Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Tuan Muda Tampan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi hari yang begitu cerah ini, keluarga kecil Alexander nampaknya sudah siap pergi ke tempat tujuan, dan tentunya keinginan untuk pergi bersama ini pastilah ada dalang dibaliknya, ya siapa lagi dalangnya jika bukan si kecil Damian.


" Ayo daddy mommy, tita beulantat ceutallan ( ayo daddy mommy, kita berangkat sekarang) ". Ajak si kecil Damian pada daddy dan juga mommy nya.


" Iya boy sebentar, kamu ini semangat sekali ya? ". Sahut Al.


" Iya, talna Mian mau te tantol na daddy (iya, karena Damian mau ke kantornya daddy) ". Sahut bocah kecil itu dengan begitu semangatnya.


Adinda sudah siap dan terlihat sangat cantik dengan pakaian muslimah serta hijab syar'i nya, segala keperluan mereka dan juga bekal makanan untuk di makan siang nanti pun telah ia siapkan.


" Sudah sayang? ". Seru Al yang sudah memastikan kesiapan istrinya.


" Sudah mas, semuanya sudah siap, ayo kita berangkat sekarang ". Sahutnya.


Keluarga kecil itupun akhirnya keluar dari ruangan kamarnya, tak lupa si kecil Aganta dan juga Damian selalu setia berada dalam gendongan sang daddy tercinta.


*****


Setelah kedatangannya dari Canada, Diandra sudah tak sabar ingin menemui saudara sepupunya.


Dengan kecepatan sedang, mobil mewah yang di kendarai nya itupun telah sampai di pelataran kediaman mewah saudara sepupunya. Dengan anggunnya ia keluar dari mobil mewahnya.


" Pagi pak ". Sapa Diandra ramah pada salah satu security yang berjaga di sana.


Security itu melongo melihat kedatangan Diandra, bagaimana tidak sudah hampir lima tahun ia tidak melihat kedatangan nona nya ini dan sekarang tanpa ada kabar apapun nona Diandra nya sudah berdiri di depannya.


" Halo, pak Rohman, kenapa melongo seperti itu, seperti orang melihat hantu tapi tidak bisa kabur hihihihi ". Lanjut Diandra lagi cekikikan.


" Eh non, maaf non, habisnya saya terkejut melihat kedatangan non Diandra yang tiba - tiba seperti ini ". Sahut security yang bernama pak Rohman itu.


" Sudah pak, tidak usah terkejut, Dia bukan hantu kok, Dia ke sini mau ketemu sama om dan tante, sama itu lagi si nona bawel ". Ujar Diandra lagi.


" Oh, ada ada, tuan dan nyonya masih ada di dalam ". Sahut pak Rohman.


" Ya sudah pak, kalau begitu Diandra masuk ke dalam dulu ya ". Sahutnya, sebelum akhirnya wanita cantik itu masuk.


Pak Rohman sang security masih menatap tak percaya sekaligus kagum pada nona Diandra nya.


" Nona Diandra tidak pernah berubah ya, tetap ramah seperti dulu, ternyata lama di Canada tak membuat nona Diandra berubah seperti kebiasaan orang - orang di sana, saya salut sama non ". Gumam pak Rohman dengan masih melihat Diandra hingga langkahnya hilang di balik rumah besar tuan nya.


Diandra si wanita cantik itu terus melangkahkan sepasang kaki jenjangnya, hingga tepat pada saat dirinya berada di ruang tamu, tanpa sengaja ia melihat om tante nya dan juga saudari sepupunya yang nampaknya melangkah menuju teras rumah.


" Om, tante, Rania ". Panggil Diandra dengan begitu senangnya.


Sontak saja ketiga orang yang di panggil Diandra itupun langsung menoleh ke arah sumber suara, dan...


Deg... Herdi dan sang istri Indah begitu terkejut setelah melihat sosok yang datang ke rumah mereka, begitupun dengan Rania, bahkan gadis itu jauh lebih terkejut dari kedua orang tuanya.


Ya, mereka sangat terkejut melihat kedatangan Diandra, pasalnya yang mereka tahu Diandra masih ada di Canada, dan sekarang nyatanya dia malah berdiri di dalam rumah mereka sekarang.


" Diandra ". Seru Indah, dan wanita paru baya itupun mendekat ke arah keponakan kandungnya.


" Tante ". Sahut Diandra dengan penuh haru, sebelum akhirnya ia memeluk tante Indah nya itu.


" Tante, Dia rindu ". Seru Diandra di sela - sela pelukannya.

__ADS_1


" Tante juga merindukan mu sayang, ya Allah, kamu lama sekali di Canada nak ". Seru Indah, bahkan kedua bola matanya sudah nampak berkaca - kaca.


" Kapan kamu datang nak? ". Kali ini Herdi lah yang bertanya.


Diandra pun mulai melepas pelukannya dari sang tante.


" Kemarin om, kemarin siang ". Sahutnya.


Herdi pun memberikan pelukan hangatnya pada Diandra, dan cup... satu kecupan telah mendarat di pucuk kepala sang keponakan yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


" Selamat datang kembali anak ku ". Seru Herdi dengan sambutan hangat nya pada sang keponakan.


" Dia, kamu menipuku ya? ". Sentak Rania tiba - tiba dengan wajah garangnya.


Sontak saja Herdi dan sang istri pun langsung menoleh pada putrinya, kalimat apa lagi sekarang yang sudah keluar dari mulut cerewet putrinya itu, apa maksudnya dengan Diandra menipu?.


" Rania, kamu ini bicara apa sih sayang?, Diandra baru datang kok tiba - tiba kamu mengatakan Diandra penipu? ". Sahut Indah bertanya, karena ia tak habis pikir dengan sikap putrinya.


" Tante ku sayang tenanglah, tidak perlu mementingkan kalimat Rania, dia ini kan wanita bawel hihihihi... ". Potong Diandra dengan cekikikan nya.


Indah hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, seharusnya ia sudah paham, kalau Diandra dan Rania jika sudah berkumpul pasti akan ada ulah.


" Sudah, jangan cemberut terus nanti hilang cantiknya loh ". Canda Diandra.


Diandra kemudian memeluk saudara sepupunya Rania dengan begitu erat, begitupun sebaliknya, Rania juga membalas pelukan Diandra sang saudara sepupu dengan tak kalah eratnya.


" Hemm, kalau sudah seperti ini, om tidak jadi ke kantor nih, sayang kalau meninggalkan momen bahagia seperti ini ". Gumam Herdi dengan senyumannya.


Akhirnya, Diandra pun bertemu dengan keluarga dari saudara mamanya, lama tak bertemu membuat wanita cantik itu tak ingin menunda - nunda untuk bertemu dengan tante Indah, om Herdi, dan paling seru adalah bertemu dengan saudara bawelnya si Rania.


*****


Ini adalah yang kedua kalinya bagi Adinda datang ke kantor perusahaan suaminya Al, kejadian buruk beberapa waktu yang lalu yang pernah dialaminya masih terekam kuat dalam ingatannya.


Jujur saja sebenarnya saat ini Adinda masih merasakan takut, Adinda masih merasa takut sekaligus canggung karena harus diperhatikan kembali oleh para karyawan suaminya, ya meski mereka menyambut dengan tersenyum namun tetap saja rasa takut dan canggung itu masih bergelayut di lubuk hatinya.


" Sayang, kamu takut?, jangan takut ada aku, aku bos nya di sini, mereka tidak akan berani bermacam - macam pada istri bos nya sendiri ". Ujar Al yang berusaha menenangkan istrinya di sela - sela langkahnya.


Al bisa merasakan jika istrinya ini masih trauma akibat kejadian buruk beberapa waktu yang lalu.


" Daddy, olan - olan na pada cenum cemua ( daddy, orang - orangnya pada senyum semua) ". Seru Damian.


" Iya, meleta cenum cemua ( iya, mereka senyum semua) ". Timpal Aganta tiba - tiba.


" Iya boy, tentu mereka tersenyum pada kita, karena kita adalah bos nya boy, dan kalian berdua adalah tuan nya di sini ". Sahut Al menjelaskan.


" Butan tuan daddy, tapi tuan muda ( bukan tuan daddy, tapi tuan muda) ". Timpal Damian yang mencoba membenarkan kalimat daddy nya, iya tuan muda, karena si kecil Damian dan juga Aganta selalu di panggil tuan muda oleh para pekerja di rumah daddy nya.


" Oh iya, benar yang kamu katakan boy ". Sahut Al yang tak mau ambil panjang kalimat putranya.


" Selamat pagi tuan, nyonya, tuan muda ". Seru semua karyawan yang ada di lorong kantor perusahan itu.


" Selamat pagi ". Sahut Adinda malu - malu.


" Ceulamat padi ( selamat pagi) ". Sahut si kecil Aganta dan juga Damian.


Al dan juga Adinda terus melangkahkan kaki mereka, dan hingga sekitar dua meter lagi mereka akan melewati meja resepsionis, nampak dua orang wanita tengah berdiri dari luar biliknya.


Adinda dan juga kedua anak kembarnya sangat tahu siapa dua orang wanita yang tengah berdiri itu, ya, mereka adalah karyawan di bagian resepsionis yang kurang memberikan sikap yang baik padanya dan juga kedua putranya.

__ADS_1


" Pagi tuan, nyonya, tuan muda ". Sapa dua orang wanita itu dengan begitu sigapnya.


Al menghentikan langkahnya kala ia melihat dua karyawan ini yang telah menjadi penyebab kejadian menghinakan yang dialami oleh istri dan juga anak - anaknya.


" Kenapa kalian berdiri di sini? ". Tanya sang tuan besar Al dengan tatapan tajam.


" Ka-kami ingin meminta maaf pada nyonya dan juga tuan muda tuan ". Seru salah satu dari mereka.


" Kalian baru meminta maaf sekarang, kenapa tidak pada waktu kejadian itu kalian meminta maaf, gara - gara kalian istri dan anak anak - anakku mendapat penghinaan ". Lanjutnya, meski terdengar datar namun begitu mencekam.


Kedua wanita itupun menunduk, mereka berdua tidak bisa berbuat apa - apa, karena mereka tahu mereka telah bersalah.


" Mas ". Seru suara wanita bak sehalus sutra.


" Sudahlah mas kasihan mereka, mereka sama sekali tidak tahu kalau Adinda ini istri mas, Adinda sudah mema... ".


" Bagaimana bisa mereka tidak tahu, apa mereka tidak bisa mengenali jika Aganta dan Damian memiliki wajah yang mirip denganku? ". Sahut Al kesal sehingga memotong kalimat istrinya.


Para karyawan yang lainnya yang ada di ruangan itupun menunduk, mereka mencoba fokus dan memulai pekerjaan mereka, mereka tidak ingin jika sampai terkena imbas dari kekesalan sang tuan besar.


" Nyonya, tuan muda kecil tolong maafkan kesalahan kami, kami tidak sengaja melakukan, kami benar - benar tidak tahu, jika nyonya dan tuan muda kecil adalah istri dan anak - anak tuan ". Seru salah satunya.


" Iya nyonya, kami benar - benar tidak tahu, tolong maafkan kami nyonya tuan muda kecil ". Timpal yang satunya.


" Iya, saya sudah memaafkan kalian, tidak apa - apa ". Sahut Adinda dengan senyumannya.


" Aganta, Damian, bagaimana, kalian mau kan sayang memaafkan kesalahan dua onti yang cantik ini? ". Seru Adinda bertanya, ia sangat berharap jika kedua putranya mau memaafkan.


" Anta maap tan Myh ( Aganta maafkan myh) ". Sahut Aganta.


Kini hanya tinggal si kecil Damian lah yang m


belum menjawab.


" Damian, Damian tidak ingin memberikan maaf pada dua onti yang cantik ini nak?, kasihan mereka, mereka meminta maafnya tulus sayang ". Seru Adinda agar putranya mau memberikan maaf.


" Ada shalatna talo meleta mau maap dali Mian ( ada saratnya kalau mereka mau maaf dari Damian) ".


" Shalatna adalah meleta halush ucap maap tuan muda Mian yan tampan, beditu, mudah tan? ( saratnya adalah mereka harus ucap maaf tuan muda Damian yang tampan, begitu, mudah kan?) ". Perintah Damian dengan begitu percaya dirinya.


Adinda membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, bagaimana bisa putranya memberi sarat semacam itu untuk memaafkan kesalahan orang lain, benar - benar konyol.


Tak ingin membuang - buang kesempatan ini, dua karyawan wanita ini pun bersedia memenuhi sarat dari tuan muda nya.


" Saya minta maaf tuan muda Damian yang tampan ". Sahut mereka kompak.


" Badush, atu maap tan ( bagus, aku maafkan) ". Sahut Damian dengan penuh rasa bangga.


Al yang melihat tingkah putranya Damian sebenarnya merasa sedikit risih namun juga bangga, ternyata memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dan itulah Damian sosok mungil yang bagaikan duplikasi darinya.


Sedangkan para karyawan yang sedang fokus menunduk dengan pekerjaannya diam - diam tersenyum lucu, bagaimana tidak, ternyata putra sang tuan besar begitu sangat menggemaskan.


Bersambung..........


Tetap semangat membaca ya kakak - kakak, terima kasih atas dukungannya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2