
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Momen hari libur memang selalu dimanfaatkan bagi seorang pria yang telah berusia tiga puluh satu tahun ini untuk menemani sang putra mungilnya.
Bayi mungil yang sudah berusia dua bulan itu terlihat nampak begitu tenang kala berada dalam gendongan sang daddy apalagi saat ini sang daddy telah membantunya memberikan bantuan berupa pemberian vitamin D yang sangat bermanfaat untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Ya, di pagi hari yang masih terasa sangat sejuk dimana sang mentari baru menampakkan diri dari ufuk timur, Andrew sedang begitu asyiknya menjemur bayi mungilnya Andri agar mendapatkan vitamin D alami dari pancaran sinar mentari pagi.
" Andri senang nak, iya, Andri senang sekali daddy jemur seperti ini? ". Seru Andrew pada sang buah hatinya yang begitu nampak tenang dalam gendongannya itu.
Namun Andri tak mampu menyahut ujaran sang daddy, bayi yang menggemaskan itu hanya mampu menatap dan dan mengedipkan kedua bola matanya kala sang daddy berbicara padanya.
Andrew masih terus melakukan hal yang sama pada anaknya, seolah tak pernah bosan, ia tetap mengajak si kecil Andri berbicara, sesekali Andri tersenyum dan menggeliat kan kepala mungilnya kala sang daddy menceritakan hal - hal lucu padanya.
Dan tak terasa sudah hampir dua puluh menit lamanya si kecil Andri berjemur, entah apa yang terjadi, bayi mungil itu malah lebih sering menggeliat bahkan kini wajah tampan nya terlihat memerah.
" Adri, ada apa nak? ". Tanya Andrew yang merasa sedikit heran dengan geliatan - geliatan kecil yang dilakukan oleh anaknya.
" Ada apa nak?, Andri tidak nyaman karena terlalu lama di jemur ya? ". Tanya Andrew lagi, namun si mungil Andri tetap memberikan respon yang sama.
" Baiklah, baiklah nak kalau Andri ingin berhenti berjemur, ayo kita masuk sekarang ". Ajaknya pada sang putra.
Andrew mulai hendak melangkah dari posisinya, namun baru selangkah dirinya maju tiba - tiba terdengar.....
Prrrt... prrrt... prrrt... terdengar sangat jelas jika si kecil Andri sedang membuang angin.
" Oh anak daddy, kamu kentut nak? ". Seru Andrew yang tak menyangka jika anaknya akan membuang angin.
Namun setelah itu masih terdengar suara yang sama dari si kecil Andri, prrrt... prrrt...prrrt... dan benar saja tak lama dari itu mulai tercium semacam aroma yang sangat tak sedap yang harus diterima oleh indera penciuman Andrew.
" Aduh nak, kamu kentut, tapi aromanya kenapa sampai seperti ini, huft... atau jangan - jangan?... oh tidak, kamu bukan kentut nak, tapi... ". Seru Andrew tak habis pikir, dan ia pun langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya.
" Oekk... oekk... oekk... ". Si kecil Andri menangis mungkin karena bayi mungil itu sedang merasakan sakit di perutnya.
Andrew terus melangkah dengan tergesa-gesa menuju kamarnya.
" Andrew ada apa nak?, kenapa Andri menangis? ". Seru Clara tiba - tiba yang melihat putranya berjalan dengan terburu - buru.
" Ini ma, Andri sedang pup, dan mungkin perutnya sakit jadinya Andri menangis seperti ini ". Sahutnya.
" Oekk... oekk... oekk... ". Si kecil Andri tetap menangis.
" Sini sini, biar mama yang bawa Andri ". Seru Clara pada sang putra dan ia pun mengambil alih Andri dari gendongan putranya.
" Oekk... oekk... oekk... ". Tangis Andri.
" Aduh cucunya oma sakit perut ya nak?, ya sudah oma bantu Andri buang pup nya ya, aduh - aduh cucu oma yang tampan, tup - tup - tup jangan menangis ya nak ". Seru Clara yang berusaha menenangkan cucunya yang menangis karena sakit perut yang dirasakannya.
Dan Andrew pun mengikuti langkah sang mama yang berusaha menenangkan Andri.
*****
__ADS_1
Masih di pagi hari namun di lain tempat, seorang pria yang sudah berusia matang itu nampak sibuk dengan olahraga paginya.
Lelehan keringat itu sudah mulai membasahi tubuh kekar dan wajah tampannya. Ya dialah Rendi Aksen Alatas yang tak lain adalah sahabat dekat Alexander Gerald Georgino.
Sudah menjadi rutinitas bagi Rendi untuk melakukan olahraga di setiap harinya entah itu pagi maupun sore hari di ruangan olahraga pribadinya.
Merasa sudah cukup dengan aktivitasnya akhirnya Rendi pun mengakhiri olahraga paginya itu.
Dan tak lama dari itu sang mama pun datang menghampirinya dengan membawa secangkir teh hangat untuk Rendi.
" Rendi ". Panggil mama Risa.
" Ma ". Sahut Rendi yang masih sibuk mengelapi keringat di wajahnya dengan menggunakan handuk kecil.
" Mama buatkan teh hangat untuk mu sayang ". Seru mama Risa dengan meletakkan secangkir teh itu di atas meja milik Rendi.
" Kenapa mama repot - repot membuatkan teh untuk Rendi sih ma, kan ada bi Ijah yang bisa buatkan ". Sahut Rendi.
" Ya sekali - kali tidak apa - apalah nak mama membuatkan teh untuk anak mama sendiri ". Sahut Risa sebelum akhirnya wanita paru baya itu mendaratkan tubuhnya di sofa.
Rendi pun duduk menemani sang mama, dan ia pun meminum teh hangat itu.
Mama Risa menatap putra semata wayangnya, semakin hari sosok putranya ini memang bertambah mirip saja dengan papanya.
" Rendi ". Panggil Risa.
" Iya ma ada apa? ". Sahutnya.
Rendi tak langsung menyahut, ia paham jika pertanyaan ini akan muncul lagi dari mamanya.
" Ma Rendi... ". Kalimatnya terputus.
" Apa?, kamu ingin mengatakan jika kamu masih belum siap untuk menikah, begitu ". Sahut Risa.
" Nak, sebenarnya apa lagi yang kamu tunggu, kamu sudah memiliki segalanya, hanya pendamping hiduplah yang belum kamu miliki nak, Rendi, ingat, mama dan papamu sudah tidak muda lagi nak, dan kami tidak selamanya bisa menemanimu, mama dan papa mu akan bisa menghabiskan masa tua kami dengan tenang kalau kamu sudah memiliki pendamping hidup, jadi kalaupun suatu hari nanti Tuhan memanggil papa dan juga mama mu ini, kami bisa kembali dengan tenang nak ". Tutur mama Risa dengan tatapan sendunya.
" Ma, mama ini bicara apa sih ma, tidak, mama dan papa tidak boleh meninggalkan Rendi ". Sahutnya tak suka.
" Ma, Rendi belum memiliki keinginan untuk menikah pada saat ini karena Rendi..... karena Rendi sedang menantikan seseorang ma ". Sahut Rendi pada akhirnya.
Seketika itu Risa sangat tertegun, apa dirinya tidak salah dengar, jadi putranya selama ini belum juga menikah karena menantikan seseorang, jadi selama ini sudah ada wanita istimewa di hati putranya?.
" Menantikan seseorang?, menantikan seorang wanita maksudmu nak?, katakan, katakan pada mama siapa wanita itu? ". Tanya Risa dengan begitu antusiasnya.
" Haaahh... ". Rendi menghela nafasnya.
" Tapi, Rendi sendiri tidak yakin ma ". Sahutnya.
" Apa, tidak yakin?, maksudnya bagaimana sih Ren, kamu tadi mengatakan pada mama kalau kamu sedang menunggu seseorang, dan sekarang kamu malah mengatakan tidak yakin, kamu tidak yakin pada perasaan mu sendiri Ren, aduh nak kenapa kamu mengatakannya pada mama kalau kamu sendiri tidak yakin pada perasaanmu ". Sahut Risa yang tak habis pikir dengan putranya.
" Maksudnya bukan seperti itu ma ". Ujar Rendi.
" Maksudnya bagaimana nak, ayolah nak, kalau bicara itu yang jelas jangan hanya sepotong - sepotong ". Sahut Risa.
__ADS_1
" Ma, sebenarnya Rendi sudah jatuh hati pada seorang wanita, dia wanita yang baik dan tulus ma, tetapi sayang, wanita yang sudah berhasil mengikat hati Rendi itu ternyata mencintai sahabat Rendi sendiri ma, bahkan mereka resmi bertunangan ".
Hati Risa begitu tertegun ketika mendengar cerita dari anaknya, ia begitu sangat sedih. Jadi cinta putranya ini hanya bertepuk sebelah tangan.
" Dia dan tunangannya sudah berencana akan melangsungkan pernikahan mereka dalam waktu dekat, dan setelah mendengar kabar itu, hati Rendi benar - benar sangat hancur, tapi seperti aku dan mama dan juga semua orang yang percaya, jika jodoh itu ada pada kuasa Tuhan... jadi karena suatu keadaan wanita yang Rendi cintai itu tidak jadi menikah dengan sahabat Rendi itu ma, karena dia harus mengikuti keinginan papanya untuk mengurus perusahaannya di luar negeri selama beberapa tahun ke depan ".
Risa kembali tertegun setelah mendengar kelanjutan cerita dari putranya, meski masih di landa dengan rasa tak percaya, namun juga tak dapat dipungkiri jika hatinya juga merasa senang, karena itu artinya putranya memiliki kesempatan untuk mendapatkan wanita pujaannya.
" Meski dari mereka berdua masih belum ada kata putus, tetapi mereka tidak mungkin bisa kembali bersama, karena sahabat Rendi itu sudah menikah, bahkan sudah memiliki dua orang anak, dan sahabat Rendi itu sangat mencintai istrinya ma ". Ujar Rendi menceritakan.
Hati Risa sungguh sangat lega setelah mendengar semuanya dari sang putra. Dan sebagai seorang mama tentu Risa akan mendukung setiap pilihan yang diambil oleh Rendi selama yang menjadi pilihannya itu baik.
" Siapa wanita itu nak? ". Tanya Risa pada akhirnya.
" Diandra ma ". Sahut Rendi.
" Apa Diandra? ". Sentak Risa.
Risa begitu sangat terkejut setelah tahu siapa wanita yang sudah sampai membuat putranya menjadi bujangan seperti ini, jadi wanita itu adalah Diandra, kekasih Al?, benar - benar membuat Risa tidak habis pikir, itu artinya sudah semenjak lama putranya menyimpan perasaan cintanya.
*****
Rasa ingin itu nampaknya sudah tak bisa dibendung lagi. Bayangan akan makanan yang sempat ia lihat di layar televisi tadi terus menerus berseliweran dalam ingatannya.
" Sayang, ayo kita ke taman belakang, kita tema Aganta dan Damian bermain di sana ". Ajak Al pada sang istri.
" Mas ". Serunya dengan nada yang tak biasa.
" Ada apa sayang? ". Sahut Al bertanya dengan memeluk pinggang sang istri.
" Mas, mas kan hari ini tidak bekerja, bisakah mas Al mengantar Adinda dengan jet pribadi milik mas? ". Serunya dengan tatapan penuh harap.
Al mengernyit bingung. Mengapa istrinya ingin di antar sampai dengan menggunakan jet pribadi?, memangnya ingin kemana istrinya?.
" Sayang, memangnya kamu ingin kemana sampai harus diantar dengan jet pribadi? ". Tanya Al.
" Adinda ingin tahu walik mas, Adinda ingin memakan makanan itu langsung di gerobaknya ". Serunya.
" Ya sudah sayang kalau begitu tidak perlu naik dengan jet pribadi, kita naik mobil saja sayang, pasti di tanah abang ada sayang, atau mas pesan kan saja secara online pasti cepat sampai ". Sahut Al yang memberi saran pada sang istri.
" Tidak ada mas, di sini tidak ada tahu walik, tempat yang biasa menjual tahu walik itu daerah Banyuwangi, Situbondo dan juga daerah sekitarnya ". Sahut Adinda.
" Apa? ". Kaget Al.
Ternyata makanan yang diinginkan oleh istrinya tidak ada di daerahnya, dan itu artinya dirinya harus pergi ke luar kota hanya demi tahu walik.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, tetap semangat membaca.
ππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1