
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Suara celotehan - celotehan sepasang bayi kembar yang sedang mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang begitu aktif itu mengundang banyak kegembiraan bagi semua orang yang menjadi bagian dari keluarga besar Georgino.
Semenjak kehadiran Aganta dan juga Damian dalam hidupnya yang berpengaruh pada kegiatan sehari - hari seorang Alexander membuat Al selalu memanfaatkan waktu libur dan waktu sengganggnya untuk melewati waktu bersama dengan kedua putra mungilnya tak lupa juga dengan sang kekasih halal yang sangat ia cintai yang juga selalu mendampingi hari - harinya.
Seperti halnya yang dilakukan Al di pagi hari yang cerah ini, peria blasteran Indonesia - Inggris itu nampak begitu senang menemani kedua putranya yang sedang asyik bermain.
" Ba, ba, mam, mam, mam ". Celoteh Damian pada sang kembaran dengan menggerak - gerakkan mainannya agar Aganta mau melihatnya.
" Hemm, mam, mam, mam ". Celoteh Aganta dengan merentangkan jemari kanannya sebagai bentuk jika ia merespon dengan mainan yang ditunjukkan oleh Damian kembarannya.
Tak lama dari itu Damian mulai mengambil mainan yang lainnya, Damian meraih mainan terompet kecil miliknya itu yang pernah dibelikan oleh sang opa, bayi gembul itu memberikan terompet mininya pada sang daddy.
" Ada apa boy? ". Sahut Al pada Damian dan Al pun mengambil mainan itu dari sang putra.
" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian dengan menepuk - nepuk tangan mungil nya seolah bayi gembul itu ingin agar sang daddy segera melakukan apa yang menjadi keinginannya.
" Oh daddy paham, kamu ingin daddy memainkan ini? ". Tanya Al pada sang putra.
" Hem, mam, mam, mam ". Sahut nya dengan tetap menepuk - nepukkan kedua tangan mungil nya.
" Oke oke, daddy akan melakukannya anakku ". Sahut Al.
Al membuka bungkus terompet mini itu dan melakukan apa yang menjadi keinginan Damian.
Teeetooot... teeetooot... teeetooot...
Itulah suara terompet mini yang dibunyikan oleh Al. Dan benar saja Damian bahkan Aganta nampak begitu sangat senang dan antusias mendengarkan suara terompet itu.
Teeetooot... teeetooot... teeetooot...
Suara mainan mini itu kembali berbunyi. Dan lagi - lagi Damian dan juga Aganta begitu sangat senang mendengarnya bahkan kedua bayi gembul itu hingga tertawa cekikikan mendengarnya.
Untuk sesaat timbul pertanyaan dalam benak Al, darimana kedua putra mungilnya itu mendapatkan mainan ini, padahal seingatnya ia tidak pernah membelikannya untuk kedua putranya.
" Aganta, Damian, daddy ingin menanyakan sesuatu pada kalian nak, sejak kapan kalian memiliki mainan ini, siapa yang membelikannya? ". Tanya Al pada kedua putranya.
" Hem mam, mam, mam ". Sahut Aganta dengan menaik turunkan kedua tangan mungilnya.
" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian juga dengan menatap lekat pada wajah sang daddy.
Mendengar jawaban dari kedua putranya membuat Al menepuk jidatnya sendiri, ia merasa dirinya bodoh.
" Ya ampun Al, kenapa kamu menanyakannya pada putramu, mereka kan masih belum bisa berbicara dengan jelas ". Rutuk Al dengan menepuk jidatnya sendiri.
" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian lagi yang seolah ingin menyebut nama seseorang tetapi sayangnya bahasanya tidak bisa dipahami oleh daddynya.
Tak ingin ambil pusing Al pun kembali memainkan mainan itu hingga Aganta dan juga Damian kembali tertawa cekikikan yang mendengar suara terompet mainan itu.
Teeetooot... teeetooot... teeetooot...
Hingga sekitar sepuluh menit berlalu semenjak mainan itu dimainkan kini datanglah Adinda dengan membawa sarapan untuk kedua bayi gembul nya.
" Ayo anak - anak mommy sarapan dulu ya nak, sekarang saatnya kalian sarapan istirahat dulu mainnya ya sayang ". Seru Adinda dan ia pun duduk diantara suami dan juga anak - anaknya.
__ADS_1
" Sayang ". Panggil Al.
" Iya mas ". Sahutnya dengan khas suaranya yang lemah lembut itu.
" Ini, semenjak kapan Aganta dan Damian memiliki mainan terompet ini? ". Tanya Al pada sang istri dengan menunjukkan mainan yang diberikan Damian tadi.
" Loh mas Al tidak tahu, atau memang Adinda yang lupa memberitabukannya pada mas? ". Sahutnya.
" Siapa yang membelikan mainan ini untuk anak - anak sayang? ". Lanjut Al lagi.
" Iya Adinda lupa memberitahukannya pada mas, mainan terompet mini ini adalah mainan pertama Aganta dan juga Damian, papa yang membelikannya sewaktu mereka berusia dua bulan mas ". Sahut Adinda.
" Oh sewaktu kita ada di Inggris untuk berbulan madu? ". Sahut Al.
" Iya mas, papa sengaja membelikannya agar kedua putra kita merasa terhibur disaat tidak ada orang tuanya di sampingnya ". Sahut Adinda.
Al tersenyum mendengar jawaban istrinya, ternyata selama dirinya ada di Inggris, papa nya benar - benar berusaha untuk menjadi opa yang baik untuk kedua cucunya.
" Ayo anak - anak mommy saatnya kalian mulai sarapan nya ya nak, dimulai dari Aganta dulu ya ". Serunya.
" Bismillahirrahmanirrahim, buka mulutnya dulu sayang aaaa, aem, alhamdulillah ". Sahut Adinda setelah satu suapan bubur khusus bayi telah berhasil masuk ke mulut mungil Aganta.
" Nah sekarang giliran Damian ya nak, Bismillahirrahmanirrahim, buka mulutnya sayang aaaa, aem, alhamdulillah ". Satu suapan pun telah berhasil masuk ke mulut mungil Damian.
Dan seperti itu seterusnya, Adinda menyuapi kedua putranya secara bergantian hingga bubur di mangkuk yang dibawanya tadi telah habis tak tersisa.
" Alhamdulillah sudah habis, anak - anak mommy pintar ya sudah menghabiskan semua sarapannya ". Puji Adinda pada kedua putranya.
" Mam, mam, mam, mam ". Damian nampak senang dengan menepuk - nepuk tangan mungilnya karena mendapat pujian pintar dari sang mommy, sedangkan Aganta dia hanya biasa saja.
" Mas, mas jaga anak - anak dulu ya, Adinda mau meletakkan mangkuk kotor ini di dapur dulu ". Sahutnya dan Adinda pun mulai beranjak dari duduknya namun belum sempat kakinya melangkah tiba - tiba saja bu Ika datang menghampiri.
" Apa, pagi sekali dia sampai dan Vita ikut juga? ". Gumam Al.
" Memangnya mereka sudah memberi tahu mas kalau ingin datang kesini? ". Tanya Adinda.
" Iya sayang, tadi malam Andrew menghubungi mas jika dia ingin bicara penting, tapi dia bilang hanya dia yang akan datang kesini ternyata Vita ikut juga ". Sahutnya.
" Ya sudah terima kasih bi Ika ". Sahut Adinda.
" Iya nyonya, mana itu mangkuknya biar saya yang meletakkannya di dapur " . Pinta bu Ika.
" Terima kasih ya bi ". Sahut Adinda.
Kini Al dan Adinda pun mulai melangkah menuju ruang tamu dengan menggendong kedua anaknya.
" Sayang, nanti kalau bertemu dengan Andrew kamu jangan memanggilnya tuan, karena dia bukan tuan mu ". Sahut Al di tengah langkahnya.
" Lalu Adinda harus memanggilnya apa mas? ". Tanya nya.
" Ya panggil nama saja lah sayang ". Sahutnya.
" Tapi mas sepertinya itu tidak sopan ". Sahut Adinda.
" Tidak sopan apanya sih sayang, sudahlah kamu nurut saja, dan ingat mas melarang mu memanggilnya tuan bukan berarti setelah itu kamu memanggil dia dengan sebutan mas ya, karena panggilan itu hanya khusus untukku ". Sahut Al dengan tatapan nyalangnya.
Adinda benar - benar tak percaya dengan yang diucapkan oleh suaminya, bisa - bisanya suaminya itu mengatakan hal semacam itu padahal Adinda sudah menganggap tuan Andrew nya itu seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
" Andrew, kenapa pagi sekali kamu datangnya dan Vita ikut juga? ". Tanya Al setelah dirinya telah sampai di ruang tamu.
" Iya tuan, kami memang sengaja datang pagi ". Sahut Andrew.
" Vita ".
" Adinda ". Dua sahabat dekat itu pun saling menyapa dan berpelukan.
" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian yang ada di gendongan Adinda seolah bayi gembul itu juga ingin disapa oleh onti nya.
" Aduh keponakannya onty sini sayang ". Seru Vita dan ia pun meraih tubuh gembul keponakannya itu.
" Aduh, kalian ini bertambah montok saja ya, onti semakin gemas tahu melihat kalian emmuah emmuah ". Seru Vita pada kedua keponakannya kemudian iapun mencium pipi gembul Damian.
" Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan Andrew, apakah ada masalah perusahaan yang tidak aku ketahui? ". Tanya Al langsung pada intinya setelah ia dan juga sang istri duduk di sofa.
" Tentang perusahaan tidak ada masalah tuan, kami datang kesini karena ingin memberi kabar pada tuan dan nyonya jika saya dengan Vita akan segera melangsungkan pernikahan ". Sahut Andrew langsung tanpa memikirkan bagaimana reaksi dari tuan dan nyonya nya.
" Apa? ". Pekik Al dan Adinda secara bersamaan.
Al dan juga Adinda begitu sangat terkejut bukan main pasalanya tidak angin tidak ada hujan tiba - tiba saja mereka mendengar kabar pernikahan dari dua orang yang sangat dikenalnya bahkan tidak pernah Al dan Adinda pikirkan sebelumnya, yang benar saja?.
Adinda dan Al benar - benar tidak habis pikir, baru saja mereka mendaratkan tubuhnya di atas sofa sudah mendengar kabar yang tak terduga ini.
" Yang benar saja kamu Andrew, kamu ingin menikah dengan Vita, tapi bagaimana bisa, perasaan aku tidak pernah melihat kalian memiliki hubungan apapun? ". Tanya Al dengan rasa tak percaya nya.
" Ya Allah Vita, kamu ini memiliki hubungan yang sangat serius seperti ini tapi kamu tidak memberitahukan nya padaku, bahkan ayah juga? ". Sahut Adinda yang masih tak habis pikir dengan fakta yang ada di depannya.
" Hehehe, maafkan aku ya Adinda yang tidak memberikan kabar sebelumnya, karena semuanya terjadi pun juga baru - baru ini ". Sahut Vita dengan senyuman kecutnya.
" Apa?, baru - baru ini?, maksudnya bagaimana Vita? ". Tanya Adinda yang menjadi penasaran.
Vita melirik pada Andrew yang menandakan jika dirinya membutuhkan bantuannya untuk memberikan jawaban, Andrew yang melihatnya pun paham maksud dari keinginan calon istrinya itu.
" Jadi seperti ini nyonya, beberapa hari yang lalu tanpa sepengatuan Vita saya dengan didampingi kedua orang tua saya datang untuk melamar Vita ". Sahut Andrew menjelaskan.
Pok... pok... pok... Al menepuk-nepuk tangannya.
" Wah, wah, wah Andrew kamu ini hebat sekali ya, dengan tanpa aba - aba sudah langsung main melamar anak orang saja " . Sahut Al, entah ini sebuah pujian atau sebuah lelucon.
Vita yang mendengar pujian yang tuan Al nya berikan pada calon suami nya merasa tersipu.
" Tapi tunggu, kenapa kamu main langsung melamar tanpa memberi tahu dulu pada Vita, kan kasihan anak orang dibuat kaget? ". Imbuh Al lagi pada sang asisten.
" Karena saya tidak ingin Vita dimiliki oleh laki - laki lain tuan ". Sahut Andrew dengan penuh keyakinan.
Mendengar jawaban dari calon suaminya jujur saja Vita merasa tersanjung dan bangga karena tuan Andrew nya ternyata begitu tidak ingin jika dirinya dimiliki oleh orang lain, sungguh jawaban ini tak pernah Vita bayangkan sebelumnya.
Sedangkan Adinda, kedua bola matanya kini sudah mulai berembun, ia sangat terharu dan bahagia karena akhirnya sahabat terbaik nya ini akan memiliki pendamping hidup yang sangat baik yang akan mampu menjaga dan melindungi dirinya.
" Wah Andrew, ternyata kamu ini bukan hanya urusan pekerjaan saja yang begitu cepat ditangani tetapi urusan wanita kamu juga cepat menanganinya ternyata ya ". Sahut Al lagi dengan sebuah senyuman yang tidak tahu apa maksud nya.
" Tentu saja saya akan cepat endapatkan nya tuan, tidak seperti tuan yang sudah meniduri seseorang tetapi tidak tahu yang ditiduri nya siapa, dasar payah ". Batin Andrew meremehkan.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah motivasi bagi Author untuk menyelesaikan karya ini.
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ