
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kemeriahan dalam indahnya resepsi malam pernikahan itu, masih terus menghiasi. Meski kehadiran para tamu saat ini tak sampai memenuhi jumlah undangan yang telah di sebarkan, hal itu tak sedikitpun mengurangi kemeriahan pestanya. Semuanya nampak begitu menikmati indahnya malam resepsi pernikahan ini.
Waktu masih terus berjalan. Dan waktu pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tuan rumah dari keluarga besar itupun masih setia menemani para tamu undangan yang hadir, namun sepertinya tidak dengan pak Budi. Pak Budi dengan di dampingi oleh bu Nadia, yang memang sudah cukup lama berada di luar ruangan, nampaknya sudah tak bisa lagi berlama-lama di luar. Tubuh rentanya yang memang memiliki riwayat masalah kesehatan, membuat Budi sepertinya ingin segera menyudahi sambutan ini.
" Nadia ". Seru Budi pada sang adik yang berada di dekatnya.
" Iya kak ". Sahutnya.
" Aku mau istirahat saja, sepertinya aku mulai lelah ". Ujarnya yang merasa tak nyaman dengan kondisi tubuhnya.
" Baiklah kak, kalau begitu aku antar ke kamar tamu, kakak istirahat di sana saja, kakak terlalu lama berada di luar ". Sahutnya, Lalu bu Nadia pun mengajak kakaknya meninggalkan pesta itu.
" Ayah, bibi, mau kemana? ". Tanya Andrew tiba - tiba.
" Ini nak, ayah mertuamu sepertinya kurang enak badan ". Sahut bu Nadia.
" Oh baiklah, sebaiknya ayah istirahat saja, tidak baik memang kalau terlalu lama di luar ". Sahut Andrew.
Bu Nadia dengan pak Budi pun kembali meneruskan langkahnya memasuki rumah. Sedangkan dalam waktu yang bersamaan. Seorang gadis yang juga berada di pesta itu, nampak menoleh ke sana ke mari seperti mencari keberadaan seseorang.
Rania sang saudara sepupu dari mempelai wanita, masih terus mencari keberadaan Diandra. Rania tahu jika Diandra juga diundang di malam resepsi pernikahan Adinda.
" Di mana anak itu, kenapa dari tadi aku tak melihat kehadirannya, apa jangan - jangan Dia tidak datang lagi, tapi bagaimana mungkin, kemarin saja Dia kan ingin membeli hadiah untuk Adinda, apa mungkin masih kurang malam waktunya?, tapi ini sudah pukul sembilan malam ". Gumam Rania, dengan masih terus mengedarkan pandangannya mencari Diandra.
" Rania, ke mari nak, temani mama di sini, kenapa kamu malah berdiri di sana? ". Panggil Indah, pasalnya sang putri hanya berdiri sendiri bak sebuah patung berdiri.
" Eh, iya ma ". Sahut Rania, lalu ia pun segera mendekati mamanya.
" Kamu kenapa sih nak, kok menyendiri, di sinilah nak, temani mama sambil nyambut para tamu ". Seru Indah di dekat telinga putrinya.
" Anu ma, aku sedang mencari Diandra, kemana ya, kenapa dia belum datang juga, padahal kemarin waktu aku tanya, katanya mau datang, kan Diandra di undang juga ma ". Jelas Rania.
Indah sedikit menghela nafasnya setelah mendengar penuturan dari putrinya Rania. Jujur sebenarnya Indah merasa sedih jika mengingat Diandra keponakannya. Diundang ke acara pernikahan mantan tunangannya sendiri yang bahkan keponakannya itu masih belum bisa melupakannya, pastilah itu berat.
Dan bukan tidak mungkin, jika keponakannya itu memang tidak ingin hadir di acara ini.
" Kasihan sekali kamu nak ". Batin Indah.
" Apa aku hubungi Diandra saja ya ma ".
" Tidak perlu nak ". Cegah Indah.
" Loh, kenapa ma? ". Sahut Rania heran.
" Sepertinya Diandra memang tidak akan datang ke acara ini, kalau memang anak itu mau datang, pasti sudah sejak tadi dia di sini nak ". Jelas Indah.
" Tapi kenapa bisa begitu ma, kemarin saja, sewaktu Rania telfon Dia, katanya mau datang, malah Dia sedang sibuk cari hadiah untuk Adinda ". Ujar Rania.
" Kapan kamu menghubungi Diandra ". Tanya Indah.
" Kemarin sore ma, waktu aku nyuruh Diandra datang ke rumah, Dia tak bisa katanya, lagi sibuk cari hadiah untuk malam pernikahan Adinda ". Sahut Rania jujur.
Indah terdiam mendengar jawaban dari putrinya. Berbagai pertanyaan pun telah bermunculan di benaknya. Mungkin saja jika Diandra berubah pikiran dan tak jadi datang ke acara ini, karena dirinya yang masih belum sepenuhnya bisa melupakan Al.
" Aku telfon Diandra saja ya ma ".
" Tak perlu nak, sudah biarkan saja, jangan kamu telfon Dia, sepertinya anak itu memang sengaja tak ingin datang, kan kamu tahu, Al itu mantan tunangannya, apalagi Diandra masih belum sepenuhnya bisa melupakan Al, jadi, jangan telfon anak itu ". Ujar Indah, karena itulah cerita yang pernah Indah dengar dari keponakannya.
" Hem... oke lah ma ". Pasrah Rania.
Acara pun masih terus berlanjut. Semua tamu undangan sedang menikmati nyanyian romantis yang di suguhkan dalam acara itu. Bahkan para tamu pun nampak mengikuti nyanyian itu dengan penuh penghayatan.
__ADS_1
Begitupun dengan sepasang pengantin dengan kedua anak kembarnya, yang turut menikmati nyanyian romantis itu.
" Daddy daddy, Mian mau nani ( nyanyi) duda ya, peulti uti tu ". Serunya tiba - tiba dengan menunjuk seorang wanita cantik yang sedang bernyanyi di depan para tamu.
" Hah, kamu mau nyanyi boy, memangnya bisa? ". Sahut Al, pasalnya putranya itu, jika bernyanyi pasti amburadul.
" Bicalah daddy, Mian tan pital nani ( pintar nyayi) ". Sahutnya dengan begitu percaya diri.
" Pital nani?, pital nani apana?, tamu cada ( saja) cuta calah talo nani ". Sentak Aganta, karena itulah kenyataannya, jika sang kembaran memang sering salah dalam lirik lagu.
" Ih, cuta cuta atu lah, tan atu yan mau nani ". Sahut Damian yang tak terima.
" Boleh ya daddy, Mian mau nani ya daddy, cama uti tu ". Pintanya lagi dengan kedua bola matanya yang berkedip - kedip bak sebuah lampu yang mulai kehabisan daya listriknya.
" Oke oke, daddy izinkan, tapi jangan buat onti yang nyanyi itu jadi terganggu ya sayang ". Sahutnya dengan mrngelus pucuk kepala sang putra.
" Hemm, ote daddy ". Sahutnya.
" Tapi mas, bagaimana kalau putra kita mengganggu mbak itu, kan mas tahu sendiri, Damian bagaimana anaknya? ". Cegah Adinda lembut.
" Tidak apa - apa sayang, anak kita kan sudah janji untuk tidak mengganggu, sudah, biarkan saja Damian melakukan apa yang dia mau, dan aku lihat, sepertinya bernyanyi adalah salah satu bakat dari putra kita ". Sahut Al yang berusaha memberikan pengertian pada istrinya.
Adinda pun tak menyahut lagi ucapan suaminya. Mungkin benar yang dikatakan oleh suaminya, jika bernyanyi adalah salah satu bakat dari Damian putranya.
" Dadi, dimana ( bagaimana) daddy, Mian boleh nani? ". Tanyanya lagi yang ingin memastikan.
" Iya boleh boy ". Sahut Al.
" Dak, dah daddy, Mian dak dadi nani, Mian mau duduk ja ". Tolaknya tiba - tiba.
" Loh boy, bukannya baru saja kamu ingin nyanyi, terus kenapa tiba - tiba menolak? ". Tanya Al heran.
" Iya cih, tapi peulti na lebih enat duduk ja, talo Mian nani, nanti tamu na malah nambah ladi, minta ladu ( lagu) ladi ". Sahutnya.
" Heem... ya sudahlah boy, kalau itu memang mau mu ". Putus Al pada akhirnya.
Adinda hanya diam melihat perubahan keinginan pada putranya Damian, mungkinkah putranya mendadak tidak ingin bernyanyi karena dirinya yang sempat melarangnya?, tapi entahlah, siapa tahu memang benar alasan yang sebenarnya adalah yang diucapkan oleh putranya tadi.
Setelah tak ada lagi pembicaraan diantara keluarga kecil itu, Adinda kembali mengedarkan pandangannya pada para tamu undangan, namun kali ini sepertinya ada yang kurang dari pandangannya.
" Mas, ayah kemana ya mas, tadi sepertinya ada, terus kenapa sekarang tidak ada? ". Seru Adinda dengan sedikit panik.
" Tenanglah sayang, jangan panik, sebentar, aku hubungi Andrew dulu ". Sahut Al menenangkan, dan ia pun segera merogoh ponsel pintarnya, dan segera menghubungi nomer Andrew.
" Halo Andrew ". Serunya.
" Iya tuan Al ". Sahut Andrew.
" Coba kamu cari ayah ada di mana?, aku tak melihat keberadaannya Andrew ".
" Oh ayah, anda tidak perlu khawatir tuan, ayah sedang di dalam rumah beristirahat ".
" Oh syukurlah kalau begitu, ya sudah, hanya itu pertanyaanku, kamu kembali bertugas ". Pungkas Al.
" Baik tuan ".
Dan panggilan telfon itupun sudah berakhir.
" Bagaimana mas, apa kata Andrew? ". Tanya Adinda lagi masih dengan rasa khawatirnya.
" Tenanglah sayang, ayah ada di dalam rumah, ayah sedang istirahat ". Sahut Al dengan mengelus punggung istrinya.
" Huh... alhamdulillah, Adinda khawatir mas, takut terjadi apa - apa sama ayah ". Serunya.
" Tenanglah sayang, selama ada di kediaman ku, semuanya akan tetap terjaga dan aman ". Ujar Al lagi dengan meyakinkan istrinya.
__ADS_1
" Dadi tatek ada di dalam lumah daddy? ". Tanya Aganta tiba - tiba.
" Iya boy, kakek ada di dalam, sedang istirahat, kenapa memangnya? ". Sahut Al.
" Emm... Anta mau te dalam cada ya daddy, Anta mau tidul cama tatek, Anta dah nantuk daddy ". Serunya, karena memeng itulah yang bocah kecil itu rasakan, kedua bola matanya terasa sudah berat.
" Ya Allah sayang, Aganta ngantuk nak, ya sudah kalau begitu mommy antar ke dalam ya, biar mommy temani Aganta tidur ". Sahutnya yang merasa tak tega pada putranya.
" Dak ucah myh, Anta mau te dalam ceudili ( sendiri) ja ". Tolaknya pada sang mommy.
" Talo beditu, Mian mau tidul duda myh ". Seru Damian juga yang ikut menimpali, rupanya Damian tak ingin membiarkan sang kembaran tidur sendirin.
" Sudahlah sayang, si kembar kan sudah mandiri, biar aku saja yang mengantar anak - anak ke kamar, kamu di sini saja dulu sebentar ". Sahut Al yang mulai menengahi.
" Ada apa ini Al, kok sepertinya kalian bicaranya serius? ". Seru Devina tiba - tiba setelah dirinya sampai di tempat pelaminan.
" Ini ma, anak - anak Al mau tidur, Al mau mengantar mereka dulu ke kamar ". Sahutnya.
" Aduh, cucu - cucu oma kasihannya kalian, sudah ngantuk ya sayang?, ya sudah kalau begitu Aganta sama Damian tidurnya sama oma saja ya ".
" Kamu tetap di sini Al, temani istrimu, biar mama saja yang menidurkan mereka, dan ini memang sudah waktunya mereka tidur ". Jelas Devina.
" Terima kasih ma ". Sahut Al dan juga Adinda.
" Ayo sayangnya oma, kita masuk ke dalam, kita tidur ". Ajak Devina, lalu wanita paru baya itupun menuntun kedua cucunya menuju dalam rumah.
Acara pun masih terus berlangsung, dan tanpa terasa, waktu pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam yang menandakan, jika acara akan segera berakhir sekitar dua jam lagi.
Sebagian para tamu undangan sudah mulai beranjak melangkahkan sepasang kakinya untuk meninggalkan acara itu, namun sebagian besar dari para tamu undangan itu masih ada yang bertahan, mungkin hingga pukul dua belas malam nanti.
Al, sang tuan besar nampak beberapa kali menatap penunjuk waktu yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Al sedikit heran dan bertanya-tanya, mengapa dua sahabat yang senantiasa hadir pada setiap acara pentingnya juga tak kunjung datang, bahkan sampai waktu yang sudah cukup larut seperti ini?.
" Mas, ada apa mas, Adinda perhatikan sepertinya mas lihat jam tangan terus, memangnya ada apa mas? ". Serunya setelah melihat gelagat tak biasa dari suaminya.
" Ini sayang, Rendi sama Rian kenapa belum datang ya, tidak biasanya mereka seperti ini ". Sahut Al dengan kebingungan nya.
" Mungkin mereka sedang di jalan mas ". Sahut Adinda yang berusaha berpikir positif.
" Hemm... mungkin saja sayang ". Sahutnya.
Hingga tak berselang lama dari percakapan mereka, terasa seperti adanya...
Drrtt... drrtt... drrtt... suatu getaran handphone dari saku jas Al.
" Ada yang menelfon mas ". Seru sang istri.
" Iya sayang ". Sahut Al, dan ia pun segera merogoh smartphone nya itu dari saku jasnya.
" Hah, tumben, kenapa orang ini menelfonku?, tidak biasanya ". Batin Al berbicara, setelah melihat nama yang tertera di sana.
" Halo ". Sahut Al dengan nada suaranya yang terdengar tak ikhlas.
Orang yang berada di balik telfon itupun menceritakan kejadiannya hingga...
Deg....
Bak mendapat sambaran petir yang begitu dahsyat. Tubuh Al langsung membeku, deru nafasnya pun seolah terhenti. Al begitu sangat terkejut. Sebuah kabar mengejutkan telah menghujam hatinya.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca ya.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1