
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Mobil mewah berwarna putih itu kini mulai mendarat di pelataran rumahnya. Senyum merekah nampak mengembang di wajah cantiknya. Penantiannya di teras rumah telah membuahkan hasil. Bahkan kedua putranya si kecil Aganta dan juga Damian nampak terlihat bahagia karena datangnya sebuah mobil yang begitu tak asing karena dari dalam mobil itulah akan muncul opa dan juga oma dari mommy nya.
Herdi dan juga Indah sang istri telah keluar dari mobil mewahnya, namun sungguh tak disangka, sejauh Adinda memandang ternyata ada sosok wanita yang sangat tidak ia duga kedatangan nya yang juga datang, sosok yang terasa begitu ketus namun menyimpan kasih sayang untuk dirinya.
" Upa upa upa upa, uma uma uma uma ". Sapa Aganta dan Damian gembira ria kala melihat opa Herdi dan juga oma Indah mereka datang.
" Assalamualaikum nak ". Sapa Herdi.
" Waalaikumsalam paman onti ". Sahut Adinda dengan mencium punggung tangan sang paman dan juga ontinya.
Adinda memeluk erat paman Herdi dan juga onti Indah nya.
" Bagaimana kabarmu sehat nak? ". Seru Indah setelah melepas rengkuhannya dari sang keponakan.
" Alhamdulillah Adinda sehat onti, suami Adinda dan anak - anak juga sehat ". Sahut Adinda.
Tak lama dari itu Adinda beralih dan menatap Rania sang saudara sepupu. Hatinya terasa menghangat melihat sosok yang sudah sangat lama tak ia jumpa, begitupun dengan Rania, perasaan sedih, rindu, dan kesal kini bercampur aduk seolah menjadi satu. Mereka saling menatap.
" Rania ". Lirih Adinda, dan ia pun langsung memeluk tubuh saudaranya itu.
" Aku merindukanmu Rania ". Serunya lagi.
Rania yang awalnya diam saja kini mulai mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Adinda.
" Aku merindukanmu Rania ". Seru Adinda lagi.
" Dasar perempuan bodoh, setelah kamu berhasil membuat papa dan juga mamaku lebih mengutamakan mu, kamu malah pergi, dan sekarang kamu mengatakan jika kamu merindukanku, dasar perempuan aneh salah kamu sendiri kenapa ikut pergi dengan ayah Budi, begini kan jadinya kamu tersiksa sendiri ". Tutur Rania kesal dengan tetap memeluk Adinda.
" Maafkan aku ". Sahut Adinda.
" Upa upa upa upa en dong en dong ". Seru Damian dan Aganta dengan mengangkat kedua tangan mungil mereka yang menandakan jika kedua bocah kecil itu ingin segera di gendong.
" Aduh aduuuh, rupa - rupanya cucu - cucu opa ini ingin di gendong ya nak, ayo sini - sini, ma, mama gendong Aganta ya ". Sahut Herdi.
" Iya pa ". Sahut Indah.
Dan kini kedua bocah kecil kembar itupun telah berada dalam gendongan sang opa dan juga omanya.
" Emmuah emmuah emmuah ". Herdi menciumi pipi gembul Damian dengan tanpa ampun dan alhasil Damian tertawa geli hingga cekikikan.
" Kamu tidak ingin melepas ku?, aku bisa kehabisan nafas kalau kamu tetap memelukku seperti ini ". Ujar Rania.
" Eh iya maaf ". Sahut Adinda, lalu ia melepas rengkuhannya.
" Hihihihihihi ". Damian tertawa cekikikan.
Rania terdiam melihat dua bocah kembar yang saat ini tengah di gendong oleh kedua orang tuanya. Seketika itu hatinya menjadi menghangat melihat wajah lucu dan menggemaskan yang terlihat nampak bahagia.
" Mereka anak - anak ku Ran " . Seru Adinda.
" Aganta, Damian, ayo lihatlah siapa yang datang nak, lihat siapa perempuan cantik yang ada di samping mommy ". Seru Adinda pada kedua putra kecilnya.
Sontak Aganta dan juga Damian menoleh ke arah sang mommy dan juga Rania.
" Ayo siapa ya perempuan cantik yang ada di samping mommy ini?, perempuan cantik ini adalah onti kalian sayang, ini onti Rania namanya, ayo Aganta dengan Damian salim dulu nak ". Seru Adinda pada kedua putranya yang sedang fokus menatap Rania.
" Halo Aganta, Damian, apa kabarnya keponakan onti yang tampan - tampan ini? ". Seru Rania kemudian ia ingin menjembel pipi gembul Damian, namun sayang Damian malah menolaknya dan menyembunyikan wajah menggemaskan nya itu di pundak sang opa.
" Eh dia tidak mau ternyata ". Seru Rania.
" Ya, Damian memang seperti itu anaknya Ran, tapi kalau sudah akrab dia akan sangat lengket bahkan selalu ingin ikut kemana mana dengan orang yang disenanginya ". Timpal Adinda.
__ADS_1
" Ya sudah kalau Damian tidak mau, Aganta saja ya yang onti gendong ". Lalu Rania berusaha meraih tubuh mungil Aganta, dan ternyata benar Aganta sama sekali tidak menolak.
" Ya Allah, Adinda sampai lupa, ayo paman, onti, Ran masuk dulu ". Seru Adinda pada akhirnya
Dan mereka pun mulai melenggang masuk ke dalam rumah untuk menikmati waktu kebersamaannya.
*****
Beberapa makanan yang yang dijamin dapat menggugah selera telah dipesannya secara online, mulai dari siomay, batagor, tahu walek, dan juga bakso mercon pun telah ia pesan.
Vita yang memang sejak kemarin menginginkan beberapa makanan yang telah dipesan nya begitu tak sabar menanti, namun tukang pengantar pesanan makanan itupun tak kunjung tiba membuat Vita harus bersabar menunggu di kursi depan rumahnya.
Hingga sekitar sepuluh menit dirinya menunggu, datanglah seorang ojol dengan beberapa bungkusan makanan di motornya. Vita yang melihatnya pun tersenyum senang, akhirnya makanan yang dipesannya pun mulai tiba.
" Anda mbak Vita? ". Tanya kurir itu setelah sampai di teras depan kediaman Vita.
" Iya saya, mana itu makanan pesanan saya ". Sahut Vita dan ia pun langsung meraih makanan yang dibungkus itu.
" Ini uangnya, terima kasih ya ". Serunya lagi.
Tukang pengantar makanan itu mencoba melihat jumlah uang yang sudah dibayarkan, dan ia sedikit terkejut karena uang yang diberikan oleh Vita sangat lebih dari nominal yang harus dibayarkan.
" Mbak mbak tunggu, ini uangnya lebih banyak mbak ". Seru kurirnya.
" Tidak apa apa, ambil saja kembaliannya, terima kasih ya ". Sahut Vita lagi lalu berlalu memasuki rumahnya.
" Alhamdulillah, ya Allah baik sekali mbak Vita, semoga rejeki mu selalu ditambah ya mbak ". Gumam tukang itu bersyukur.
Sebuah mobil mewah berwarna merah kini mulai memasuki halaman rumah sang putra dan mendarat di pelataran rumahnya.
Clara keluar dari mobil mewahnya sehingga tak sengaja ia pun berpapasan dengan kurir yang hendak pergi.
" Permisi adek, siapa yang memesan barang ya? ". Tanya Clara.
" Mbak pemilik rumah ini bu, mbak Vita ". Sahut kurir itu.
" Anu bu tadi mbak Vita memesan siomay, batagor, tahu walek, dan juga bakso mercon ". Sahut kurir itu.
Clara sedikit membelalakkan kedua bola matanya, namun sejurus kemudian ia berusaha bersikap tenang.
" Ya sudah bu kalau begitu saya permisi dulu ". Pamit kurir itu dan kembali menaiki motornya.
Clara sang mama mertua masih terdiam memikirkan tingkah menantunya.
" Vita memesan makanan sebanyak itu untuk apa, tidak mungkin Andrew memakan makanan seperti itu, heh ya sudahlah ". Batin Clara. Dan wanita paru baya itupun melenggang masuk ke rumah putranya.
*****
Ruangan santai yang memang hampir selalu digunakan untuk tempat bermain Aganta dan juga Damian kini nampak terdengar riuh.
Kedua bocah kembar itu nampak sudah terlihat sangat akrab dengan onti Rania nya. Seorang onti yang baru mereka kenal sekitar hampir dua jam yang lalu.
" Uti uti mian au mubi na cini cini ( onti onti Damian mau mobilnya sini - sini) ". Pinta Damian pada sang onti dengan menunjuk - nunjuk ke arah mobil mainannya yang ikut berserakan dengan mainan yang lain.
Sedangkan Rania yang mendengar kalimat Damian yang masih sangat blepotan itu hanya bisa menganga dan bingung, ia tak bisa menangkap maksud dari kalimat Damian meski bocah mungil itu telah menunjuk menggunakan tangan mungilnya.
" Aduh Damian kamu ini bicara sih, onti tidak paham ". Sahut Rania dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sedangkan Adinda, Herdi, dan juga Indah yang melihat itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah Rania yang dibuat bingung oleh Damian.
" Uti uti mian au mobi na ( onti onti Damian mau mobilnya) ". Seru Damian lagi pada sang onti dengan tetap menunjuk ke arah mainannya.
" Yang ini? ". Tanya Rania namun Damian menggeleng.
" Yang ini? ". Tanya Rania lagi namun Damian tetap memberikan jawaban yang sama.
__ADS_1
" Terus yang mana Damian, onti tidak mengerti Damian mau yang mana ". Sahut Rania yang sudah pasrah, dan ia pun harus menanyakannya pada Adinda.
" Adinda, ini Damian mau mainan yang mana sih, aku tidak mengerti ". Adu Rania.
" Damian mau mainan mobil - mobilan nya Rania, dia sengaja memintanya padamu ". Sahut Adinda.
" Kalau kamu sudah tahu, kenapa tidak mengatakannya dari tadi, kamu sengaja ya agar Damian mengerjai ku, menyebalkan ". Ucapnya lirih namun dengan raut yang bersungut - sungut.
" Hihihihi ". Adinda tertawa cekikikan kecil.
" Sudahlah nak, tidak perlu kesal seperti itu, Damian seperti itu karena dia ingin dekat dengan onti nya, betul kan pa? ". Timpal Indah.
" Betul sekali ". Sahut Herdi yang membenarkan.
Dan mereka pun menghabiskan waktu kebersamaannya untuk bermain dengan Aganta dan juga Damian, dua orang bocah kembar yang akan selalu membuat orang senang melihatnya.
*****
Waktu kini sudah menunjukkan pukul empat sore, yang menandakan sudah saatnya lah para karyawan mulai melangkah keluar untuk mengistirahatkan diri di kediamannya masing - masing.
Dua orang laki - laki dengan postur tubuh yang hampir sama itu, kini sudah melangkah beriringan melewati lorong perusahaan nya, siapa lagi dua pria itu jika bukan tuan Alexander dan juga Andrew sang asisten.
" Andrew, bagaimana keadaan Vita? ". Tanya Al disela - sela langkahnya.
" Vita baik tuan ". Sahut Andrew.
" Hanya saja dia ketika ingin sesuatu harus dituruti saat itu juga ". Batin Andrew.
" Jagalah Vita baik - baik Andrew, dia sudah seperti adik perempuan ku, aku sangat berhutang budi padanya ". Pesan Al.
" Pasti tuan, saya akan menjaga wanita yang sangat saya cintai ". Sahut Andrew dengan sedikit tersenyum.
Al juga ikut tersenyum. " Bahkan sampai sekarang aku masih tidak percaya jika kamu sudah menikah dengan Vita ". Timpal Al.
Dan tanpa terasa perjalanan langkah dua orang pria itupun telah sampai di garasi khusus milik Al. Dan Al pun mulai masuk ke dalam mobilnya.
" Hati - hati tuan ". Seru Andrew sebelum akhirnya mobil tuannya itu melaju meninggalkan area gedung perusahaan.
Andrew masih menatap mobil mewah tuannya itu yang terus melaju hingga tak dapat dijangkau oleh indra penglihatannya lagi.
" Aku harus menelfon Ivan ". Gumam Andrew dan ia pun langsung merogoh saku celananya dan meraih handphone pintarnya.
" Halo Ivan ". Panggil Andrew.
" Halo ada apa tuan, apakah terjadi sesuatu dengan tuan Al ". Sahut Andrew.
" Aku minta semua hasil rekaman cctv di rumah tuan Al dari semenjak dua tahun yang lalu hingga sekarang, dan cctv yang sudah rusak juga ". Perintah Andrew.
" Tapi untuk apa tuan, saya takut jika tuan Al marah karena saya telah lancang mengambil hasil rekaman cctv nya, kenapa tuan Andrew tidak meminta nya secara langsung saja pada tuan Al? ". Sahut Ivan takut - takut.
" Ikuti saja perintah ku Ivan, tenanglah selama ada aku, tuan Al tidak akan menghukum mu, jika tuan Al sampai tahu katakan saja jika aku yang menyuruhmu ". Putus Andrew.
" Tapi tuan ". Cegah Ivan.
" Sudah tidak ada tapi - tapian ". Putus Andrew.
Dan tut... tut... tut... Andrew langsung mematikan handphone nya tanpa menunggu jawaban dari Ivan lagi.
" Aku harus mendapatkan rekaman itu, cctv itu harus diperbaiki ". Gumamnya mantab.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, terima kasih. Author tunggu like, komen, hadiah dan Vote nya.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ