
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Suana di hari libur yang cerah ini begitu menjadi momen yang sangat menghibur dan paling dinanti - nanti. Begitu pun dengan keluarga kaya raya Georgino yang begitu suka memanfaatkan waktu kebersamaan mereka di rumah.
Terlebih akan hadirnya dua sosok mungil Aganta dan Damian yang membuat keluarga besar itu semakin gencar untuk terus bercanda ria mengarungi kebahagiaan.
" Ayo - ayo sayangnya opa, lihat opa sedang memegang apa ini? ". Seru Enriko yang sedang memperlihatkan dua mainan kecil di hadapan kedua cucunya.
" Teeetooot..... teeetooot..... teeetooot..... ". Terdengar suara terompet pencet yang dibunyikan oleh opa Enriko.
" Aduh, cucu opa senang hem? ". Seru Enriko yang melihat kedua cucunya yang begitu antusias dengan mainannya.
Aganta dan Damian terlihat begitu bersemangat dengan mainan yang dimainkan oleh opanya.
Nampak sepasang tangan dan kaki mungil mereka yang bergerak - gerak aktif seolah ingin meraih mainan mereka.
" Teeetooot..... teeetooot..... teeetooot..... ". Suara terompet mainan yang berukuran mini itu kembali dibunyikan oleh sang opa.
" haaam nyaam ". Celoteh Damian dengan menggerak - gerakkan kedua tangan mungilnya untuk meraih mainannya.
" Oh, cucu opa suka, cucu opa suka hem? ". Serunya.
" Teeetooot..... teeetooot..... teeetooot..... ". Enriko kembali membunyikan terompet mini itu lagi.
Setelah hampir lima belas menit lamanya opa Enriko bermain dengan kedua cucu kembarnya, kini datanglah sang istri dan menghampiri mereka.
" Pa, ini mama membawa kopi untuk papa ". Seru Devina dengan meletakkan kopi itu di meja.
" Terima kasih ma ". Sahut Enriko, dan ia pun meletakkan mainan kedua cucunya.
" Pa, ini apa pa, ini terompet mini? ". Tanya Devina pada sang suami yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa.
" Iya ma, itu terompet mini, papa sengaja membelinya untuk Aganta dan juga Damian ". Sahut Enriko, dan ia pun menyeruput kopinya.
" Pa, papa membeli mainan ini apa tidak berbahaya untuk kedua cucu kita? ". Tanya Devina yang sedikit khawatir.
" Berbahaya?, berbahaya apanya sih ma? ". Sahut Enriko.
" Ya, berbahaya pa, bagaimana kalau mainan ini bisa merusak sistem pendengaran kedua cucu kita karena bunyinya yang keras? ". Sahut Devina.
" Haahh..... ya tidak lah ma, mainan ini tidak akan merusak sistem pendengaran kedua cucu kita, asalkan pada saat memainkannya jaraknya harus cukup jauh dan memencetnya juga jangan terlalu kuat agar bunyi yang dikeluarkan pun juga tidak terlalu nyaring, ya pelan - pelan saja lah ma, seperti ini sekarang papa contohkan ya ". Sahut Enriko.
" Teeetooot..... teeetooot..... teeetooot..... ". Enriko membunyikan terompet mainan itu.
" Oooh, seperti itu, boleh mama mencobanya pa ". Seru Devina.
" Ya, cobalah, coba mama mainkan di depan Aganta dan juga Damian ". Sahut Enriko dan memberikan pada istrinya.
" Teeetooot..... teeetooot..... teeetooot..... ". Devina membunyikan kedua mainan itu, dan ternyata benar kedua cucunya begitu senang dengan mainan barunya.
" Wah pa, ternyata benar cucu kita senang pa ". Seru Devina yang ikut senang.
" Benar kan ma, kedua cucu kita senang " Seru Enriko yang membenarkan kalimat istrinya.
Kini sepasang opa dan oma yang sedang berada di ruang santai itu begitu asyiknya memanjakan kedua cucu mereka dengan mainan barunya itu.
Hingga cukup lama mereka menikmati waktu kebersamaannya, datanglah sesosok asisten rumah tangga Al yaitu bi Ika, yang selalu bertugas untuk menjaga kebersihan di halaman depan rumahnya.
" Permisi tuan, nyonya, ada yang sedang bertamu ". Seru bi Ika.
" Siapa yang bertamu bi? ". Tanya Devina.
" Anu nyonya, ayahnya nyonya muda Adinda dan saudarinya ". Sahut bi Ika.
" Sekarang mereka ada di ruang tamu tuan, nyonya ". Imbuh bi Ika.
" Oh ya sudah, terima kasih sudah memberi tahu, kami akan menemui mereka ". Sahut Devina.
" Ayo pa ". Ajak Devina.
Dan kedua sepasang opa dan oma itu melangkah menuju ruang tamu, dengan Aganta dan Damian yang sedang tenang di strollernya.
" Selamat pagi pak, Vita ". Seru Enriko pada pak Budi dan juga Vita.
" Selamat pagi tuan, nyonya ". Sahut pak Budi dan Vita.
" Loh, kenapa anda berdua masih memanggil kami tuan dan nyonya, kita ini sudah menjadi keluarga ". Seru Enriko.
" Iya Pak Budi, anda dan juga Vita jangan memanggil kami dengan sebutan tuan dan nyonya, karena kita sudah menjadi keluarga sekarang ". Sahut Devina yang ikut menimpali.
" Baiklah pak, bu ". Sahut pak Budi.
" Mari duduk dulu ". Seru Enriko mempersilahkan.
" Maaf pak, bu, pagi - pagi kami sudah datang kemari ". Seru pak Budi.
__ADS_1
" Oh tidak apa - apa pak, pasti pak Budi dan Vita merindukan Aganta dan Damian kan? ". Tebak Devina.
" Iya, benar sekali, kami kemari karena ingin menemui si kembar ". Sahut pak Budi.
" Nyam, nyam, haam ". Celoteh Damian, seolah bayi mungil yang hampir berusia tiga bulan itu juga ingin ikut berbicara dengan anggota keluarganya.
" Wah, Damian bisa bicara? ". Seru Vita terlonjak dengan perubahan keponakannya.
Vita pun kemudian berdiri dari posisinya, di raihnya tubuh mungil Damian untuk ia gendong dalam dekapannya.
" Kamu bisa bicara sayang? ". Seru Vita lagi yang masih tak percaya.
" Nyam, nyam, ham ". Celoteh Damian seolah bayi mungil itu ingin menyahuti ucapan onti nya.
" Aduh pintar sayang nya onti ". Seru Vita bahagia.
Cup... cup... dua kecupan hangat telah mendarat di kedua pipi gembul Damian.
" Sebenarnya mereka berdua sudah mulai bisa berceloteh, hanya saja Aganta lebih banyak diam, dia sesekali saja berceloteh ". Seru Devina menjelaskan.
" Oh, jadi kedua keponakan onti ini sudah bisa berceloteh semua hem, bagus, pintar, tapi janji pada onti ya, kalau kalian sudah besar nanti jangan jadi anak nakal, harus jadi anak baik ". Seru Vita yang mencoba mengingatkan pada kedua keponakannya.
" Pak Budi ". Panggil Enriko.
" Iya pak ". Sahut pak Budi.
" Anda datang kemari dengan Vita, kenapa tidak mengabari saya, biar saya dan istri saya yang datang kesana ". Ujar Enriko.
" Tidak apa - apa pak, selain kami kemari ingin bertemu dengan Aganta dan Damian, kami juga ingin bersilaturrahmi kemari ". Sahut pak Budi menjelaskan.
" Terima kasih pak, sudah mau bersilaturrahmi, tapi yang kami persoalkan bukan tentang itu, yang kami khawatirkan adalah tentang kesehatan anda, anda kan tidak boleh terlalu lelah pak ". Sahut Devina yang ikut menimpali.
" Terima kasih atas kepeduliannya, tapi insya Allah, saya kuat asalkan selalu rutin meminum obat dan tidak terlalu banyak beraktivitas ". Sahut pak Budi menjelaskan.
Kini sepasang anggota keluarga besan itupun begitu menikmati waktu kebersamaan mereka di pagi hari yang cerah itu, lengkap dengan celotehan baby Aganta dan juga baby Damian.
*****
Sepasang suami istri begitu menikmati indah nya kota London. Tak lupa tangan kekar sang suami yang selalu setia merangkul tubuh mungil sang istri yang berparas manis itu.
Al dan Adinda sedang duduk bersantai di sebuah kursi kayu yang terletak tidak terlalu jauh dari arah jalan.
Adinda yang belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya bisa berlibur ke luar negeri begitu sangat terkagum - kagum apalagi disaat melihat indahnya kota London, kota pertama yang ia kunjungi setelah berlibur ke luar negeri.
" Sayang, apa kamu suka bisa berlibur ke tempat ini? ". Tanya Al dengan tetap merengkuh tubuh sang istri.
" Iya mas, Adinda suka, dan kota nya juga terlihat indah ". Sahut Adinda dengan tersenyum.
Adinda pun menoleh ke arah sang suami.
" Iya mas ". Sahut nya lembut.
" Apa kamu bahagia hidup bersamaku? ". Tanya Al dengan tetap menatap sang istri.
Adinda tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya.
" Iya mas, tentu Adinda bahagia ". Sahutnya.
Dan Al semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri. Jujur saja sebenarnya Adinda merasa sedikit bingung dengan suaminya, mengapa tiba - tiba suaminya menanyakan apakah dirinya bahagia?.
" Sayang, maafkan aku yang pernah merenggut kesucianmu secara paksa ". Seru Al ketika dirinya teringat akan perbuatannya.
Sekarang Adinda memahami, mengapa suaminya itu bersikap seperti orang yang merasa bersalah, itu semua karena suaminya mengingat perbuatannya di masa lalu.
Kemudian Adinda menguraikan tubuhnya dari rengkuhan sang suami. Di pandangnya wajah suaminya itu lekat - lekat, Adinda menyentuh sisi kanan dan kiri wajah suaminya dengan telapak tangan mungilnya itu.
" Mas, sampai kapan mas akan terus meminta maaf, Adinda sudah memaafkan semua kesalahan mas, jadi mas jangan terus menerus menyalahkan diri mas ya, Adinda sedih kalau mas seperti ini terus ". Sahut Adinda.
Cup..... satu kecupan lembut nan hangat telah menyapa kening Adinda. Al kembali merengkuh tubuh istrinya itu.
" Terima kasih sayang ". Serunya.
" Terima kasih ya Allah, karena Engkau telah menjadikan Adinda sebagai istriku ". Batin Al bersyukur.
Cukup lama sepasang suami istri itu saling berpelukan tanpa memperdulikan orang - orang yang sedang mondar mandir melewati tempat itu.
" Mas, apa mas tidak ingin melepas pelukannya? ". Tanya Adinda dengan sedikit mendongakkan wajahnya.
" Seperti ini sajalah sayang, aku suka jika terus memelukmu seperti ini ". Sahut Al tanpa ingin melepas pelukannya.
Adinda tidak bisa berbuat apa - apa, dirinya sudah pasrah, ia sangat paham jika suaminya ini adalah orang yang tidak suka dibantah.
Masih dalam keadaan yang sama. Al masih merengkuh tubuh istrinya.
" Mas, boleh Adinda menanyakan sesuatu? ". Seru Adinda dengan mendongakkan wajahnya.
" Tentu, tanyakanlah sayang ". Sahut Al.
__ADS_1
" Mas pernah mengatakan kalau di Inggris lah dulu kakeknya mas dilahirkan? ". Tanya Adinda.
" He em, bukan hanya kakek sayang, aku juga dilahirkan di kota ini, bahkan sekolah disini ". Sahut Al.
" Apa, jadi mas orang Inggris, mas Al warga negara Inggris? ". Tanya Adinda dan ia pun menguraikan pelukannya dari sang suami.
Al tersenyum melihat ekspresi sang istri.
" Mas itu asli orang Indonesia sayang, hanya saja mas ini berdarah campuran Indonesia Inggris, kenapa mas bisa lahir dan sekolah disini karena dulu papa harus mengurus perusahaan disini ". Sahut Al menjelaskan.
" Tapi kakeknya mas, asli orang Inggris? ". Tanya Adinda lagi yang masih penasaran.
" Kakek dan nenek mas asli orang Inggris, tapi karena suatu kepentingan pekerjaan akhirnya mereka menetap di Indonesia, dan menjadi warga Indonesia, dan papaku lahir di Indonesia ". Sahut Al yang menambah penjelasannya.
Adinda pun mengangguk paham. Sekarang Adinda sudah paham tentang asal usul suaminya.
" Sayang kita pulang yuk, mas ingin kembali ke villa ". Seru Al dan ia pun langsung beranjak dari posisinya.
Adinda yang mendapat ajakan dari suaminya pun menyanggupi. Dan kini sepasang suami istri itupun telah meninggalkan tempat yang mereka singgahi.
*****
Wangi semerbak begitu memenuhi ruangan mewah sepasang pengantin baru yang menikmati waktu bulan madunya.
Malam yang indah benar - benar menjadi waktu hari terbaik dalam menghabiskan kebersamaan mereka.
Seolah tak pernah bosan Al selalu ingin dan ingin agar dirinya bisa bermesraan dengan sang istri.
Adinda sudah mulai mendaratkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu. Dalam benaknya Adinda bertanya - tanya, mengapa ruangan kamarnya menjadi sangat wangi seperti ini?, dan ia menyadari pastilah ini semua ulah suaminya yang memasang pewangi di ruangan kamarnya.
" Sayang kenapa kamu masih belum ganti baju?, ganti baju dulu sayang? ". Seru Al.
Adinda paham kemana arah pembicaraan suaminya. Pasti suaminya itu ingin agar dirinya mengganti pakaiannya dengan lingerie yang pernah dibelikannya.
Sejujurnya dalam benaknya Adinda merasa sangat khawatir. Bagaimana jika dirinya hamil lagi, padahal kedua putranya masih bayi.
Kejadian di satu malam itu saja, sudah mampu membuatnya mengandung, apalagi dengan sekarang sudah bermalam - malam dirinya sering sering melakukannya dengan sang suami.
" Sayang kamu kenapa hem? ". Seru Al yang merasa khawatir dengan istrinya.
" Tidak ada mas, hanya saja Adinda sedang mengkhawatirkan sesuatu ". Sahut Adinda.
" Sayang, kamu mengkhawatirkan apa? ". Sahut Al dengan mengelus ujung kepala sang istri.
" Adinda, Adinda takut hamil lagi mas " Sahut Adinda takut - takut.
Al mengernyit tak percaya. Bagaimana bisa istrinya berkata seperti itu?.
" Apa maksudmu jika kamu takut hamil? ". Tanya Al dan kini tatapannya sudah mrnajam.
" Jangan katakan jika kamu menyesal melahirkan Aganta dan Damian, lalu kamu tidak ingin mengandung anakku lagi, iya begitu? ". Tanya Al lagi, dan kini tatapannya semakin kelam.
Adinda yang mendapati perubahan dari sikap suaminya begitu sangat terkejut. Sepertinya suaminya ini telah salah paham, tapi bagaimana caranya ia menjelaskan?.
" Jawab aku Adinda, kamu menyesalkan karena sudah melahirkan Aganta dan juga Damian? ". Seru Al lagi, dan kali ini tatapannya benar - benar berubah seperti tidak ada lagi cinta untuknya.
Deg....
Adinda benar - benar sangat tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya, bahkan suaminya Al tidak lagi memanggilnya sayang hanya karena ia mengatakan jika dirinya takut hamil lagi, suaminya menjadi marah, kenapa suaminya Al begitu tempramen.
Apa - apaan ini, hanya karena dirinya salah berucap, suaminya Al sudah begitu marah. Dan tanpa terasa wanita yang memiliki kelopak mata indah itu telah meneteskan air matanya.
" Mas, kenapa mas bicara seperti itu, jika memang aku tidak menginginkan Aganta dan Damian, lalu mengapa aku berjuang untuk melahirkan mereka? ". Batin Adinda sedih.
" Jangan menangis Adinda, jawab aku, kamu menyesal kan karena sudah melahirkan mereka? ". Marah Al.
Adinda menggeleng, apa yang dikatakan suaminya tidaklah benar. Mengapa Al begitu tidak paham, jika istrinya Adinda, sangatlah takut jika ia bentak.
" Kenapa kamu menggeleng Adinda?, oh sekarang aku tahu, sewaktu kamu dinyatakan hamil oleh dokter, sebenarnya kamu ingin menggugurkan nya kan, tapi kamu selalu gagal untuk melakukannya, dan disaat mereka akan lahir aku datang menemukanmu, dan kamu tidak bisa berbuat apa - apa lagi, iya kan jawab Adinda, sebelum aku semakin gila! ". Marah Al, dan bahkan ia mencengkram kuat kedua bahu Adinda.
" Ti, tidak mas hiks... A-Adinda, ta-kut ha-mil, karena mereka masih bayi hiks... A-Adinda ha, hanya hiks... tidak ingin hiks... mereka hiks... kurang kasih sayang hiks hiks... ". Sahut Adinda dengan air mata yang sudah membasahi pipi putihnya.
Deg..... Bagai terhantam di dadanya, Al begitu merasa terhantam, kini deru nafasnya pun seolah terhenti. Al tersadar jika sikapnya ini salah, ia telah salah paham pada istrinya sendiri.
Dan sesaat setelah itupun, Al langsung memeluk tubuh istrinya, rasa bersalah pun kini kembali menyeruak memenuhi relung hatinya. .
" Maafkan aku, maafkan aku sayang ". Al memejamkan kedua matanya dalam merengkuh tubuh sang istri.
" Hiks... hiks... hiks... ". Isak tangis Adinda.
Dapat Al rasakan bagaimana tubuh mungil istrinya itu begitu bergetar hebat karena isakan dan rasa takutnya.
" Maafkan aku sayang, tolong jangan menangis lagi, tolong maafkan aku " Seru Al lagi dengan tetap mengeratkan pelukannya.
" Astagfirullah hal adzim, apa yang kamu lakukan Al, kenapa kamu kembali menyakitinya, kamu sudah mengingkari janjimu Al ". Batin Al penuh sesal.
Bersambung..........
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus karya Author ya kakak ππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏ