
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sepasang orang tua yang memandikan kedua putranya di bak pemandian itu begitu telaten memandikan nya. Aganta dan Damian terus memainkan air mandi di bak nya, kedua bayi gembul itu seolah tak ingin berpindah dari tempat pemandiannya.
Byurrr... byurrr... byurrr.... pratt... Aganta dan Damian memukul - mukul air di bak mandinya.
" Mam, mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian pada Aganta.
" Mam, mam, mam, mam, ba ". Sahut Aganta pada Damian.
Entahlah apa yang dicelotehkan oleh kedua bayi gembul itu, mereka berdua seolah membicarakan hal yang sangat penting layaknya orang dewasa yang sedang berbicara, dan mungkin bagi sebagian orang bahasa kedua bayi gembul itu tidak ada bedanya dengan bahasa alien yang sulit untuk dimengerti, namun bagi Aganta dan juga Damian pembicaraan mereka yang dalam bentuk celotehan - celotehan lucu itu adalah hal yang sangat penting.
" Mam, mam, mam ". Seru Damian pada sang kembaran.
" Mam, mam, mam, ba, ba, ba ". Sahut Aganta pada Damian.
" Ayo anak - anak mommy ini sudah selesai mandinya nak ". Seru Adinda yang mengisyaratkan jika aktivitas mandi Aganta dan juga Damian akan segera selesai.
Byurrr... byurrr... byurrr... pratt... pratt... Aganta dan Damian menepuk - nepuk air di bak mandinya seolah kedua bayi gembul itu menolak untuk berhenti mandi.
" Sayang, sepertinya mereka menolak untuk berhenti mandi ". Sahut Al.
" Iya mas, tapi tetap harus disudahi kalau terlalu lama mandinya Adinda khawatir mereka akan masuk angin nanti ". Sahut Adinda.
" Ayo anak - anak mommy selesai dulu mandinya ya nak biar tidak masuk angin ". Serunya pada kedua putranya.
Aganta dan Damian telah selesai mandi dan tubuh gembul kedua bayi itu pun telah diselimuti handuk.
" Ayo anak - anak daddy saatnya pakai bedak dandan yang rapi dan pakai baju ". Seru Al pada kedua putranya yang sudah duduk di atas kasur.
Sedangkan dari tempat yang sama Sintia masih begitu setianya mengawasi mereka. Ia masih sangat tak rela jika Adinda mendapatkan kebahagiaan yang menurutnya ialah yang paling pantas untuk mendapatkan kebahagiaan itu.
" Kenapa kamu itu selalu beruntung Adinda, semua orang memperdulikan mu ".
" Tapi sudahlah, kamu jangan memikirkan si Adinda dulu, yang harus kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mencelakai kedua makhluk kecil itu, tapi bagaimana caranya?, Al sangat posesif melindungi anaknya, kalau aku tidak hati - hati bisa ketahuan nanti ". Gumam Sintia.
Aganta dan juga Damian telah rapi dan sudah sangat tampan dengan baju yang digunakannya.
" Alhamdulillah, anak - anak mommy sudah tampan hem ". Seru Adinda dengan senyuman manisnya pada kedua putranya.
" Mam, mam, mam, ba, ba, ba ". Sahut Aganta dan Damian.
" Ya iyalah mereka sangat tampan sayang, siapa dulu daddy nya kan daddy nya juga tampan sayang ". Seloroh Al dengan rasa bangganya.
" Iya, iya, daddy memang sangat tampan ". Sahut Adinda.
Waktu terus berjalan menyambut indahnya malam di kampung itu. Sebuah kampung indah yang menjadi tempat dimana Adinda dibesarkan semenjak dirinya berusia lima tahun.
Di dalam kamar.....
" Sayang ". Seru Al pada sang istri yang telah usai meninabobokkan kedua putranya.
" Iya mas ". Sahutnya lembut, dan Adinda pun duduk di samping suaminya.
" Sayang ". Seru Al lagi, dan kali ini Al sudah mendusel - duselkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
Adinda sudah paham apa mau suaminya jika sudah seperti ini, namun Adinda pura - pura tidak tahu saja apa keinginan sang suami.
" Sayang, aku ingin ". Seru Al lagi, bahkan ia sudah semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
" Ingin apa sih mas? ". Tanya Adinda, entah mengapa berpura-pura tidak mengetahui keinginan sang suami sepertinya cukup lucu untuk dilakukan.
" Aku ingin itu sayang, ingin membuat debay " . Ucap Al dengan senyuman menggodanya.
Adinda mengernyit bingung, ia tak paham maksud dari suaminya. Adinda menatap ke arah suaminya, ia mencoba melepas rengkuhan dari suaminya.
__ADS_1
" Membuat debay?, apa itu debay mas? ". Sahutnya.
" Iya membuat debay sayang, dedek bayi ". Sahut Al pada akhirnya dengan senyuman kemenangan.
Adinda membelalakkan kedua bola matanya, ia tak percaya dengan yang baru saja diucapkan oleh suaminya, bagaimana bisa suaminya ingin membuat dedek bayi sementara kedua anaknya masih menyusu.
" Mas, bukannya Adinda tidak mau tapi Aganta dan Damian masih kecil mas dan mereka masih terlalu dini untuk memiliki adik ". Sahut Adinda.
" Ppft... ppft... ppft... ". Al berusaha menahan tawanya.
" Aduh sayang kamu ini lucu sekali, ya sudah kalau begitu kita akan membuat debay nya tanpa harus jadi ". Sahut Al.
Dengan tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Al memeluk Adinda dengan begitu erat, dan ia segera meraup bibir peach milik istrinya. Al melakukannya dengan penuh gair*h hingga terjadilah hubungan suami istri itu kembali.
*****
Pagi hari yang begitu sejuk menghadirkan udara segar yang begitu memanjakan rongga paru - paru jika menghirup udara bersih yang bertebaran memenuhi celah - celah desa.
Melepas rindu pada sang bibi sekaligus berkunjung ke kampung halamannya tak membuat Adinda menyia - nyiakan kebersamaan ini untuk tidak turun ke kebun sayuran dan juga tomat yang terletak di halaman belakang rumahnya.
" Bi, Adinda mau lihat perkembangan sayuran juga ya ". Pinta Adinda pada sang bibi.
" Memangnya tidak apa - apa?, tanyakan dulu pada suamimu, bibi hanya tidak mau kalau baju kamu nanti jadi kotor ". Seru bi Nadia.
" Tidak apa - apa sayang, sana kalau kamu mau lihat, mas sama anak - anak duduk di tepi kebun saja ". Sahut Al langsung sebelum istrinya bertanya.
" Terima kasih mas ". Sahut Adinda dengan senyuman nya.
Kini bi Nadia dan Adinda pun mulai menyelusuri kebun dibelakang rumahnya yang hanya ada dua petak itu. Sedangkan Al dan juga si kembar sedang duduk lesehan di tepi kebun yang beralaskan karpet empuk miliknya.
Aganta dan Damian nampak fokus dengan beberapa mainannya, bahkan tiga diantara mainannya itu sudah berserakan.
" Mam, mam, mam, mam ". Seru Damian pada sang daddy dengan menggerak - gerakkan mainannya.
" Iya sayang mainannya bagus ". Sahut Al.
" Ba, ba, ba, mam, mam ". Celoteh Aganta dengan memperlihatkan mainannya pada Damian.
" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian dengan menggerak - gerakkan mainannya seolah ingin menunjukkan jika mainannya juga tak kalah bagus dari milik sang kembaran.
" Iya iya, mainan kalian sama - sama bagusnya boy ". Seru Al pada akhirnya agar kedua anaknya tak lagi berselisih.
Al menatap pada sang istri yang begitu sibuk memperhatikan sayuran - sayuran bibinya yang sedang tumbuh begitu suburnya. Entah mengapa Al merasa momen seperti ini harus diabadikan.
Sedangkan dari tempat yang tersembunyi nampak Sintia mengintai dimana para orang dewasa yang ada di kebun sayur itu tak dapat melihatnya.
" Aduuuh, kenapa sih si Al itu masih duduk di sana, kenapa tidak di tinggal saja dulu kedua anaknya yang sialan itu, pokoknya bagaimanapun caranya aku harus memberikan obat bubuk ini di tubuh anak sialan itu, biar kulit mereka gatal dan rusak, tapi bagaimana caranya kalau Al masih di sana ". Gumam Sintia yang sedari tadi sudah kesal dibuatnya.
" Sayangnya daddy, kalian tetap main disini dulu ya boys, daddy mau memfoto kalian semua mumpung ada di kebun boys ". Seru Al.
Al pun pergi dari posisinya dan menjauh dari anaknya dengan jarak beberapa meter agar bisa mendapatkan hasil foto yang bagus.
Sedangkan Sintia yang sedari tadi bersembunyi merasa sangat senang karena akhirnya si kembar tidak ada yang menjaga dan inilah kesempatan baginya agar dapat mencelakai Aganta dan juga Damian. Ya, Sintia mengira jika Al pergi dari tempatnya karena ingin masuk ke rumah padahal Al hanya mencari tempat yang paling nyaman untuk melakukan pemotretan.
" Mam, mam, mam ". Celoteh Damian, entah kali ini apa yang bayi gembul itu celoteh kan.
" Saatnya aku bertindak ". Gumam Sintia, dan ia pun langsung berjalan mengendap - ngendap agar bisa sampai pada Aganta dan juga Damian.
Sintia terus melangkah mendekati kedua putra Al dan juga Adinda yang sedang sibuk bermain itu, hingga ia sudah berjarak satu meter dari kedua bayi gembul itu.
Al yang sudah berhasil mengambil beberapa potret mengesankan di kebun ini tiba - tiba saja menghentikan aktivitasnya karena melihat Sintia yang datang mengendap - ngendap sedang mendekati kedua putranya.
" Sial, mau apa wanita ular itu ". Gumam Al.
Seketika wajah Al berubah sedikit memerah, ia nampak begitu marah karena seseorang sedang mencoba berbuat tidak baik pada kedua putranya.
Tak ingin mengambil langkah yang salah, Al pun juga jalan mengendap - ngendap untuk menangkap basah Sintia.
__ADS_1
" Tidak akan aku biarkan kamu lolos kali ini wanita ular ". Batin Al.
" Halo anak kecil, kalian mau tidak aku gendong sebentar " . Ujar Sintia yang berusaha merayu Aganta dan juga Damian, namun sayang tak ada respon dari keduanya.
Sintia berusaha meraih tubuh Aganta agar bisa ia gendong, namun sungguh di luar dugaan disaat Sintia ingin menyentuh Aganta, bayi yang sudah bisa merangkak itu malah berpindah dari posisinya dan membuat Sintia tak bisa menyentuhnya.
" Sial bayi lucknut ini mempermainkan ku ternyata ". Batin Sintia kesal.
Namun Sintia tak pantang menyerah, ditolak mentah - mentah oleh Aganta kini Sintia mencoba beralih pada Damian.
" Sekarang giliran mu ya tampan, mau ya aku gendong sebentar ". Rayu Sintia lagi.
Disaat tangan Sintia mencoba meraih tubuh gembul Damian, tiba - tiba saja Damian mengangkat mainan yang sedari tadi menang memang ia pegang dan.....
Takk...takk... takk...
" Aaaaaaaa........". Tetiak Sintia kala mendapat serangan yang begitu keras di dahinya.
Damian dengan begitu kerasnya menghantamkan mainannya itu pada kening Sintia, dan.....
Takk... takk... takk... Damian kembali menyerang.
" Aduh sakiiiit..... ".Teriak Sintia.
Entahlah apa yang terjadi pada Aganta dan juga Damian, nampaknya sepasang bayi kembar itu begitu sangat tak suka melihat wajah Sintia.
Al langsung menghentikan langkahnya kala ia melihat sang putra berani menyerang Sintia.
Sedangkan Adinda dan juga bi Nadia yang ada di tengah kebun begitu sangat terkejut dan mendadak menghentikan aktivitasnya kala mendengar suara teriakan seorang wanita yang begitu tak asing di pendengarannya.
" Ya Allah bi, bukannya itu suara kak Sintia, kenapa sampai teriak seperti itu? ". Ujar Adinda.
" Ya Allah nak iya, ada apa ya? ". Sahut bi Nadia yang sudah sangat khawatir.
Bi Nadia dan Adinda pun langsung bergegas menuju sumber suara.
" Aduh, aduh, aduh ". Seru Sintia, dan ia pun akhirnya berusaha berdiri dari posisinya agar tak lagi mendapat serangan dari Damian.
" Aku harus pergi dari sini ". Serunya.
Sintia mencoba melangkah untuk meninggalkan tempat itu, namun naas ia yang tak melihat akan adanya beberapa mainan yang sudah berserakan di sana tanpa sengaja telah menginjak mainan itu dan membuat kakinya menjadi tergelincir.
" Aaaaaaaa..... ". Teriak Sintia dengan begitu kencangnya.
Sintia tergelincir, ia jatuh terduduk dengan posisi dimana kaki kanannya terpeleset lurus ke depan sedangkan kaki kirinya terjepit di bawah pahanya sendiri.
" Ha ha ha ha ha ". Al tertawa menyaksikan Sintia yang terjatuh dengan begitu memalukan nya.
" Ya Allah Sintia apa yang terjadi? ". Teriak bi Nadia dari tengah kebun.
" Aduuuuh, bayi sialan hu hu hu ". Seru Sintia yang begitu memilukan.
" Ha ha ha ha ha, rasakan itu wanita ular, salahmu sendiri yang mencoba mengganggu mereka, ini masih belum seberapa, jika kamu masih ingin mengganggu mereka maka kamu akan mendapatkan yang lebih dari ini ". Ujar Al.
Bukannya menolong Al malah semakin jadi mempermalukan Sintia.
" Hem, mam, mam, mam, mam ". Damian berceloteh dengan tersenyum manis, begitupun dengan Aganta, entahlah sepertinya kedua bayi gembul itu nampak begitu senang karena sudah menjahili Sintia.
" Ya Allah, ada apa ini nak? ". Tanya bi Nadia, setelah dirinya dan juga Adinda sampai di tepi kebun.
Bersambung..........
Tetap dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk terus melanjutkan karya ini.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1