Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Rencana Punya Debay


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sejuknya malam yang telah memasuki setiap celah kota sudah mulai melelapkan satu persatu setiap insan untuk meraih mimpi indahnya, meski masih tidak sedikit dari insan - insan itu yang masih terjaga dan memilih untuk terjaga.


Di dalam sebuah atap rumah yang menutupi terangnya sinar rembulan, kini Kelvin sudah selesai meninabobokkan putra kecilnya.


Seolah tak pernah bosan menatap wajah makhluk kecil bak copy paste wajahnya, Kelvin memperhatikan wajah putranya.


Padahal sudah berlalu cukup lama, namun rasanya rasa bersalah ini masih saja begitu kuat melekat. Kelvin masih sangat ingat bagaimana dirinya dan juga Sintia telah menggunakan darah dagingnya sendiri untuk mencapai segala tujuannya. Dan jika saja waktu bisa diulang tidak akan ia memperalat Kenzie untuk mencapai ambisinya.


Tanpa terasa kini air mata itu kembali terjatuh. Mungkin rasa bersalah ini akan selamanya bersemayam dalam lubuk hatinya. Dalam hati Kelvin bertanya - tanya, apa yang akan dirinya katakan pada putranya Kenzie jika suatu saat putranya mengetahui semuanya, akankah Kenzie mau memaafkan kesalahanan nya?, sungguh Kelvin tidak bisa membayangkan jika hal itu benar - benar terjadi pada dirinya.


Cup..... " Maafkan papa nak ". Seru Kelvin halus agar sang putra tak terganggu dari tidur lelapnya.


Tanpa Kelvin sadari ternyata sang ibu telah memperhatikannya cukup lama. Di samping pintu itu bu Mariam bersandar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati putra semata wayangnya.


" Kelvin ". Panggil bu Mariam sebelum akhirnya ia duduk di kasur empuk milik putranya.


Kelvin pun menoleh pada sang ibu.


" Kemarilah nak, duduk disini bersama ibu ". Pinta bu Mariam dengan menepuk kasur yang didudukinya agar sang putra mau duduk disana.


" Iya bu? ". Sahut Kelvin dan ia pun duduk di dekat ibunya.


" Kelvin, apa kamu tetap ingin tinggal disini nak? ". Sahut bu Mariam.


Kelvin terdiam, dan tatapannya lurus mengarah pada box bayi yang menjadi tempat tidur putra mungilnya.


" Entahlah bu, Kelvin sendiri juga tidak tahu, tapi kalau dilihat dari perkembangan bisnis, mungkin Kelvin akan lama tinggal disini ". Sahut Kelvin.


Ya, semenjak Kelvin memutuskan untuk pindah ke Malaysia, ia sudah memutuskan untuk membuka usaha restoran dan kini restorannya itu telah berkembang menjadi restoran besar.


" Kelvin, putramu Kenzie sekarang sudah memasuki usia sembilan bulan, dan dia akan terus tumbuh dan berkembang, tidakkah kamu berniat untuk mempertemukan Kenzie dengan mama nya nak? ". Tanya bu Mariam.


Kelvin terdiam sejenak, ia menghela nafasnya cukup berat, sebelum akhirnya ia tersenyum remeh.


" Mempertemukan Kenzie dengan dengan mamanya?, heh, lucu sekali, dia tidak akan mengingat putranya sebelum Tuhan lah yang menyadarkannya jika dia memiliki seorang putra ". Sahut Kelvin dengan tersenyum miris.


Dalam hatinya sesungguhnya bu Mariam merasa sedih, mungkin saja apa yang dikatakan putranya memang benar, tapi terlepas dari Sintia akan mengingat anaknya atau tidak tetap saja Kenzie harus tahu siapa ibunya.


" Tapi nak, bagaimana jika suatu hari nanti Kenzie bertanya dimana mamanya, apa yang akan kamu jawab Kelvin? ". Tanya bu Mariam, dan inilah hal yang selama ini ia bingungkan.


Kelvin tak bisa menyahut. Ia sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa jika suatu saat putranya benar - benar akan menanyakannya, tidak mungkinkan ia mengatakan pada putranya jika ibunya meninggal.


" Kamu bingung kan nak?, kamu tidak tahu harus menjawab apa?, menurut ibu apapun kondisinya kamu harus tetap mengatakan pada Kenzie tentang siapa ibunya, kamu harus mempertemukan Kenzie dengan Sintia nak, terlepas apakah Sintia akan mengakui putranya atau tidak ya sudah itu haknya, tapi kamu harus tetap mempertemukan mereka, karena biar bagaimana pun Sintia lah yang sudah melahirkan Kenzie, ibu harap kamu mau melakukannya nak ". Seru bu Mariam yang berusaha memberikan pengertian pada putranya.


*****

__ADS_1


Di Negara yang berbeda, dengan kota yang berbeda pula, dan juga waktu yang berbeda., nampak seorang ibu muda telah selesai meninabobokkan kedua putra mungilnya.


Adinda menatap wajah kedua bayi gembulnya itu secara bergantian, hatinya benar - benar menghangat melihat wajah polos kedua putranya.


" Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena hadirnya dua malaikat kecil yang Engkau berikan. Ya Allah nak, kalian ini benar - benar sangat menggemaskan.


Tanpa Adinda sadari kini suaminya Al telah berdiri tegak di belakang tubuhnya. Adinda sedikit tersentak kaget kalau sebuah lengan kekar telah melingkar di perutnya.


" Astagfirullah mas ". Serunya terkejut.


Cup... cup... Al mencium pucuk kepala sang istri dari belakang.


" Sayang, kamu masih suka terkejut ya ". Sahut Al dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya.


" Aduh mas, Adinda kan jadi kaget ". Serunya.


" Sampai kaget?, memangnya apa sih yang sedang kamu pikirkan sayang, sampai tidak menyadari kedatanganku? ". Sahutnya.


" Mas, coba mas perhatikan kedua putra kecil kita, mereka sangat lucu dan menggemaskan ya ". Seru Adinda dengan senyumannya.


" Tentu mereka sangat lucu dan menggemaskan, kan aku yang sudah bekerja keras untuk menghasilkan mereka sayang ". Sahut Al dengan penuh rasa bangga.


Adinda membelalakkan kedua bola matanya, bisa - bisanya disaat begitu bahagianya menatap kedua putranya suaminya malah mengatakan hal mesum. Adinda langsung membalikkan badannya dan menghadap sang suami.


" Mas ini ada - ada saja bicaranya mesum tahu ". Sahut Adinda dengan mencebikkan bibirnya.


" Ih sayang, mesum darimananya, kan memang benar aku yang sudah bekerja keras untuk menghadirkan mereka ". Sahut Al.


" Tapi kan Adinda yang mengandungnya mas ". Sahut Adinda dengan bibirnya yang sudah terlihat manyun.


Al tersenyum geli melihat wajah cemberut istrinya, istrinya ini memang benar - benar sangat menggemaskan jika sedang kesal seperti ini.


Tanpa izin dan tanpa aba - aba Al langsung menggendong istrinya dan membawanya ke atas kasur.


" Astagfirullah mas ". Pekik Adinda kala suaminya tiba - tiba saja menggendongnya.


Cup... cup... cup... cup... Al menciumi wajah istrinya dengan tanpa melewatkan sedikit pun dari wajah sang istri.


Kini sepasang suami istri itu telah berada di atas kasur. Al mengkukngkung tubuh mungil istrinya itu, ia mengambil kendali penuh di atas tubuh istrinya itu.


Cup..... Al mencium kening istrinya cukup lama. Ditatap nya wajah istrinya itu lekat - lekat.


" Sayang, tidak lama lagi Aganta dan Damian sudah akan tumbuh besar, mas ingin membuat debay untuk mereka sayang ". Serunya dengan keinginannya.


Adinda membulatkan kedua bola matanya tak percaya, ia sungguh tak habis pikir mengapa suaminya itu begitu ingin sekali membuatkan adik untuk Aganta dan juga Damian, padahal kan kedua putranya itu masih sangat kecil untuk memiliki seorang adik.


" Kenapa kamu melotot seperti itu sih sayang, kamu tidak mau ya punya anak lagi dariku? ". Sahut Al dengan raut tak sukanya.


" Bu, bukan seperti itu mas, tapi kan Aganta dan Damian masih terlalu kecil untuk memiliki adik hihihi ". Sahut Adinda yang berusaha menjelaskan dengan memaksakan senyumannya.

__ADS_1


" Ya sudah kalau Aganta dan Damian sudah berusia tiga tahun mas ingin kamu hamil lagi sayang, bagaimana kamu mau kan sayang? ". Pinta Al dengan senyuman nakalnya.


Adinda nampak diam sejenak sebelum akhirnya iapun mengangguk sebagai tanda setuju.


" Terima kasih sayang ku ". Sahut Al dengan memeluk istrinya.


Dan dengan tanpa aba - aba, Al mencium bibir peach istrinya yang memang sudah menjadi candu baginya.


Al terus melakukan apapun pada tubuh sang istri yang saat ini telah berada dalam kungkungannya. Hingga kini tubuh mereka sama - sama polos tanpa sehelai benang pun.


Hingga terjadilah penyatuan antara suami dan istri itu kembali. Dengan penuh semangat dan keperkasaan nya Al benar - benar tidak memberi ruang pada Adinda, ia benar - benar mengambil kendali penuh di atasnya.


Dan setelah cukup lama sepasang suami istri itu bermain, kini Al telah berhasil menyemburkan benihnya kembali di dalam rahim sangat istri. Tubuh Al ambruk kala ia sudah mencapai pada titik pelepasannya. Sedangkan Adinda jangan ditanya, Adinda benar - benar lelah setelah digempur dengan begitu hebatnya oleh Al.


Namun kelelahan yang Adinda rasakan bukanlah akhir dari selesainya permainan, ya benar sekali, kali ini Al mengulangnya lagi, dan bukan Al namanya yang melakukan nya hanya satu ronde saja.


Indahnya malam yang begitu sejuk ini benar - benar telah dilalui Al dan juga Adinda dengan kegiatan hangat di atas ranjang.


*****


Sedangkan di negara yang berbeda dimana pada saat ini sinar mentari masih bersinar dengan begitu cerahnya nampak seorang gadis yang yang sudah berusia dua puluh lima tahun itu terlihat melakukan protes pada seseorang yang sedang berada pada layar ponsel nya.


" Pa, yang benar saja, Diandra harus disini dua tahun lagi?, yang benar saja pa, pokoknya Diandra tidak mau tinggal disini lagi, Diandra sudah cukup lama tinggal disini pa, Diandra ingin pulang ". Protes Diandra pada sang papa.


" Nak, tolonglah lakukan ini demi papamu, mamamu, dan juga ribuan karyawan yang sudah menggantungkan diri untuk kerja di perusahaan papa, siapa lagi yang bisa papa andalkan untuk mengurus perusahaan di Canada kalau bukan kamu, adikmu Dian masih kuliah nak, tolonglah satu kali ini saja kamu menuruti permintaan papa lagi ya ". Pinta papa David pada sang putri.


" Pa, waktu dua tahun itu tidaklah sebentar pa ". Seru Diandra lagi.


" Iya papa tahu nak, tapi papa hanya minta dua tahun saja kamu mengurus perusahaan papa yang ada disana nanti kalau adikmu sudah lulus kuliah kamu boleh kembali lagi ke Indonesia biarkan perusahaan papa yang disana Dian yang mengurus, papa mohon padamu nak ". Seru pak David, entah ini sudah permintaan yang keberapa kali untuk pada putrinya.


Merasa tak tega melihat permohonan sang papa, akhirnya Diandra pun sepertinya memang harus mengikuti keinginan sang papa.


" Ya sudah, baiklah pa, tapi hanya dua tahun dan tidak boleh lebih ". Peringatnya pada sang papa.


" Iya nak, hanya dua tahun tidak lebih ". Sahut David.


" Ya sudah Diandra tutup dulu telfon nya ya pa ". Serunya.


Tut..... dan sambungan Video call itu pun telah berakhir.


Diandra terdiam. Dalam benaknya ia berpikir, mungkin dirinya memang harus lebih bersabar lagi karena kepulangannya masih harus diundur lagi, dan menyebabkan dirinya tak dapat menemui sang kekasih yang sudah lama tak ia jumpa.


" Al, aku merindukanmu, tapi aku masih belum bisa menemuimu, aku merindukanmu Al, sangat merindukanmu ". Batin Diandra dengan menatap foto kebersamaannya bersama Al di layar ponsel nya.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk menyelesaikan karya ini πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2