Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Hamil Adik Bayi


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Setelah tahu bagaimana keinginan sang istri yang begitu menginginkan tahu walik, akhirnya pun Al harus bersiap - siap untuk mengabulkan keinginan istri tercintanya itu.


" Sayang, setelah mas mencari tentang makanan yang kamu inginkan itu, ternyata tidak begitu sulit untuk menemukan nya sayang, ya memang di kota ini tidak ada, tapi di luar kota sana yang tidak terlalu jauh ada sayang, contohnya saja di Surabaya, kita beli tahu walik nya di sana saja ya sayang tidak perlu ke Situbondo atau Banyuwangi, atau kita pesan secara online saja ya sayang ". Seru Al menawarkan setelah dirinya sudah siap.


Adinda langsung terdiam, raut wajahnya yang awalnya senang karena tidak lama lagi akan membeli makanan yang diinginkannya kini mendadak berubah menjadi sedih, bahkan wanita dengan paras manis itu sampai memanyunkan kedua belah bibirnya.


" Ba-baiklah sayang kita akan membeli di sana sesuai keinginanmu ". Ujar Al gelagapan akibat dari melihat wajah tak bersahabat sang istri.


" Kalau mas Al memang tidak mau mengantar Adinda membeli tahu walik di sana, ya sudah tidak apa - apa, Adinda tidak jadi pergi ". Sahutnya ketus tanpa menatap sang suami.


" Eh ti-tidak sayang, maksud mas bukan seperti itu, iya - iya oke mas akan mengantar mu sayang, ayolah jangan seperti ini sayang, mas tadi hanya bercanda bicara seperti itu sayang, jangan marah ya sayangku ". Sahut Al takut - takut dengan memeluk tubuh istrinya.


" Aduh Al kamu ini kalau bicara suka kelepasan, huft... ". Batin Al yang merutuki kalimatnya.


Sedangkan di halaman belakang rumah nampak si kembar Aganta dan juga Damian begitu sangat asyik bermain sepak bola dengan sang opa. Tak lupa Devina oma dari si kembar terus tertawa karena melihat kelucuan yang dilakukan oleh kedua cucunya.


" Ayo, upa teundang bula na teumalli ( ayo opa tendang bola nya kemari) ". Seru Damian yang sudah siap menantikan tendangan bola dari sang opa.


" Ayo kalian bersiap - siap opa akan tendang bolanya ". Sahut Enriko.


Bugh.... satu tendangan yang cukup kuat hingga bola itu melambung cukup jauh.


" Ayo ayo kejar bolanya ". Teriak Devina menyemangati.


Aganta dan juga Damian berlari untuk menggapai bola yang sudah melambung melebihi batas kepala mereka.


" Ha ha ha ha.... aduh cucu oma kalian lucu sekali nak ". Devina terbahak - bahak kala ia melihat kedua cucu mungilnya saling berlomba untuk mendapatkan bola.


Bagaimana tidak tertawa kedua cucunya itu sangatlah lucu, manusia dengan tubuh mungil dan juga kaki kecilnya sedang berlari untuk mendapatkan sebuah bola yang melambung cukup tinggi melebihi tinggi tubuh keduanya.


Dan ternyata yang berhasil mendapatkan bola itu adalah Aganta. Tak ingin sang kembaran mengambil alih bolanya Aganta pun menendang bola itu ke arah sang opa.


" Ayo tetap semangat tendang bolanya yang kencang ". Seru Devina lagi dengan teriakannya.


Kedua anak kembar dengan opanya itu begitu sangat antusias bermain bola hingga tidak lama dari itu datanglah Al dan juga Adinda.


" Ma ". Seru Al, dan ia pun dengan sang istri duduk di sebelah mamanya.


" Loh Al, kenapa kalian terlihat sudah rapi begini memangnya ingin kemana kalian? ". Tanya Devina yang merasa heran.


" Aku dan Adinda ingin pergi keluar kota ma, ingin membeli tahu walik ". Ujar Al.


" Memangnya kalian mau beli di kota mana?, dan kenapa harus terburu - buru seperti ini? ". Tanya Devina lagi.


" Kita akan beli di Situbondo atau di Banyuwangi ma, soalnya Adinda ingin makan di sana ". Sahut Al apa adanya.

__ADS_1


Devina sedikit tersentak setelah mendengarnya, apa hanya karena ingin makan tahu walik harus pergi ke kota yang jaraknya terbilang sangat jauh, bukankah di kota lain di luar kota Jakarta tidak sulit untuk menemukan tahu walik, lalu mengapa harus pergi ke kota yang lebih jauh, bukankah jika membeli makanan di kota yang lebih dekat itu akan lebih mudah daripada kota yang jauh karena itu akan lebih menghemat waktu bukan?.


" Tapi kenapa harus beli di kota yang jauh nak, bukankah di luar kota Jakarta tidak sulit menemukan makanan itu dan itu akan lebih menghemat waktu Al? ". Sahutnya bertanya.


" Karena.... ".


" Daddy, daddy dan mommy mau teumana?, teunapa lapih ceutalli? ( daddy, daddy dan mommy mau kemana?, kenapa rapi sekali?) ". Tanya Damian yang datang menghampiri sehingga membuat kalimat sang daddy menjadi terputus.


" Oh boy, sudah mainnya nak, daddy dan mommy akan pergi ke luar kota, Damian dan Aganta ikut ya ". Ajak Al pada sang putra.


Damian nampak berpikir, bocah mungil itu rasanya merasa enggan untuk ikut pergi karena ia sedang begitu asyik - asyik bermain bola dengan sang opa.


" No daddy, Mian dak itut ( no daddy, Damian tidak ikut) ". Sahutnya dengan menggeleng.


" Daddy, daddy dan mommy inin peuldi, lama peuldi na? ( daddy, daddy dan mommy ingin pergi, lama pergi nya? ) ". Tanya Aganta setelah ia dan juga sang opa datang menghampiri.


" Iya boy, kami ingin pergi keluar kota untuk membeli makanan, Aganta ingin ikut, kita perginya naik pesawat nak, ya tidak begitu lama sih mungkin hanya satu hari ". Sahut Al memberikan penjelasan.


" Dak daddy, Anta dak itut, Anta mau di lummah sada ( tidak daddy, Aganta mau di rumah saja) ". Tolak bocah kecil itu.


Adinda sedari tadi hanya diam, sebenarnya ia merasa malu jika harus meminta hal yang muluk - muluk pada suaminya, namun harus bagaimana lagi keinginannya untuk memakan tahu walik langsung dari gerobaknya sudah tak bisa ia bendung lagi.


" Ayo sayang kita pergi sekarang ". Ujar Al dan ia pun mulai berdiri dengan menggandeng tangan istrinya.


" Tunggu dulu Al, kamu dan istrimu tidak perlu pergi ke luar kota ". Ujar Devina yang tiba - tiba menghentikan.


" Loh ma, memangnya kenapa ma? ". Kali ini Enriko lah yang menyahut.


Deg.....


*****


Rasa penasaran dan kecurigaan telah membawanya untuk mendapatkan jawaban dari kegusaran hatinya. Merasa mendapatkan kesempatan tak membuatnya terlena untuk mengetahui kebenaran yang sudah sejak lama ia ditunggu.


Sintia yang secara tidak sengaja melihat langkah seorang bodyguard yang selama ini ia curigai membuatnya ingin membuntuti bodyguard itu.


Sintia terus melangkah hingga ia sudah berdiri tepat di dekat pintu belakang rumah dimana dirinya diasingkan.


" Mau apa orang itu, kenapa dia malah ada di belakang sedangkan yang lain sedang berjaga, sangat mencurigakan ". Gumam Sintia dengan posisinya yang berusaha menguping.


" Halo tuan ". Sahut bodyguard itu.


" Maafkan saya tuan, sampai detik ini saya masih belum mendapatkan informasi penting apapun dari tempat ini, selain hanya berpura - pura menjadi bodyguard disini ".


Deg... Sintia sangat terkejut bukan main. Apa maksud dari orang itu yang mengatakan jika dirinya berpura - pura menjadi bodyguard, apa dia seorang penyusup?.


" Baiklah tuan Viko, tuan Viko tenang saja, saya akan berusaha mendapatkan informasi lebih dalam lagi dari para orang kepercayaan Al, jadi dengan begitu tuan Viko bisa membalaskan dendam pada Al si manusia arogan itu tuan ". Seru bodyguard itu sebelum akhirnya orang itu mengakhiri panggilannya.


Sintia yang mendengar percakapan bodyguard itupun langsung membekap mulutnya. Sintia benar - benar terkejut bukan main, jadi selama ini sudah ada mata - mata dari orang yang tidak suka pada Al.

__ADS_1


Sintia pun akhirnya buru - buru pergi dari tempat itu menuju kamarnya.


" Ya Tuhan, jadi selama ini ada mata - mata dari musuh Al, gawat, ini benar - benar gawat ". Gumam Sintia yang merasa sangat cemas dengan keadaan ini.


Sintia pun akhirnya mencoba menyalakan handphone nya.


" Untung tadi aku sempat merekam ucapan orang itu, aku harus memberikan hasil rekaman ini pada Al, iya harus, semoga saja kamu percaya Al ". Gumamnya lagi dengan penuh harap.


*****


Dokter kepercayaan keluarga Georgino itupun mulai memeriksa tubuh Adinda dengan begitu teliti.


" Uma uma, mommy tu tatit apa? (oma oma, mommy ku sakit apa?) ". Celoteh Damian bertanya karena melihat sang mommy sedang diperiksa oleh sang dokter.


Devina tersenyum pada cucunya.


" Mommy tidak sakit sayang, mommy hanya sedang diperiksa oleh dokter ". Sahut Devina dengan mengelus pucuk kepalanya cucunya.


Sedangkan Aganta hanya diam memperhatikan sang mommy yang saat ini masih diperiksa di ranjang kasurnya.


" Bagaimana dok?, bagaimana keadaan istriku? ". Tanya Al pada dokter wanita itu.


Dokter Rika pun tersenyum mendengar pertanyaan tuannya.


" Tuan Al selamat tuan, nyonya muda saat ini sedang mengandung, dan diperkirakan usia kandungannya sudah memasuki usia delapan minggu ". Ujar Dokter Rika dengan senyuman bahagianya.


Deg... terkejut itulah yang Al rasakan, namun sesaat setelah itu dirinya tersadar dan tersenyum.


" Sayang, kamu hamil sayang ". Seru Al bahagia dengan langsung memeluk istrinya Adinda.


" Ya Allah akhirnya menantuku hamil lagi ". Seru Devina dengan begitu bahagianya, dan wanita paru baya itupun langsung berdiri menghampiri sang menantu sampai - sampai ia lupa dengan kedua cucu kembarnya yang sedang duduk di sofa.


" Sayang, kamu hamil sayang, sebentar lagi Aganta dan juga Damian akan punya adik cup... cup... ". Seru Al dengan menciumi wajah istrinya.


Adinda terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kedua bola matanya pun sudah berkaca - kaca. Ia benar - benar tidak menyangka jika Tuhan telah kembali memberikannya sebuah kepercayaan lagi.


" Mas ". Serunya lirih.


" Iya sayang kamu hamil cup... ". Sahutnya bahagia.


" Akhirnya aku akan punya cucu lagi ". Seru Devina bahagia, entah sudah berapa kali kalimat itu di ucapkan.


" Uma Uma, teunapa tita di tindal? ( oma oma, kenapa kita di tinggal?) ". Protes Damian pada sang oma.


" Oh maafkan oma cucu - cucu oma, maaf oma terlalu sangat bahagia nak, iya oma sangat bahagia sayang karena sebentar lagi kalian akan punya adik bayi, mommy kalian hamil adik bayi sayang ". Sahutnya pada kedua cucunya.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2