
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dan kini Al kembali meraih bibir peach milik istrinya itu, ia menikmatinya dengan tanpa mengingat jika didekatnya sedang ada kedua putra mungilnya hingga.....
" Mam, mam, mam, ba, ba, ba " Sentak Aganta dan Damian.
Mendengar sentakan dari kedua putranya, sontak saja membuat Adinda tersadar dan langsung menarik tubuhnya dari sang suami.
Begitupun dengan Al, ia terlupa jika kedua putranya juga ada di kasur yang sama dengan nya.
" Astagfirullah, ya Allah nak ". Pekik Adinda kala melihat kedua putranya.
Aganta dan Damian sudah duduk melihat kedua orang tuanya, bahkan popok Damian yang sempat di buka tadi kini sudah terlepas dari pantatnya.
" hem, hem, ba, mam, mam ". Seru Aganta pada sang mommy dan juga Daddynya.
" Mam, mam, mam, mam, mam, mam ". Imbuh Damian yang sudah tak menggunakan popok.
Kedua bayi mungil yang sudah duduk itu mengangkat kedua tangan mungil nya agar bisa di gendong oleh mommy dan juga daddy nya.
Entahlah, kedua bayi kembar yang sudah berusia delapan bulan itu seolah tak rela jika di abaikan oleh kedua orang tuanya.
" Ya Allah nak, maafkan mommy ". Seru Adinda dengan rasa bersalahnya.
Adinda menyesali apa yang sudah terjadi, pasti kedua bayi mungilnya itu sudah melihat semuanya.
" Ih, mas, ini gara - gara mas sih, lihat putra kita jadi melihat semuanya kan ". Seru Adinda dengan mengerucutkan bibirnya.
" Loh, ya bukan hanya salah mas lah sayang, kamu juga salah disini ". Sahut Al yang merasa tak terima jika hanya dirinya yang disalahkan.
" Ya kan tadi mas Al yang memulainya ". Sahut Adinda lagi yang tak mau kalah.
" Ih kamu tuh sayang bisanya hanya menyalahkan mas, kamu sendiri juga menikmatinya kan sayang ". Elak Al lagi dan kali ini dengan menaik turunkan alisnya.
" Ih, tau lah mas, Adinda mau memandikan mereka ". Putus Adinda pada akhirnya.
" Mam, mam, mam, mam, mam, mam ". Seru Damian yang ingin segera di gendong oleh sang mommy.
" Iya sayang nya mommy ". Sahut Adinda dan ia pun segera menggendong tubuh Damian.
" Mam, mam, mam, ba, ba, ba ". Sahut Aganta yang juga ingin di gendong.
" Mas, kenapa mas diam saja, ayolah mas bantu Adinda untuk membawa Aganta juga ". Pinta Adinda pada sang suami.
" Eh, iya sayang ". Sahut Al, dan ia pun buru - buru menggendong Aganta.
Dan sepasang orang tua itupun begitu asyik memandikan kedua putranya. Al sudah tidak jadi berangkat bekerja hari ini, kebersamaan nya dengan sang istri benar - benar membuatnya lupa dengan urusan kantornya.
*****
Wanita berhijab dengan paras cantiknya di pagi hari yang begitu cerah ini telah siap mengemban semua tugas - tugasnya.
" Alhamdulillah, untung aku rajin mengerjakannya, aku harus memberikan berkas penting ini pada tuan Andrew ". Seru Vita dengan sudah mempersiapkan berkas pentingnya.
Vita pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Andrew, hingga sampailah ia di depan pintunya.
Tok... tok... tok... ceklek..... pintu ruangan itupun di buka.
" Permisi tuan, saya ingin mengantarkan berkas kemarin yang tuan Andrew berikan pada saya ". Ucap Vita setelah dirinya berada di dekat tuannya.
" Loh, Vita, sudah selesai, bukankah aku menyuruhmu untuk menyelesaikan nya dalam waktu dua hari, kenapa dalam satu hari sudah selesai? ". Tanya Andrew yang sedikit heran.
" Ya tidak apa - apa tuan, saya kemarin membawa berkasnya ke rumah agar bisa cepat diselesaikan " Sahut Vita dengan tersenyum.
Jujur saja Andrew merasa sangat bangga padanya, semakin hari Vita semakin menunjukkan kinerja terbaiknya.
" Tugas saya sudah selesai tuan, apakah masih ada hal lain lagi yang perlu saya kerjakan tuan? ". Seru Vita.
" Aku rasa untuk saat ini tidak ada, tapi nanti kalau ada aku akan memanggilmu ". Ujar Andrew.
" Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu " Sahut Vita, dan ia pun mulai berlalu pergi dari hadapan Andrew, namun belum sempat langkah Vita sampai pada pintu keluar tiba - tiba saja.....
" Vita, tunggu ". Panggil Andrew.
" Iya tuan? ". Sahut Vita dan ia pun segera kembali mendekati tuannya.
" Duduklah dulu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu ". Perintahnya lembut.
" Sebenarnya tuan Andrew ingin membicarakan apa?, sampai - sampai aku harus duduk, kalau memang ada tugas lagi kenapa tidak langsung bicara saja ". Batin Vita.
Andrew meletakkan kembali berkas - berkas penting yang sempat diperiksanya tadi. Sejenak dirinya menatap Vita.
__ADS_1
Sedangkan Vita saat ini entah mengapa ia merasa keadaannya saat ini seperti tak biasa, bahkan degup jantungnya yang awalnya berirama dengan tenang kini seolah menjadi lebih dag dig dug.
Apa yang dirasakan oleh Vita pun kini juga tak jauh berbeda dengan Vita. Andrew juga merasakan jika degupan jantungnya kini terasa menjadi lebih cepat, mungkinkah ini terjadi karena perasaannya yang ia rasakan saat ini?.
" Tuan, sebenarnya apa yang ingin tuan bicarakan? ". Seru Vita pada akhirnya yang berusaha untuk menetralkan perasaannya sendiri.
" Em anu, jadi seperti ini ". Sahut Andrew.
" Aduh, bagaimana caraku memulainya? ". Batin Andrew bingung.
" Ehm, jadi begini Vita, sebenarnya yang ingin aku tanyakan padamu bukan soal pekerjaan, tetapi soal yang lain ". Seru Andrew pada akhirnya.
" Soal yang lain, soal apa tuan? ". Tanya Vita.
" Haahh..... ". Andrew menghela nafasnya cukup dalam.
" Vita, kamu pernah mengatakan padaku jika kamu masih belum memiliki kekasih, apakah itu artinya kamu belum pernah berpacaran?, dan apakah saat ini kamu juga masih belum memiliki pacar? ". Cerocos Andrew.
Vita menjadi ternganga mendengar pertanyaan tuannya.
" Apa tuan Andrew menanyakan hal ini lagi? ". Batin Vita.
" Iya tuan, saya belum pernah berpacaran, bahkan sampai saat ini pun saya masih belum berpacaran ". Sahut Vita.
Mendengar jawaban dari Vita benar - benar membuat hati Andrew menjadi terasa lega, bahkan Andrew pun juga bernapas sangat lega.
" Syukurlah ". Batin Andrew bersyukur.
" Memangnya ada apa tuan? ". Seru Vita.
" Vita, nanti malam kamu ada di rumahmu? ". Tanya Andrew yang ingin memastikan.
" Apa, apa - apaan dia, bukannya menyahut pertanyaan ku malah menanyakan apa nanti malam aku ada di rumah?, memang ya kalau atasan memang suka seenaknya ". Batin Vita yang merasa kesal karena pertanyaannya diabaikan.
" Iya tuan, nanti malam saya ada di rumah, saya tidak pernah kemana - mana kalau malam hari tuan ". Sahut Vita.
" Ya sudah bagus lebih baik kamu jangan kemana - mana, dan kalaupun ada orang yang ingin menemui atau mengajakmu keluar malam - malam langsung di tolak saja ". Pungkas Andrew tanpa bantahan.
" Astagfirullah, siapa dia berani - berani mengatur hidupku, dasar pria aneh ". Batin Vita.
" Ya sudah, aku rasa tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan padamu, sekarang kamu boleh kembali ke ruangan mu Vita ". Perintah Andrew.
" Baik tuan ". Sahut Vita.
*****
Suasana ceria begitu nampak menghiasi sepasang orang tua yang saat ini sedang menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya.
" Bismillahirrohmanirrohim, ayo buka mulutnya Aganta sayangnya mommy, aaa, aem ". Dengan telaten Adinda memberikan sarapan untuk Aganta.
" Aem, mam, mam, mam ". Aganta memakan sarapan nya yang disertai dengan celotehan semangatnya.
" Ayo sekarang gantian Damian sayang yang makan, bismillahirrohmanirrohim, dibuka mulutnya nak, aaa, aem ". Adinda menyuapi Damian.
" Aem, mam, mam, mam ". Damian memakan sarapan paginya dengan semangat, bahkan bayi gembul itu menggerak - gerakkan kakinya dari saking semangatnya.
Suapan demi suapan terus Adinda berikan pada kedua putranya, hingga tibalah Al dan mendekati istri dan juga kedua anak kembarnya.
" Aduh, my twins boy semangat sekali ya sarapannya? ". Sapa Al.
" Iya daddy kami harus semangat sarapan dan juga makannya, supaya kami cepat besar dan bisa membantu daddy ". Kali ini Adinda yang menyahuti suaminya.
" Aduh, pintarnya anak - anak daddy ini ya ". Sahut Al dengan mencubit lembut kedua pipi gembul putranya.
" Sayang, biar mas yang gantian menyuapi mereka ". Pinta Al pada sang istri.
" Mas, ini sudah pukul tujuh lewat, mas tidak jadi berangkat ke kantor hari ini? ". Tanya Adinda.
" Tidak jadi sayang, mas tidak jadi ke kantor, kamu sih tadi pagi cuek sama mas, bagaimana mas bisa masuk kerja dengan tenang kalau istri mas yang cantik ini murung seperti itu ". Seru Al yang berakhir sindiran pada istrinya.
Adinda menunduk malu, ia sadar jika perbuatannya di meja sarapan tadi benar - benar tidak layak di tunjukkan oleh seorang istri.
" Maafkan Adinda ya mas ". Sahut Adinda lirih, terlihat jelas ada gurat kesedihan di wajahnya.
" Sayang, kenapa kamu jadi sedih hem?, sudah jangan sedih maafkan mas ya ". Sahut Al, untuk sesaat Al menyesal karena sudah menyindir istrinya.
Kemudian Adinda pun tersenyum pada suaminya.
" Sini, biar mas yang gantian memberi sarapan untuk si kembar ". Pinta Al pada istrinya.
" Tidak usah mas, biarkan Adinda saja yang menyuapi mereka ". Sahutnya lembut.
" Tidak apa - apa sayang sekali - kali mas yang menyuapi mereka sarapan ". Sahut Al, dan ia pun meraih mangkok yang berisi makanan bayi dari tangan istrinya.
__ADS_1
" Ayo sayangnya daddy, sekarang gantian daddy yang akan menyuapi kalian ya sayang ". Seru Al yang sudah siap dengan sendok kecil yang sudah berisi bubur khusus bayi.
" Ayo Aganta, buka mulutnya nak, aaa, aem ". Satu suapan telah berhasil masuk ke mulut mungil Aganta.
" Ayo sekarang giliran Damian yang makan, buka mulutnya sayang, aaa, aem ".
" Brrrrrrrrrrr..... ". Damian menyemburkan makanannya.
" Astagfirullah hal adzim mas ". Pekik Adinda.
Kini wajah Al sudah dipenuhi dengan semburan bubur Damian, bahkan kaos oblong yang digunakannya pun juga terkena imbasnya.
" Ya Allah mas, lihat sekarang, wajah mas sudah penuh dengan bubur, biar Adinda bersihkan dulu mas ". Serunya.
" Tidak apa - apa sayang, biar mas bersihkan sendiri ". Sahut Al dan ia pun beranjak dari duduknya.
" Pam, pam, pam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian dengan senyumannya.
Adinda menoleh pada Damian putranya, Adinda menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah sang putra terlihat putranya itu tersenyum pada daddy nya yang sudah melenggang pergi.
" Ya Allah nak, kenapa kamu ini suka sekali iseng, kalau tidak opa mu pasti daddy mu yang jadi sasaran ". Batin Adinda.
*****
Seperti biasa suasana cafe yang terletak di lantai dasar perusahaan G. Group, memang selalu digemari oleh hampir semua karyawan yang bekerja di perusahaan itu. Mungkin karena selain rasa makanannya yang enak harganya pun juga cukup terjangkau.
Seperti biasa di jam makan siang seperti ini Vita selalu menggunakan waktunya untuk makan siang di kafe. Nasi dengan lalapan ayam goreng adalah menu yang hampir setiap hari ia makan, mungkin karena menu itu adalah makanan favorit nya sehingga wajar saja jika dirinya hampir setiap hari membelinya.
" Alhamdulillah, akhirnya aku selesai juga makannya, tinggal menghabiskan minumannya saja ". Gumam Vita.
Vita kembali menyeruput minumannya, hingga tak lama dari itu datanglah sesosok pria muda yang usianya empat tahun di atas Vita.
" Hai bu Vita ". Seru Anton, ya pria itu adalah Anton Purnomo, salah satu staf di bagian Divisi pemasaran.
" Selamat siang pak Anton ". Sahut Vita.
" Boleh aku duduk disini? ". Tanya Anton.
Vita nampak berpikir, haruskah ia mempersilahkan pria di hadapannya ini untuk duduk di meja yang sama dengannya.
" Tenang saja, saya tidak akan duduk di sampingmu, tapi saya akan duduk di sini di sebrang meja ". Sahutnya.
" Ya sudah pak boleh " Sahut Vita.
Ya, dialah Anton Purnomo, pria yang memiliki perasaan tak biasa pada Vita, Jika di dalam kantor mungkin Anton akan lebih jarang bertemu dengan Vita, tetapi ia akan selalu memanfaatkan waktu makan siangnya untuk bertemu Vita, karena Anton pun mulai melihat dan mengenal Vita di kafe ini.
Tak jarang juga Anton yang membayar menu makanan yang selalu dibeli oleh Vita padahal sudah sering Vita menolaknya, namun si Anton tetap saja ngotot ingin membayarkan nya.
Dan dari posisi yang tidak jauh dari itu, nampak seorang pria yang memiliki sepasang mata dengan sorotan tajamnya sedang menatap tak suka pada Anton yang saat ini sedang berusaha mendekati Vita.
Pria itu melangkah dengan segala kewibawaannya menuju meja Vita.
" Bu Vita ". Panggil Anton.
" Iya pak? " Sahut Vita.
" Nanti malam ibu ada acara tidak? ". Tanya Anton lagi.
" Ada acara ". Sahut suara bariton seorang pria yang saat ini sudah berdiri tegak di dekat meja Vita.
Vita dan Anton pun spontan langsung menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka ternyata pria yang menyahut adalah tuan Andrew Choi yang merupakan orang kepercayaan dari pemilik perusahaan ini.
Tanpa izin dan tanpa di suruh, Andrew pun langsung duduk di meja yang sama dengan Vita, bahkan Andrew duduk di samping Vita.
Sedangkan Vita benar - benar menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh tuan Andrew nya.
" Anda ini apa - apaan sih tuan, kata siapa saya punya acara nanti malam, benar - benar ya tuan Andrew ini seenaknya saja kalau bicara ". Batin Vita kesal.
Andrew yang sedang duduk di samping Vita menatap tajam ke arah Anton. Andrew sangat tak suka jika Anton mendekati Vita, Andrew merasa sangat tak rela jika ada laki - laki lain yang berani mendekati Vita.
Sedangkan Anton kini sudah mulai terlihat gugup dan menjadi menciut nyalinya, di tatap oleh tuan Andrew bagaikan di tatap oleh seekor harimau jantan yang siap memburu mangsanya karena sedang lapar.
" Bu Vita, kalau begitu saya permisi dulu bu ". Sahut Anton dan ia pun langsung berlalu pergi dari meja itu.
" Tuan, apa yang anda katakan tadi, nanti malam saya tidak memiliki acara apapun tuan ". Seru Vita pada akhirnya.
" Kamu tidak ingat dengan perintahku tadi pagi?, tolak siapapun orang yang mengajakmu keluar ". Sahut Andrew dengan tatapan tajamnya.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya ππβ€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1