
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Ibu muda dan sepasang anak kembar yang sudah terjaga dari tidurnya itu begitu asyik menikmati waktu kebersamaannya. Tidak, mungkin lebih tepatnya adalah celotehan - celotehan dari kedua bayi kembar yang sudah berusia delapan bulan itu yang sedang berusaha menghibur sang mommy yang sedang dilanda kesedihan.
Ya, Adinda memanglah tipe wanita yang ketika ada masalah ataupun merasakan kesedihan ia cenderung menyimpan masalah dan kesedihan itu seorang diri. Maka tak heran jika suami, keluarga dan juga asisten rumah tangganya sangat menyukai sifatnya yang tidak suka mengumbar masalah dan cenderung kalem.
Namun sayangnya, karena sifat diamnya yang seperti inilah membuat orang disekitarnya menjadi tidak tahu jika dirinya ada masalah, dan sekalipun mereka mengetahuinya mereka akan menjadi bingung sebenarnya ada apa dengan Adinda?.
" Sayang nya mommy, kalian mandi dulu ya nak ". Serunya.
" Haum, mam, mam, mam, ". Sahut Aganta dengan wajahnya yang tersenyum pada sang mommy.
" Mam, mam, mam, mam, mam, mam ". Timpal Aganta yang juga tak kalah memberikan senyuman pada sang mommy.
" Iya, iya, kalian akan mandi ". Sahut Adinda dengan tersenyum pada kedua putranya yang begitu tak sabar ingin dimandikan.
Adinda mulai melucuti semua pakaian kedua putra mungilnya, satu persatu ia lepas dengan telaten. Kedua bayi mungil yang sudah berusia delapan bulan itu begitu sangat aktif bergerak, sehingga terkadang jika kedua sama - sama rewel membuat Adinda terkadang merasa kewalahan.
Kini yang masih melekat pada tubuh mungil Aganta dan juga Damian hanyalah popoknya saja.
" Sudah siap anak - anak mommy? ". Seru Adinda lagi.
Namun belum sempat Adinda membawa putranya ke tempat pemandian nya, ia seperti mendengar adanya suara pintu yang dibuka.
Ceklek..... Nampak lah sosok Al yang sedang masuk ke kamarnya.
Melihat kedatangan sang suami, sejujurnya Adinda merasa sedikit terkejut, pasalnya suaminya itu sudah lima belas menit yang lalu telah pergi bekerja ke kantornya, lalu mengapa sekarang suaminya kembali?.
Adinda masih tetap pada mode diamnya, selesai dirinya menoleh pada sang suami, kini ia fokus pada kedua putranya.
" Sayang ". Seru Al dengan mendekati istrinya.
" Iya mas ". Sahut Adinda, namun ia tetap tak menoleh pada suaminya.
" Sayang ". Panggil Al lagi.
" Iya mas " Sahut Adinda dengan hanya menoleh sedikit pada sang suami lalu setelah itu ia kembali fokus pada kedua putranya.
Merasa sang istri kurang begitu meresponnya dengan baik, membuat Al ingin melakukan hal yang membuat istrinya Adinda sedikit takut.
" Adinda ". Panggil Al, dan kali ini suara terdengar begitu dingin.
Deg..... Adinda begitu tersentak mendengar panggilan dari suaminya yang terdengar begitu dingin, dan benar saja secara spontan Adinda langsung menoleh pada suaminya dan kali ini ia sudah mulai merasa takut.
Al memandang istrinya dengan sorot mata tajam nya. Adinda semakin ketakutan, suaminya yang saat ini berada di hadapannya seolah terlihat menahan amarah kepadanya.
Karena tak mampu menatap wajah sang suami lebih lama lagi membuat Adinda menjadi menunduk karena rasa takutnya, sedangkan Al, ia melangkah satu langkah lagi menjadi lebih dekat dengan istrinya.
Dan tanpa disangka - sangka, Al memeluk tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Adinda yang merasakan pelukan hangat dari sang suami, ia pun juga membalas pelukan suaminya. Adinda memeluk suaminya dengan begitu erat, seolah ia tak ingin kehilangan suaminya.
__ADS_1
Cup..... Al mencium pucuk kepala istrinya cukup lama.
" Sayang, kamu kenapa? ". Seru A lembut.
Namun yang ditanya tetap tidak menyahut dan semakin mengeratkan pelukannya.
" Sayang, ayo duduk dulu cerita sama mas ". Seru Al lagi dengan menggiring istrinya duduk di atas kasur.
" Sayang, ada apa hem?, kenapa kamu menjadi murung begini semenjak tadi pagi?, bahkan kamu tidak menyahut mas dengan baik, seperti itukah cara istri dalam memperlakukan suaminya? ". Terang Al.
Deg..... Adinda begitu terhenyak mendengar kalimat dari suaminya. Ia sudah menyadari jika dirinya sudah melakukan kesalahan dengan mengabaikan suaminya.
Adinda menatap wajah suaminya yang sudah tak lagi terlihat dingin.
" Mas, apakah mas mencintaiku? ". Seru Adinda pada akhirnya, setelah cukup lama dirinya diam.
" Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu hem?, tentu mas mencintaimu, bahkan mas sangat mencintaimu ". Sahut Al dengan tetap menatap istrinya.
Kini Al kembali memeluk tubuh istrinya.
" Sayang, katakan pada mas, sebenarnya kamu ada masalah apa?, bukankah kamu sudah pernah berjanji untuk tidak menutupi sesuatu apapun dari suamimu ini? ". Serunya lagi.
" Maafkan Adinda mas, Adinda, Adinda sudah bersikap tidak baik pada mas ". Sahut Adinda.
" Iya sayang mas sudah memaafkan, tapi bukan itu yang mas inginkan, yang mas inginkan adalah kamu harus menjawab mas dengan jujur, kamu ini sebenarnya kenapa?, kenapa kamu bersikap aneh seperti menghindari mas? ". Tanya Al.
Mungkin inilah saatnya bagi Adinda untuk bertanya pada suaminya, tentang wanita yang bernama Diandra, mantan kekasih suaminya yang hampir saja menikah.
Deg.....
Sungguh hal yang tak pernah Al duga sebelumnya. Sebuah kalimat yang mengingatkan akan sosok Diandra, sosok wanita yang dulu pernah sangat Al cintai kini telah muncul, dan bahkan kalimat itu keluar dari belah bibir istrinya sendiri.
Al menjadi terdiam, ia tidak tahu bagaimana ia harus menjawab pertanyaan istrinya. Dan yang membuat Al tak habis pikir adalah darimana istrinya tahu tentang Diandra wanita yang pernah menjadi tunangannya dulu.
Dan hal yang tak terduga pun telah muncul di benak Adinda, dengan diamnya suaminya membuat Adinda membenarkan jika suaminya memanglah masih mengharapkan kekasih masa lalunya.
" Jadi benar, mas masih mengharapkan kekasih mas itu datang kembali? ". Tanya Adinda lagi dengan membenarkan kalimatnya.
" Sayang ". Sahut Al lirih.
" Tidak apa - apa mas, Adinda sudah paham ". Sahut Adinda, dan ia kini memfokuskan diri untuk kedua putranya.
" Sayang, apa kamu cemburu? ". Tanya Al kembali.
Adinda yang tadi sempat membuka popok Damian pun menjadi terhenti.
" Iya benar kamu memang cemburu ". Sahut Al lagi dengan senyum yang tersemat di bibirnya.
" Si, siapa yang cemburu?, Adinda tidak cemburu ". Sahut Adinda, namun sepertinya kalimatnya itu sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.
" Sayang, kemarilah dulu ". Pintar Al lagi dengan menggiring kembali sang istri masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
" Sayang, jujur pada mas, kenapa cemburu? ". Tanya Al lagi.
Adinda menunduk malu, haruskah ia jujur tentang perasaannya sekarang?, ya dirinya memanglah harus jujur pada suaminya.
" Mas, Adinda, Adinda takut kehilangan mas Al ". Sahut Adinda lirih pada akhirnya.
Dapat Al lihat saat ini, betapa istrinya itu begitu sangat sedih karena takut kehilangan dirinya. Al kembali memeluk tubuh istrinya dan
Cup..... sebuah kecupan lembut mendarat di pucuk kepala istrinya.
" Sayang, kamu tidak perlu khawatir akan kehilangan mas, karena apa, karena sampai kapanpun mas akan tetap mencintaimu, dan mas tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun ". Sahut Al.
Tanpa terasa, Adinda kini mulai menjatuhkan air matanya.
" Sayang, kenapa kamu sebegitu takutnya akan kehilangan mas? ". Serunya lagi.
Seketika Adinda mulai merenggangkan pelukannya dari sang suami. Ditatapnya wajah suaminya itu lekat - lekat.
" Karena..... karena Adinda mencintaimu mas ". Sahut Adinda pada akhirnya dengan air matanya yang kembali menetes.
Deg.....
Bagai berada ditengah - tengah lautan bunga yang begitu wangi dan bermekaran, Al merasa sangat terkejut sekaligus merasa sangat bahagia. Akhirnya kalimat yang sangat dinanti - nantikan nya pun telah tiba, sebuah kalimat yang mengandung arti cinta, sungguh Al tak pernah menduganya.
" Sayang, yang kamu katakan tadi mas ingin mendengarnya lagi ". Pinta Al dengan senyum bahagianya.
" Adinda mencintaimu mas ". Sahut nya lagi.
Al kembali memeluk istrinya dengan erat, akhirnya perasaan cintanya yang selama ini sudah terbalas, ternyata Adinda istrinya juga mencintainya.
" Aku mencintaimu sayang, cup... cup... cup...". Seru Al dengan terus menciumi wajah istrinya.
Al masih terus memeluk istrinya dengan erat, sepasang orang tua yang sedang dimabuk cinta itu seolah lupa akan kehadiran dua sosok mungil yang sedang aktif - aktifnya bergerak.
" Mas, tapi bagaimana dengan Diandra? ". Seru pada akhirnya.
Al yang sempat merasa kegirangan karena merasa sangat bahagia, kini mendadak terhenti.
Al mencoba meraih meraih wajah istri agar mau menatap wajahnya, dan.....
Cup... cup... cup... Al menciumi seluruh bagian wajah istrinya.
" Sayang, memang benar mas sangat mencintai Diandra, Diandra adalah sosok wanita yang sangat berharga bagi mas, bahkan dulu kami berdua sudah memutuskan untuk menikah..... tapi itu semua hanyalah masa lalu sayang, kami berdua tidaklah berjodoh, apakah kamu tahu kenapa, karena kamulah masa depanku, kamulah jodohku, cintaku bukan lagi Diandra tapi kamulah cintaku, dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu, sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu sayang ". Ungkap Al.
Dan kini Al kembali meraih bibir peach milik istrinya itu, ia menikmatinya dengan tanpa mengingat jika di dekatnya sedang ada kedua putra mungilnya, hingga.....
" Mam, mam, mam, ba, ba, ba ". Sentak Aganta dan Damian.
Bersambung..........
Jangan lupa dukung terus karya Author ya πβ€β€β€
__ADS_1
β€β€β€β€β€