Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Membuat Adik Bayi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Satu minggu telah berlalu, tanpa terasa kini usia si kecil Aganta dan juga Damian sudah memasuki usia satu tahun sembilan bulan, dan kedua bocah kembar itupun telah berhenti meminum ASI pada sang mommy semenjak satu bulan yang lalu.


Malam hari yang sudah cukup larut ini benar - benar telah membawa kedua bocah mungil itu larut dalam menggapai indahnya sang mimpi.


Seolah tak pernah bosan, Adinda selalu menatap wajah kedua malaikat kecilnya yang sudah terlelap itu di setiap waktu malamnya.


Cup.... tiba - tiba saja Al mencium tengkuk Adinda.


" Astaghfirullah mas, mas ini ya selalu saja membuat Adinda selalu terkejut seperti ini ". Ujarnya dengan bibirnya yang sudah mengkrucut.


" Sayang, mau sampai kapan kamu kesal seperti ini, setiap kali mas menyentuhmu secara tiba - tiba seperti ini sayang, kan kamu tahu mas paling sangat suka jika menyentuhmu tanpa bersuara sayang ". Sahut Al dengan suaranya yang terdengar menggoda.


Adinda hanya bergidik mendengar suara suaminya yang terdengar menggoda itu, wanita dengan paras manis itu sangat paham betul jika sang suami sudah bersikap menggoda seperti ini pasti keinginannya adalah saling bertukar keringat melewati malam panasnya di atas ranjang.


Al menarik lengan kiri Adinda hingga berbalik menghadapnya, ia merengkuh pinggang kecil istrinya itu hingga menempel tanpa adanya jarak sedikitpun dari keduanya.


" Mas ". Seru suara bak sehalus sutera itu.


Al pun meraup bibir peach itu yang memang sudah menjadi candu baginya. Ia terus melakukannya seolah tak pernah puas untuk melepas pagutan bibirnya pada bibir Adinda istrinya.


Hingga akhirnya Adinda mulai terengah - engah dan berusaha untuk mencari pasokan oksigen di sekitarnya barulah Al melepas pagutan bibirnya itu.


Dalam hatinya Al tersenyum, meski sang istri telah diajari bagaimana cara berciuman namun tetap saja sang istri tidak mahir melakukannya dan ujung - ujungnya pasti dirinyalah yang akan menang dalam hal berciuman.


Al menggendong tubuh mungil itu untuk ia rebahkan di atas kasur empuknya. Ditatap nya wajah istrinya itu dengan begitu lekat.


" Sayang, bagaimana, apa kamu sudah bersedia membuat adik bayi untuk si kembar? ". Al menanyakannya karena sudah satu bulan terakhir inilah istrinya Adinda tidak lagi meminum obat pencegah kehamilan, dan itupun Al lakukan tanpa sepengetahuan istrinya, hebat memang, dalam hal membuat dan ingin memiliki seorang anak rupanya Al memiliki kendali penuh di atasnya.


" Bagaimana, apa kamu bersedia sayang untuk mengandung anakku untuk yang kedua kalinya? ". Tanya nya lagi.


Adinda memejamkan kedua matanya sebelum akhirnya ia membukanya kembali.


" InsyaAllah, Adinda bersedia mas ". Sahut nya lembut dengan senyuman.


Dan Al pun kini kembali mencium bibir peach itu dengan begitu mendamba. Kini sepasang insan yang telah larut dalam lautan cinta itu, akhirnya kembali melakukan hubungan percintaannya tanpa adanya sehelai benang pun yang menjadi penghalang di tubuh mereka.


Entah berapa lama mereka melakukan nya, namun yang pasti hubungan percintaan yang dilakukannya telah membawa mereka pada sebuah kenikmatan surgawi.


*****

__ADS_1


Pagi hari yang begitu menyejukkan nan asri, membuat banyak insan berbondong - bondong untuk menikmati indahnya pagi di sebuah taman indah yang digemari oleh banyak orang, terlihat indah, asri, bersih dan terasa sejuk itulah alasannya.


Dan itulah alasan yang membuat seorang Kelvin dengan putra semata wayangnya yaitu Kenzie Handoko, meluangkan waktu bersantai nya untuk berkunjung di sebuah taman mini yang ada di negeri Jiran itu.


Kelvin dan juga Kenzie saat ini sedang duduk lesehan dengan beralaskan sebuah karpet tipis yang cukup untuk menampung dirinya dan juga sang putra duduk, tak lupa dengan beberapa mainan milik Kenzie yang juga diletakkan di sana.


" Apa apa ( papa papa) ". Panggil si imut Kenzie pada sang papa.


" Iya nak, ada apa? ". Sahut Kelvin dengan mengelus pucuk kepala putranya.


" Ezie mau minan pelti itu ( Kenzie mau mainan seperti itu) ". Tunjuk Kenzie pada salah seorang anak kecil laki - laki namun lebih tua dari usianya yang juga bermain di taman dan sedang sibuk dengan mainan robotnya.


Kelvin pun menoleh ke arah dimana tangan mungil putranya itu menunjuk.


" Baiklah nak, nanti sore akan papa belikan di mall, Kenzie tenang saja papa akan membelikan Kenzie mainan robot seperti itu lebih banyak, biar Kenzie puas nanti mainnya ". Sahut Kelvin yang menyanggupi keinginan putra kecilnya.


Kenzie pun kembali memainkan beberapa mainan miliknya, mulai dari puzzle hingga kereta mainan nya.


Disaat sedang asyik bermain tanpa sengaja terdengar " ha ha ha ha ". Tawa dua orang anak kecil yang sedang bercanda ria dengan kedua orang tuanya.


Kenzie pun yang mendengar lengkingan tawa suara anak kecil yang hampir sama dengan usianya itupun langsung menoleh.


Bocah kecil itupun memperhatikan kebersamaan sepasang anak kecil dengan orang tua lengkapnya, entah apa yang ada dalam benak Kenzie saat ini.


" Iya nak ". Sahut Kelvin.


" Ama Ezie imana, teunapa Ezie dak liat ama? ( mama Kenzie dimana, kenapa Kenzie tidak melihat mama? ) ". Tanya Kenzie dengan tatapan penuh harapnya agar sang papa bisa mengatakan dimana mamanya.


Hati Kelvin begitu tersentak ketika mendengar sebuah kalimat yang tidak pernah ia sangka akan di lontarkan oleh putranya Kenzie.


Bagaimana bisa putra kecilnya yang masih belum genap berusia dua tahun ini sudah menanyakan tentang mamanya, bukankah selama ini dirinya tidak pernah membahas ataupun menyinggung tentang seorang mama pada putranya?, lalu bagaimana bisa putranya bisa bertanya seperti itu?.


" Kenzie, ke-kenapa tiba - tiba Kenzie menanyakan itu nak? ". Tanya Kelvin tercekat.


" Tana tata Sutan nenek tu butan ama na Ezie, ama na Ezie dak ada, ama na Ezie imana pa? ( karena kata Sultan nenek itu bukan mamanya Kenzie, mamanya Kenzie tidak ada, mamanya Kenzie dimana pa?) ". Ujar Kenzie menjelaskan.


" Apa, Ezie mau ama pa ( papa, Kenzie mau mam pa) ". Imbuh Kenzie lagi.


Kelvin terdiam, lidahnya terasa kelu, ia tak tahu harus menjawab apa pada putranya. Kelvin benar - benar tidak menyangkan jika Kenzie akan menanyakan soal mamanya di uasianya yang masih sangat terlalu dini, sedangkan Kelvin sendiri untuk saat ini masih belum menyiapkan jawaban apapun untuk menjawab dan mengabulkan keinginan Kenzie.


" Apa, Ezie mau ama pa, ama na Ezie imana, Ezie mau tetemu ama pa ( papa, Kenzie mau mama pa, mamanya Kenzie dimana, Kenzie mau ketemu mama pa) ". Ujar Kenzie lagi memprotes karena tak kunjung di respon oleh sang papa.


" I-iya, anu nak, mamanya Kenzie sedang ada di luar negeri, iya di luar negeri, mamanya Kenzie sedang membantu banyak orang sayang, mamanya Kenzie menolong mereka ". Sahut Kelvin pada akhirnya karena ia tidak tahu harus menjawab apa untuk keinginan putranya.

__ADS_1


Kenzie nampak berpikir sejenak, ia mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan papanya.


" Ama na Ezie olong olang, cama tepelti om na Sutan, ama na Ezie dadi dotel? ( mamanya Kenzie menolong orang, sama seperti om nya Sultan, mamanya Kenzie jadi dokter? ". Tanya Kenzie yang sudah melarat maksud dari kalimat papanya.


" Iya nak, betul, mamanya Kenzie jadi dokter, mamanya Kenzie menolong orang sayang, hebat kan mamanya Kenzie ". Sahut Kelvin dengan senyuman yang dipaksakan.


Di dalam hatinya sungguh Kelvin merasa sangat bersalah karena sudah memberikan kebohongan pada putranya, namun harus bagaimana lagi, sangat tidak mungkin jika Kelvin menceritakan tentang Sintia pada putranya yang masih sangat kecil.


" Talo beditu, tapan ama na Ezie puyang apa? ( kalau begitu, kapan mamanya Kenzie pulang papa?) ". Tanya Kenzie lagi karena bocah itu sangat berharap mamanya bisa pulang.


" E itu, mamanya Kenzie anu, mamanya Kenzie akan pulang kalau sudah tidak menolong orang lagi sayang, iya mamanya Kenzie akan pulang kalau semua orang yang di tolong nya sudah sembuh ". Sahut Kelvin lagi berbohong, entah harus berkata apa agar dirinya tak lagi berbohong.


" Lama macih apa? ( lama masih papa?) ". Tanya Kenzie lagi, bahkan rautnya sudah terlihat sangat sedih.


" Emmm iya sayang, mamanya pulangnya bisa lama bisa juga cepat, oleh karena itu agar mama cepat pulang Kenzie harus lebih banyak berdoa ya, agar orang - orang yang ditolong mama bisa cepat sembuh dan mama bisa pulang kesini bertemu Kenzie ". Putus Kelvin pada akhirnya yang merasa tak tega melihat kesedihan Kenzie.


" Huum ". Sahut Kenzie dengan mengangguk, dan bocah kecil itupun kembali fokus pada mainannya.


" Maafkan papa nak, maafkan papa yang sudah berbohong hingga sejauh ini, tapi apapun yang papa lakukan semuanya adalah untuk kebaikan mu Kenzie, kamu masih belum cukup umur untuk mengetahui siapa mamamu sebenarnya, karena kalau kamu sudah tahu, kamu pasti akan sangat sedih Kenzie, mamamu itu tidak benar - benar mencintaimu nak, maafkan papa Kenzie, maafkan papa ". Batin Kelvin menangis.


*****


Kedua manik mata itu tak henti - hentinya menatap pada sebuah benda pipih yang yang menyimpan banyak kemampuan.


Sepasang jemari lentiknya seolah tak pernah henti mengotak - atik benda pipih yang dinilai dapat sangat membantunya.


Berkali - kali Sintia menelfon seseorang yang sama dengan tiga nomer yang berbeda, namun nampaknya orang yang sedang dihubungi nya itu tak kunjung menyahut, tidak, lebih tepatnya tiga nomer telfon yang dihubunginya itu sudah tak lagi aktif.


" Harus bagaimana lagi aku bisa menghubungimu Kelvin, sebegitu marahnya kah kamu sampai tidak bisa aku hubungi ". Gumam Sintia dengan masih menempelkan handphonenya di telinganya.


" Ya Tuhan, bagaimana ini?, bagaiman caraku bisa menghubungi Kelvin lagi, Kelvin sebenarnya kamu ada dimana sih, apa kamu lupa jika anak yang kamu bawa itu juga anakku ". Gumam Sintia lagi bahkan kini kedua bola matanya sudah mulai berkaca - kaca.


" Ya Allah, aku tahu aku memang wanita hina, tapi aku mohon beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku ingin bertemu dengan anakku, aku ingin merawatnya ya Allah, pertemukan lah aku dengan putraku, aku ingin tahu bagaimana keadaannya saat ini ". Batin Sintia menangis.


Tidak ada yang bisa Sintia lakukan saat ini, dan tanpa terasa kini air mata itu sudah mengalir membasahi pipi putihnya. Rindu, sedih, itulah yang Sintia rasakan, dan mungkin inilah balasan yang harus ia dapat dari perbuatan buruknya di masa lalu.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, bagi yang menunggu kapan Adinda hamil dan kapan Diandra kembali, harap bersabar dulu ya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2