Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Kiss Mark


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Jika Diandra berusaha membuat sang papa agar bisa menerima kebenaran yang nyata, maka dua tokoh yang sedang menjadi topik pembicaraan itu nampaknya mulai akan menikmati malam indahnya.


Tubuh mungil dengan perut buncit nya itu telah bersih dan segar. Tak lupa olesan lotion perawatan, nampak merata ke hampir seluruh bagian tubuhnya.


Adinda sudah bersiap menuju ranjang kasurnya, ia pun naik ke ranjang kasur itu, namun baru saja dirinya akan berbaring, muncullah sang suami yang ternyata juga sudah selesai dari kegiatan rutinnya sebelum tidur.


" Sayang, mau tidur, mas baru selesai dari kamar mandi loh sayang ". Seru Al dengan terus melangkah menuju istrinya.


" Lalu? ". Sahut Adinda, nampaknya ia masih tak paham maksud dari perkataan suaminya.


" Ya jangan tidur dulu lah sayang, aku kan masih belum makan makanan penutup ". Sahut Al, entah mengapa ia menggunakan kalimat yang tak semua orang bisa memahaminya.


" Loh mas, bukannya mas sudah sikat gigi, mas kan tidak suka kalau makan lagi setelah sikat gigi? ". Sahut Adinda dengan raut polosnya.


Al menepuk jidatnya sendiri, ia tak habis pikir dengan istrinya yang menurutnya teramat sangat polos, namun setelah itu...


" Hahahaha.... ". Al tertawa dengan begitu kencangnya, sontak saja hal itu membuat Adinda terheran dengan rasa kebingungan nya.


" Loh mas, mas kenapa tertawa, ada yang lucu ya dengan Adinda? ". Sahutnya bingung.


Hahaha... hihihi... iya sayang, lucu, kamu teramat lucu, kita sudah lama menikah istriku, tapi kamu masih tak paham maksud suamimu ini ". Sahut Al dengan berusaha menahan tawanya.


" Maksudnya mas?, mas ih, kalau bicara suka tidak jelas ". Sahutnya lagi.


" Bukan mas yang tak jelas sayang, tapi kamunya yang tak paham ". Sahut Al masih dengan senyumnya, dengan perlahan tubuh kekar itu menaiki ranjang kasurnya.


Di rengkuh nya tubuh istrinya itu, di ulurkan nya jemari tangannya untuk meraih wajah sang istri, terasa helaian anak rambut istrinya menutupi hampir setiap bagian keningnya.


Al menepikan helaian rambut itu agar tak menjadi pengganggu di wajah manis sang istri, ia menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta, hingga kini tatapannya tertuju pada bibir peach milik istrinya itu.


Al meraup bibir peach itu dengan bibirnya, bibir mungil yang begitu terasa kenyal yang sudah menjadi candu baginya. Tak ingin mengulur waktu lebih banyak lagi, maka dengan gerakan cepat, Al melepas setiap helaian benang yang menutupi tubuhnya dan juga tubuh sang istri dengan tanpa melepas pagutan bibirnya.


Al melakukan apapun pada tubuh istrinya itu, dan sesekali ia juga mencium perut buncit istrinya, di mana darah dagingnya berada. Al terus melakukan pemanasan nya, hingga setelah terasa cukup melakukannya, kini tubuhnya itu sudah siap melakukan penyatuannya kembali dengan tubuh istrinya.


Dan penyatuan antara suami dan istri itupun akhirnya terjadi, Al memacu miliknya dengan gerakan lembut, ia tak ingin melakukannya dengan cepat, mengingat saat ini keadaan istrinya yang tidak memungkinkan menerima gerakan cepat darinya.


Dan di malam indah ini, dua insan anak manusia yang dibalut dengan perasaan saling mencintai itu, telah menghabiskan malamnya dengan saling bertukar peluh demi meraih kenikmatan surgawi.


Tak ada riuhan canda tawa ataupun rengekan dari kedua bocah kecil yang mengganggu kenyamanan suami istri itu, karena kedua buah hati mereka saat ini tengah terlelap tenang, bersama sang oma dan juga opanya.

__ADS_1


*****


Sang mentari yang cerah mulai nampak dari ufuk timur, atap - atap rumah dengan rerumputan hijau pun nampak tersinari oleh pancaran cahaya indahnya.


Si kecil Aganta dan juga Damian, nampak terlihat segar dengan pakaian yang sudah terpasang rapi, pasti kedua bocah itu sudah selesai mandi, mungkin oma dan opa merekalah yang memandikan.


" Ayo cucu - cucu opa kemari? ". Ajak Enriko pada kedua cucunya yang baru saja muncul dari daun pintu.


" Upa ladi apa? ". Tanya si kecil Aganta setelah berada di dekat opanya.


" Opa sedang menyiram tanaman ini, biar tetap tumbuh subur, lihat ada yang berbunga kan? ". Sahut Enriko dengan menunjuk beberapa tanaman bunga yang sudah ia siram tadi.


" Kalian mau bantu opa? ". Tanya Enriko.


" Huum, boleh, Mian mau upa ". Sahut Damian, namun si kecil Aganta malah langsung mengambil canting kecil yang memang di buat khusus yang berguna untuk menyiramkan air.


" Ya sudah, kalau begitu ambil airnya pakai canting itu nak, terus airnya siramkan ke bunga - bunganya ya, seperti yang opa lakukan ini ". Suruh Enriko.


Dua bocah kembar itupun turut andil melakukan hal yang sama seperti opa mereka, dan sayangnya justru dari yang mereka lakukan itu malah membuat baju yang mereka kenakan menjadi basah di beberapa bagian.


" Yan banak ya buna na, buna tantik ( yang banyak ya bunganya, bunga cantik) ". Seru Damian di sela - sela siramannya, nampaknya bocah kecil itu ingin tanaman - tanaman bunga di rumahnya berkembang sangat banyak.


Jika di pagi hari yang masih terasa sejuk si kecil Aganta dan Damian sedang membantu sang opa menyiram tanamannya, maka beda halnya dengan mommy mereka yang saat ini nampak sibuk memperhatikan dirinya di depan cermin.


Adinda berusaha menutupi banyaknya kiss mark yang hampir memenuhi bagian dada dan juga lehernya, sudah tak terhitung lagi berapa banyak taburan bedak yang ia usapkan, namun nyatanya, tetap tak dapat menutup banyaknya tanda merah itu dengan utuh.


" Aduh mas Al, ini gara - gara kamu ih, tanda merah - merahnya sampai susah hilang begini ". Gerutunya dengan terus menaburkan bedaknya.


" Kenapa sampai sebanyak ini sih mas, kalau Aganta sama Damian lihat ini bagaimana? ". Lanjutnya lagi masih menggerutu.


Dan di sela - sela gerutuannya, terasa seperti ada sebuah lengan kekar yang telah melingkar diantara dada dan perut buncitnya.


" Sayang ". Seru Al lembut.


Bisa Adinda rasakan dinginnya tetesan air yang berasal dari sisa - sisa air dari rambut basah suaminya yang terjatuh di atas pundaknya.


" Kamu kenapa sih sayang, kok menggerutu terus, ada yang salah hem? ". Tanya Al lembut, entah apakah laki - laki itu memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu penyebab dari gerutuan istrinya.


" Mas Al jangan pura-pura tidak tahu, coba lihat ini, banyak kan tanda merahnya, bagaimana caranya menghilangkan ini? ". Serunya merajuk.


Al cekikikan geli melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.


" Hihihihi...memangnya kenapa sih sayang, bukannya bagus kalau banyak tanda kiss mark nya ". Sahut Al tanpa merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


" Ih mas, bagus darimana nya, coba lihat ini, bekas ciumannya terlalu banyak, ini karena tadi malam Mas Al terus - terusan nyerang, jadinya begini kan, coba saja kal... ".


Al langsung membekap bibir peach itu dengan bibirnya sehingga menyebabkan Adinda tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi, entah semenjak kapan pria bertubuh kekar itu sudah berada di depan tubuh istrinya.


Cup.... dan kecupan singkat itu pun telah melepas pagutan bibir itu.


" Semenjak kapan istriku yang pendiam ini jadi cerewet hem?, memangnya kenapa kalau banyak tanda di tubuhmu karena ulahku ku sayang, bukankah semua yang ada pada dirimu termasuk tubuhmu ini adalah milikku? ". Seru Al lembut.


Tak ada sahutan lagi dari kedua belah bibir Adinda, karena yang diucapkan oleh suaminya pun menurutnya tidaklah salah, wajah Adinda nampak terlihat merah karena tingkah suaminya, ia benar-benar merasa malu dibuatnya.


Cup... cup... cup... ciuman bertubi-tubi pun dilancarkan nya kembali pada wajah malu - malu istrinya, Al merasa sangat gemas dengan tingkah istrinya yang masih saja suka malu - malu jika digombali, padahal mereka berdua sudah cukup lama menikah.


" Istriku ini, masih saja terlihat seperti pengantin baru yang masih suka malu - malu, anak kita sudah mau tiga loh sayang ". Godanya.


Cup... cup... cup... masih saja Al menciumi wajah istrinya, hingga sang empu yang terus di cium itupun merasa geli tak tahan dan ingin segera terlepas dari cengkraman nya.


" Mas... lepas... Adinda mau pakai hijab dulu mas ". Serunya dengan mendorong lembut dada bidang sang suami yang masih terekspos itu.


Jika pasangan muda itu masih disibukkan dengan masalah kiss mark, maka beda halnya dengan hal yang terjadi di halaman belakang rumah.


Kericuhan itupun terjadi. Devina kali ini mengoceh - ngoceh tanpa henti pada sang suami. Canting - canting yang tadi digunakan oleh sang opa dan juga kedua cucu kembarnya itupun sudah tergeletak mengenaskan dengan sisa - sisa cucuran - cucuran air yang berserakan, benar - benar tak elok di pandang.


" Papa ini bagaimana sih pa, membiarkan cucu - cucu mama bermain air sampai basah - basah seperti ini, lihat, baju mereka basah semua pa, padahal Aganta sama Damian baru selesai mandi, tapi ini malah basah lagi ". Cerocosnya sedari awal pada sang suami.


" Ya tidak apa - apalah ma, kan mereka bisa ganti baju yang lainnya ". Sahut Enriko dengan sikap tenangnya.


Si kecil Aganta dan juga Damian nampak diam memperhatikan drama kilat antara sang opa dan juga omanya.


" Lain kali, kalau papa mau mengajari Aganta sama Damian menyiram tanaman, ya papa harus bimbing mereka, jangan biarkan cucu - cucu mama melakukannya sendiri, apalagi sampai basah - basahan seperti itu, kalau mereka sakit karena masuk angin bagaimana pa? ". Sahut Devina lagi, namun kali ini nadanya sudah terdengar lebih rendah.


Enriko tak menyahut lagi ocehan istrinya, ya lebih baik dirinya mengalah, daripada nanti masalahnya semakin berkelanjutan.


" Cucu - cucu oma yang tampan, kalian ganti baju lagi ya nak, coba itu lihat, baju Aganta sama Damian sudah pada basah semua ". Serunya pada kedua cucunya.


" Iya uma ". Sahut keduanya kompak.


Dan Devina pun mulai meraih tangan mungil kedua cucunya itu, lalu membawa mereka melangkah bersama ke dalam rumah.


Hai - hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca ya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2