
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Gemerlap bintang - bintang nampak bertebaran indah di tengah lautan langit malam. Dan keindahan bintang - bintang itu terasa begitu menghiasi pandangan sang penikmat malam dengan taburan indahnya bintang.
Di malam yang terasa mulai cukup larut ini, Adinda sang mommy muda, masih begitu sangat menikmati banyaknya cahaya bintang yang bertebaran di langit malam sana.
Dari balik jendela kamarnya, ia menatap keindahan bintang - bintang itu, seolah tak pernah bosan jika terus memandangnya, mungkin karena melihat keindahan gemerlap bintang adalah hal yang sangat di sukainya.
Ceklek... suara terbukanya pintu kamar itupun telah berhasil mengalihkan pandangan Adinda. Dan ternyata sosok yang masuk ke kamarnya adalah sang suami, ya siapa lagi memang jika bukan sang tokoh pria yang telah berhasil menggenggam hatinya.
" Mas sudah kerjanya? ". Serunya bertanya.
" Sudah saya, di ruang kerja aku hanya memeriksa dua berkas penting saja ". Sahut Al, dengan langkahnya yang mendekati istrinya.
Cup.... sebuah ciuman hangat tak lupa selalu Al sematkan di kening istri tercintanya, dan...
Cup... cup... cup... ciuman hangat itupun juga berkali - kali dirinya sematkan juga di perut buncit istrinya, karena di sanalah darah dagingnya tumbuh dan berkembang.
Seolah tak pernah bosan, Al memang selalu menciumi, mengelus, meraba, serta memeluk perut istrinya itu dalam setiap hari. Hal itu dirinya lakukan karena dirinya sadar, selama istrinya Adinda mengandung kedua buah hatinya Aganta dan juga Damian, tak pernah sekalipun Al memperhatikannya. Dan pada kesempatan ini, di mana istrinya mengandung buah hatinya lagi, tentu Al tak akan menyia - nyiakan kesempatan itu. Dan apa yang dilakukannya saat ini adalah salah satu penebusan kesalahannya dimasa lalu, pada istri dan juga anak - anaknya.
" Sayang, sudah ya lihat bintang - bintang nya, waktunya kamu istirahat ". Serunya lembut.
Adinda pun tak mempermasalahkan, dirinya pun mengikuti saja anjuran suaminya. Dan tak lupa setelah itu sang suami pun menarik kembali gorden indah itu untuk menutupi jendela kamarnya.
" Kita sudah mau tidur mas?, tapi Adinda belum mengantuk ". Serunya setelah menaiki tempat tidur.
" Sama, aku juga belum ngantuk sayang, ya kita rebahan saja dulu sayang ". Sahutnya.
Dengan lembut Al menutupi setengah dari tubuhnya dan juga tubuh sang istri dengan selimut hangatnya. Lampu di kamarnya pun masih dibiarkan menyala.
Tak ada keriuhan celotehan - celotehan kedua putranya saat ini, karena kedua anak kembar itu sedang tidur bersama di kamar sang opa dan juga oma mereka, terdengar sunyi memang.
Al selalu memandang wajah istrinya. Setiap kali ia memandangnya, bahkan di kala sang istri tengah terlelap, tak jarang bayangan - bayangan kesalahannya itu masih terus bermunculan dalam ingatannya, bahkan kesalahannya terus bertambah, namun, sang istri tak pernah enggan untuk memberinya maaf.
Tak adil?, sudah pasti memang tak adil. Dirinya yang sudah berjanji akan membahagiakan istrinya setelah menikah, tapi, malah membuatnya menangis.
" Sayang ". Panggil Al.
" Iya mas ". Sahut Adinda.
" Aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu sayang, aku yang sudah berjanji akan selalu membahagiakan mu setelah menikah, tapi, aku tak bisa memenuhi semua janjiku, aku sudah gagal sayang, aku sudah gagal membahagiakan mu dengan sempurna ". Serunya merasa bersalah, karena itulah kenyataan nya.
Adinda memiringkan tubuhnya menghadap tubuh sang suami. Ia mengangkat tangan kanan mungilnya untuk meraih wajah tampan suaminya.
Adinda mengelus rahang tegas suaminya itu dengan lembut. Sangat terlihat jelas dari kedua sorot mata biru keabu-abuan nya itu sedang menyiratkan sebuah rasa bersalah yang begitu mendalam.
" Sayang, katakan padaku, apa yang kamu inginkan dariku, agar aku bisa menebus semua kesalahan ku sayang, katakanlah, aku bersedia melakukan apapun untukmu ". Seru Al, rupanya dirinya ingin mengganti semua kesalahan nya, apalagi yang pernah sampai membuat istrinya menangis.
__ADS_1
Adinda langsung menurunkan belaian tangannya itu dari wajah suaminya.
" Ayo sayang, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan, terutama akhir - akhir ini ". Serunya lagi, sungguh Al benar - benar ingin melakukannya.
" Mas, Mas Al tak perlu melakukan hal apapun untuk semua kesalahan yang sudah terjadi, karena apapun itu, semuanya adalah ketidaksengajaan ". Sahutnya, namun bersamaan dengan kalimatnya itu ada raut kesedihan di wajahnya.
" Tidak, kamu menyembunyikan sesuatu dariku sayang, aku tahu itu, ayolah sayang, jangan kamu sembunyikan apapun dariku, katakanlah, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahan ku! ". Pintanya lagi dengan sangat.
Mungkin Adinda memang harus mengatakannya, ya, mungkin dirinya memang harus mengatakan kembali apa yang menjadi ketakutannya.
" Mas, mas Al tak perlu melakukan penebusan apapun untuk kesalahan mas Al, tapi yang Adinda inginkan dari mas Al, tetap sama mas. Adinda minta agar mas bisa menjaga hati, bisa mencintai Adinda dan juga anak - anak untuk selamanya. Adinda mau, mas Al tetap berada di samping Adinda dan juga anak - anak mas, sampai selamanya, hanya itu yang Adinda mau ". Sahut Adinda.
Al pun langsung memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat. Tak bisa Al pungkiri, jika sekeras apapun dirinya meminta agar istrinya itu bisa menuntut sesuatu padanya, namun, itu semua tak mungkin pernah terjadi, karena istrinya adalah sosok wanita yang sangat baik dan berhati bak malaikat. Sungguh, memiliki istri seperti Adinda, benar - benar suatu anugerah baginya.
" Terima kasih sayang, sungguh, aku tak tahu harus berbuat apalagi untuk bisa mengganti semua kebaikan dan keikhlasan hatimu, hanya ucapan terima kasih yang bisa aku lakukan ". Sahutnya.
" Adinda mencintaimu mas ". Serunya tiba - tiba dengan tanpa melepas pelukannya dari sang suami.
" Aku juga mencintaimu sayang, aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu istriku ". Sahutnya.
Dan di malam ini, sepasang suami istri itu mulai bersiap menuju alam mimpi indah mereka dengan saling memberikan rengkuhan hangatnya.
Dan bagi Al, memang benar jika dirinya tak perlu melakukan penebusan apapun lagi untuk kesalahannya, namun, dirinya pasti akan memperbaiki semua kesalahannya meski istrinya tak pernah meminta, itulah yang memang harus ia tunaikan.
*****
Ya, di pagi yang cerah ini, Enriko bersama sang istri Devina, tengah bersiap ingin mengajari kedua cucu kembarnya itu untuk belajar menaiki sepeda.
Sesuai dengan keinginan Devina beberapa minggu yang lalu, jika dirinya sangat ingin jika kedua cucu kembarnya itu belajar naik sepeda, karena jika dilihat dari usia Aganta dengan Damian yang sudah berusia lebih dari dua tahun, nampaknya memang tak ada salahnya jika kedua cucunya belajar sejak dini, toh belajar naik sepeda sangat dapat membantu melatih perkembangan motorik kasar kedua cucunya.
" Ayo - ayo, Aganta Damian, saat belajar naik sepeda ya ". Seru Enriko pada kedua cucunya.
" Yeay, Mian dah dak cabal upa, mau naik peda na ". Seru Damian dengan riangnya.
Wajar saja jika bocah kecil itu merasa senang jika di ajak bermain sepeda, karena Damian sendiri sering melihat tokoh kartun kesukaan nya yaitu upin dan ipin yang sering bermain sepeda.
" Ayo upa uma, Mian mau naik peda na, Mian dah dak cabal ". Serunya lagi.
" Iya sebentar cucu oma, kalian kan masih belum pernah naik sepeda nak, jadi ya harus di bimbing dulu biar tidak salah nanti, biar aman sayangnya oma ". Sahut Devina memberitahu, agar kedua cucunya menjadi lebih tenang.
Jika Damian sudah begitu tak sabar ingin menaiki sepedanya, beda halnya dengan Aganta, bocah kecil yang satu itu, nampak terlihat lebih tenang, tak menggebu - gebu seperti Damian kembarannya, rupanya Aganta sedang melihat dengan cermat apa yang dilakukan oleh sang opa pada sepeda mereka.
" Pa ma, anak - anak Al sudah mau di mulai sekarang belajar naik sepeda nya? ". Tanya Al tiba - tiba, entah semenjak kapan pria bertubuh tinggi itu berada di dekat mereka.
" Eh kamu Al, buat papa sama mama kaget saja, iya, Aganta dengan Damian akan belajar naik sepeda hari ini nak, maklum, mama mu ini dari kemarin sudah tak sabar agar mereka cepat belajar katanya ". Sahut Enriko dengan sedikit melirik pada istrinya.
" Di mana istrimu Al, kok kamu hanya sendiri? ". Tanya Devina.
" Oh, istriku sedang di dapur ma, minta dibuatkan puding mangga sama bi Ima ". Sahut Al.
__ADS_1
Kedua sepeda mini itupun sudah siap di naiki oleh pemiliknya. Dengan di bantu oleh sang opa dan daddy mereka, Aganta dengan Damian pun sudah naik ke sepedanya masing - masing.
" Yeay, atu dah naik - atu dah naik ". Seru Damian senang ketika sudah duduk di atas sepedanya.
" Hahahaha... kamu senang sekali boy ". Sahut sang daddy dengan tawa lucunya.
" Iya daddy, Mian cenan cetali, talna Mian mulai naik peda na " . Sahutnya.
" Oh begitu rupanya, kalau Aganta bagaimana sayang, apa senang juga? ". Lanjut Al.
" Iya daddy, Anta cenan cetali bica naik peda ". Sahutnya dengan sedikit tersenyum.
Ya, meski Aganta cenderung diam saat diajak bermain sepeda, tapi sebenarnya bocah kecil itu sangatlah senang, hanya saja dirinya memang tak se agresif kembarannya.
" Apa kalian sudah siap? ". Tanya Al.
" Ciap daddy ". Sahut keduanya kompak.
" Oke, dengarkan, jika daddy sudah menyuruh mulai, kalian harus mulai mengayun sepedanya ya sayang, tapi ingat hati - hati mengayun nya ". Peringat Al.
" Iya daddy ". Sahut keduanya.
Karena sudah siap, Al dengan Enriko pun mulai membimbing kedua anak kembar itu. Dan benar saja, baik Aganta maupun Damian, mulai mengayun sepedanya dengan perlahan.
Sepasang roda ukuran mini yang terletak di samping kiri dan kanan bagian roda besar yang ada di belakang itu, tentu saja belum dilepas, karena Aganta dengan Damian masih belum bisa menaiki sepeda mereka secara mandiri.
" Pintarnya anak - anak daddy, iya bagus my twins boy, seperti itu mengayunnya ". Puji Al, ternyata mengajari kedua putranya tak sesulit yang dirinya kira. Nampak Aganta dengan Damian mengayunkan seoeda mereka dengan baik.
" Ayo, cucu - cucu oma, semangat naik sepedanya sayang, semangat sampai kalian bisa ". Seru sang oma Devina senang, lalu wanita paru baya itupun menggunakan smartphone nya untuk mereka momen itu.
" Daddy upa uma, liat, Mian bica naik peda na yeay ". Serunya bahagia, sepertinya Damian sudah mulai pamer akan kemampuannya.
" Iya, kalian sangat pintar sayang ". Puji sang opa.
Kedua bocah kembar itupun asyik terus mengayunkan sepeda mereka. Beruntung karena halaman belakang rumah Al yang sangat luas dan rindang, membuat kedua anaknya sangat nyaman bermain di lingkungan alam sekitar.
Aganta dengan Damian, sudah nampak berbelok ke sana ke mari, dua saudara kembar yang awalnya menaiki sepedanya secara beriringan itu, kini berpencar menentukan arah jalannya sendiri.
" Ayo boy, semangat belajarnya sampai kalian bisa ". Ujar sang daddy Al untuk menyemangati kedua putranya.
Kedua anak kembar itupun semakin bersemangat, dan terus mengayun sepeda mereka mengelilingi indahnya halaman belakang rumah sang daddy.
Bersambung..........
Hai kakak - kakak, Author kembali update, semangat membaca.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1