
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Devina menuntun kedua cucunya itu secara perlahan untuk menyeimbangi langkah mungil kedua cucunya. Tak lupa sang opa juga tetap ikut andil mendampingi dalam setiap langkah mereka, hingga ketika sampai di tengah - tengah ruangan, terlihatlah Al dan juga sang menantu Adinda yang sudah turun melewati anak tangga.
" Aganta, Damian, ada apa sayang, kenapa kalian basah - basahan seperti ini?, kasihan opa sama oma nak jadi kerepotan ". Tutur Adinda setelah melihat kedua putranya dengan pakaian basah.
" Dak pa pa myh, tadi tita cuma bantu upa ja ". Sahut Aganta tenang, nampaknya bocah kecil itu ingin menjadi penengah agar sang opa tak lagi mendapat omelan.
" Huum, iya myh, tadi tita bantu upa cilam cilam buna ( huum, iya myh, tadi kita bantu opa menyiram tanaman bunga) ". Timpal Damian, dengan bahasanya yang masih belum sempurna.
" Bagus, anak - anak daddy pintar dan baik hati ya, mau membantu opa ". Kali ini sang daddy Al lah yang menyahuti.
Devina dengan Enriko pun terdiam, kedua pasangan paru baya itu merasa kagum dengan kedua cucunya, karena tak ingin sang opa di salahkan, kedua cucunya itu malah memiliki inisiatif untuk melindungi opanya, sungguh, baik Devina maupun Enriko tak menyangka jika kedua cucunya bisa memiliki rasa pengertian seperti ini, padahal usia kedua cucunya itu masihlah terlalu dini untuk memiliki pemikiran seperti itu.
" Mas, Adinda bantu mama dulu ya, menggantikan baju anak - anak ". Pintanya pada sang suami.
" Iya sayang ". Sahutnya dengan anggukan.
" Ya sudah, ayo cucu - cucu oma ganti baju dulu ". Ajaknya lagi.
Devina dengan kedua cucunya pun kembali melangkah dengan di dampingin menantunya, sementara Al dengan Enriko mulai duduk bersinggah di sofa ruangan itu.
" Bagaimana Al, beberapa minggu lagi adalah hari resepsi pernikahan mu, apa semuanya sudah kamu siapkan? ". Tanya Enriko.
" Sudah pa, dan nanti siang aku dan istriku mau ke butik mau lihat baju pengantinnya ". Sahut Al.
" Baguslah, papa harap di hari resepsi nanti semuanya berjalan lancar ". Sahut Enriko penuh harap.
" Pasti pa, semuanya akan berjalan sesuai keinginan Al ". Sahut Al.
" Al, sudah saatnya lah semua orang harus tahu kalau Adinda adalah istrimu, terus bagaimana, apa kamu akan mengundang media? ". Lanjut Enriko lagi.
" Sampai kapanpun Al tidak akan mengundang media pa, karena jika sampai itu terjadi, bukan tidak mungkin jika orang - orang yang benci apalagi dendam pada Al akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang istri dan anak - anak Al, dan Al tidak ingin itu terjadi ". Sahut Al tetap pada keinginan awalnya.
" Tapi tetap saja Al, tidak akan banyak orang yang tahu siapa istri kamu, mungkin hanya sebagian dari mereka yang tahu ". Sahut Enriko lagi karena memang itu yang akan terjadi.
" Itu mudah pa, saat resepsi pernikahan nanti, Al akan mengundang semua rekan kerja Al yang memang sudah di percaya, dan Al akan lebih sering mengajak Adinda pergi bersama untuk urusan - urusan penting yang berhubungan dengan perusahaan dan kegiatan penting lainnya, supaya mereka tahu jika Adinda adalah istri Al ". Sahut Al pada akhirnya, dan cara itulah yang menurutnya lebih baik.
" Huum, ya sudah tidak apa - apa, cara itu memang yang terbaik dalam menjaga keamanan istrimu ". Sahut Enriko.
*****
Sang waktu pun terus berlalu, mentari indah dengan pancaran cahayanya di pagi yang begitu menyejukkan ini telah mengantarkan semangat berolahraga pada setiap insan yang ingin melakukannya, termasuk pada Rendi dan juga Diandra.
Sesuai janji mereka di hari kemarin, dua anak manusia yang beda jenis itu ingin berolahraga bersama, di mana tempatnya jika bukan di taman kota.
" Di, habis ini, kita makan lalapn ikan bakar yang ada di sana ya ". Tunjuk Rendi pada sebuah warung lesehan yang terletak di seberang jalan yang sering mereka berdua lalui.
__ADS_1
" Boleh, habis ini kita makan di sana ". Sahut Diandra di sela - sela aktivitas berlari nya.
Kemudian dua sejoli itupun melanjutkan olahraga paginya dengan mengelilingi taman kota.
Mereka terus berlari - lari santai hingga tubuh mereka benar - benar terasa lengket karena banyaknya keringat yang keluar, dan benar, setelah dua jam lebih lamanya mereka berolahraga, barulah mereka berhenti kegiatan olahraga itu.
" Huh... akhirnya selesai juga, aku lelah Ren, mau istirahat dulu ". Seru Diandra lalu menuju salah satu kursi kayu panjang yang ada di sana.
Mereka pun duduk bersama, nampak Diandra berusaha menggerak - gerakkan baju kaosnya agar menimbulkan adanya angin segar yang masuk ke tubuh lengketnya itu, begitupun dengan Rendi, ia juga melakukan hal yang sama dengan Diandra, suasana pagi yang mulai terasa berkurang kesejukannya itu, rupanya telah membuat dua sejoli yang belum terikat hubungan spesial itu, harus melakukan gerakan pemancingan udara, agar ada udara segar terus bisa menerpa tubuh mereka berdua .
" Di, minum ini ". Seru Rendi tiba - tiba dengan menyodorkan air mineral yang sudah di kemas dalam botol.
" Wah Ren, kenapa repot - repot sih, aku sudah bawa air minum sendiri kok ". Sahut Diandra.
" Tidak apa - apa Di, minumlah, tidak baik loh menerima pemberian seseorang ". Goda Rendi dengan senyuman jahilnya.
" Bisa saja kamu Ren, oke aku terima, terima kasih ya ". Sahut Diandra lalu menerima air minum yang diberikan oleh Rendi.
Glug... glug... glug... glug... begitu terdengar suara masuknya air minum yang berhasil menembus tenggorokan Diandra.
" Pfftt... pfftt... pfftt... ". Rendi menahan tawanya melihat Diandra terlihat begitu rakus meminum airnya, seolah tak ingin membaginya dengan siapapun.
" Sudah jangan di tahan - tahan, kalau memang mau tertawa, tertawalah ". Seru Diandra setelah wanita cantik itu hampir menuntaskan separuh dari air minumnya.
" Habisnya kamu lucu Di, minum air sampai sebegitunya, tidak ada yang mau minta kok ". Sahut Rendi, lagi - lagi dengan sikap jaimnya.
Diandra menatap Rendi, begitupun dengan Rendi, kedua manik mata dua insan itu saling menatap dengan tatapan yang penuh arti, entah apa yang memenuhi pikiran mereka saat ini.
" Di, aku akan terus berusaha dan bersabar untuk mendapatkan hati dan juga cintamu, karena hanya kamulah wanita pilihanku ". Batin Rendi menyahut, seolah memahami suara hati Diandra.
*****
Rencana ingin mencoba baju pengantin pun mulai terlaksana, kini keluarga kecil Al dengan di dampingi kedua orang tuanya telah berada di sebuah butik di mana baju pengantin untuk malam resepsi pernikahan akan di coba.
Sepasang paru baya itu Devina dan juga Enriko sudah duduk tenang dengan di dampingi oleh kedua cucunya, sedangkan Al dan juga Adinda sedang mencoba baju pengantin mereka di ruangan yang berbeda.
Adinda tersenyum senang melihat sosok dirinya di depan cermin dengan gaun pengantinnya, ia benar - benar tak menyangka akan berada di saat di mana dirinya memakai gaun pengantin yang indah ini.
Dulu di saat dirinya masih berusia belasan tahun, di saat Adinda sering menonton acara resepsi pernikahan sering ia berpikir, apakah suatu hari nanti jika dirinya sudah menikah akan memakai gaun pengantin yang indah seperti ini, yang sama seperti yang para wanita pakai di malam resepsi pernikahannya?, dan ternyata apa yang dipikirkan nya bukanlah khayalan semata, tidak lama lagi dirinya akan benar - benar memakai gaun yang di cobanya ini di malam resepsi pernikahan nanti, dan Adinda benar - benar bahagia untuk itu.
" Wah nyonya, anda benar-benar sangat cantik dengan memakai gaun ini ". Puji desainer wanita itu.
" Iya betul nyonya, warna biru langit gaunnya sangat cocok dengan warna kulit nyonya ". Puji asisten desainer itu.
" Terima kasih ". Sahut Adinda malu - malu.
Al sang suami menatap punggung istrinya yang terlihat nampak sibuk dengan memperhatikan ditinua, seulas senyum kebahagiaan begitu terpancar dari kedua sudut bibirnya.
Di dekatinya istrinya itu secara perlahan.
__ADS_1
" Sayang ". Serunya dengan menyentuh kedua bahu sang istri.
" Mas ". Sahutnya.
" Kamu sangat cantik sayang dengan gaun indah ini ". Puji Al karena istrinya menggunakan gaun panjang berhijab dengan warna biru langit.
" Jadi maksud mas, selama ini Adinda tidak cantik? ". Sahutnya berpura-pura.
" Eh, bukan begitu sayang, kamu itu cantik, dan selalu cantik, tapi dengan memakai gaun ini kamu terlihat lebih cantik lagi sayang ". Puji Al, karena memang begitulah maksudnya.
" Hihihihi... Adinda kan hanya bercanda mas, sampai seserius itu wajahnya ". Sahutnya.
" Jadi kamu menjahili ku sayang, awas kamu ya, nanti malam aku gempur kamu habis - habisan heh...heh ". Sahut Al dengan mendusel - duselkan wajahnya di pipi kiri sang istri.
" Ih mas, berhenti, malu sama mbaknya itu ". Sahut Adinda dengan berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah sang suami.
" Biarkan saja, memangnya kenapa kalau mereka tahu, kan kamu milikku sayang ". Sahut Al, entahlah, rupanya Al yang dulu yang begitu berwibawa mendadak telah hilang kewibawaannya di saat bersama sang istri, bahkan ketika dirinya sedang di tatap oleh orang lain sekalipun, Al sudah seperti orang yang hilang rasa malunya.
Sedangkan di luar koridor, sepasang paru baya dengan kedua cucu kembarnya masih setia menunggu menantu dan juga sang putra agar keluar dari ruangan bersalin, namun nyatanya yang di tunggu malah tak kunjung keluar.
" Uma, daddy cama mommy teunapa dak telual telual ya? ". Tanya si kecil Damian.
" Iya juga sayang, oma juga bingung, ini sudah cukup lama daddy dan mommy kalian ada di dalam ". Sahutnya.
" Sabar dulu, mungkin masih belum selesai, tunggu sebentar lagi ". Sahut Enriko menimpali.
" Tapi Mian mau liat upa ". Sahut Damian, rupanya bocah kecil itu sudah tak sabar ingin melihat.
" Ya sudah sama oma saja sayang, oma juga penasaran dari tadi, kita masuk ke dalam saja oke ". Ajak Devina akhirnya pada sang cucu.
" Aganta mau ikut juga sayang? ". Lanjutnya lagi.
" Dak uma, Anta mau memeni upa ja ". Tolak Aganta, nampaknya ia tak ingin meninggalkan opanya.
Devina pun beranjak dari tempat duduknya dengan juga menurunkan cucunya Damian, dan berlalu menuju ruangan di mana menantu dan juga putranya mengganti baju.
" Aganta tidak ikut karena ingin menemani opa di sini? ". Seru Enriko dengan mengelus kepala mungil cucunya.
" Iya upa ". Sahut nya.
" Aduh, sayangnya opa ". Seru Enriko, dan membawa tubuh mungil cucunya ke dalam rangkumannya.
Devina dan sang cucu Damian sudah tak sabar ingin melihat, sebenarnya apa sih yang dilakukan mereka di dalam sampai lama tak kunjung keluar.
Bersambung..........
Halo kakak - kakak, Author update lagi, semangat membaca ya.
πππππβ€β€β€β€β€
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ