawatir Di, majikan Adinda itu bukan pria brengs*k, dia sudah bertanggung jawab Di, majikan Adinda itu sudah menikahi Adinda, bahkan yang aku dengar dia sangat mencintai Adinda dan juga anak - anaknya ". Sahut Rania jujur.
" Huuft... ". Diandra sudah bernafas lega, syukurlah jika Adinda memiliki suami yang begitu mencintainya, dan mungkin hadirnya sosok suami yang begitu mencintai Adinda itu adalah hadiah dari Tuhan, karena Adinda selama ini sudah banyak melewati penderitaan dalam hidupnya.
Dan benar, setelah itu tak ada lagi pertanyaan dalam benak Diandra, hingga wanita yang berparas cantik itu telah kembali melihat foto Adinda dan juga anak - anaknya.
Diandra begitu sangat memperhatikan wajah kedua anak Adinda, entah mengapa Diandra merasa wajah kedua bocah di dalam foto itu begitu sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal, bahkan sangat Diandra kenal.
Jika awalnya Diandra masih belum bisa mengenali mirip siapakah kedua balita di foto ini, namun sekarang ia sudah mengenalinya.
" Kenapa wajah kedua anak kembar ini mirip sekali dengan mu Al, mereka sangat mirip, iya, aku menyadarinya sekarang, wajah kedua anak kembar ini seperti duplikasi dari wajahmu ". Batin Diandra.
Rasanya saat ini hati Diandra begitu sesak, dan entah mengapa rasa takut itu malah muncul di dalam lubuk hatinya.
" Ran, kalau aku boleh tahu, siapa nama ayah dari kedua anak kembar ini? ". Tanya Diandra pada akhirnya.
" Entahlah Di, aku sendiri juga tidak tahu, karena selama Adinda menikah dengan majikannya, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan suaminya, bukan tidak pernah bertemu sih, tapi akunya yang malas bertemu hihihihi... ". Sahut Rania cekikikan.
Setelah mendengar sahutan dari sang saudara sepupu, Diandra bingung harus merasakan apa, di satu sisi Diandra masih cukup lega karena ia tidak mendengar jika ayah dari kedua anak kembar ini adalah Al, namun di sisi lain ia juga merasa khawatir, bagaimana jika ayah dari kedua anak kembar ini memang benar Al?, sungguh Diandra tak ingin jika hal itu memang benar terjadi.
" Al, aku harap, bukan kamulah orang itu ". Batin Diandra sedih.
Bersambung..........
Terima kasih atas dukungannya ya kakak - kakak, tetap semangat membaca.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏππΏππΏππΏππΏπ