Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Persiapan Malam Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Dengan masih menggandeng sebelah tangan kanan cucunya, Devina mencoba membuka tirai penutup yang menutupi ruang ganti itu, dan...


Sreettt... tirai itupun di bukanya, dan...


Deg... betapa terkejutnya Devina saat melihat tingkah putranya. Al memeluk istrinya begitu sangat erat dan mesra, bagai perangko, bahkan tanpa mempedulikan dua orang wanita yang sedang berdiri tertunduk dengan berusaha menahan tawanya.


" Astaghfirullah... bocah tengik ". Sentak Devina.


Sontak saja semua orang yang ada di ruangan khusus ganti itu langsung menoleh ke arah sumber suara, bahkan Enriko dan si kecil Aganta.


" Bisa - bisanya kamu Al malah berbuat mesum di sini... mama dan papamu, juga anak - anakmu sudah menunggu di luar dari tadi, apa kalian sudah memakai baju pengantinnya atau belum, ini malah peluk - pelukan tanpa ada rasa malu, dasar bocah tengik... ". Oceh Devina dengan segala kekesalannya pada sang putra.


" Ma, mama buat Al kaget ma... ". Sahutnya, namun...


Plak... plak... plak... Devina memukuli tubuh kekar putranya.


" Aw ma, sakit plak... plak... sudah ma... ". Serunya meminta ampun.


" Dasar anak tidak tahu malu plak... bisa - bisanya plak... berbuat mesum di tempat seperti ini plak... kamu tidak malu apa plak... sama dua perempuan yang berdiri ini dari tadi plak... plak... ". Ocehnya dengan terus memukuli putranya.


" Aw ma plak...sakit ma plak...sudah, iya iya, Al berhenti tidak berbuat mesum lagi ". Seru Al lagi, hingga barulah Devina tidak memukulnya lagi.


" Ada apa ma? ". Tanya Enriko setelah mendengar riuhan dari dalam ruang ganti itu.


" Ini loh pa, si Al, sudah tahu dia ke sini mau coba baju pengantinnya, malah terus memeluk mantu mama, tidak malu apa sama dua orang perempuan itu ". Sahut Devina kesal dengan menunjuk desainer itu dan asistennya.


Enriko yang mendengar ungkapan dari istrinya pun hanya bisa menghela nafasnya, tak pernah terpikirkan jika putranya Al yang terkenal dingin itu akan sebobrok ini.


" Al - Al, papa tak menyangka jika kamu akan se bucin ini, cinta ya cinta, sayang ya sayang, tapi ya coba lihat - lihat tempat juga lah Al ". Seru sang papa Enriko, yang berusaha menyadarkan tingkah konyol putranya.


Adinda yang menyaksikan bagaimana kedua mertuanya menasihati suaminya Al, merasa sangat malu, Adinda tertunduk dengan rasa malunya, ia benar - benar tak mampu mengangkat wajahnya kembali. Meski bukan dirinyalah yang memulainya, namun tetap saja, secara tidak langsung dirinyalah yang menjadi penyebabnya.


" Wah, mommy, badu mommy badush ya ". Seru si kecil Damian, yang memang sedari tadi pandangannya tertuju pada gaun indah mommy nya.


" Iya mommy, badu na mommy badush, Anta cuta liat na myh ". Timpal Aganta dengan perasaan yang tak kalah senangnya.


Mendadak susana di ruangan itu menjadi dingin seolah tak pernah terjadi kericuhan apapun, semuanya terlihat aman sentosa seperti tak pernah terjadi keributan.


Devina sang mama mertua tersenyum melihat menantunya yang begitu sangat cantik di pandangannya, mendadak pikirannya teringat akan akan keributan beberapa menit yang lalu.


" Heh... pantas saja Al sampai memeluk menantu ku sampai lupa diri, ternyata menantu ku ini sangat cantik sekali ". Batin Devina, dengan masih tersenyum.


" Kenapa mama senyum - senyum begitu, sudah sadar kalau istriku ini sangat cantik?, tadi saja Al sampai di pukul - pukul ". Sindir Al, dengan mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Sedangkan Devina yang di sindir oleh putranya tak menggubrisnya.


" Adinda, kamu sangat cantik dengan gaun ini sayang ". Pujinya pada sang menantu.


" Terima kasih ma ". Sahutnya malu - malu.


" Mommy, daddy, upa uma, tita poto - poto ya, nanti poto na bial ada di abum na Mian ( mommy, daddy, opa, oma, kita foto - foto ya, nanti fotonya biar ada di albumnya Damian) ". Pinta bocah kecil itu, entah apa yang membuatnya berinisiatif ingin melakukan foto bersama, mengingat daddy dan mommy nya memakai baju yang bagus membuat Damian ingin mengabadikan momen ini.


" Tentu boy, ayo kita foto bersama ". Sahut Al, yang menyanggupi permintaan putranya.


Merasa momen ini adalah momen yang baik, keluarga inti Georgino pun sepakat untuk foto bersama.


Dengan tanpa perencanaan apapun, kini ruangan butik itu pun telah di hias sedemikian rupa, sehingga menampilkan dekorasi yang sangat indah.


Kini keluarga kecil Al dan juga orang tuanya sudah siap akan foto bersama, dengan di bantu oleh sang asisten desainer tadi yang menjadi fotografernya.


Sungguh unik dan indah, huru hara yang tadi sempat terjadi, kini telah berubah menjadi momentum untuk mengabadikan kebahagiaan mereka menjadi gambar - gambar indah yang nantinya akan terus di kenang oleh anak cucu nanti.


*****


Hari - hari terus berlalu meninggalkan berbagai kenangan indah, manis, pahit, sedih, bahagia, dan sejuta kenangan lainnya yang telah terukir melahirkan banyak hikmah kehidupan di dalamnya.


Tanpa terasa tiga minggu sudah berlalu. Dan itu artinya, malam di mana dua sejoli yang sudah satu hati itu, akan melangsungkan malam perayaan istimewa mereka. Ya, tidak lama lagi, atau di kata, beberapa hari lagi adalah, hari di mana malam resepsi pernikahan Adinda dan juga Al akan segera di langsungkan.


Dan di pagi yang indah, pagi yang cerah ini, begitu terasa menghiasi hamparan daratan di kota. Celotehan - celotehan menggemaskan dari mulut mungil kedua bocah kembar itu terdengar menghiasi hampir setiap sudut ruangan di dapur.


" Mommy, macih lama ya tue tolat na, Mian dah dak cabal Myh mau mamam tue na ( mommy, masih lama ya kue chocolate nya, Damian sudah tidak sabar Myh mau makan kuenya ) ". Serunya pada sang mommy yang masih menunggu kapan kue chocolate nya matang.


" Sabar dulu ya tuan muda Aganta dan tuan muda Damian, tidak lama lagi pasti kue chocolate nya matang ". Seru bu Ima dengan mendekati kedua tuan mudanya yang duduk di kursi miliknya.


" Nenek Ima dah mamam tadi? ". Tanya Aganta tiba - tiba.


" Sudah tuan, tadi nenek sudah sarapan ". Sahutnya.


" Nenek tacih temana ya, tok dak bali ladi, tapi tadi tan ada, temana ya nenek tacih? ( nenek Tarsih kemana ya, kok tidak kembali lagi, tapi tadi kan ada, kemana ya nenek Tarsih?) ". Gumam Damian, namun masih bisa di dengar oleh semua orang di dapur itu.


" Huum, temana ya nenek tacih? ". Timpal Aganta juga.


" Nenek Tarsih sedang ada di taman belakang tuan, sedang bantu nenek Ika di sana ". Sahut bu Im.


" Ooo... ". Seru si kembar paham.


Setelah cukup lama menunggu matangnya kue chocolate itu, akhirnya kue yang di tunggu pun sudah matang.


" Biar bibi saja yang mengeluarkan kuenya nyonya ". Pinta bu Ima.


Dan kue itupun sudah siap di atas piring khusus itu, dan setelah kue itu sudah berasa lebih dingin, barulah Adinda menghiasi kue itu dengan cream chocolate valina, dan juga beberapa toping di atasnya.

__ADS_1


" Yeay, tue na dah ciap, Mian mau mamam tue na ". Seru si kecil Damian kegirangan.


" Iya iya anaknya mommy, kita akan makan kuenya ". Sahut Adinda.


Kue itupun di potong menjadi dua bagian besar, satu bagian besar untuk para asisten di rumahnya itu, dan satu bagian besarnya lagi untuk keluarga kecilnya.


" Bi, ini nanti kuenya di bagi - bagikan ya ke pekerja yang lain ". Seru Adinda dengan memberikan kue itu.


" Iya nyonya, akan saya potong - potong sekarang juga ". Sahut bu Ima.


" Ayo myh, tapan tue na puna na Mian di poton myh, Mian dah dak cabal ni ". Rajuk Damian lagi, untuk yang ke sekian kalinya.


" Iya - iya, anak - anak mommy, kita ke kamar ya, kita potong kuenya di sana ". Sahutnya, lalu Adinda menggiring kedua putranya itu menuju kamar.


*****


Di Kantor G. Group.


Obrolan serius dua orang pria berusia matang itu, terus berlanjut demi terlaksana nya kelancaran malam yang diimpikan. Al dengan ditemani oleh asisten kepercayaannya masih terus bernego dalam mencapai keamanan malam resepsi pernikahan.


" Tuan, dari semua rekan bisnis tuan, yang bisa di undang ke acara malam resepsi pernikahan nanti hanya berjumlah kan tiga puluh lima orang saja tuan, dan itupun termasuk tuan Herdi dan juga tuan David ".


" Dari beberapa informasi yang saya dapat tentang semua rekan bisnis anda, hanya orang - orang dengan jumlah itulah yang tidak memiliki masalah atau latar belakang yang rumit, sehingga bisa di pastikan, tidak akan ada pihak luar yang akan mengganggu nanti ". Seru Andrew.


" Huum, baiklah, lalu sekitar berapa orang yang akan hadir di pestaku nanti? ". Lanjut Al lagi.


" Kemungkinan, tamu yang akan datang di acara nanti diperkirakan lebih dari seratus orang yang akan datang tuan, karena dari rekan - rekan kerja anda ini, akan datang bersama dengan membawa keluga kecilnya ". Sahut Andrew lagi.


" Baguslah Andrew, lakukanlah apa yang perlu kamu lakukan, pastikan semuanya aman dan berjalan lancar, ingat, malam resepsi pernikahan ku sudah tinggal enam hari lagi, pastikan tidak ada satu media pun yang mengetahui nya ". Pungkas Al.


" Baik tuan Al, akan saya pastikan acara untuk resepsi pernikahan tuan nanti, akan berjalan sesuai dengan keinginan tuan ". Sahut Andrew mantap.


" Tapi tunggu ". Lanjut Al lagi tiba - tiba.


" Ada apa tuan? ". Tanya Andrew, nampaknya tuannya seperti teringat sesuatu.


" Bagaimana dengan Viko, apa dia tidak akan berulah lagi di dalam penjara? ". Tanya Al, entah mengapa tiba - tiba ia teringat Viko salah satu rivalnya.


" Untuk Viko, anda tidak perlu khawatir tua, kondisinya saat ini sudah memprihatinkan, dia dan anak - anak buahnya meratapi nasib mereka di penjara, dan saya pastikan, mereka tidak akan berulah lagi tuan ". Sahut Andrew dengan segala kejelasannya.


" Bagus Andrew, kamu memang selalu bisa di andalkan ". Puji Al.


Dan akhirnya tidak ada lagi khawatiran, semua yang akan dijalani pun akan terlaksana sesuai dengan rencana.


Bersambung..........


Hai - Hai kakak - kakak, Author update lagi, semangat membaca ya.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2