Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Kenyataan Yang Terungkap


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam masih terus berjalan, bahkan sudah semakin larut. Di malam resepsi pernikahan yang begitu menjadi dambaannya selama ini, seolah terombang ambing menyiratkan sebuah akhir yang membingungkan.


Semuanya bertanya-tanya, kemanakah sang mempelai pria, mengapa tak ada di pelaminan, jika memang sempat bersinggah ke tempat lain, lalu mengapa sampai selama ini, bukankah malam ini adalah malam berharganya?, itulah pertanyaan - pertanyaan yang bermunculan dalam benak mereka.


Adinda menatap pada keluarganya yang terlihat kebingungan mencari keberadaan suaminya. Berbagai cara sudah dilakukan untuk menghubungi suaminya, namun tak satupun menemukan nya.


Orang tua mertua dan juga keluarga dari pamannya pun kebingungan dibuatnya. Adinda merasa sangat sedih dengan keadaan ini. Bahkan para tamu undangan yang masih ada, sudah mulai bertanya-tanya di mana keberadaan suaminya.


Menjalani malam resepsi pernikahan, dengan tanpa di dampingi oleh suaminya lagi, dan duduk seorang diri dengan diperhatikan oleh begitu banyak orang, rasanya begitu menyedihkan. Adinda sudah tak mampu menahan kesedihan ini lagi, dan tanpa terasa, air matanya telah menetes dari kedua bola mata indahnya.


Herdi sang paman Adinda, benar - benar teramat sangat marah dengan perbuatan Al, namun dirinya masih berusaha menahan, mengingat keadaan ini sedang berada di keramaian.


" Sebenarnya kemana anak anda tuan Enriko, bisa - bisanya dia pergi tanpa kabar, apa dia pikir acara ini sebuah mainan, cepat temukan di mana anak yang tak tahu diri itu ". Seru Herdi marah, namun dengan nadanya yang ditahan.


" Pa, sabar pa, jangan emosi, tenangkan diri papa ". Seru Indah yang berusaha menenangkan suaminya.


" Tuan Herdi, tolong maafkan segala ketidaknyamanan ini, saya dengan orang kepercayaan saya, sudah mencari ke mana Al pergi ". Sahut Enriko, sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana rasa tak enak hatinya pada keluarga Adinda.


" Jika sampai malam ini Al tak kunjung kembali, ingat, saya tidak akan berpikir dua kali lagi untuk membawa Adinda dan anak - anaknya pergi dari rumah ini ". Peringat Herdi, dan ini bukanlah hanya ocehan semata.


Sontak saja kecaman keras dari Herdi, begitu menyentak hati kedua orang tua Al, apalagi Devina sang mama, sungguh Devina tak sanggup jika harus jauh cucu - cucunya.


" Tuan Herdi, tolong jangan seperti ini tuan, jangan bawa Adinda dan cucu - cucu saya dari sini, saya tidak bisa kalau tanpa mereka tuan ". Seru Devina tiba - tiba, dan tanpa sengaja air mata itu mengalir begitu saja.


" Pa, mama mohon jangan bicara seperti ini, kita bisa bicarakan ini dengan baik - baik pa, mama mohon, jangan papa bersikap seperti ini apalagi mengambil sebuah keputusan yang pada akhirnya membuat papa menyesali semuanya ". Seru Indah lagi, yang berusaha menyadarkan sang suami agar tak lagi di makan oleh rasa amarah.


" Tuan Herdi, sekali lagi, tolong maafkan segala sikap ceroboh dari putra saya Al, tapi apa yang dikatakan oleh istri anda benar tuan, jadi saya mohon, lebih baik kita bicarakan masalah ini di dalam saja, kita bicarakan ini dengan kepala dingin, saya sangat mengenal putra saya Al, Al bukanlah pria yang tidak bertanggungjawab, dibalik perginya yang tanpa izin ini, pasti ada masalah penting yang tak bisa ditinggalkan ". Seru Enriko, agar Herdi bisa memahaminya.


Di antara perselisihan kedua keluarga besar itu, tanpa sepengetahuan mereka, Adinda sudah masuk ke dalam rumahnya. Tanpa sepengetahuan pak Budi dan juga bibi Nadia nya, Adinda telah berada di kamarnya.


Hatinya benar - benar sangat terluka. Ia tak menyangka jika malam pernikahannya akan berakhir dengan seperti ini.


" Hiks... hiks... hiks... ". Isak tangis Adinda.


" Mas, kenapa mas Al meninggalkan ku, katanya hanya sebentar pergi, tapi kenapa tak kunjung kembali ".


" Ya Allah, apakah ini maksud dari mimpi itu, sebuah mimpi yang mengisyaratkan mas Al pergi yang meninggalkan dalam keadaan hamil?, Jika mimpi itu benar, maka memang inilah kenyataannya ". Batin Adinda menangis.


Sedangkan di balik pintu kamarnya, terdengar jika Vita masih terus mengetuk - ngetuk pintu. Vita berusaha agar Adinda mau membuka pintunya.


Tok... tok... tok.... " Adinda, buka pintunya dong, kamu jangan sendirian di dalam, buka ya pintunya, aku mau masuk ". Seru Vita berusaha dengan menggendong putranya yang sudah tidur.


" Adinda, buka ya pintunya, aku mau masuk, kamu jangan menyendiri seperti ini, aku tahu kamu sedih, tapi jangan seperti ini, kasihan sama anak yang ada dalam ksndunganmu Adinda ". Seru Vita lagi, namun sayang, Adinda masih tak membuka pintunya.


Sedangkan di halaman pesta, para tamu undangan nampak mulai berangsur-angsur pergi meninggalkan tempat itu, meski sebenarnya dalam benak mereka masih dilanda dengan berbagai pertanyaan karena kepergian sang tuan.


" Tuan - tuan, nyonya - nyonya, kalau begitu, saya dengan keluarga pamit pulang, terima kasih atas sambutan baiknya ". Seru salah satu tamu undangan itu dan juga keluarga nya.

__ADS_1


" Terima kasih tuan, nyonya ". Sahut Enriko saja, karena yang lainnya tak ada yang menyahut.


Para tamu undangan itupun melangkahkan sepasang kaki jenjang mereka menuju tempat parkir, namun di tengah - tengah langkahnya, mereka masih bertanya - tanya, bahkan tak segan membicarakannya.


" Kemana tuan Al ya, bisa - bisanya pergi di malam resepsinya, mana lagi istrinya sedang hamil, benar - benar tak bertanggung jawab ".


" Iya, saya tak menyangka jika tuan Al akan melakukan hal yang begitu memalukan seperti ini, sungguh menyedihkan, tuan Al yang terkenal dermawan dan berwibawa, malah tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil di pelaminan, benar - benar tak bertanggungjawab ".


" Sudahlah, tuan - tuan, nyonya - nyonya, tidak baik membicarakan aib orang lain, lagi pula kita kan tidak tahu pasti apa yang terjadi pada tuan Al ".


Itulah pembicaraan para tamu undangan, di tengah - tengah langkah mereka. Dan apa yang dibicarakan oleh para tamu undangan itu, tentunya tak luput dari perhatian Andrew. Malam ini Andrew benar - benar tak habis pikir dengan tuan nya, bisa - bisanya tuannya melakukan hal yang begitu memalukan seperti ini.


" Tuan - tuan, bagaimana bisa tuan menyakiti nyonya lagi, sebenarnya apa yang terjadi padamu tuan, kenapa tuan berani bertindak begitu ceroboh seperti ini? ". Gumam Andrew dengan rasa jengkel nya.


Andrew masih terus berusaha untuk mencari keberadaan tuannya, bahkan semua bodyguard di pesta itupun sudah ia kerahkan.


" Tuan - tuan, anda tadi berpesan agar saya bisa menjaga nyonya dan keluarga, tapi anda sendiri malah bisa menjaganya, benar - benar an... ". Mendadak kalimat Andrew menjadi terhenti.


Andrew teringat akan sesuatu, iya, bukti rekaman itu, bukti rekaman bagaimana dulu tuan Al nya sudah menodai nyonya Adinda nya.


" Sepertinya anda, memang harus di shock terapy tuan Al, biar anda menyesal se menyesal menyesalnya ". Gumamnya jengkel.


Lalu Andrew pun segera mengirim bukti rekaman itu, bukti rekaman dari suatu kejadian memilukan yang dialami oleh nyonya nya, dan itu tuan Al nya lah penyebabnya.


" Semoga ini, adalah yang terakhir kalinya anda menyakiti istri anda tuan, sudah cukup nyonya menderita selama ini ". Ucapnya, setelah ia mengirim bukti rekaman itu.


*****


Akibat dari kecerobohannya sendiri, dirinya malah terkepung dengan hal yang sebenarnya sangat mudah untuk dirinya lepas, namun karena perkataan licik dari sang tuan David, membuat Al sepertinya harus memutar otak agar bisa keluar dari tempat ini.


Al masih berada di ruangan Diandra. Al masih menemani Diandra yang masih tak sadarkan diri, sedangkan yang lain, sedang berada di luar ruangan itu.


" Maafkan aku Di, tapi apa yang ayahmu lakukan itu adalah salah, sebenarnya aku bisa berbuat nekat untuk melawannya, tapi ayahmu itu, sungguh pintar membalikkan keadaan, cepatlah sadar Di, karena hanya kamulah yang bisa menyadarkan papamu ". Ucap Al.


Lalu Al pun memeriksa smartphone nya, dan ternyata baterainya pun sudah cukup terisi.


" Bagus, akhirnya nyala juga, aku harus menghubungi Andrew ". Dan Al pun sudah menemukan nomer asistennya.


Tapi tunggu dulu, sepertinya ada sebuah video yang asistennya itu kirimkan. Tak biasanya jika asistennya itu mengirim sebuah rekaman video. Merasa penasaran, Al pun mulai membuka rekaman itu.


Al menyaksikan video itu, dengan durasi awal yang menunjukkan aktivitas istrinya Adinda, namun dalam rekaman ini, istrinya masih sebagai asisten rumah tangga.


Hingga tiba - tiba lampu di ruangan rumahnya itu mati.


" Ini, bukti rekaman kapan?, dan istriku masih jadi pembantu?, maafkan aku sayang, kamu harus bekerja di rumah suamimu sendiri ". Serunya lirih.


Tayangan dari rekaman itupun masih terus berlanjut, hingga Al melihat dirinya sendiri yang menaiki anak tangga.


Mendadak dada Al terasa begitu bergemuruh, waktu ini, waktu dalam rekaman ini, Al sangat kenal betul apa yang akan terjadi. Hingga seorang gadis berhijab yaitu istrinya sendiri Adinda, datang mencoba mendekatinya.


Deg... deg...

__ADS_1


Bak sebuah tombak yang telah menghunus dalam di dadanya. Ternyata inilah bukti rekamannya. Al menyeret paksa tubuh Adinda dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


" S-sayang ". Hanya itulah kata yang terucap dari bibirnya yang sudah bergetar.


Dengan masih menatap rekaman itu, Al pun langsung berdiri dari posisinya, terlihat Sintia sedang menguping di balik pintu kamarnya.


Dan mendadak videonya seperti sudah dipotong, dan ternyata setelah itu, Adinda keluar dari kamarnya. Dan betapa menyedihkan nya nasibnya, Adinda istrinya sudah keluar dalam keadaan yang begitu memilukan.


Sangat terlihat jelas langkahnya yang tertatih - tatih. Dengan berurai air, Adinda istrinya berusaha melangkah dengan terus berpegangan pada dinding rumahnya agar tubuh lemahnya tak terjatuh.


Dan tanpa terasa, tetesan air mata itu telah meluncur dengan begitu derasnya dari bola mata biru keabu-abuan nya itu.


" Hiks... maafkan aku sayang ". Serunya terisak.


Tak sanggup melanjutkan bukti rekaman itu, Al pun langsung melangkah keluar menerobos pintu rawat itu.


Sontak semua orang yang ada di luar ruangan kamar itupun langsung menoleh ke arah pinta yang di paksa di buka.


" Al, mau kemana kamu? ". Tanya David karena melihat Al keluar, namun yang ditanya malah tak menyahut dan terus melangkah.


" Al, mau kemana kamu Al, apa kamu sudah lupa dengan pengorbanan Diandra? ". Pancing David.


Sontak Al pun langsung menghentikan langkahnya. Al memberikan tatapan menghunus nya pada tuan David.


" Tutup mulut kotor anda tuan David, jangan anda menggunakan kelicikan untuk membohongi ku, sekali lagi anda menghalangi langkah ku, akan aku pastikan, semua perusahaan anda akan rata dengan tanah ". Tegas Al, dengan kalimatnya yang begitu mengerikan, dan kali ini tidaklah main - main.


David dan keluarganya pun bungkam, mereka sudah tak mampu membantah lagi, karena jika itu sampai terjadi, bisa hancurlah segala asetnya.


Al berlari menuju mobil asistennya. Ini adalah kebodohan yang hakiki yang pernah dirinya lakukan, bagaimana bisa dirinya meninggalkan istrinya seorang diri di malam yang penting ini.


" Kamu bodoh Al, kamu bodoh, maafkan aku sayang ". Serunya marah pada dirinya sendiri.


Mobil yang dikendarai nya itu pun melaju dengan begitu cepat. Al mengendarai mobilnya dengan kencang tanpa mempedulikan banyaknya kendaraan yang sudah ia salib.


" Tuan... saya mohon tuan jangan lakukan ini... saya mohon tuan ".


" Tuan... tolong, jangan lakukan ini... kasihanilah saya tuan ".


Semuanya sudah terlihat dan terdengar begitu jelas. Perbuatan bejatnya dulu benar - benar telah menghancurkan hidup istrinya.


" Maafkan aku sayang hiks... ". Tangisnya dengan menyetir.


Akhirnya kenyataan yang ingin dirinya tahu selama ini telah terungkap. Kenyataan yang terungkap, yang telah berhasil meluluhlantakkan hatinya.


Bersambung..........


Maaf ya, kakak - kakak kalau konfliknya mungkin di rasa berat, tapi setelah kesalahan di malam resepsi ini, sudah tak ada lagi kesalahan yang dilakukan Al, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2